Tidak hanya Husain, beberapa orang tua terlihat sedang memarahi anak mereka. Husain dengan emosi berjalan ke arah Bobby, "Memalukan..!! Kelakuanmu sangat memalukan..!! Kamu pengen bapakmu jantungan hah..?" Husain menampar dan memaki Bobby.
Plaaaaakkk.. Plooookkk.. Plaaaaaaakk..
Petugas polsek hanya bisa melihat Husain menampar anaknya, tapi tidak ada satupun yang berani mengingatkan, karena Husain adalah seorang perwira menengah dari institusinya.
Bobby melindungi wajahnya dengan tangan, dan sesekali menangkis tangan bapaknya sambil memohon kepada bapaknya, "A-ampun pak.. Maafkan Bobby pak.." rengek Bobby.
Dengan muka memerah, Husain terus memarahi Bobby, "Jadi ini yang selama ini kamu lakukan..?! Apa mentang-mentang kamu anak seorang polisi kamu bisa berbuat semaumu..?! Malu bapak dengan kelakuanmu..!!" bentak Husain dengan mata melotot, merasa belum puas, Husain kembali memarahi Bobby, "Kamu sebagai seorang anak polisi seharusnya bisa menjadi contoh yang baik dalam mentaati aturan buat anak-anak lain..!! Bukan malah berbuat yang melanggar aturan seperti ini..!! Goblok dipelihara..!!" bentak Husain.
Seorang petugas polisi yng juga berpangkat perwira ikut menasehati Bobby, "Betul mas Bobby, sudah kewajiban seorang anak untuk menjaga nama baik orang tua dan keluarga. Kalau dalam istilah jawa namanya mikul dhuwur mendhem jero nama orang tua. Terlebih lagi mas Bobby adalah anak pertama dan seorang laki-laki..? Jadi jangan diulangi lagi ya..?"
Bobby hanya menunduk dan menangis di hadapan orang tuanya dan petugas polsek, "M-maafin Bobby pak, Bobby janji tidak akan mengulanginya lagi. Bobby menyesal pak.." ucap Bobby sesenggukan.
"Bagus kamu menyadari kesalahanmu, dan menyesali perbuatanmu. Tapi jangan hanya dalam ucapan, buktikan dalam perubahan sikap dan perilaku mu bahwa kamu benar benar menyesal.." Husain menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya, "Meski begitu, kamu tetap harus bapak hukum. Sementara fasilitas yang sudah bapak berikan, bapak cabut.. Ingat, kejadian hari menjadi yang pertama dan terakhir bapak menolongmu. Kalau kamu mengulanginya lagi, bapak tidak akan perduli lagi.." ucap Husain tegas.
Bobby hanya bisa menangis menyesali perbuatannya. Sebagai seorang ayah, sudah tentu Husain sangat menyayangi Bobby. Husain berjongkok membelai kepala Bobby, dengan nada suara yang sedikit merendah, "Jangan menyalahkan siapapun atas kejadian ini. Renungkan perbuatanmu kali ini.. Bapak lakukan ini demi kebaikan dan masa depanmu. Paham..?" ucap Husain memberi nasehat kepada anaknya
"I-iya pak.. Bobby paham.. B-Bobby minta maaf pak.." ucap Bobby sambil menangis.
Tiba-tiba masuk seseorang berusia 45 tahunan dengan marah-marah. "Mana anakku..?! Mengapa kalian menangkap anakku..?" ucapnya sambil marah.
Seorang petugas kepolisian menemui dan berusaha menjelaskan kepada orang tersebut, "Maaf pak, anak bapak terlibat dalam aksi balap liar di jalan raya. Jadi untuk sementara kami amankan di kantor.." jawab petugas.
"Memangnya kenapa kalau balapan..? Itu juga sudah jadi hobinya dia.. Toh dia balapan pakai motor dia sendiri, bensin juga beli sendiri, lalu apa masalahnya..?" balasnya sambil berkacak pinggang.
Roni melangkah maju di depan petugas lalu memaki orang tersebut, "Wooooiii.. Kalau ngomong diatur.. Anakmu jelas-jelas salah masih saja kau bela.." hardik Roni.
"Tenang bang Roni, biar kami yang atasi.." sahut petugas menenangkan Roni.
Roni lalu menoleh kepada petugas dan berkata, "Sebentar pak, biar saya ngomong sebentar.." setelah itu Roni meneruskan ucapannya kepada orang itu, "Kamu itu orang tua goblok dan gak punya otak. Anakmu itu balapan di jalan raya. Apa kamu gak berfikir itu menganggu ketertiban umum, belum lagi kalau dia kecelakaan trus mati siapa yang rugi..? Kalau dia yang celaka sendiri gak masalah, tapi kalau dia kecelakaan dia nabrak orang trus orang jadi cacat seumur hidup karena ditabrak anakmu, siapa yang tanggung jawab blok goblok..? Sudah tau anaknya salah masih saja dibela.. Pekok..!!" Ucapan Roni membuat orang itu terdiam, lalu seorang petugas mendatangi pria itu dan memberi pemahaman kepadanya, lalu memanggil anak dari pria itu untuk dilakukan pendataan.
"Eee.. M-Maaf ndan, kami tidak tau kalau Bobby anak komandan, apakah perlu ......." ucap salah satu polisi.
Husain paham maksud dari petugas itu. Sebelum petugas menyelesaikan ucapannya, Husain segera memotong, "Cukup...!! Tidak perlu. Jangan lihat dia itu anakku. Kalau memang salah, proses sesuai aturan yang berlaku, meskipun itu anak jendral sekalipun..!!" jawab Husain tegas.
"Siap ndan.. M-Mohon ucapan saya tadi tolong dimaafkan ndan.." jawab petugas tersebut ketakutan. Husain menepuk bahu polisi itu dan berkata, "Kita sebagai aparat penegak hukum, aturan adalah diatas segalanya. Jika memang ada yang melanggar, proses sesuai aturan yang berlaku. Harus tegas dan jangan pernah takut. Jadi jangan biasakan bernegoisasi seperti itu, paham..?" ucap Husain pelan tapi tegas. Polisi itu pun hanya menjawab, "Siap ndan.."
Setelah itu petugas tersebut memberikan penjelasan kepada orang tua yang sedang menjemput anaknya, "Baiklah bapak ibu, setelah kami melakukan pendataan, anak bapak-ibu terbukti melanggar Undang-undang lalu lintas, dengan tidak memiliki SIM, knalpot motor yang tidak sesuai dengan standar atau knalpot brong. Selain itu anak bapak-ibu juga mengakui bahwa mereka akan melakukan balap liar, uang taruhan ini sebagai buktinya. Jadi kami akan berikan hukuman tilang dan wajib lapor karena mereka masih dibawah umur.." ucap petugas.
Husain dan orang tua lainnya hanya bisa mengikuti keputusan dari petugas polsek Kota Barat. Mereka menyadari bahwa semua karena kesalahan dari anak-anak mereka sendiri.
Roni snagat bangga terhadap Husain, "Seandainya saja semua petugas kepolisian ini seperti om Husain, maka negara ini akan aman.. Tapi bukankah sudah seharusnya petugas kepolisian itu bersikap seperti om Husain..? Mengayomi masyarakat, menegakkan hukum tanpa pandang bulu.." gumam Roni dalam hati.
Setelah selesai membantu polisi menurunkan motor Bobby dan teman-temannya, Loreng dan anak buahnya segera menyusul Roni di dalam kantor polsek. Urusan dengan Bobby dan gengnya pun selesai, Roni, Loreng dan kedua anak buahnya langsung pulang setelah berpamitan kepada Husain dan petugas polsek.
*****
Waktu berlalu dengan cepat, tak terasa sudah dua hari berlalu. Selama dua hari itu pun Dewa selalu melakukan rutinitasnya sehari-hari, pada pagi hari sampai menjelang siang dia melatih fisiknya dengan berlari menyusuri wilayah Gunung Wilis dan melakukan latihan fisik, sedangkan pada malam harinya dimanfaatkan Dewa untuk melakukan meditasi. Hingga pada keesokan paginya,
"Assalamu'alaikum.."
"Itu seperti suara mbah Sastro..?" gumam Dewa dalam hati, lalu dijawabnya salam dari gurunya itu, "Wa'alaikumsalam.." Dewa membukakan pintu dan mempersilahkan mbah Sastro, "Eh.. Guru, silahkan masuk, silahkan duduk.. Saya buatkan kopi dulu.."
"Hehhehhehhe… Iya.. Terimakasih nak Dede.." jawab mbah Sastro sambil duduk.
Tidak butuh lama Dewa pun menemui mbah Sastro dengan membawa dua cangkir kopi, "Silahkan diminum kopinya, mumpung masih hangat.. Eeee, dua hari ini saya tidak melihat guru menjadi imam di musholla.. Lalu saya datang ke rumah guru, sepertinya dirumah juga kosong tidak ada orang.." ucap Dewa.
"Hehhehhehhe.. Iya memang saya sama Salim memang tidak ada dirumah. Kami pergi ke kota D, mengunjungi mertua Salim yang sakit.." jawab mbah Sastro.
Salim adalah anak mbah Sastro yang terakhir. Selama ini mbah Sastro tinggal bersama anak dan menantunya, pak Salim dan bu Neneng istri pak Salim.
"Oohhhh.. Pantas saja rumahnya kosong.. Eeemmm.. Bagaimana kabar guru..?" Tanya Dewa.
"Alhamdulillah baik seperti yang nak Dede lihat.. "Hehhehhehhe.. Sepertinya nak Dede sudah melakukan banyak hal beberapa hari ini.." tanya mbah Sastro.
"Iya benar guru, aku hanya berusaha untuk melakukan apa yang bisa aku lakukan.. Tapi aku tidak tau apakah yang aku lakukan ini benar atau tidak dan aku juga tidak tau bagaimana hasilnya nanti.." ucap Dewa pelan.
Mbah Sastro memahami apa yang dirasakan oleh Dewa, lalu dia menjawab kekhawatiran muridnya itu, "Hehhehhehe.. Hidup ini adalah laku, tugas kita sebagai manusia hanyalah menjalani, nglakoni kalau kata orang jawa, yaitu menjalani proses. Selesai satu perkara, satu proses, akan dihadapkan pada perkara atau proses lainnya. Sedangkan hasil itu sendiri adalah akibat dari proses yang kita jalani saja.." Mbah Sastro mengambil jeda sebelum melanjutkan, "Tentunya kita tidak akan bisa hanya berhenti pada satu hasil atau menjalani satu proses saja.." Mbah Sastro memulai penjelasannya.
"Bagaimana bisa begitu guru..?"
"Ya memang seperti itu.. Hidup ini bagaikan sebuah roda yang terus berputar. Seperti yang kukatakan tadi bahwa hasil adalah akibat dari proses yang kita jalani. Nah, akibat itulah yang akan menjadi sebab dari proses kita selanjutnya yang mau tidak mau harus kita jalani dan hal ini akan menjadi akibat yang baru bagi kita, begitu seterusnya, itulah yang dinamakan lingkaran kehidupan.."
"Lalu kapan putaran itu akan berhenti..? Apakah saat kita tidak ingin melakukan atau mengubah hasil yang ingin kita capai..?" tanya Dewa penasaran.
"Hehhehhehhe.. Mengubah hasil juga akan menciptakan proses yang baru lagi. Semua akan berhenti saat Sang Maha Pemberi Kehidupan memanggil kita untuk pulang, untuk menghadap kepadaNya dan mempertanggung jawabkan semua laku kita di dunia ini.."
"Lalu apakah yang aku lakukan ini benar..?" Dewa masih merasa bingung antara benar dan salah terhadap apa yang sudah dilakukannya.
"Benar menurut kita belum tentu benar menurut orang lain. Mungkin apa yang kamu yakini sebagai sesuatu yang benar bisa bertentangan dengan benar yang diyakini orang lain.. Dan satu hal, benar atau tidak, semua tergantung bagaimana kamu melakoninya, menjalaninya.." jawab mbah Sastro.
Dewa penasaran dengan jawaban gurunya itu, "Lalu bagaimana seharusnya aku melakoninya guru..?" sahut Dewa ingin tau.
"Hehhehhehhe… Melakukan sesuatu yang benar dengan cara yang benar, dengan tetap berpegang pada prinsip kemanusiaan dan keadilan, itulah dasar dari kebenaran. Lakukan sesuai takaran dan tidak berlebihan. Kamu tidak perlu menebang sebatang pohon jika hanya rantingnya yang menganggu jalan. Cukup potong rantingnya saja.." lalu mbah Sastro terdiam.
"Selanjutnya guru..?" tanya Dewa.
"Selalu eling lan waspada akan membuat langkahmu selalu dalam kebenaran, artinya kita harus selalu eling atau ingat bahwa ada Dzat Yang Maha Segalanya, yang menjadi penguasa akan diri kita dan kita waspada akan hal yang akan membawa kita pada kesesatan dan kehinaan.." mbah Sastro mengambil nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya, "Masuklah ke dalam alam weningmu, tanyakan kepada rasa sejati atau diri sejatimu. Rasa sejatimu akan membimbingmu dan menjawab keraguanmu. Dari sanalah kamu akan menemukan jawaban dari banyak pertanyaan yang bergejolak di dalam hatimu.." jawab Mbah Sastro.
Mbah Sastro tak pernah bosan memberikan wejangannya kepada Dewa. Merekapun mengobrol hingga lupa waktu. Wejangan dari mbah Sastro benar-benar membuka pikiran Dewa, seakan menjadi petunjuk apa yang sebaiknya dilakukannya.
Mbah Sastro mengakhiri pertemuan itu dengan sebuah pesan, "Jangan pernah ragu-ragu dalam melangkah. Yakinlah bahwa rasa sejatimu akan selalu membimbingmu. Karena rasa sejatimu sebenarnya adalah pengejawantahan dari Sang Maha Cerdas.." ucap mbah Sastro sambil berdiri.
Tak terasa adzan dhuhur berkumandang di musholla, mereka pun berangkat ke musholla untuk berjamaah sholat dhuhur. Seusai sholat dhuhur, Dewa mengambil dan memeriksa hpnya yang ada di atas meja. Terlihat 1 pesan masuk dari Roni.
[Roni] |Alat pelatihan sudah dikirim bos. Ini sepertinya sudah sampai di kota AG. Perkiraan nanti sore sudah sampai di sasana.|
[Dewa] |Kamu atur aja penempatannya. Atur yang rapi biar aman dan nyaman saat digunakan..|
[Roni] |Siap bos. Sesuai perintah|
Dewa tersenyum mendapat kabar dari Roni, "Sebentar lagi peralatan pelatihan lengkap. Aku bisa berlatih fisik di sasana juga.. Tidak ada ruginya juga memfasilitasi peralatan latihan buat sasana. Suatu saat pasti mereka akan bermanfaat juga buat mencapai tujuanku.." gumam Dewa dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Putra_Andalas
cuma dlm novel gua nemuin proses keg gini..klo di dunia nyata.. Wallahualam
2023-07-01
2