Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 4 pagi, perjalanan kami pun sudah memasuki wilayah desa Lerengwilis. Suara adzan shubuh mulai berkumandang, bersahut-sahutan di masjid dan surau yang ada di desa Lerengwilis.
Setrlah memasuki gapura selamat datang, pak Yan bertanya kepada Naia dan Dewa, "Mbak Naia dan mas Dede turun sesuai dengan order ya..? Di kantor desa Lerengwilis..?"
"Kalau aku iya di kantor desa saja pak Yan.. Tapi kalau mas Dede gak tau mau turun mana..?"
"Mas Dede alamat di desa Lerengwilisnya dimana..?" tanya Naia
Dewa membuka dompetnya dan mencari alamat yang ditulisnya disecarik kertas, "Sebentar aku lihat alamatnya dulu, Oh ini alamatnya.. Di dusun Keramat, jalan Himalaya sebelah timur musholla Al-Hikmah.."
Sambil mengganggukkan kepala, Pak Yan menjawab obrolan Dewa, "Oh.. Baik. Nanti antar mbak Naia dulu baru cari alamat mas Dede.."
"Nnnggggg gini aja pak, biar saya turun balai desa saja, nanti saya bisa cari sendiri alamatnya.." ujar Dewa
"Jangan mas.. Gak papa biar saya antar saja."
"Lagian mas Dede juga belum tau lokasi tepatnya, nanti biar saya cari lewat map, lalu saya antar mas Dede kesana.." cegah pak Yan.
"Waduh jadi merepotkan pak Yan kalau begitu. Eeee... Terimakasih sebelumnya pak.." jawab Dewa dijawab dengan acungan jempol oleh pak Yan.
Tak berapa lama, mobil merekapun telah sampai di delan balai desa Lerengwilis. Dewa membantu Naia menurunkan barang bawaannya yang ada di bagasi. Terlihat teman-teman Naia KKN Naia sudah menunggu di halaman basecamp yang berada di depan kantor Desa Lerengwilis, sedangkan pak Yan terlihat sibuk mencari alamat yang disebutkan oleh Dewa sebelumnya.
Dengan tersenyum, Naia berkata kepada Dewa, "Mas Dede, terimakasih ya..? Oiya, jangan lupa tawaranku tadi.."
"Iya, sama-sama Naia, aku yang harusnya berterimakasih udah dikasih tumpangan sampai disini.." jawab Dewa.
"Klaau ada waktu luang, main-main kesini aja mas. Kita bisa ngobrol-ngobrol juga.." sambung Naia dan dianggukkan oleh Dewa.
Melihat keakraban mereka berdua, membuat teman Naia menjadi penasaran. Diapun bertanya kepada Naia, "Eh.... Siapa dia Naia..? Kok aku gak pernah lihat sebelumnya..? Calon kah..?" tanya Silvia sambil berbisik.
"Hush... Apaan sih.. Eehhhmmmm... Ada deh.." jawab Naia.
Setelah cukup mengobrol, Dewapun berpamitan sambil masuk mobil. Tidak sulit menemukan lokasi dari alamat diberikan Dewa kepada pak Yan, lalu pak Yan mengantar Dewa mencari alamat yang sesuai dengan catatannya. Sekitar 20 menit, akhirnya merekapun sampai tujuan, sebuah rumah sederhana yang dibeli oleh dewa dengan uang tabungannya.
Setelah turun dari mobil, Dewa tidak segera masuk kedalam rumah, melainkan berdiri menatap rumah itu, "Jadi ini rumah yang dibeli oleh adikku dari tabunganku..? Bagus lah, sesuai keinginanku."
"Rumah yang gak terlalu besar tapi halamannya cukup luas.. Pas banget, berada di ujung desa di lereng gunung samping musholla.." ucap Dewa dalam hati.
Setelah berdiri beberapa saat, diapun memasuki halaman rumah itu dan langsung menuju teras rumah, "Adikku bilang kunci ada di bawah pot bonsai di teras.. Yup... Ketemu.." ucapnya dalam hati sambil tersenyum.
Dewa segera membuka pintu rumahnya, Dewa segera membuka kain yang menutupi perabotan yang ada di dalam rumahnya. Pak Yan menyusul Dewa ke dalam rumah untuk mengantarkan barang-barang Dewa yang tertinggal di bagasi mobil.
"Mas Dede, saya permisi dulu ya..?" ucap pak Yan
"Istirahat dulu saja pak Yan, sini duduk dulu, ngopi dulu lah.." jawab Dewa.
Pak Yan lalu duduk di kursi ruang tamu, sedangkan Dewa menuju dapur untuk membuat dua cangkir kopi. Peralatan dapur yang sudah lengkap membuat Dewa tidak kesulitan untuk merebus air. Dewa segera menyuguhkan kopi kepada pak Yan, lalu mereka mengobrol dengan santai di ruang tamu.
"Oh iya mas.. Mas Dede jago banget berantemnya, belajar beladiri dimana mas..?"
"Maaf sebelumnya mas, apa mas Dede ini tentara..?" tanya pak Yan
Dewa sedikit terkejut dengan pertanyaan pak Yan. Lalu dia menjawab sekenanya, "Tentara apa pak Yan.. Kalau tentara ya gak mungkin saya disini to..? Aku ini hanya pecatan satpam pak.. hahahahaha.."
Setelah cukup mengobrol, pak Yan pun pamit. Dewa mengambil beberapa lembar uang seratus ribu dari dalam dompet dan menyerahkannya kepada pak Yan, "Pak Yan, ini aku ada sedikit uang tolong pak Yan terima.. Tadi aku lihat kap depan mobil pak Yan pesok kena tendanganku, jadi uang ini bisa untuk memperbaiki mobilnya.."
Pak Yan merasa tidak enak hati untuk menerima pemberian dari Dewa, "Waduh, jangan mas, gak usah.. Mas Dede sudah menyelamatkan saya tadi, jadi kerusakan mobil saya gak seberapa kalau dibanding dengan nyawa saya mas.."
"Sudahlah pak Yan, terima saja uang ini. Ini pemberian dari saya, gak ada hubungannya sama begal-begal tadi.." jawab Dewa sambil meletakkan uang dintangan pak Yan.
"Masya' Allah maaaasss, saya gak tau harus berterimakasih dengan cara apa.."
"Gini aja mas, ini saya tuliskan nomer hp saya, mas Dede langsung telepon saja kalau butuh diantar kemana-mana, jadi gak usah liwat aplikasi.." ucap pak Yan.
"Hahahaha.. Pak Yan kok yo aneh.. Lha wong saya saja gak punya hp pak.."
"Wes gini aja pak, saya sekalian minta tolong pak Yan, belikan saya HP beserta nomernya.. Tolong sekalian diaktifkan, pakai nama pak Yan saja, lalu nomer hp bapak langsung simpan di hp itu, bagaimana pak..?" tanya Dewa
"Oh.. siap mas. Kalau mas Dede punya HP, sewaktu-waktu bisa telpon saya kalau butuh apa-apa.." jawab pak Yan.
Dewa mengeluarkan dompetnya, dia mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu dan menyerahkan kepada pak Yan, "Ini uangnya buat beli hpnya.."
"Baik mas, nanti sore saya langsung antar hp nya mas.." sambung pak Yan sambil menerima uang itu.
"Gak usah kesusu pak, HPnya diantar kalau pak Yan pas ada penumpang yang ke Lerengwilis saja.. Saya percaya kok sama pak Yan.." jawab Dewa.
"Baik mas.. Kalau begitu saya pamit dulu mas.." ucap pak Yan menjabat tanganku lalu pergi.
"Dengan begini, aku masih bisa berkomunikasi tanpa khawatir posisiku terdeteksi oleh markas.." gumam Dewa dalam hati.
Memang sejak satu setengah tahun lalu, Dewa sudah curiga ada yang tidak beres dengan pasukan Ganendra. Sejak saat itu, Dewa selalu mengambil tunai uang gaji dan bonus misi lalu menitipkannya ke rekening adiknya.
Dewa terdiam sambil memikirkan sesuatu, "Ternyata benar, misi di perairan Borneo, misi rahasia penggagalan penyelundupan heroin itu, kami dikhianati. Bisa-bisanya kami dikepung oleh anggota pasukan divisi lain dari pasukan Ganendra. Delapan anggotaku, 2 orang tertangkap, satu tertembak dan lima orang lainnya termasuk aku harus menjadi buronan militer. Aku pasti akan mengungkap ini semua dan membalaskan sakit hati ini. Aku semakin yakin, ini pasti permainan para petinggi Tentara Angkatan Darat. Siapapun kalian, apapun pangkat kalian, kalian tidak akan lolos. Hutang nyawa dibayar nyawa, hutang darah dibayar darah..!!"
"Lebih baik aku sholat shubuh dulu lalu bermeditasi, biar pikiranku lebih tenang.. Untuk sementara biarlah, aku akan menjalani kehidupanku yang baru.." gumam Dewa dalam hati.
Pagi itu di basecamp KKN Naia,
Naia bersama dengan teman-teman KKN nya tengah bersiap-siap untuk memulai hari pertama KKN di desa Lerengwilis. Mereka tampak menggunakan setelan atasan putih bawahan hitam dilengkapi dengan almamater berwarna biru ciri khas kampus mereka. Diantara kumpulan mahasiswa itu, ada tiga mahasiswi yang tampak paling menonjol.
Pertama pasti Naia gadis 20 tahun, 161 cm/53 kg. Naia adalah gadis yang ramah dan mudah bergaul, dia mempunyai kulit yang putih, tampak manis ketika dia membiarkan rambut panjangnya tidak terikat. Lesung pipit tampak menghiasi wajahnya ketika dia tersenyum.
Selanjutnya ada Silvia gadis 20 tahun, 165 cm/55 kg berkulit putih tampak lebih proporsional dibandingkan Naia. Gadis berhidung mancung ini mempunyai rambut sebahu yang di cat warna merah gelap yang menambah kecantikannya.
Dan yang terakhir adalah Nuraini, 21 tahun, gadis berjilbab ini tampak anggun ketika mengenakan baju putih dan ber rok hitam, dipadu dengan jas almamater berwarna biru. Sama hal nya dengan Naia, Nuraini juga mempunyai lesung pipit ketika dia tersenyum yang menambah manis wajahnya. Gadis dengan tinggi 158 cm/48 kg memang paling pendek diantara kedua sahabatnya tersebut.
Mereka bertiga adalah teman satu kos walaupun mereka berbeda jurusan. Naia kuliah di jurusan Komunikasi, Silvia kuliah di jurusan Akuntansi, sedangkan Nuraini adalah mahasiswi jurusan Teknik Sipil.
"Eh.. Nai... Yg tadi shubuh itu siapa lho..? Kenalin gih.. Lumayan ganteng lho, bisa nih diajak jalan.." tanya Silvia sambil nyolek lengan Naia..
"Apaan sih Vi...? Jangan mulai deh, ku bilangin sama Rendi lho..?" jawab Naia.
"Hahahaha... Bilangin aja, aku lho udah gak ada hubungan apa-apa sama dia.. Weeeekk.." sahut Silvia mengejek
Nuraini penasaran dengan obrolan mereka, lalu bertanya siapa cowok yang mereka maksud, "Emang siapa sih Vi..? Cowok yang mana sih..? Aku jadi penasaran.."
"Makanya bangun sebelum shubuh, biar dapat rejeki.. Bangun siang ya rejekinya kepatok ayam... Hahahahaha..." jawab Silvia sambil tertawa.
"Kalian ini ya..? Eeeemmmmm.... Yuk lah berangkat.. Udah hampir jam 9 nih.."
"Udah ditungguin pak Lurah lho.." jawab Naia sambil menggandeng tangan kedua sahabatnya.
Mereka bertiga keluar basecamp yang berada tepat di seberang Kantor Desa Lerengwilis. Di depan basecamp sudah menunggu Rendi dan Satria. Mereka adalah ketua dan wakil ketua kelompok KKN Universitas Tri Dharma. Ada 10 mahasiswa dan 5 mahasiswi berbagai jurusan yang sedang melaksanakan KKN di Lerengwilis selama 2 bulan.
Rendi adalah anak bos perusahaan kontraktor. Laki-laki 173 cm/70 Kg ini adalah ketua kelompok KKN sekaligus mantan pacar Silvia dan berusaha untuk mengajak Silvia balikan lagi, sedangkan Satria adalah anak perwira pertama polisi. Laki-laki 168 cm/55 Kg ini adalah cowok yg agamis.
"Pagi Silvia..." sapa Rendi sambil tersenyum.
Silvia hanya membalas sapaan Rendi dengan senyuman. Naia tampak sibuk dengan hp nya untuk memberi kabar orang tuanya.
Melihat ketua kelompoknya masih berada di depan basecamp, salah seorang anggota KKN bernama Oki berteriak kepada mereka, "Rendi, Satria, buruan.. Bapak kepala desa udah datang.." teriak Oki yang berada di depan pintu gedung serba guna.
Mereka berlima pun bergegas menuju balai desa untuk mengikuti kegiatan perkenalan mahasiswa/i kelompok KKN kepada masyarakat. Di dalam balai desa tersebut kelompok KKN Universitas Tri Dharma berkesempatan untuk berkenalan dengan tokoh masyarakat dan perwakilan warga Lerengwilis sekaligus menjelaskan rencana kerja mereka selama melakukan KKN di desa Lerengwilis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Aliono Yandi
Alhamdulillah senang bacanya di awal ini
2023-07-08
2
dementor
mcnya sholeh.. yang baca sholehah.. 😭😭😭😭
2023-05-26
0
Muhammad Febriansyah
mcnya sholeh.
2023-02-09
1