Dewa mengajak pak Wira untuk kembali ke dalam rumah. Sesampainya di rumah, semua yang berada di ruang tamu kompak menatap Dewa dan pak Wira saat mereka baru memasuki ruang tamu. Baik bu Santi, Naia dan Silvia, bahkan pak Yan bertanya-tanya dalam hati mereka bagaimana hasil pembicaraan antara pak Wira dan Dewa.
Bu Santi langsung membisikkan sesuatu saat pak Wira duduk di tempat beliau, "Bagaimana pa..? Apa Dede menerima tawaran papa..?"
Pak Wira menghembuskan nafas panjang sebelum menjawab, "Hhufhhhh.. Tidak mudah membuat Dede menerima tawaran papa. Hasilnya tidak seperti yang kita pikirkan.." jawab pak Wira dengan berbisik.
Wajah bu Santi terlihat kecewa. Naia yang mengetahui perubahan mimik wajah mamanya juga terlihat kecewa.
Mereka yang berada di ruang tamu terdiam untuk beberapa saat, hingga akhirnya pak Wira berpamitan, "Baiklah kalau begitu mas Dede, karena sudah tidak ada yang perlu dibahas lagi, kami mohon pamit.." ucap pak Wira.
"Loh.. loh.. Jadi gimana ini keputusannya..? Kok tiba-tiba pamit..?" protes Naia.
Pak Wira tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, lalu menjawab protes Naia,"Naia, semua sudah papa dan mas Dede bicarakan dan tidak ada lagi pembahasan lebih lanjut. Ya sudah semua sudah diputuskan tadi di musholla, jadi gak ada lagi yang perlu dibahas disini.." ucap pak Wira.
Naia tampak bingung campur kecewa. Bu Santi hanya bisa menarik nafas panjang dan terlihat pasrah pada keputusan Dewa dan suaminya.
"Mas Dede, sebelum kami pulang saya minta nomer kontak dan nomer rekeningnya.." ucap pak Wira.
Mendengar ucapan suaminya, bu Santi terlihat terkejut lalu menatap Dewa, "Apa Dede meminta imbalan karena dua kali menyelamatkan Naia..? Tapi gak masalah juga sih, toh dia sudah menyelamatkan putri kami.." gumam bu Santi dalam hati.
Dewa tidak segera menjawab pertanyaan pak Wira, Dewa bertanya kepada pak Yan,
"Eee.. pak Yan, apa titipan saya sudah dibelikan..?" tanya Dewa
"Oh.. Tentu sudah mas.. Ini mas.. dan ini uang lebihnya" jawab pak Yan sambil menyerahkan sebuah box dan uang tunai.
Dewa membuka box itu, dan benar isinya hp dengan merk Xiaomii Note 10 pro, dan selembar nota pembelian sebesar 2,8 juta. Dewa tampak bingung dengan uang tunai yang diberikan pak Yan kepadanya, "Loh.. Ini uang apa pak Yan..? Terus hp ini harganya melebihi uang yang saya berikan jadinya..?"
Pak Yan menjelaskan apa yang ditanyakan oleh Dewa, "Jadi gini mas, kan kemaren itu mas Dede memberi saya uang 2 juta untuk servis mobil, lalu memberi lagi uang 2 juta untuk beli hp.."
"Nah ternyata biaya servis mobil cuma 800 ribu, jadi ada kelebihan 1,2 juta. Lalu hp itu kata penjualnya yang paling terbaru, karena masih cukup uangnya ya saya pilih itu saja.." jelas pak Yan.
"Haduuuhh pak Yan.. pak Yan.. Sisa uang servis ya buat pak Yan saja to harusnya. Udah gini aja, ini uang sisa pak Yan ambil saja.." ucap Dewa sambil memberikan uang sisa kepada pak Yan.
"Waaahh.. Terimakasih mas. Alhamdulillah.. Itu nomor hp nya ada ditulis di kotaknya mas.." ucap pak Yan.
Pak Wira melihat yang dilakukan Dewa dengan tersenyum, "Anak ini ternyata punya kepedulian kepada kesulitan sesamanya. Semoga Naia bisa lebih aman jika ada pengawal seperti dia.." gumam pak Wira dalam hati.
Setelah mengetahui nomer hp miliknya, Dewa menunjukkan nomor hp tersebut kepada pak Wira, "Ini pak nomor hp saya. Untuk nomor rekening, saya tidak punya rekening.. Hehehehe" jawab Dewa santai.
Pak Wira mencatat nomor hp yang disebitkan Dewa. Tidak hanya pak Wira, bu Santi, Naia, Silvia juga mencatat dan menyimpan nomer tersebut.
"Hhaaaa..? Ternyata anak ini tidak bohong. Dia benar-benar tidak punya hp sebelumnya.." pikir bu Santi
Pak Wira terkejut mengetahui Dewa tidak memiliki rekening bank, "Tidak punya nomor rekening..? Bagaimana ya..?" pak Wira terlihat berfikir, lalu dia membuka tas tangannya dan mengeluarkan kartu ATM berwarna hitam dan menyerahkannya kepada Dewa, "Eemmmmmm... Kalau begitu bawa kartu ATM ini saja mas Dede. Nanti gaji mas Dede akan saya masukkan ke ATM itu. Pin ATM nya akan saya kirim liwat pesan.." ucap pak Wira. Selanjutnya pak Wira mengirimkan pin ATM tersebut melalui pesan ke hp Dewa.
Mendengar ucapan papanya, Naia menjadi bingung, "Gaji..? Maksudnya gimana sih pa, jadi mas Dede beneran jadi pengawalku..?" tanya Naia.
Pak Wira menganggukkan kepalanya dan menjelaskan semuanya kepada Naia, termasuk syarat yang diminta oleh Dewa, "Naia, mulai saat ini mas Dede akan jadi pengawalmu. Tapi bukan berarti dia harus selalu ada bersama kamu. Dia akan melakukan pengawalan dengan caranya sendiri, intinya mas Dede akan tetap menjaga keselamatanmu, bagaimana caranya hanya mas Dede yang tau.."
"Kamu juga jangan terlalu menyulitkan mas Dede. Yang perlu kamu lakukan, kemanapun kamu pergi kamu harus memberitahu dia.. Dan yang terpenting, jangan lakukan hal-hal yang pernah kamu lakukan pada pengawal-pengawalmu dulu.."
"Siaaaappp laksanakan.." Naia berteriak kegirangan.
Melihat Naia kegirangan, Silvia mulai menggoda Naia, "Trus tanggalnya juga udah ditentukan om..?" tanya Silvia.
Pak Wira bingung mendengar ucapan Silvia, "Tanggal..? Tanggal apa Vi..?" tanya pak Wira.
"Tanggal akad nikah lah om...?" ucap Silvia.
"Silviaaaa.. Kaaannn.. Mulai lagi.. Silvia tuh pa, dari tadi godain aku terus.." ucap Naia sebel.
"Eh.. Siapa yang godain kamu..? Orang aku tanya sama om Wira tanggal aku sama mas ganteng kok. Kan kamu jelas udah gak mau sama mas ganteng.. Iya kan Tan, tadi om sama tante yang jadi walinya..?" bu Santi hanya menganggukkan kepala.
"Trus gimana mas ganteng..?" tanya Silvia
Pak Wira akhirnya paham dengan maksud Silvia, "Oohhh.. Ya tinggal diatur aja Vi.." jawab pak Wira.
"Tuh bener kata pak Wira, atur aja lah, aku ikut aja gimana baiknya.." ucap Dewa sambil mengacungkan jempol.
"Kalian ini yaaaaa.... Ternyata sekongkol. Permufakatan jahat.." ucap Naia sewot.
Hahahahhaha...
Semua tertawa melihat tingkah Naia.
Pak Wira pun berpamitan setelah tidak ada pembahasan lagi, "Baiklah, karena semuanya sudah clear, kami mohon pamit dulu.." ucap pak Wira.
"Maaf pak, saya punya satu permintaan.." tanya Dewa.
"Katakan.. Jika saya bisa, pasti akan saya lakukan.." jawab pak Wira.
"Apa pak Wira bisa mengusahakan kartu identitas untuk saya..? Semua kartu identitas saya hilang, bersamaan dengan hilangnya hp saya.. Saya yakin dengan relasi dan status bapak, tentunya tidak sulit untuk mencarikan kartu identitas untuk saya.." pinta Dewa.
"Oh.. Itu masalah mudah. Tolong dikirimkan ke nomer saya foto dan data diri mas Dede. Kalau sudah jadi biar langsung dikirimkan ke alamat mas Dede.." jawab pak Wira lalu menjabat tangan Dewa dan memeluknya sebelum meninggalkan rumah Dewa.
Setelah mereka pergi, Dewa kembali membuka kitab Kalimasada, "Aku akan mulai mempelajari kitab Kalimasada.." ucapnya dalam hati.
Dewa duduk bersila di lantai kamarnya lalu membuka dan membaca bagian awal kitab Kalimasada. Dewa berkonsentrasi dan menjalankan sesuai wejangan dari mbah Sastro.
*****
Setelah beberapa saat diperjalanan, merekapun telah sampai di basecamp KKN untuk mengantar Naia.
"Tanteeeee... Ooomm.. Gimana kabarnya..? Loh tante darimana kok bareng kak Naia juga..? " Nuraini memberikan salam kepada pak Wira dan bu Santi..
"Heeiiii.. Anak tante makin cantik aja.. Kabar baik sayang, barusan kami dari rumah Dede.." jawab bu Santi sambil mengelus kepala Nuraini.
"Sehat.. Alhamdulillah. Gimana kabar ayah kamu.. Sudah dapat kabar tentang kakakmu..?" tanya pak Wira.
"Alhamdulillah ayah sehat om.. Belum om.. Ayah sama ibu juga khawatir dengan keadaan kak Dewa.." jawab Nuraini.
"Om juga sudah berusaha mencari informasi melalui jaringan yang om punya, tapi sampai sekarang belum dapat kabar kakakmu.. Yang sabar ya Nur, yang penting tetap berdo'a saja. Om yakin kakakmu baik-baik saja.." ucap pak Wira memberi nasehat.
"Iya om. Insyaa' Allah.." jawab Nuraini.
Bu Santi membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa amplop putih, "Oh iya.. Ini buat Silvia, ini buat Nur.. Buat tambahan jajan aja ya..?" ucap bu Santi sambil memberikan amplop putih kepada Nuraini dan Silvia.
"Nah.. Buat aku mana ma..?" protes Naia.
"Udah masuk tuh di hp kamu. Cek aja sendiri.."
"Ini mana nih bendahara kelompok KKN nya..?" tanya bu Santi
"Saya bu.." jawab Risa
"Nih.. Ini buat kalian beli jajan aja ya..?" ucap bu Santi sambil memberikan amplop putih kepada Risa.
"Terimakasih bu, semoga berkah buat kita semua.." jawab Risa.
Aamiin.. Aamiin..
Pak Wira dan bu Santi pun pamit kepada mereka semua dan melanjutkan perjalanan menuju stasiun Jayabaya Kota AG.
"Pak Yan sudah lama kenal sama Dede..?" tanya pak Wira.
"Belum lama juga pak, saya juga baru kenal sama mas Dede, sama seperti mbak Naia.. Memangnya kenapa pak..?" jawab pak Yan.
"Oh.. Gak pa pa.." jawab pak Wira pendek.
"Tadi maksudnya gimana pa..? Mama malah bingung tadi papa bilang gak sesuai dengan yang kita pikirkan tapi kok..?" tanya bu Santi kepada suaminya.
"Jadi begini ceritanya.." Pak Wira menceritakan semua yang terjadi di musholla. Pak Wira menceritakan dengan detail pembicaraanya dengan Dewa, "Seperti itulah kejadiannya.. Semua diluar perkiraan papa, semua orang akan membungkuk di depan papa, tapi Dede sama sekali tidak melakukannya. Dia tau dengan siapa dan apa status orang yang diajak bicara, tapi dia tetap tegak dengan pendiriannya.. Bahkan dia menahan badan papa saat papa membungkuk dan memohon untuk dia menjaga putri kita.." ucap pak Wira mengakhiri ceritanya
"Dede ini bener-bener luar biasa. Dia membuat suamiku memohon untuk anaknya. Memang dia tidak sesederhana kelihatannya.." pikir bu Santi.
Bu Santi memegang tangan suaminya dan berkata, "Entah mengapa, saat papa cerita, mama menjadi lebih tenang. Mama merasa Naia berada di tangan orang yang tepat untuk melindunginya.." ucap bu Santi
"Semoga saja ma.. Tapi selama ini intuisi mama dan insting papa tidak pernah meleset. Semoga saja anak kita aman bersama dengan Dede.." ucap pak Wira.
Pak Wira dan Istrinya terus membahas tentang Dewa di sepanjang perjalanan mereka menuju stasiun Jayabaya. Sesekali pak Yan juga ikut mengomentari saat pak Wira atau bu Santi bertanya kepadanya. Tidak terasa merekapun sudah sampai di depan Stasiun Jayabaya.
"Pak Yan, terimakasih telah mengantar kami.." ucap bu Sinta
"Iya bu, sama-sama. Saya juga senang bisa mengantar bapak dan ibu Wira. Lain kali kalau datang ke kota AG dan butuh taksi online, langsung saja telepon saya bu, ini nomer hp saya.." jawab pak Yan lalu menyebutkan nomor hp nya.
Bu Santi menyimpan nomor hp pak Yan, "Oh, baik pak, jadi lebih gampang kalau begitu. Eee.. Pak Yan ini tolong diterima.." ucap bu Santi menyerahkan amplop putih.
"Apa ini bu..? Kan tadi sudah ibu bayar lewat aplikasi..?" jawab pak Yan.
"Sudahlah pak diterima. Anggap aja itu hadiah perkenalan dari kami.." ucap pak Wira.
"Alhamdulillah.. Terimakasih pak, bu.. Semoga Tuhan membalasnya.." jawab pak Yan.
Pak Wira dan istrinya pun memasuki pintu masuk Stasiun untuk bersiap pulang ke kota L.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Pengguna system v.02
so, dewa kakak nya nuraini dong د, mantap
2023-06-03
1
Muhammad Febriansyah
kakaknya berarti mas dede dong?
2023-02-12
2