Kitab Kalimasada (Bag. 2)

Ada sesuatu yang bergejolak dan bergemuruh di dalam tubuh Dewa ketika dia mulai membaca kitab Kalimasada. Walau demikian, Dewa tetap membaca kata demi kata yang ditulis dengan bahasa jawa itu, meskipun ada kata yang tidak dia ketahui artinya, tapi dengan kemampuan analisanya, Dewa dapat memahami maksud dari kalimat yang ada di dalam kitab Kalimasada itu. Setelah membaca beberapa halaman, gejolan dan gemuruh di dalam tubuhnya berangsur hilang berganti dengan munculnya perasaan nyaman, tenang dan damai yang dirasakan oleh Dewa hingga membuat Dewa terlelap dalam keheningan batinnya. Waktu berlalu dengan cepat, Dewa terbangun ketika mendengar adzan shubuh yang berkumandang dari musholla sebelah rumahnya. Dia beranjak dari tempatnya bermeditasi lalu meraih handuk dan segera pergi ke kamar mandi. Setelah selesai mandi dan berwudhu, Dewa berangkat ke musholla untuk berjamaah sholat Shubuh. Tidak seperti saat magrib dan isya', jamaah sholat shubuh di musholla sangat sedikit, bahkan tidak sampai memenuhi setengah dari musholla. 

Selepas sholat, mbah Sastro datang menghampiri Dewa, dengan tawa khasnya mbah Sastro menyapa Dewa, "Hehhehhehhe.. Sepertinya nak Dede jauh lebih tenang saat ini.. Jangan lupa, nanti jam 8 aku tunggu di belakang musholla. Aku akan tunjukkan suatu tempat kepada nak Dede.." ucap mbah Sastro sambil menepuk pundakku lalu beranjak pergi dari musholla.

Dewa hanya menganggukkan kepalanya, tapi dalam hatinya dia merasa heran, "Bagaimana mbah Sastro tau keadaan batinku ya..?" ucapnya dalam hati.

Mereka meninggalkan musholla dengan berjalan beriringan, hingga saat di depan rumahnya, Dewa mengajak mbah Sastro untuk mampir, "Mari mampir mbah, kita ngopi dulu.."

"Terimakasih nak Dede, saya tak langsung pulang saja.. Masih harus kasih makan burung.." jawab mbah Sastro.

Dewa segera masuk rumah setelah kepergian mbah Sastro dan segera melakukan pekerjaan rumah, membersihkan rumah dan mencuci beberapa gelas dan piring kotor, "Hhufhhh.. Akhirnya sudah beres semua.."

Dewa melihat jam dinding, "Masih jam setengah 6, lebih baik aku jogging sebentar saja.." gumamnya pelan.

*****

Sementara itu, di basecamp KKN, terdengar hp Naia berdering. Naia segera mengambil dan melihat hpnya, "Mama telepon..?" gumam Naia lalu dia mengangkat teleponnya.

Naia, "Assalamu'alaikum ma, ada apa ma, tumben pagi-pagi telepon..?" 

Mama Naia, "Wa'alaikumsalam.. Ini papa sama mama udah di kereta, berangkat ke tempat KKN kamu.."

Naia, "Haaahh.. Kok mendadak kasih kabarnya..? Terus kenapa naik kereta, kenapa gak bawa mobil sendiri ma..?"

Mama Naia, "Iya, rencananya sih mau bawa mobil sendiri, tapi ternyata Pak Jupri lagi sakit, jadi gak bisa antar. Yaa.. mumpung papa ada waktu senggang, karena lusa papamu ada urusan bisnis di kota B, besoknya harus terbang ke Ausi, jadi ya hari ini berangkat ke Lerengwilis.."

Naia, "Hhehhh.. Mulai dari Naia sekolah sampai sekarang kuliah, papa sibuk terus. Hampir gak ada waktu buat mama sama Naia.."

Mama Naia, "Hush.. jangan bilang gitu sayang.. Papa lakuin ini semua juga buat Naia sama mama kan..? Udah jangan over thingking gitu ah.. Ini buktinya papa ada waktu longgar langsung berangkat pengen jenguk kamu, dibelain naik kereta lagi.."

Naia, "Iya-iya maaf.. Oiya ma, kalau udah sampai stasiun, mama pesen taksi online aja, gak usah naik angkutan umum ya..? Lewat aplikasi aja ma, tujuannya ke balai desa Lerengwilis. Nanti Naia jemput disana, deket kok sama basecamp nya.."

Mama Naia, "Oh.. Oke deh.. Nanti mama hubungi lagi kalau udah mau sampai. Kamu jaga diri baik-baik ya..?"

Mama Naia memutus sambungan teleponnya dan Naia kembali merebahkan tubuhnya di kasur. Naia menatap langit-langit kamarnya sambil memikirkan sesuatu, "Apa aku ke rumah mas Dede aja ya buat kasih tau kalau papa mau datang dan aku ingin merekomendasikan dia buat jadi pengawal..? Eemmmm.. Gak usah lah, nanti aja sekalian sama papa dan mama datangi rumah mas Dede.." ucap Naia dalam hati.

Naia bangun dari kasurnya lalu langsung mengambil handuk dan peralatan mandinya.

*****

Setelah sekitar satu jam lebih jogging mengelilingi desa, Dewa beristirahat sejenak di teras rumahnya untuk mengeringkan keringat lalu sesaat kemudian dia pergi mandi.

Tidak terasa waktu berlalu dengan cepat dan Mbah Sastro sudah menunggu di teras rumah Dewa untuk beberapa saat.

Dewa segera keluar rumah dan menyapa mbah Sastro, "Sudah menunggu dari tadi mbah..?"

"Hehhehhehhe.. Tidak kok, baru saja. Bagaimana kita berangkat sekarang..?" jawab mbah Sastro dijawab dengan anggukan kepala oleh Dewa

Mereka pun berjalan menuju tempat yang dikatakan mbah Sastro. Walaupun sudah berumur, tidak nampak kelelahan di wajah mbah Sastro saat jalan mulai memasuki wilayah pegunungan. Jalan berbatu dan menanjak dilalui mbah Sastro dengan mudahnya, sedangkan Dewa yang berada di belakang mbah Sastro harus mengeluarkan tenaga lebih untuk melewatinya.

Keheranan terlihat jelas dari wajah Dewa. Dalam hati dia berkata, "Dengan usia segitu mbah Sastro dengan mudah melalui jalan ini. Tubuhnya seakan melayang seperti kapas saja.."

Mbah Sastro seperti mendengar apa yang dipikirkan Dewa lalu dia bekata, "Hehhehhe.. Ayo nak Dede, jangan sampai tertinggal.." ucap mbah Sastro.

Semakin lama, langkah mbah Sastro semakin cepat. Beliau seperti meloncat dari satu batu ke batu lainnya. Dewa dengan sekuat tenaga berusaha mengikuti langkah mbah Sastro dengan berlari, tapi dia tetap tidak mampu mengejar mbah Sastro.

"Edaaaann tenan.. Ini orang apa siluman ya..? Cepet banget jalannya, gimana kalau beliau lari ya..? Padahal medan seperti ini biasa aku lalui saat latihan atau dalam misi, tapi ini... Aaahhh baru kali ini anggota pasukan elit bener-bener dibuat malu oleh orang yang sudah berumur..." gumam Dewa dalam hati.

Sekitar satu jam perjalanan kami menuju tempat yang dimaksud mbah Sastro. Nafas dan tenaga Dewa benar-benar habis, seluruh tubuhnya basah oleh keringat. Tapi tidak dengan mbah Sastro, dia tidak terlihat lelah sedikitpun bahkan nafasnya tetap stabil seperti biasa.

"Hehehehehe… Inilah nak Dede, tempat yang ingin aku tunjukkan kepadamu, tempat dimana aku dulu dilatih oleh guruku dalam mempelajari kitab Kalimasada.." ucap mbah Sastro dengan santai.

"Hooosshh.. Hoooshh.. Hooooosshh.." terdengar dengan jelas suara nafas Dewa yang memburu seperti sapi yang baru saja disembelih..

"Ohhh.. S-sebentar... Mbah...." ucap Dewa terengah-engah.

Dewa segera nengambil nafas panjang untuk menenangkan dirinya. Butuh sekitar lima menit untuk menyetabilkan nafas dan memulihkan dirinya.

Mbah Sastro mentertawakan kondisi fisik Dewa, "Hehhehhehhe… Anak muda sekarang, baru naik gunung sebentar saja sudah ngos ngosan.."

Dewa hanya tersipu malu mendengar ucapan mbah Sastro lalu memberanikan diri bertanya kepada gurunya itu, "Sebentar mbah, saya mau tanya. Mbah kok sepertinya tidak kelelahan sama sekali..?" tanya Dewa heran.

"Hehhehhehhe.. Nanti saja aku jelaskan semuanya.." jawab mbah Sastro santai.

Dewa melihat sekeliling, terlihat ada goa dan ada batu hitam tepat di samping pintu goa, "ini tempat apa mbah..?" tanyanya heran.

Mbah Sastro tidak menjawab pertanyaan Dewa, dia mengajak Dewa untuk mendekati batu hitam di samping pintu goa, "Kemari, ikuti aku.." ucapnya sambil berjalan.

Dewa berjalan mengikuti mbah Sastro dan mendekat di batu hitam besar itu. Batu seukuran mobil SUV itu berwarna hitam legam dan tampak bekas telapak tangan disana, tidak hanya satu tapi ratusan telapak tangan.

Dewa memperhatikan batu hitam itu, betapa terkejutnya dia melihat banyak bekas telapak tangan terukir di batu hitam itu, "Hhhaaahh..!! Ini telapak tangan siapa mbah..? Ada banyak sekali bekas telapak tangannya.." 

"Lihat baik-baik nak Dede, akan kutunjukkan sesuatu kepadamu.." ucap mbah Sastro.

Mbah Sastro mengambil sikap kuda-kuda, hanya dengan beberapa kali hitungan nafas mbah Sastro mengarahkan pukulannya ke batu hitam itu.

Dhuuuuuuuaaarrr....

Terdengar suara ledakan yang cukup keras ketika telapak tangan mbah Sastro menyentuh batu itu. Terlihat jelas bekas telapak tangan mbah Sastro membekas di batu itu. Dewa terdiam dan melotot untuk beberapa saat, dia hampir tidak percaya apa yang baru saja dia lihat, "B-bagaimana mbah melakukannya..?" tanya Dewa dengan takjub.

"Hehehehehe... Baik, sekarang yang terakhir, saya mau tanya sama nak Dede, kalau menurut nak Dede berapa umurku..?" tanya mbah Sastro.

Dewa heran dengan pertanyaan mbah Sastro. Tapi dia berusaha menebak berapa usia gurunya itu, "Kalau menurutku, mungkin usia mbah Sastro sekitar umur 60 tahunan.." jawab Dewa memastikan.

Mbah Sastro tidak membenarkan atau menyalahkan jawaban Dewa, tapi dia mengeluarkan dompetnya dan menunjukkan KTP nya. Tertulis tanggal lahir 27 April 1939.

Dewa terkejut melihat tulisan di KTP mbah Sastro, "Haaahhh..!! Tahun 1939, berarti mbah sudah 83 tahun..? T-tetapi bagaimana mbah masih terlihat seperti umur 60 tahunan..?" tanya Dewa heran.

"Semua yang nak Dede lihat mulai kita berangkat sampai sekarang ini jawabannya hanya ada satu.." ucap mbah Sastro.

"Apa itu mbah..?" tanya Dewa penasaran.

"Kitab Kalimasada. Aku mempelajari kitab Kalimasada yang sekarang nak Dede bawa itu.." jawab Mbah Sastro

Dewa terdiam mendengar jawaban mbah Sastro, "Kitab Kalimasada..? Apakah benar sehebat itu..?" tanyanya dalam hati.

"Ya tentu hebat nak, nak Dede menganggap itu kitab biasa karena belum tau isinya saja.." ucap mbah Sastro.

Lagi-lagi Dewa dibuat terkejut oleh ucapan mbah Sastro. Dengan mudah mbah Sastro tau apa yang dipikirkannya, "Mbah Sastro tau apa yang saya pikirkan..?"

"Hehehehehe… Bukan tau tapi apa yang nak Dede pikirkan, aku mendengarnya semua.." jawab mbah Sastro.

Lalu apakah aku juga bisa mempelajarinya juga mbah..?" tanya Dewa.

"Tentu bisa, bukankah sudah aku katakan bahwa kitab itu berjodoh denganmu..? Mungkin batu itu akan hancur, atau setidaknya akan membuat bekas yang sangat dalam kalau nak Dede memukulnya dengan tenaga dalam Kalimasada. Kau bisa mempelajari tenaga dalam Kalimasada yang ada dikitab itu.." jawab mbah Sastro.

"Batu itu akan hancur..? Bagaimana bisa mbah..?" tanya Dewa penasaran.

"Seperti yang ku bilang kemaren, ada energi yang sangat besar masih terkunci di dalam tubuhmu. Bahkan jauh lebih besar dari milikku.." jawab mbah Sastro.

Mbah Sastro berjalan memasuki goa, dan diikuti oleh Dewa yang ada di belakang mbah Sastro. Di dalam goa, walaupun tidak begitu besar tapi udara di dalamnya tidak pengap karena selalu ada pergantian udara di dalam goa itu. Di ujung goa tampak ada batu berbentuk persegi dengan permukaan yang datar dan disampingnya ada batu persegi yang lebih kecil lagi. Di dinding goa tertempel damar atau penerangan berbahan bakar minyak.

Mbah Sastro berjalan ke arah batu itu, dan duduk bersila diatasnya, "Kemarilah nak Dede, aku akan menjelaskan kepadamu tentang apa itu kitab Kalimasada.." ucap mbah Sastro.

Terpopuler

Comments

DimensiCoustic

DimensiCoustic

keren 👍

2023-06-02

0

Pendekar Angin Barat

Pendekar Angin Barat

sikat bang

2023-06-01

0

Paijo

Paijo

terimakasih. maklum baru mulai bang..

2023-01-25

2

lihat semua
Episodes
1 Perjalanan menuju Lerengwilis (Bag. 1)
2 Perjalanan menuju Lerengwilis (Bag. 2)
3 Akhirnya sampai juga..
4 Kehidupan Baru (Bag. 1)
5 Kehidupan baru (Bag. 2)
6 Kitab Kalimasada (Bag. 1)
7 Kitab Kalimasada (Bag. 2)
8 Kitab Kalimasada (Bag. 3)
9 Menjadi pengawal (Bag. 1)
10 Menjadi pengawal (Bag. 2)
11 Menapak jalan spiritual
12 Manapak jalan spiritual (Bag. 2)
13 Melawan preman (Bag. 1)
14 Melawan preman (Bag. 2)
15 Pertemuan tak terduga
16 Hadiah kecil
17 Mencari masalah (Bag. 1)
18 Mencari masalah (Bag. 2)
19 Mencari masalah (Bag. 3)
20 Trio Wajan
21 Secercah harapan (Bag. 1)
22 Secercah harapan (Bag. 2)
23 Beraksi diam-diam
24 Sebuah keyakinan
25 Ujian buat Niko
26 Satu kepingan puzzle
27 Kompetisi tarung bebas
28 Berhasil atau gagal
29 Simpan penasaranmu
30 Pembuktian
31 Menjadi petarung
32 Belanja di pasar
33 Sepeda untuk Kartika
34 Semangat gotong royong
35 Tiga petarung Lerengwilis
36 Raja Yama
37 Rencana penculikan Naia
38 Mencari Sang Sniper
39 Kejujuran Santoso
40 Kekuatan kegelapan
41 Menyelamatkan Naia
42 Rasa yang terpendam
43 Sang Penguasa Kegelapan
44 Kebahagiaan kita
45 Masa lalu Silvia
46 Membagi hasil taruhan
47 Perguruan Taring Harimau
48 Ilmu Pengawak Wojo
49 Wanita tercantik
50 Amplop putih
51 Bank of Asia (Bag. 1)
52 Bank of Asia (Bag. 2)
53 Berlatih Tenaga Dalam
54 Catatan sang Kolonel
55 Bertemu dengan Kepala Desa
56 Menata rumah
57 Waktunya beraksi
58 Menempati rumah baru
59 Cidera yang sama
60 Aku setuju dengannya
61 Mungkin ini saatnya
62 Sambutan hangat
63 Penculikan Naia
64 Melacak keberadaan Naia
65 Api Dewi Agni
66 Kamu telah gagal
67 Sampah yang sebenarnya
68 Aku ingin bertobat, tapi..
69 Selamat Berpuasa
70 Darimana saja..?
71 Misi mencari Tiara
72 Apakah dia setuju..?
73 Sang Bathari
74 Tanah sangar
75 Dimana kesayanganku..?
76 Bangkitnya sang Dewi
77 Dasanama
78 Oknum sampah
79 Gandarwa Raja (Bag. 1)
80 Gandarwa Raja (Bag. 2)
81 Menolong Kepala Daerah
82 Siluman Kera Merah
83 Rencana Sang Bupati
84 Kena batunya
85 MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
86 Aksara Caraka
87 Sastra Jendra Hayuningrat
88 Bantuan sang Guru
89 Kembali ke kota AB
90 Menyerahkan Laporan
91 Peringatan buatmu
92 Menjadi murid
93 Kelompok tersembunyi
94 Mitra Desa
95 Kepergian Sang Wapres
96 Biar aku menyelidikinya
97 Kupercayaan kebahagiaannya padamu
98 Kabar bahagia
99 Ratu Bidadari
100 Perjuangan terberat
101 Aku menunggumu
102 Terimakasih guru..
103 Tarian Kamatantra
104 Peresmian pusat pelatihan
105 Pasukan Dewa
106 Undangan dari Walikota
107 Seorang ayah
108 Segera Temukan Mereka..!!
109 Kita Sambut Mereka
110 Kekuatan yang menghilang
111 Bawa mereka bertemu denganku
112 Permintaan Suko
113 Ceritakan rencana mereka
114 Bertemu kembali
115 Akui semua kejahatanmu
116 Meminta bantuan
117 Kekuatan tersembunyi Baros
118 Mencari bukti kejahatan
119 Akhirnya kutemukan kalian
120 Akhir Perjalanan
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Perjalanan menuju Lerengwilis (Bag. 1)
2
Perjalanan menuju Lerengwilis (Bag. 2)
3
Akhirnya sampai juga..
4
Kehidupan Baru (Bag. 1)
5
Kehidupan baru (Bag. 2)
6
Kitab Kalimasada (Bag. 1)
7
Kitab Kalimasada (Bag. 2)
8
Kitab Kalimasada (Bag. 3)
9
Menjadi pengawal (Bag. 1)
10
Menjadi pengawal (Bag. 2)
11
Menapak jalan spiritual
12
Manapak jalan spiritual (Bag. 2)
13
Melawan preman (Bag. 1)
14
Melawan preman (Bag. 2)
15
Pertemuan tak terduga
16
Hadiah kecil
17
Mencari masalah (Bag. 1)
18
Mencari masalah (Bag. 2)
19
Mencari masalah (Bag. 3)
20
Trio Wajan
21
Secercah harapan (Bag. 1)
22
Secercah harapan (Bag. 2)
23
Beraksi diam-diam
24
Sebuah keyakinan
25
Ujian buat Niko
26
Satu kepingan puzzle
27
Kompetisi tarung bebas
28
Berhasil atau gagal
29
Simpan penasaranmu
30
Pembuktian
31
Menjadi petarung
32
Belanja di pasar
33
Sepeda untuk Kartika
34
Semangat gotong royong
35
Tiga petarung Lerengwilis
36
Raja Yama
37
Rencana penculikan Naia
38
Mencari Sang Sniper
39
Kejujuran Santoso
40
Kekuatan kegelapan
41
Menyelamatkan Naia
42
Rasa yang terpendam
43
Sang Penguasa Kegelapan
44
Kebahagiaan kita
45
Masa lalu Silvia
46
Membagi hasil taruhan
47
Perguruan Taring Harimau
48
Ilmu Pengawak Wojo
49
Wanita tercantik
50
Amplop putih
51
Bank of Asia (Bag. 1)
52
Bank of Asia (Bag. 2)
53
Berlatih Tenaga Dalam
54
Catatan sang Kolonel
55
Bertemu dengan Kepala Desa
56
Menata rumah
57
Waktunya beraksi
58
Menempati rumah baru
59
Cidera yang sama
60
Aku setuju dengannya
61
Mungkin ini saatnya
62
Sambutan hangat
63
Penculikan Naia
64
Melacak keberadaan Naia
65
Api Dewi Agni
66
Kamu telah gagal
67
Sampah yang sebenarnya
68
Aku ingin bertobat, tapi..
69
Selamat Berpuasa
70
Darimana saja..?
71
Misi mencari Tiara
72
Apakah dia setuju..?
73
Sang Bathari
74
Tanah sangar
75
Dimana kesayanganku..?
76
Bangkitnya sang Dewi
77
Dasanama
78
Oknum sampah
79
Gandarwa Raja (Bag. 1)
80
Gandarwa Raja (Bag. 2)
81
Menolong Kepala Daerah
82
Siluman Kera Merah
83
Rencana Sang Bupati
84
Kena batunya
85
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
86
Aksara Caraka
87
Sastra Jendra Hayuningrat
88
Bantuan sang Guru
89
Kembali ke kota AB
90
Menyerahkan Laporan
91
Peringatan buatmu
92
Menjadi murid
93
Kelompok tersembunyi
94
Mitra Desa
95
Kepergian Sang Wapres
96
Biar aku menyelidikinya
97
Kupercayaan kebahagiaannya padamu
98
Kabar bahagia
99
Ratu Bidadari
100
Perjuangan terberat
101
Aku menunggumu
102
Terimakasih guru..
103
Tarian Kamatantra
104
Peresmian pusat pelatihan
105
Pasukan Dewa
106
Undangan dari Walikota
107
Seorang ayah
108
Segera Temukan Mereka..!!
109
Kita Sambut Mereka
110
Kekuatan yang menghilang
111
Bawa mereka bertemu denganku
112
Permintaan Suko
113
Ceritakan rencana mereka
114
Bertemu kembali
115
Akui semua kejahatanmu
116
Meminta bantuan
117
Kekuatan tersembunyi Baros
118
Mencari bukti kejahatan
119
Akhirnya kutemukan kalian
120
Akhir Perjalanan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!