Mencari masalah (Bag. 3)

Tidak hanya Husain, beberapa orang tua terlihat sedang memarahi anak mereka. Husain dengan emosi berjalan ke arah Bobby, "Memalukan..!! Kelakuanmu sangat memalukan..!! Kamu pengen bapakmu jantungan hah..?" Husain menampar dan memaki Bobby.

Plaaaaakkk.. Plooookkk.. Plaaaaaaakk..

Petugas polsek hanya bisa melihat Husain menampar anaknya, tapi tidak ada satupun yang berani mengingatkan, karena Husain adalah seorang perwira menengah dari institusinya.

Bobby melindungi wajahnya dengan tangan, dan sesekali menangkis tangan bapaknya sambil memohon kepada bapaknya, "A-ampun pak.. Maafkan Bobby pak.." rengek Bobby.

Dengan muka memerah, Husain terus memarahi Bobby, "Jadi ini yang selama ini kamu lakukan..?! Apa mentang-mentang kamu anak seorang polisi kamu bisa berbuat semaumu..?! Malu bapak dengan kelakuanmu..!!" bentak Husain dengan mata melotot, merasa belum puas, Husain kembali memarahi Bobby, "Kamu sebagai seorang anak polisi seharusnya bisa menjadi contoh yang baik dalam mentaati aturan buat anak-anak lain..!! Bukan malah berbuat yang melanggar aturan seperti ini..!! Goblok dipelihara..!!" bentak Husain.

Seorang petugas polisi yng juga berpangkat perwira ikut menasehati Bobby, "Betul mas Bobby, sudah kewajiban seorang anak untuk menjaga nama baik orang tua dan keluarga. Kalau dalam istilah jawa namanya mikul dhuwur mendhem jero nama orang tua. Terlebih lagi mas Bobby adalah anak pertama dan seorang laki-laki..? Jadi jangan diulangi lagi ya..?"

Bobby hanya menunduk dan menangis di hadapan orang tuanya dan petugas polsek, "M-maafin Bobby pak, Bobby janji tidak akan mengulanginya lagi. Bobby menyesal pak.." ucap Bobby sesenggukan.

"Bagus kamu menyadari kesalahanmu, dan menyesali perbuatanmu. Tapi jangan hanya dalam ucapan, buktikan dalam perubahan sikap dan perilaku mu bahwa kamu benar benar menyesal.." Husain menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya, "Meski begitu, kamu tetap harus bapak hukum. Sementara fasilitas yang sudah bapak berikan, bapak cabut.. Ingat, kejadian hari menjadi yang pertama dan terakhir bapak menolongmu. Kalau kamu mengulanginya lagi, bapak tidak akan perduli lagi.." ucap Husain tegas.

Bobby hanya bisa menangis menyesali perbuatannya. Sebagai seorang ayah, sudah tentu Husain sangat menyayangi Bobby. Husain berjongkok membelai kepala Bobby, dengan nada suara yang sedikit merendah, "Jangan menyalahkan siapapun atas kejadian ini. Renungkan perbuatanmu kali ini.. Bapak lakukan ini demi kebaikan dan masa depanmu. Paham..?" ucap Husain memberi nasehat kepada anaknya

"I-iya pak.. Bobby paham.. B-Bobby minta maaf pak.." ucap Bobby sambil menangis.

Tiba-tiba masuk seseorang berusia 45 tahunan dengan marah-marah. "Mana anakku..?! Mengapa kalian menangkap anakku..?" ucapnya sambil marah.

Seorang petugas kepolisian menemui dan berusaha menjelaskan kepada orang tersebut, "Maaf pak, anak bapak terlibat dalam aksi balap liar di jalan raya. Jadi untuk sementara kami amankan di kantor.." jawab petugas.

"Memangnya kenapa kalau balapan..? Itu juga sudah jadi hobinya dia.. Toh dia balapan pakai motor dia sendiri, bensin juga beli sendiri, lalu apa masalahnya..?" balasnya sambil berkacak pinggang.

Roni melangkah maju di depan petugas lalu memaki orang tersebut, "Wooooiii.. Kalau ngomong diatur.. Anakmu jelas-jelas salah masih saja kau bela.." hardik Roni.

"Tenang bang Roni, biar kami yang atasi.." sahut petugas menenangkan Roni.

Roni lalu menoleh kepada petugas dan berkata, "Sebentar pak, biar saya ngomong sebentar.." setelah itu Roni meneruskan ucapannya kepada orang itu, "Kamu itu orang tua goblok dan gak punya otak. Anakmu itu balapan di jalan raya. Apa kamu gak berfikir itu menganggu ketertiban umum, belum lagi kalau dia kecelakaan trus mati siapa yang rugi..? Kalau dia yang celaka sendiri gak masalah, tapi kalau dia kecelakaan dia nabrak orang trus orang jadi cacat seumur hidup karena ditabrak anakmu, siapa yang tanggung jawab blok goblok..? Sudah tau anaknya salah masih saja dibela.. Pekok..!!" Ucapan Roni membuat orang itu terdiam, lalu seorang petugas mendatangi pria itu dan memberi pemahaman kepadanya, lalu memanggil anak dari pria itu untuk dilakukan pendataan.

"Eee.. M-Maaf ndan, kami tidak tau kalau Bobby anak komandan, apakah perlu ......." ucap salah satu polisi.

Husain paham maksud dari petugas itu. Sebelum petugas menyelesaikan ucapannya, Husain segera memotong, "Cukup...!! Tidak perlu. Jangan lihat dia itu anakku. Kalau memang salah, proses sesuai aturan yang berlaku, meskipun itu anak jendral sekalipun..!!" jawab Husain tegas.

"Siap ndan.. M-Mohon ucapan saya tadi tolong dimaafkan ndan.." jawab petugas tersebut ketakutan. Husain menepuk bahu polisi itu dan berkata, "Kita sebagai aparat penegak hukum, aturan adalah diatas segalanya. Jika memang ada yang melanggar, proses sesuai aturan yang berlaku. Harus tegas dan jangan pernah takut. Jadi jangan biasakan bernegoisasi seperti itu, paham..?" ucap Husain pelan tapi tegas. Polisi itu pun hanya menjawab, "Siap ndan.."

Setelah itu petugas tersebut memberikan penjelasan kepada orang tua yang sedang menjemput anaknya, "Baiklah bapak ibu, setelah kami melakukan pendataan, anak bapak-ibu terbukti melanggar Undang-undang lalu lintas, dengan tidak memiliki SIM, knalpot motor yang tidak sesuai dengan standar atau knalpot brong. Selain itu anak bapak-ibu juga mengakui bahwa mereka akan melakukan balap liar, uang taruhan ini sebagai buktinya. Jadi kami akan berikan hukuman tilang dan wajib lapor karena mereka masih dibawah umur.." ucap petugas.

Husain dan orang tua lainnya hanya bisa mengikuti keputusan dari petugas polsek Kota Barat. Mereka menyadari bahwa semua karena kesalahan dari anak-anak mereka sendiri.

Roni snagat bangga terhadap Husain, "Seandainya saja semua petugas kepolisian ini seperti om Husain, maka negara ini akan aman.. Tapi bukankah sudah seharusnya petugas kepolisian itu bersikap seperti om Husain..? Mengayomi masyarakat, menegakkan hukum tanpa pandang bulu.." gumam Roni dalam hati.

Setelah selesai membantu polisi menurunkan motor Bobby dan teman-temannya, Loreng dan anak buahnya segera menyusul Roni di dalam kantor polsek. Urusan dengan Bobby dan gengnya pun selesai, Roni, Loreng dan kedua anak buahnya langsung pulang setelah berpamitan kepada Husain dan petugas polsek.

*****

Waktu berlalu dengan cepat, tak terasa sudah dua hari berlalu. Selama dua hari itu pun Dewa selalu melakukan rutinitasnya sehari-hari, pada pagi hari sampai menjelang siang dia melatih fisiknya dengan berlari menyusuri wilayah Gunung Wilis dan melakukan latihan fisik, sedangkan pada malam harinya dimanfaatkan Dewa untuk melakukan meditasi. Hingga pada keesokan paginya,

"Assalamu'alaikum.."

"Itu seperti suara mbah Sastro..?" gumam Dewa dalam hati, lalu dijawabnya salam dari gurunya itu, "Wa'alaikumsalam.." Dewa membukakan pintu dan mempersilahkan mbah Sastro, "Eh.. Guru, silahkan masuk, silahkan duduk.. Saya buatkan kopi dulu.."

"Hehhehhehhe… Iya.. Terimakasih nak Dede.." jawab mbah Sastro sambil duduk.

Tidak butuh lama Dewa pun menemui mbah Sastro dengan membawa dua cangkir kopi, "Silahkan diminum kopinya, mumpung masih hangat.. Eeee, dua hari ini saya tidak melihat guru menjadi imam di musholla.. Lalu saya datang ke rumah guru, sepertinya dirumah juga kosong tidak ada orang.." ucap Dewa.

"Hehhehhehhe.. Iya memang saya sama Salim memang tidak ada dirumah. Kami pergi ke kota D, mengunjungi mertua Salim yang sakit.." jawab mbah Sastro.

Salim adalah anak mbah Sastro yang terakhir. Selama ini mbah Sastro tinggal bersama anak dan menantunya, pak Salim dan bu Neneng istri pak Salim.

"Oohhhh.. Pantas saja rumahnya kosong.. Eeemmm.. Bagaimana kabar guru..?" Tanya Dewa.

"Alhamdulillah baik seperti yang nak Dede lihat.. "Hehhehhehhe.. Sepertinya nak Dede sudah melakukan banyak hal beberapa hari ini.." tanya mbah Sastro.

"Iya benar guru, aku hanya berusaha untuk melakukan apa yang bisa aku lakukan.. Tapi aku tidak tau apakah yang aku lakukan ini benar atau tidak dan aku juga tidak tau bagaimana hasilnya nanti.." ucap Dewa pelan.

Mbah Sastro memahami apa yang dirasakan oleh Dewa, lalu dia menjawab kekhawatiran muridnya itu, "Hehhehhehe.. Hidup ini adalah laku, tugas kita sebagai manusia hanyalah menjalani, nglakoni kalau kata orang jawa, yaitu menjalani proses. Selesai satu perkara, satu proses, akan dihadapkan pada perkara atau proses lainnya. Sedangkan hasil itu sendiri adalah akibat dari proses yang kita jalani saja.." Mbah Sastro mengambil jeda sebelum melanjutkan, "Tentunya kita tidak akan bisa hanya berhenti pada satu hasil atau menjalani satu proses saja.." Mbah Sastro memulai penjelasannya.

"Bagaimana bisa begitu guru..?"

"Ya memang seperti itu.. Hidup ini bagaikan sebuah roda yang terus berputar. Seperti yang kukatakan tadi bahwa hasil adalah akibat dari proses yang kita jalani. Nah, akibat itulah yang akan menjadi sebab dari proses kita selanjutnya yang mau tidak mau harus kita jalani dan hal ini akan menjadi akibat yang baru bagi kita, begitu seterusnya, itulah yang dinamakan lingkaran kehidupan.."

"Lalu kapan putaran itu akan berhenti..? Apakah saat kita tidak ingin melakukan atau mengubah hasil yang ingin kita capai..?" tanya Dewa penasaran.

"Hehhehhehhe.. Mengubah hasil juga akan menciptakan proses yang baru lagi. Semua akan berhenti saat Sang Maha Pemberi Kehidupan memanggil kita untuk pulang, untuk menghadap kepadaNya dan mempertanggung jawabkan semua laku kita di dunia ini.."

"Lalu apakah yang aku lakukan ini benar..?" Dewa masih merasa bingung antara benar dan salah terhadap apa yang sudah dilakukannya.

"Benar menurut kita belum tentu benar menurut orang lain. Mungkin apa yang kamu yakini sebagai sesuatu yang benar bisa bertentangan dengan benar yang diyakini orang lain.. Dan satu hal, benar atau tidak, semua tergantung bagaimana kamu melakoninya, menjalaninya.." jawab mbah Sastro.

Dewa penasaran dengan jawaban gurunya itu, "Lalu bagaimana seharusnya aku melakoninya guru..?" sahut Dewa ingin tau.

"Hehhehhehhe… Melakukan sesuatu yang benar dengan cara yang benar, dengan tetap berpegang pada prinsip kemanusiaan dan keadilan, itulah dasar dari kebenaran. Lakukan sesuai takaran dan tidak berlebihan. Kamu tidak perlu menebang sebatang pohon jika hanya rantingnya yang menganggu jalan. Cukup potong rantingnya saja.." lalu mbah Sastro terdiam.

"Selanjutnya guru..?" tanya Dewa.

"Selalu eling lan waspada akan membuat langkahmu selalu dalam kebenaran, artinya kita harus selalu eling atau ingat bahwa ada Dzat Yang Maha Segalanya, yang menjadi penguasa akan diri kita dan kita waspada akan hal yang akan membawa kita pada kesesatan dan kehinaan.." mbah Sastro mengambil nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya, "Masuklah ke dalam alam weningmu, tanyakan kepada rasa sejati atau diri sejatimu. Rasa sejatimu akan membimbingmu dan menjawab keraguanmu. Dari sanalah kamu akan menemukan jawaban dari banyak pertanyaan yang bergejolak di dalam hatimu.." jawab Mbah Sastro.

Mbah Sastro tak pernah bosan memberikan wejangannya kepada Dewa. Merekapun mengobrol hingga lupa waktu. Wejangan dari mbah Sastro benar-benar membuka pikiran Dewa, seakan menjadi petunjuk apa yang sebaiknya dilakukannya.

Mbah Sastro mengakhiri pertemuan itu dengan sebuah pesan, "Jangan pernah ragu-ragu dalam melangkah. Yakinlah bahwa rasa sejatimu akan selalu membimbingmu. Karena rasa sejatimu sebenarnya adalah pengejawantahan dari Sang Maha Cerdas.." ucap mbah Sastro sambil berdiri.

Tak terasa adzan dhuhur berkumandang di musholla, mereka pun berangkat ke musholla untuk berjamaah sholat dhuhur. Seusai sholat dhuhur, Dewa mengambil dan memeriksa hpnya yang ada di atas meja. Terlihat 1 pesan masuk dari Roni.

[Roni]  |Alat pelatihan sudah dikirim bos. Ini sepertinya sudah sampai di kota AG. Perkiraan nanti sore sudah sampai di sasana.|

[Dewa]  |Kamu atur aja penempatannya. Atur yang rapi biar aman dan nyaman saat digunakan..|

[Roni]  |Siap bos. Sesuai perintah|

Dewa tersenyum mendapat kabar dari Roni, "Sebentar lagi peralatan pelatihan lengkap. Aku bisa berlatih fisik di sasana juga.. Tidak ada ruginya juga memfasilitasi peralatan latihan buat sasana. Suatu saat pasti mereka akan bermanfaat juga buat mencapai tujuanku.." gumam Dewa dalam hati.

Terpopuler

Comments

Putra_Andalas

Putra_Andalas

cuma dlm novel gua nemuin proses keg gini..klo di dunia nyata.. Wallahualam

2023-07-01

2

lihat semua
Episodes
1 Perjalanan menuju Lerengwilis (Bag. 1)
2 Perjalanan menuju Lerengwilis (Bag. 2)
3 Akhirnya sampai juga..
4 Kehidupan Baru (Bag. 1)
5 Kehidupan baru (Bag. 2)
6 Kitab Kalimasada (Bag. 1)
7 Kitab Kalimasada (Bag. 2)
8 Kitab Kalimasada (Bag. 3)
9 Menjadi pengawal (Bag. 1)
10 Menjadi pengawal (Bag. 2)
11 Menapak jalan spiritual
12 Manapak jalan spiritual (Bag. 2)
13 Melawan preman (Bag. 1)
14 Melawan preman (Bag. 2)
15 Pertemuan tak terduga
16 Hadiah kecil
17 Mencari masalah (Bag. 1)
18 Mencari masalah (Bag. 2)
19 Mencari masalah (Bag. 3)
20 Trio Wajan
21 Secercah harapan (Bag. 1)
22 Secercah harapan (Bag. 2)
23 Beraksi diam-diam
24 Sebuah keyakinan
25 Ujian buat Niko
26 Satu kepingan puzzle
27 Kompetisi tarung bebas
28 Berhasil atau gagal
29 Simpan penasaranmu
30 Pembuktian
31 Menjadi petarung
32 Belanja di pasar
33 Sepeda untuk Kartika
34 Semangat gotong royong
35 Tiga petarung Lerengwilis
36 Raja Yama
37 Rencana penculikan Naia
38 Mencari Sang Sniper
39 Kejujuran Santoso
40 Kekuatan kegelapan
41 Menyelamatkan Naia
42 Rasa yang terpendam
43 Sang Penguasa Kegelapan
44 Kebahagiaan kita
45 Masa lalu Silvia
46 Membagi hasil taruhan
47 Perguruan Taring Harimau
48 Ilmu Pengawak Wojo
49 Wanita tercantik
50 Amplop putih
51 Bank of Asia (Bag. 1)
52 Bank of Asia (Bag. 2)
53 Berlatih Tenaga Dalam
54 Catatan sang Kolonel
55 Bertemu dengan Kepala Desa
56 Menata rumah
57 Waktunya beraksi
58 Menempati rumah baru
59 Cidera yang sama
60 Aku setuju dengannya
61 Mungkin ini saatnya
62 Sambutan hangat
63 Penculikan Naia
64 Melacak keberadaan Naia
65 Api Dewi Agni
66 Kamu telah gagal
67 Sampah yang sebenarnya
68 Aku ingin bertobat, tapi..
69 Selamat Berpuasa
70 Darimana saja..?
71 Misi mencari Tiara
72 Apakah dia setuju..?
73 Sang Bathari
74 Tanah sangar
75 Dimana kesayanganku..?
76 Bangkitnya sang Dewi
77 Dasanama
78 Oknum sampah
79 Gandarwa Raja (Bag. 1)
80 Gandarwa Raja (Bag. 2)
81 Menolong Kepala Daerah
82 Siluman Kera Merah
83 Rencana Sang Bupati
84 Kena batunya
85 MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
86 Aksara Caraka
87 Sastra Jendra Hayuningrat
88 Bantuan sang Guru
89 Kembali ke kota AB
90 Menyerahkan Laporan
91 Peringatan buatmu
92 Menjadi murid
93 Kelompok tersembunyi
94 Mitra Desa
95 Kepergian Sang Wapres
96 Biar aku menyelidikinya
97 Kupercayaan kebahagiaannya padamu
98 Kabar bahagia
99 Ratu Bidadari
100 Perjuangan terberat
101 Aku menunggumu
102 Terimakasih guru..
103 Tarian Kamatantra
104 Peresmian pusat pelatihan
105 Pasukan Dewa
106 Undangan dari Walikota
107 Seorang ayah
108 Segera Temukan Mereka..!!
109 Kita Sambut Mereka
110 Kekuatan yang menghilang
111 Bawa mereka bertemu denganku
112 Permintaan Suko
113 Ceritakan rencana mereka
114 Bertemu kembali
115 Akui semua kejahatanmu
116 Meminta bantuan
117 Kekuatan tersembunyi Baros
118 Mencari bukti kejahatan
119 Akhirnya kutemukan kalian
120 Akhir Perjalanan
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Perjalanan menuju Lerengwilis (Bag. 1)
2
Perjalanan menuju Lerengwilis (Bag. 2)
3
Akhirnya sampai juga..
4
Kehidupan Baru (Bag. 1)
5
Kehidupan baru (Bag. 2)
6
Kitab Kalimasada (Bag. 1)
7
Kitab Kalimasada (Bag. 2)
8
Kitab Kalimasada (Bag. 3)
9
Menjadi pengawal (Bag. 1)
10
Menjadi pengawal (Bag. 2)
11
Menapak jalan spiritual
12
Manapak jalan spiritual (Bag. 2)
13
Melawan preman (Bag. 1)
14
Melawan preman (Bag. 2)
15
Pertemuan tak terduga
16
Hadiah kecil
17
Mencari masalah (Bag. 1)
18
Mencari masalah (Bag. 2)
19
Mencari masalah (Bag. 3)
20
Trio Wajan
21
Secercah harapan (Bag. 1)
22
Secercah harapan (Bag. 2)
23
Beraksi diam-diam
24
Sebuah keyakinan
25
Ujian buat Niko
26
Satu kepingan puzzle
27
Kompetisi tarung bebas
28
Berhasil atau gagal
29
Simpan penasaranmu
30
Pembuktian
31
Menjadi petarung
32
Belanja di pasar
33
Sepeda untuk Kartika
34
Semangat gotong royong
35
Tiga petarung Lerengwilis
36
Raja Yama
37
Rencana penculikan Naia
38
Mencari Sang Sniper
39
Kejujuran Santoso
40
Kekuatan kegelapan
41
Menyelamatkan Naia
42
Rasa yang terpendam
43
Sang Penguasa Kegelapan
44
Kebahagiaan kita
45
Masa lalu Silvia
46
Membagi hasil taruhan
47
Perguruan Taring Harimau
48
Ilmu Pengawak Wojo
49
Wanita tercantik
50
Amplop putih
51
Bank of Asia (Bag. 1)
52
Bank of Asia (Bag. 2)
53
Berlatih Tenaga Dalam
54
Catatan sang Kolonel
55
Bertemu dengan Kepala Desa
56
Menata rumah
57
Waktunya beraksi
58
Menempati rumah baru
59
Cidera yang sama
60
Aku setuju dengannya
61
Mungkin ini saatnya
62
Sambutan hangat
63
Penculikan Naia
64
Melacak keberadaan Naia
65
Api Dewi Agni
66
Kamu telah gagal
67
Sampah yang sebenarnya
68
Aku ingin bertobat, tapi..
69
Selamat Berpuasa
70
Darimana saja..?
71
Misi mencari Tiara
72
Apakah dia setuju..?
73
Sang Bathari
74
Tanah sangar
75
Dimana kesayanganku..?
76
Bangkitnya sang Dewi
77
Dasanama
78
Oknum sampah
79
Gandarwa Raja (Bag. 1)
80
Gandarwa Raja (Bag. 2)
81
Menolong Kepala Daerah
82
Siluman Kera Merah
83
Rencana Sang Bupati
84
Kena batunya
85
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
86
Aksara Caraka
87
Sastra Jendra Hayuningrat
88
Bantuan sang Guru
89
Kembali ke kota AB
90
Menyerahkan Laporan
91
Peringatan buatmu
92
Menjadi murid
93
Kelompok tersembunyi
94
Mitra Desa
95
Kepergian Sang Wapres
96
Biar aku menyelidikinya
97
Kupercayaan kebahagiaannya padamu
98
Kabar bahagia
99
Ratu Bidadari
100
Perjuangan terberat
101
Aku menunggumu
102
Terimakasih guru..
103
Tarian Kamatantra
104
Peresmian pusat pelatihan
105
Pasukan Dewa
106
Undangan dari Walikota
107
Seorang ayah
108
Segera Temukan Mereka..!!
109
Kita Sambut Mereka
110
Kekuatan yang menghilang
111
Bawa mereka bertemu denganku
112
Permintaan Suko
113
Ceritakan rencana mereka
114
Bertemu kembali
115
Akui semua kejahatanmu
116
Meminta bantuan
117
Kekuatan tersembunyi Baros
118
Mencari bukti kejahatan
119
Akhirnya kutemukan kalian
120
Akhir Perjalanan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!