Ada sesuatu yang bergejolak dan bergemuruh di dalam tubuh Dewa ketika dia mulai membaca kitab Kalimasada. Walau demikian, Dewa tetap membaca kata demi kata yang ditulis dengan bahasa jawa itu, meskipun ada kata yang tidak dia ketahui artinya, tapi dengan kemampuan analisanya, Dewa dapat memahami maksud dari kalimat yang ada di dalam kitab Kalimasada itu. Setelah membaca beberapa halaman, gejolan dan gemuruh di dalam tubuhnya berangsur hilang berganti dengan munculnya perasaan nyaman, tenang dan damai yang dirasakan oleh Dewa hingga membuat Dewa terlelap dalam keheningan batinnya. Waktu berlalu dengan cepat, Dewa terbangun ketika mendengar adzan shubuh yang berkumandang dari musholla sebelah rumahnya. Dia beranjak dari tempatnya bermeditasi lalu meraih handuk dan segera pergi ke kamar mandi. Setelah selesai mandi dan berwudhu, Dewa berangkat ke musholla untuk berjamaah sholat Shubuh. Tidak seperti saat magrib dan isya', jamaah sholat shubuh di musholla sangat sedikit, bahkan tidak sampai memenuhi setengah dari musholla.
Selepas sholat, mbah Sastro datang menghampiri Dewa, dengan tawa khasnya mbah Sastro menyapa Dewa, "Hehhehhehhe.. Sepertinya nak Dede jauh lebih tenang saat ini.. Jangan lupa, nanti jam 8 aku tunggu di belakang musholla. Aku akan tunjukkan suatu tempat kepada nak Dede.." ucap mbah Sastro sambil menepuk pundakku lalu beranjak pergi dari musholla.
Dewa hanya menganggukkan kepalanya, tapi dalam hatinya dia merasa heran, "Bagaimana mbah Sastro tau keadaan batinku ya..?" ucapnya dalam hati.
Mereka meninggalkan musholla dengan berjalan beriringan, hingga saat di depan rumahnya, Dewa mengajak mbah Sastro untuk mampir, "Mari mampir mbah, kita ngopi dulu.."
"Terimakasih nak Dede, saya tak langsung pulang saja.. Masih harus kasih makan burung.." jawab mbah Sastro.
Dewa segera masuk rumah setelah kepergian mbah Sastro dan segera melakukan pekerjaan rumah, membersihkan rumah dan mencuci beberapa gelas dan piring kotor, "Hhufhhh.. Akhirnya sudah beres semua.."
Dewa melihat jam dinding, "Masih jam setengah 6, lebih baik aku jogging sebentar saja.." gumamnya pelan.
*****
Sementara itu, di basecamp KKN, terdengar hp Naia berdering. Naia segera mengambil dan melihat hpnya, "Mama telepon..?" gumam Naia lalu dia mengangkat teleponnya.
Naia, "Assalamu'alaikum ma, ada apa ma, tumben pagi-pagi telepon..?"
Mama Naia, "Wa'alaikumsalam.. Ini papa sama mama udah di kereta, berangkat ke tempat KKN kamu.."
Naia, "Haaahh.. Kok mendadak kasih kabarnya..? Terus kenapa naik kereta, kenapa gak bawa mobil sendiri ma..?"
Mama Naia, "Iya, rencananya sih mau bawa mobil sendiri, tapi ternyata Pak Jupri lagi sakit, jadi gak bisa antar. Yaa.. mumpung papa ada waktu senggang, karena lusa papamu ada urusan bisnis di kota B, besoknya harus terbang ke Ausi, jadi ya hari ini berangkat ke Lerengwilis.."
Naia, "Hhehhh.. Mulai dari Naia sekolah sampai sekarang kuliah, papa sibuk terus. Hampir gak ada waktu buat mama sama Naia.."
Mama Naia, "Hush.. jangan bilang gitu sayang.. Papa lakuin ini semua juga buat Naia sama mama kan..? Udah jangan over thingking gitu ah.. Ini buktinya papa ada waktu longgar langsung berangkat pengen jenguk kamu, dibelain naik kereta lagi.."
Naia, "Iya-iya maaf.. Oiya ma, kalau udah sampai stasiun, mama pesen taksi online aja, gak usah naik angkutan umum ya..? Lewat aplikasi aja ma, tujuannya ke balai desa Lerengwilis. Nanti Naia jemput disana, deket kok sama basecamp nya.."
Mama Naia, "Oh.. Oke deh.. Nanti mama hubungi lagi kalau udah mau sampai. Kamu jaga diri baik-baik ya..?"
Mama Naia memutus sambungan teleponnya dan Naia kembali merebahkan tubuhnya di kasur. Naia menatap langit-langit kamarnya sambil memikirkan sesuatu, "Apa aku ke rumah mas Dede aja ya buat kasih tau kalau papa mau datang dan aku ingin merekomendasikan dia buat jadi pengawal..? Eemmmm.. Gak usah lah, nanti aja sekalian sama papa dan mama datangi rumah mas Dede.." ucap Naia dalam hati.
Naia bangun dari kasurnya lalu langsung mengambil handuk dan peralatan mandinya.
*****
Setelah sekitar satu jam lebih jogging mengelilingi desa, Dewa beristirahat sejenak di teras rumahnya untuk mengeringkan keringat lalu sesaat kemudian dia pergi mandi.
Tidak terasa waktu berlalu dengan cepat dan Mbah Sastro sudah menunggu di teras rumah Dewa untuk beberapa saat.
Dewa segera keluar rumah dan menyapa mbah Sastro, "Sudah menunggu dari tadi mbah..?"
"Hehhehhehhe.. Tidak kok, baru saja. Bagaimana kita berangkat sekarang..?" jawab mbah Sastro dijawab dengan anggukan kepala oleh Dewa
Mereka pun berjalan menuju tempat yang dikatakan mbah Sastro. Walaupun sudah berumur, tidak nampak kelelahan di wajah mbah Sastro saat jalan mulai memasuki wilayah pegunungan. Jalan berbatu dan menanjak dilalui mbah Sastro dengan mudahnya, sedangkan Dewa yang berada di belakang mbah Sastro harus mengeluarkan tenaga lebih untuk melewatinya.
Keheranan terlihat jelas dari wajah Dewa. Dalam hati dia berkata, "Dengan usia segitu mbah Sastro dengan mudah melalui jalan ini. Tubuhnya seakan melayang seperti kapas saja.."
Mbah Sastro seperti mendengar apa yang dipikirkan Dewa lalu dia bekata, "Hehhehhe.. Ayo nak Dede, jangan sampai tertinggal.." ucap mbah Sastro.
Semakin lama, langkah mbah Sastro semakin cepat. Beliau seperti meloncat dari satu batu ke batu lainnya. Dewa dengan sekuat tenaga berusaha mengikuti langkah mbah Sastro dengan berlari, tapi dia tetap tidak mampu mengejar mbah Sastro.
"Edaaaann tenan.. Ini orang apa siluman ya..? Cepet banget jalannya, gimana kalau beliau lari ya..? Padahal medan seperti ini biasa aku lalui saat latihan atau dalam misi, tapi ini... Aaahhh baru kali ini anggota pasukan elit bener-bener dibuat malu oleh orang yang sudah berumur..." gumam Dewa dalam hati.
Sekitar satu jam perjalanan kami menuju tempat yang dimaksud mbah Sastro. Nafas dan tenaga Dewa benar-benar habis, seluruh tubuhnya basah oleh keringat. Tapi tidak dengan mbah Sastro, dia tidak terlihat lelah sedikitpun bahkan nafasnya tetap stabil seperti biasa.
"Hehehehehe… Inilah nak Dede, tempat yang ingin aku tunjukkan kepadamu, tempat dimana aku dulu dilatih oleh guruku dalam mempelajari kitab Kalimasada.." ucap mbah Sastro dengan santai.
"Hooosshh.. Hoooshh.. Hooooosshh.." terdengar dengan jelas suara nafas Dewa yang memburu seperti sapi yang baru saja disembelih..
"Ohhh.. S-sebentar... Mbah...." ucap Dewa terengah-engah.
Dewa segera nengambil nafas panjang untuk menenangkan dirinya. Butuh sekitar lima menit untuk menyetabilkan nafas dan memulihkan dirinya.
Mbah Sastro mentertawakan kondisi fisik Dewa, "Hehhehhehhe… Anak muda sekarang, baru naik gunung sebentar saja sudah ngos ngosan.."
Dewa hanya tersipu malu mendengar ucapan mbah Sastro lalu memberanikan diri bertanya kepada gurunya itu, "Sebentar mbah, saya mau tanya. Mbah kok sepertinya tidak kelelahan sama sekali..?" tanya Dewa heran.
"Hehhehhehhe.. Nanti saja aku jelaskan semuanya.." jawab mbah Sastro santai.
Dewa melihat sekeliling, terlihat ada goa dan ada batu hitam tepat di samping pintu goa, "ini tempat apa mbah..?" tanyanya heran.
Mbah Sastro tidak menjawab pertanyaan Dewa, dia mengajak Dewa untuk mendekati batu hitam di samping pintu goa, "Kemari, ikuti aku.." ucapnya sambil berjalan.
Dewa berjalan mengikuti mbah Sastro dan mendekat di batu hitam besar itu. Batu seukuran mobil SUV itu berwarna hitam legam dan tampak bekas telapak tangan disana, tidak hanya satu tapi ratusan telapak tangan.
Dewa memperhatikan batu hitam itu, betapa terkejutnya dia melihat banyak bekas telapak tangan terukir di batu hitam itu, "Hhhaaahh..!! Ini telapak tangan siapa mbah..? Ada banyak sekali bekas telapak tangannya.."
"Lihat baik-baik nak Dede, akan kutunjukkan sesuatu kepadamu.." ucap mbah Sastro.
Mbah Sastro mengambil sikap kuda-kuda, hanya dengan beberapa kali hitungan nafas mbah Sastro mengarahkan pukulannya ke batu hitam itu.
Dhuuuuuuuaaarrr....
Terdengar suara ledakan yang cukup keras ketika telapak tangan mbah Sastro menyentuh batu itu. Terlihat jelas bekas telapak tangan mbah Sastro membekas di batu itu. Dewa terdiam dan melotot untuk beberapa saat, dia hampir tidak percaya apa yang baru saja dia lihat, "B-bagaimana mbah melakukannya..?" tanya Dewa dengan takjub.
"Hehehehehe... Baik, sekarang yang terakhir, saya mau tanya sama nak Dede, kalau menurut nak Dede berapa umurku..?" tanya mbah Sastro.
Dewa heran dengan pertanyaan mbah Sastro. Tapi dia berusaha menebak berapa usia gurunya itu, "Kalau menurutku, mungkin usia mbah Sastro sekitar umur 60 tahunan.." jawab Dewa memastikan.
Mbah Sastro tidak membenarkan atau menyalahkan jawaban Dewa, tapi dia mengeluarkan dompetnya dan menunjukkan KTP nya. Tertulis tanggal lahir 27 April 1939.
Dewa terkejut melihat tulisan di KTP mbah Sastro, "Haaahhh..!! Tahun 1939, berarti mbah sudah 83 tahun..? T-tetapi bagaimana mbah masih terlihat seperti umur 60 tahunan..?" tanya Dewa heran.
"Semua yang nak Dede lihat mulai kita berangkat sampai sekarang ini jawabannya hanya ada satu.." ucap mbah Sastro.
"Apa itu mbah..?" tanya Dewa penasaran.
"Kitab Kalimasada. Aku mempelajari kitab Kalimasada yang sekarang nak Dede bawa itu.." jawab Mbah Sastro
Dewa terdiam mendengar jawaban mbah Sastro, "Kitab Kalimasada..? Apakah benar sehebat itu..?" tanyanya dalam hati.
"Ya tentu hebat nak, nak Dede menganggap itu kitab biasa karena belum tau isinya saja.." ucap mbah Sastro.
Lagi-lagi Dewa dibuat terkejut oleh ucapan mbah Sastro. Dengan mudah mbah Sastro tau apa yang dipikirkannya, "Mbah Sastro tau apa yang saya pikirkan..?"
"Hehehehehe… Bukan tau tapi apa yang nak Dede pikirkan, aku mendengarnya semua.." jawab mbah Sastro.
Lalu apakah aku juga bisa mempelajarinya juga mbah..?" tanya Dewa.
"Tentu bisa, bukankah sudah aku katakan bahwa kitab itu berjodoh denganmu..? Mungkin batu itu akan hancur, atau setidaknya akan membuat bekas yang sangat dalam kalau nak Dede memukulnya dengan tenaga dalam Kalimasada. Kau bisa mempelajari tenaga dalam Kalimasada yang ada dikitab itu.." jawab mbah Sastro.
"Batu itu akan hancur..? Bagaimana bisa mbah..?" tanya Dewa penasaran.
"Seperti yang ku bilang kemaren, ada energi yang sangat besar masih terkunci di dalam tubuhmu. Bahkan jauh lebih besar dari milikku.." jawab mbah Sastro.
Mbah Sastro berjalan memasuki goa, dan diikuti oleh Dewa yang ada di belakang mbah Sastro. Di dalam goa, walaupun tidak begitu besar tapi udara di dalamnya tidak pengap karena selalu ada pergantian udara di dalam goa itu. Di ujung goa tampak ada batu berbentuk persegi dengan permukaan yang datar dan disampingnya ada batu persegi yang lebih kecil lagi. Di dinding goa tertempel damar atau penerangan berbahan bakar minyak.
Mbah Sastro berjalan ke arah batu itu, dan duduk bersila diatasnya, "Kemarilah nak Dede, aku akan menjelaskan kepadamu tentang apa itu kitab Kalimasada.." ucap mbah Sastro.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
DimensiCoustic
keren 👍
2023-06-02
0
Pendekar Angin Barat
sikat bang
2023-06-01
0
Paijo
terimakasih. maklum baru mulai bang..
2023-01-25
2