Mbah Sastro duduk diatas batu besar berbentuk persegi lalu memanggil Dewa untuk duduk di atas batu itu juga tepat disebelah mbah Sastro, "Kemarilah nak Dede, aku akan menjelaskan kepadamu tentang apa itu Kitab Kalimasada..", Dewa mengikuti perintah mbah Sastro dan duduk berhadapan dengannya. Lalu mbah Sastro bertanya kepada Dewa, "Sebelum aku menjelaskan tentang kitab Kalimasada, aku mau bertanya, apa nak Dede bersedia untuk mempelajarinya..?" tanya mbah Sastro.
"Saya mau mempelajarinya, saya mohon mbah Sastro mau membimbingku dalam mempelajari kitab itu, karena ada beberapa kata yang aku sendiri tidak tau arti dan maknanya.." jawab Dewa penuh keyakinan.
"Baik.. Aku akan menjadi pembimbingmu, menjadi gurumu. Tapi sebelum itu aku ingin nak Dede bersumpah akan menggunakannya untuk jalan kebaikan, membela kebenaran dan keadilan.. Apa nak Dede bersedia..?" tanya mbah Sastro.
"Aku bersedia mbah dan aku bersumpah akan menggunakan ilmu yang ada di dalam kitab Kalimasada di jalan kebaikan dan keadilan.." ucap Dewa dengan sungguh-sungguh.
"Hehhehhehhe... Baik mulai sekarang kamu adalah muridku dan aku akan menjelaskan kitab ini secara bertahap. Setiap kamu mengalami kesulitan atau hambatan, bertanyalah kepadaku agar kamu tidak tersesat dalam mempelajari kitab ini.." ucap mbah Sastro.
Mbah Sastro kemudian memulai wejangannya tentang kitab Kalimasada. Kitab Kalimasada terbagi menjadi dua bagian yang saling terkait, yaitu tentang kanuragan dan spiritual. Kanuragan atau olah kanuragan berfungsi untuk meningkatkan kekuatan fisik, dan spiritual atau olah spiritual berfungsi untuk meningkatkan kekuatan dan energi spiritual atau energi batin. Kedua hal ini harus dipelajari secara beriringan. Kekuatan tubuh ditunjang dengan kekuatan spiritual demikian sebaliknya. Keduanya harus berjalan sejajar dan seimbang. Olah kanuragan didapat dengan mempelajari jurus-jurus yang ada di dalam kitab Kalimasada sedangkan olah spiritual didapat dengan bermeditasi memahami dan meresapi kidung, pujian dan do'a tentang Ketuhanan, penciptaan alam semesta, dan aturan hidup manusia, atau disebut dengan Hidayat Jati.
Dewa mendengarkan wejangan mbah Sastro dengan seksama. Dewa merasakan energi yang ada di dalam tubuh Dewa menjadi bergejolak. Hawa hangat mengalir di dalam tubuh Dewa, semakin lama semakin kuat mengalir ke seluruh tubuhnya. Secara perlahan Dewa dapat mengendalikan energi yang bergejolak itu, hingga dia mendapati dirinya menjadi tenang dan damai.
Mbah Sastro tersenyum mengetahui Dewa mampu menguasai dirinya, "Baiklah, sementara kita akhiri dulu sampai disini.. Kita harus segera turun, karena akan ada seseorang yang ingin bertemu nak Dede.." ucap mbah Sastro.
Mendengar akan ada yang mencarinya, Dewa bertanya kepada mbah Sastro, "Siapa yang mencariku mbah..?"
"Hehhehhehhe… Nanti juga nak Dede akan tau sendiri.."
"Ingat, pelajari kitab Kalimasada secara berurutan dengan sabar dan jangan grusa grusu.. Satu hal lagi, jangan katakan pada siapapun tentang hal ini.." ucap mbah Sastro
"Baik mbah. Aku akan selalu mengingatnya.." jawab Dewa
Sebelum turun, Mbah Sastro lalu memberikan gelang manik-manik yang terbuat dari kayu berwarna coklat kehitaman dan mengkilap kepada Dewa, "Ini pakailah, agar kamu tidak tersesat saat kamu mencari tempat ini.." ucap mbah Sastro.
Mereka lalu pergi dari tempat itu dan menuruni gunung Wilis. Sesampainya di depan rumah Dewa, "Mampir dulu mbah..? Saya buatkan kopi.." tanya Dewa
"Hehhehhehhe… Lain kali saja nak Dede. Sebentar lagi tamu nak Dede akan datang.."
"Satu hal lagi nak Dede, musuh yang kamu hadapi, yang membuat kamu sampai di tempat ini bukanlah orang biasa. Pada saatnya nanti, kamu hanya bisa mengandalkan kemampuanmu sendiri.." ucap mbah Sastro lalu dia pergi.
Dewa sangat terkejut mendengar ucapan gurunya itu, mukanya langsung pucat. Hal yang selama ini dirahasiakannya, dengan mudah diketahui oleh mbah Sastro, "Siapa sebenarnya mbah Sastro ini..? Bagaimana beliau bisa tau..?"
Dewa menarik nafas panjang, "Huffhhhh.. Tapi aku yakin, mbah Sastro mengatakan hal ini sekarang pasti untuk kebaikanku.. Terimakasih sudah memperingatkanku guru.." ucapnya dalam hati sambil menatap mbah Sastro. Mbah Sastropun tersenyum dan mengangkat tangan kanannya.
*****
Sementara itu sebuah mobil MVP berwarna hitam berhenti di depan basecamp KKN Naia. Seorang laki-laki berumur 50 tahunan turun dari dalam mobil dan berjalan ke arah pintu basecamp lalu mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
Tok.. tok.. tok..
"Assalamu'alaikum.."
Naia mendengar suara yang tidak asing di telinganya, diapun segera menjawab, "Wa'alaikumsalam.. Papa...!!" Naia berlari ke arah papanya dan memeluknya.
Papa Naia, bernama Sanjaya Wirakusuma, 50 tahun, atau yang dikenal dengan nama pak Wira adalah seorang pengusaha properti yang berasal dari kota L. Tidak hanya pengusaha properti, banyak usaha yang dikelola oleh pak Wira, diantaranya adalah tambang batu bara, minyak bumi, pengolahan sawit, energi, perbankan dan juga menguasai pasar modal. Sedangkan mama Naia bernama ibu Santi adalah seorang guru bimbingan konseling salah satu sekolah swasta di kota L. Pak Wira dan bu Santi adalah sosok orang yang rendah hati dan mempunyai kepedulian sosial yang tinggi.
Pak Wira dan bu Santi dikaruniai dua orang anak, Naia adalah anak pertama dan seorang adik laki-laki yang berumur 10 tahun. Tapi sayang adiknya meninggal pada tragedi penculikan, dan setelah kejadian itu, papa Naia selalu berusaha mencarikan pengawal untuk Naia.
"Duuhhhh.. Naia.., tambah cantik aja nih anak papa.." ucap papanya memuji.
"Ih.. Papa bisa aja.. Mana mama..?" tanya Naia.
Tak berselang lama, bu Santi pun turun dari mobil dan menyapa Naia, "Anak mama... Sini peluk mama gih.." ucap bu Santi.
Naia pun berjalan ke arah mamanya dan memeluknya, "Naia kangen ma... Mmmuuuah.." Naia mencium pipi mamanya.
"Eh.. Mbak Naia ketemu lagi.." ucap pak Yan menyapa.
Naia dikejutkan dengan suara yang tidak asing di telinganya, "Loh, Pak Yan..? Kok kebetulan gitu papa dan mama naik mobil pak Yan..?" tanya Naia.
"Itu namanya jodoh mbak... Pas kebetulan saya mau putar balik ada order masuk. Ternyata yang naik papa dan mamanya mbak Naia to..? Waduh maaf pak, bu, saya gak tau kalau njenengan itu bapak ibu nya mbak Naia.." ucap pak Yan.
"Gak pa pa pak, kami juga tidak tau kalau bapak kenal dengan putri kami.." jawab bu Santi.
Pak Wira juga bingung ternyata driver dari mobil yang ditumpanginya kenal dengan Naia, "Lho kalian sudah saling kenal..? Bagaimana ceritanya, bukannya kamu juga baru pertama ini datang ke desa ini..?"
"Jadi pa, pak Yan itu yang kemaren malam itu antar Naia kemari.. Masuk dulu gih.. Nanti Naia cerita detailnya.. Pak Yan sekalian masuk yuk..?" ucap Naia.
Merekapun masuk ke dalam basecamp. Silvia yang ada di dalam basecamp menghampiri kedua orang tua Naia lalu menyapa mereka, "Assalamu'alaikum om.. tante.." ucap Silvia lalu mencium tangan pak Wira dan bu Santi.
"Wa'alaikumsalam.. Ini Silvia kan..? Eh.. Makan cantik aja nih anak tante.. Mana nih anak tante yang satu lagi..? Itu si Nur..." jawab bu Santi.
"Ah.. Tante bisa aja.. Nur lagi ke lokasi proyek KKN dia. Eee.. tadi berangkat jam berapa tan..?" tanya Silvia.
"Udah jangan banyak tanya dulu.. Sana ke belakang bikinin teh hangat gih.. Sama kopinya satu ya.. Hihihi.." ucap Naia.
"Hhehhhhh... Iya non, bibi buatin teh dulu.. Teh 2 kopi 1 kan..?" jawab Silvia manyun.
"Hihihihi... Tolong ya kakak cantik.. Yang ikhlas dong, senyum gih.." jawab Naia diikuti senyum Silvia.
Silvia menyuguhkan minuman yang sudah dia buat dan ikut mengobrol bersama mereka. Naia lanjut menceritakan kejadian saat perjalanan dari stasiun sampai ke Lerengwilis kepada papa dan mamanya.
Silvia kaget mendengar cerita Naia, "Hhhhaaahhh..? Ada kejadian seperti itu Nai..? Kok kamu gak cerita sih..?" ucap Silvia.
"Ya karena emang sama mas Dede gak boleh cerita sih.."" jawab Naia.
Tiba-tiba tangan bu Santi menjewer telinga Naia, "Mama bilang juga apa, kan sudah mama bilang buat ditemani pengawal. Nih hukumannya gak denger mama, coba kalau si Dede itu gak ada..?" ucap bu Santi.
"Aduuuhh.. aduuuhh.. Sakit ma… iya-iya Naia salah, Naia minta maaf ma.." rengek Naia.
Pak Wira hanya menggelengkan kepalanya mendengar cerita putrinya itu. Tapi dalam hatinya dia bersyukur Tuhan masih melindungi Naia, "Kalau seperti itu kita datangi saja dia, papa mau berterimakasih sama dia secara langsung.. Eeeemmmm.. Itukah yang kamu bilang buat pengawal..?" tanya pak Wira dan dianggukkan oleh Naia.
"Iya bener pa, mama setuju.. Kita harus berterimakasih sama dia langsung.." sambung bu Santi.
"Kayaknya bisa jadi calon mantu deh om.. Hahahaha" celetuk Silvia sambil ngloyor pergi.
"Silviaaaa... Ih.." jawab Naia.
"Udah.. Sana cepet kamu ganti baju, kita datangi rumahnya. Kamu tau kan rumahnya..?" tanya bu Santi.
"Rumah mas Dede ya..? Saya tau bu, kebetulan malam itu saya yang antar mas Dede.. Juga saya sekalian mau antar titipan mas Dede.." jawab pak Yan.
Silvia keluar sudah dengan pakaian rapi, "Eh.. Mau kemana Vi..? Rapi banget..?" tanya Naia.
"Mau ikut lah, ketemu sama mas ganteng.. Weeekk" ucap Sylvia sambil menjulurkan lidah mengejek Naia.
"Apaan sih..? Emang siapa yang ngajak kamu..?" jawab Naia sambil masuk kamar.
Setelah semuanya siap, pak Yan mengantar mereka ke rumah Dewa. Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke rumah Dewa.
*****
Pak Yan segera turun dari mobil saat sampai di depan rumah Dewa, lalu mengetok pintu rumah Dewa sambil mengucap salam.
Tokk.. tokk.. tokk...
"Assalamu'alaikum.. Mas Dede..?" teriak pak Yan.
"Wa'alaikumsalam.. Lho pak Yan..? Monggo masuk dulu.." jawab Dewa
"Sebentar mas, saya ambil pesenan mas dulu sama antar tamu.." jawab pak Yan.
Naia langsung menyapa Dewa sesaat setelah keluar dari mobil, "Mas Dedeeeee...." teriak Naia sambil melambaikan tangannya. Di samping Naia berdiri Silvia dan bu Santi.
Pak Wira mengulurkan tangannya sambil memperkenalkan dirinya, "Saya Sanjaya Wirakusuma, panggil saja pak Wira, saya adalah papa nya Naia.." ucap pak Wira.
Dewa menjabat tangan pak Wira sambil memperkenalkan dirinya, "Oohh, saya Dede.. Eemmm, mari-mari masuk dulu, semuanya saja masuk dulu, kita ngobrol-ngobrol di dalam.."
"Monggo silahkan duduk, maaf rumahnya berantakan.. Sebentar saya buatkan minum dulu.." ucap Dewa lalu pergi ke dapur.
Pak Yan segera menyusul Dewa ke dapur dan memintanya untuk menemani para tamu di depan, "Mas, biar saya saja yang buatkan minum. Mas Dede temui saja pak Wira, sepertinya ada hal penting yang mau dibahas.."
Dewa segera menuju ruang tamu untuk menemui para tamunya, "Apa ini tamu yang guru bilang tadi..?" ucapnya dalam hati.
"Saya bu Santi, mamanya Naia.." ucapnya sambil menjabat tanganku.
"Saya Silvia, sahabatnya Naia.. Aku panggilnya mas Dede apa mas Ganteng ya.. Hihihi...?" ucap Silvia sambil menyenggol Naia..
"Apaan sih Vi..? Udah kita diam aja, ini urusan orang tua.." jawab Naia.
Pak Yan keluar dengan membawa beberapa cangkir kopi dan teh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Maurun Nara
Maaf, Thor. Pemakaian kata "Saya" tidak konsisten penggunaannya. Karena selalu bergantian dengan "Aku". Jadi kesannya inkonsisten si MC nya, sebentar² "Saya" dan sebentar² "Aku".
2023-07-06
2