Melawan preman (Bag. 1)

Pagi itu Dewa berniat pergi ke bank untuk membuka rekening atas nama dirinya sesuai dengan KTP yang diberikan oleh pak Wira. Dewa membuka aplikasi Map di hpnya dan mengetik kata kunci Bank Nasional sesuai dengan kartu ATM yang diberikan oleh pak Wira kepadanya.

Dewa memperhatikan hasil pencarian dari kata kunci yang dia masukkan, "Oh.. Ternyata di dekat pasar Lerengwilis ada kantor cabang pembantu dari Bank Nasional.. Aku akan membuka rekening atas namaku sendiri, dan sepertinya sudah lama aku tidak mengirim uang kepada ayah, ibu dan adikku. Setidaknya uang itu bisa dipakai untuk membantu biaya kuliah adikku.." ucap Dewa dalam hati. Setelah mengetahui lokasinya, ada satu masalah yang dia pikirkan, "Tapi naik apa aku kesana..? Agak sulit memang kalau tidak ada kendaraan.. "Hhhmmmm.. Lebih baik aku pinjam sama Naia saja, di basecamp KKN pasti ada motor.." pikirnya.

Dewa mengambil hpnya dan mulai mengirim pesan ke Naia.

[Dewa] |Assalamu'alaikum.. Lagi sibuk Non..?|

[Naia] |Enggak.. Ada apa mas..? Tumben nih wa Naia..?|

[Dewa] |Eh itu, mau minta tolong pinjam motor..?|

[Naia] |Motor..? Oh.. Ada nih, punya si Oki. Coba deh nanti Naia tanya ke Oki. Emang mas Dede mau kemana..? Boleh ikut gak..?|

[Dewa] |Mau ke pasar aja, cari ATM. Mau transfer biaya kuliah adikku. Yaudah, nanti kasih kabar ya kalau bisa, biar nanti aku ambil kesana motornya..|

[Naia] |Oh.. Kirain mau ke kota. Gak jadi ikut ah.. Nanti Naia antar aja mas motornya, daripada mas Dede jalan..|

Setelah menunggu lama, saat siang hari Naia dan Silvia datang ke rumah Dewa untuk mengantarkan motor, dan setelahnya Dewa berangkat, "Aku pinjam dulu motornya ya..? Kalian tunggu aja disini, gak lama kok.. "Terus kalau mau bikin minum, bikin aja sendiri. Udah anggap aja rumah sendiri.." ucap Dewa.

"Sepertinya sinyal tuh Nai.. Sinyal mau dijadiin nyonya rumah.. hihihihi..." goda Silvia.

"Hiiihhh. silvia..?!" jawab Naia,

"Iya mas.. Hati-hati, gak usah ngebut.." ucap Naia.

*****

Disaat yang bersamaan, siang itu di rumah Suwarno, seseorang dengan badan besar berkulit sawo matang sedang duduk di ruang tamu ditemani Suwarno, Komeng dan Wawan. Loreng, 34 tahun, 185/80, itulah nama panggilannya, seorang petinju semi pro yang sudah banyak membukukan kemenangan KO pada karirnya. Sekarang dia menjadi tangan kanan dari pemimpin sasana tarung bebas di kecamatan Kota Barat bernama Roni. Dengan latar belakang dan kemampuannya, menjadikan Loreng sebagai bos preman yang menguasai Lerengwilis dan sekitarnya. Dengan suara kasar Loreng bertanya kepada Suwarno, "Ada apa kalian mencariku..? Ada pekerjaan kotor apa lagi..?" tanya Loreng.

"Wah sugal juga ucapanmu Lorang, Ini kau hanya perlu membereskan seorang pemuda yang sudah membuat Wawan seperti ini.." Suwarno menunjukkan hasil foto rontgen Wawan.

"Bajingaaaaann..!! Bagaimana bisa seperti ini..? Lalu dimana dia sekarang..?" tanya Loreng geram.

Wawan lalu menceritakan kejadian yang dialaminya beberapa waktu lalu dengan penuh emosi.

"Huh.. Kamu itu baru menjadi petinju kampung saja sudah terlalu bangga.. Ya inilah akhirnya yang kamu rasakan.. Sudah, lihat saja bagaimana aku akan menghabisi pemuda itu.." ucap Loreng dengan sombongnya.

"Menurut informasi, dia tinggal di dusun Keramat, itu dusun paling selatan itu.. Tapi kita gak bisa membereskan dia disana. Orang tua itu pasti akan ikut campur. Aku gak mau mengambil resiko harus berhadapan dengannya.." ucap Suwarno.

Pada saat mereka sedang membahas Dewa, Wawan mendapat pedan singkat dari salah stau anak buahnya yang mengatakan bahwa Dewa sedang menuju pasar Lerengwilis. Tentunya hal ini membuat Wawan sangat senang, "Hahahahha… Pemuda itu keluar sarangnya. Dia sedang menuju bank Nasional di dekat pasar.." ucap Wawan.

"Darimana kamu tau..?" tanya Suwarno

Wawan menunjukkan foto yang dikirimkan anak buahnya kepada Suearno, "Kebo barusan mengirim foto, pemuda tersebut naik motor menuju pasar.." jawab Wawan

"Baiklah aku akan segera membereskannya, tunggu saja kabar baik dariku. Biarkan aku bawa beberapa anak buahmu yang tau wajah pemuda itu, dan jangan lupa siapkan 20 juta untukku. Hahahaha.." ucap Loreng dengan angkuh

*****

Jarak menuju bank tidak terlalu jauh. Butuh sekitar 10 menit untuk sampai kesana. Dewa masuk ke dalam bank untuk membuka rekening atas namanya sendiri sesuai KTP yang diberikan oleh pak Wira. Tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikannya. Setelah semuanya selesai, Dewa menuju ATM center untuk mentransfer sejumlah uang kerekening yang baru dibukanya, dan selanjutnya melakukan transfer ke rekening ayah dan adiknya dari kartu ATM yang diberikan oleh pak Wira, "Ternyata lumayan banyak uang yang diberikan pak Wira kepadaku.." pikir Dewa.

Setelah selesai urusaan di mesin ATM, Dewa mengecek aplikasi mobile banking rekeningnya, "Beruntung tadi cs menawariku memasang aplikasi mobile banking. Dengan aplikasi mobile banking, akan jauh lebih mudah melakukan transaksi.." ucapnya dalam hati.

Sementara Dewa sedang menyelesaikan urusan perbankannya, Loreng bersama 4 orang anak buah Wawan ditambah dengan Kebo yang memberi informasi, langsung menuju bank dimana Dewa melakukan transaksi. Selanjutnya mereka mengatur siasat dan membagi tugas untuk menggiringnya ke suatu tempat.

Dewa segera meninggalkan bank setelah semua urusannya selesai. Saat perjalanan pulang, empat orang anak buah Wawan, mereka berboncengan dengan dua sepeda motor, dan berusaha menggiring Dewa ke suatu tempat. Salah satu motor berada di samping kanan motor Dewa dan satu lagi agak kedepan memepet sepeda motor yang dikendarai Dewa, sehingga mau tidak mau Dewa harus berbelok agar tidak menabraknya. Dewa hanya tersenyum setelah mengetahui maksud mereka, "Lagi-lagi sekelompok sampah masyarakat datang ingin membuat keributan.. Baik, akan aku turuti apa mau kalian.." ucapnya dalam hati.

Mereka berhasil menggiring Dewa menuju bekas gudang kosong yang sepertinya sudah lama tidak dipakai. Dewa berhenti dan turun dari motornya, diikuti oleh keempat anak buah Wawan.

Dari dalam gudang, Loreng berteriak, "Suruh dia masuk Bo.." teriak Loreng.

"Sana masuk kau.." teriak Kebo sambil mendorong Dewa.

Dewa masuk ke dalam gudang, didalam sudah menunggu Loreng dan tiga anak buahnya, ditambah keempat anak buah Wawan. Setelah melihat Dewa, Loreng dengan sombongnya berkata, "Ooohhhhh.. Jadi ini orang yang sudah mematahkan tangan Wawan..?" ucap Loreng.

Dewa terlihat sangat tenang, dia menyalakan rokok dan menghembuskannya perlahan, "Hhmmm.. Jadi kalian orang suruhannya Wawan..? Bagaimana kabar dia, tangannya jadi diamputasi..?" jawab Dewa santai.

"Besar juga mulutmu ya..? Kamu belum tau berhadapan sama siapa..?" ucap Loreng sombong.

"Udah boss, segera bereskan saja.. Makin cepat makin baik.." ucap salah satu anak buah Loreng.

Loreng memberikan kode kepada anak buahnya, dan salah satu anak buah Wawan yang dibelakang Dewa menyerang menggunakan pentungan. Tapi serangan itu hanya memukul angin, Dewa dengan sigap menghindar bahkan dia membalasnya dengan satu pukulan.

Seeeeettt.. Praaaaaakkkkk…

Anak buah Loreng langsung roboh tidak sadarkan diri setelah pukulan Dewa telak mengenai rahangnya.

Dewa terkejut dengan kemampuan barunya, hasil dia berlatih kitab Kalimasada, "Inikah hasil dari berlatih kitab Kalimasada..? Intuisi dan persepsi tubuhku meningkat. Seakan aku punya mata di belakang kepalaku sehingga dengan mudah aku menghindar.. Hahha.. Mereka akan menjadi lawan berlatihku.." ucap Dewa dalam hati.

Melihat temannya roboh, keempat orang yang dibawa Loreng maju bersama-sama menyerang Dewa. Dengan gesit dan cepat Dewa menghindari setiap serangan mereka dan membalasnya dengan pukulan atau tendangan.

Seeettt.. Wuuuusss

Kraaaaakkk.. Praaaaakk..

Jbuuuggg.. Jbuuuuuugg..

Empat orang anak buah Wawan tergeletak di lantai tak sadarkan diri. Tiga orang anak buah Loreng, dengan bersenjatakan pentungan dan parang maju menyerang Dewa. Lagi-lagi serangan demi serangan mereka dengan sangat mudah hindari oleh Dewa

Ssseeeeett.. Sssseeeeett.. Whuuuuuuss..

Puluhan serangan anak buah Loreng dapat dihindari Dewa dengan mudah, bahkan Dewa mengejek mereka agar serangan mereka semakin membabi buta, "Kalian belum makan..? Lambat sekali gerakan kalian..? Hahahaha.." ejek Dewa memprovokasi.

Loreng sangat terkejut melihat kelincahan Dewa, "G-gerakannya cepat dan gesit. D-dia itu siluman ya..?" gumam Loreng dalam hati.

Dengan beberapa gerakan Dewa melancarkan serangan kepada anak buah Loreng yang membuat mereka terkapar di lantai gudang.

Jduuuuugg.. Kraaaaakk.. Krataaaaakk..

Lalu dengan sekali tarikan nafas, Dewa bergerak dengan cepat dan berdiri tepat dihadapan Loreng. Jantung Loreng berdegup kencang karena rasa ketakutan tapi Dewa tersenyum mengejek, "Mengapa bengong..? Lawanmu ada tepat di depanmu.. Kamu tidak ingin memukulku, petinju kampung..?"

"Bangsaaaattt..!! Sombong sekali mulutmu.." Loreng memukul Dewa dengan sekuat tenaga.

Tapi dengan sangat mudah Dewa menangkap kepalan tangan Loreng dan mencengkramnya dengan kuat.

Ctaaaaaappp…

Dewa menarik tangan Loreng hingga dia berlutut di hadapan Dewa. Loreng merintih kesakitan saat Dewa memperkuat cengkramannya, "A-aduuhh.. S-s-sakit-sakit-sakit.." rintihnya.

"Cepat katakan, apakah Wawan yang menyuruhmu..? Apa Wawan tidak menceritakan mengapa aku mematahkan tangannya..?!" bentak Dewa kepada Loreng.

"A-ampun-ampun.. Aku akan mengatakannya, tapi tolong lepaskan dulu tanganku.. A-aduuh.. S-sakit-sakit.."

Dewa melepaskan tangan Loreng, tapi tiba-tiba Loreng menyerangnya dengan jab kirinya, tapi dengan lincah Dewa berhasil menghindar dari pukulan Loreng dan refleks membalas Loreng dengan memukul perutnya.

Sseeeeettt.. Jbuuuuuugg..

Loreng memuntahkan darah segar ketika pukulan Dewa mengenai perutnya, "Bhuuuwaaaahh.. Hhaaaahh.."

"Aku sudah memberimu kesempatan, tapi rupanya kamu memang minta dihajar.." ucap Dewa sambil menampar wajah Loreng berulang kali.

Plaaaaakk.. Plooooookk.. Cplaaaaakk..

"A-ampun-ampun.. A-aku menyerah.. J-Jangan pukul  lagi.." dia memohon sambil menutup wajahnya.

"Kalau aku tetap memukulku memang kenapa..? Kamu mau membalas..?" jawab Dewa sambil sesekali menamparnya. Plaaaaakk..

"Roni pasti tidak akan terima kalau sampai tau aku babak belur seperti ini.. Dia pasti akan mencarimu.." ancam Loreng.

"Ooohhhh.. Baiklah, sekarang katakan siapa yang membayarmu, aku siapa itu Roni.." jawab Dewa sinis.

Loreng akhirnya menceritakan siapa orang yang ingin mencelakainya dan menceritakan siapa Roni itu. Cerita Loreng membuat Dewa menjadi geram, "Suwarno ya..? Anak dan bapak sama saja, sama-sama sampah masyarakat. Tunggu, aku akan menghancurkan kalian.." gumam Dewa dalam hati.

"Suwarno pasti akan menyuruh Roni untuk membalas kekalahannya.." ucap Loreng sambil memegang wajahnya.

"Kebetulan aku kurang pemanasan tadi. Sekarang antar aku ke tempat Roni..!!" ucap Dewa sambil menarik Loreng.

*****

Dengan mengendarai motor, Loreng menunjukkan jalan ke tempat Roni. Dewa mengikuti loreng dari belakang dengan motor yang dipinjamnya dari Naia. Butuh waktu sekitar 10 menit untuk sampai di tempat Roni, Lorengpun segera masuk dan memberitahu Roni agar bersiap-siap. 

"Eh.. Kenapa wajahmu bonyok gitu Reng..? Kamu habis ketangkep warga nyuri BH..?" ucap Roni diiringi tawa anak buah Roni

"Hahahahaha..."

Loreng merasa malu ditertawakan nak buah Roni, diapun membentak mereka, "Diaaaamm..!!" dan dengan cepat Loreng segera memberitahu Roni siapa yang mencarinya, "Itu bang.. Ada orang yang nyari bang Roni.." jawab Loreng.

Roni menjadi penasaran "Siapa itu Reng..? Anak baru..?" sambung Roni.

Dewa yang masuk menyusul Loreng lalu memperkenalkan dirinya, "Betul sekali.. Orang yang jadi pemilik baru sasana ini.. Sepertinya rame juga ya yang berlatih..?" ucap Dewa memprovokasi.

Roni, 29 tahun, 175/65, adalah pemimpin dari sasana tarung bebas. Selama karirnya sebagai petarung semi pro, Roni hampir tidak pernah kalah dan sering menang dengan TKO. Roni terkenal sadis saat bertanding. Tidak jarang lawannya mengalami cidera setelah bertanding dengannya. Itulah mengapa federasi tarung bebas menghukumnya tidak boleh lagi mengikuti pertandingan.

Episodes
1 Perjalanan menuju Lerengwilis (Bag. 1)
2 Perjalanan menuju Lerengwilis (Bag. 2)
3 Akhirnya sampai juga..
4 Kehidupan Baru (Bag. 1)
5 Kehidupan baru (Bag. 2)
6 Kitab Kalimasada (Bag. 1)
7 Kitab Kalimasada (Bag. 2)
8 Kitab Kalimasada (Bag. 3)
9 Menjadi pengawal (Bag. 1)
10 Menjadi pengawal (Bag. 2)
11 Menapak jalan spiritual
12 Manapak jalan spiritual (Bag. 2)
13 Melawan preman (Bag. 1)
14 Melawan preman (Bag. 2)
15 Pertemuan tak terduga
16 Hadiah kecil
17 Mencari masalah (Bag. 1)
18 Mencari masalah (Bag. 2)
19 Mencari masalah (Bag. 3)
20 Trio Wajan
21 Secercah harapan (Bag. 1)
22 Secercah harapan (Bag. 2)
23 Beraksi diam-diam
24 Sebuah keyakinan
25 Ujian buat Niko
26 Satu kepingan puzzle
27 Kompetisi tarung bebas
28 Berhasil atau gagal
29 Simpan penasaranmu
30 Pembuktian
31 Menjadi petarung
32 Belanja di pasar
33 Sepeda untuk Kartika
34 Semangat gotong royong
35 Tiga petarung Lerengwilis
36 Raja Yama
37 Rencana penculikan Naia
38 Mencari Sang Sniper
39 Kejujuran Santoso
40 Kekuatan kegelapan
41 Menyelamatkan Naia
42 Rasa yang terpendam
43 Sang Penguasa Kegelapan
44 Kebahagiaan kita
45 Masa lalu Silvia
46 Membagi hasil taruhan
47 Perguruan Taring Harimau
48 Ilmu Pengawak Wojo
49 Wanita tercantik
50 Amplop putih
51 Bank of Asia (Bag. 1)
52 Bank of Asia (Bag. 2)
53 Berlatih Tenaga Dalam
54 Catatan sang Kolonel
55 Bertemu dengan Kepala Desa
56 Menata rumah
57 Waktunya beraksi
58 Menempati rumah baru
59 Cidera yang sama
60 Aku setuju dengannya
61 Mungkin ini saatnya
62 Sambutan hangat
63 Penculikan Naia
64 Melacak keberadaan Naia
65 Api Dewi Agni
66 Kamu telah gagal
67 Sampah yang sebenarnya
68 Aku ingin bertobat, tapi..
69 Selamat Berpuasa
70 Darimana saja..?
71 Misi mencari Tiara
72 Apakah dia setuju..?
73 Sang Bathari
74 Tanah sangar
75 Dimana kesayanganku..?
76 Bangkitnya sang Dewi
77 Dasanama
78 Oknum sampah
79 Gandarwa Raja (Bag. 1)
80 Gandarwa Raja (Bag. 2)
81 Menolong Kepala Daerah
82 Siluman Kera Merah
83 Rencana Sang Bupati
84 Kena batunya
85 MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
86 Aksara Caraka
87 Sastra Jendra Hayuningrat
88 Bantuan sang Guru
89 Kembali ke kota AB
90 Menyerahkan Laporan
91 Peringatan buatmu
92 Menjadi murid
93 Kelompok tersembunyi
94 Mitra Desa
95 Kepergian Sang Wapres
96 Biar aku menyelidikinya
97 Kupercayaan kebahagiaannya padamu
98 Kabar bahagia
99 Ratu Bidadari
100 Perjuangan terberat
101 Aku menunggumu
102 Terimakasih guru..
103 Tarian Kamatantra
104 Peresmian pusat pelatihan
105 Pasukan Dewa
106 Undangan dari Walikota
107 Seorang ayah
108 Segera Temukan Mereka..!!
109 Kita Sambut Mereka
110 Kekuatan yang menghilang
111 Bawa mereka bertemu denganku
112 Permintaan Suko
113 Ceritakan rencana mereka
114 Bertemu kembali
115 Akui semua kejahatanmu
116 Meminta bantuan
117 Kekuatan tersembunyi Baros
118 Mencari bukti kejahatan
119 Akhirnya kutemukan kalian
120 Akhir Perjalanan
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Perjalanan menuju Lerengwilis (Bag. 1)
2
Perjalanan menuju Lerengwilis (Bag. 2)
3
Akhirnya sampai juga..
4
Kehidupan Baru (Bag. 1)
5
Kehidupan baru (Bag. 2)
6
Kitab Kalimasada (Bag. 1)
7
Kitab Kalimasada (Bag. 2)
8
Kitab Kalimasada (Bag. 3)
9
Menjadi pengawal (Bag. 1)
10
Menjadi pengawal (Bag. 2)
11
Menapak jalan spiritual
12
Manapak jalan spiritual (Bag. 2)
13
Melawan preman (Bag. 1)
14
Melawan preman (Bag. 2)
15
Pertemuan tak terduga
16
Hadiah kecil
17
Mencari masalah (Bag. 1)
18
Mencari masalah (Bag. 2)
19
Mencari masalah (Bag. 3)
20
Trio Wajan
21
Secercah harapan (Bag. 1)
22
Secercah harapan (Bag. 2)
23
Beraksi diam-diam
24
Sebuah keyakinan
25
Ujian buat Niko
26
Satu kepingan puzzle
27
Kompetisi tarung bebas
28
Berhasil atau gagal
29
Simpan penasaranmu
30
Pembuktian
31
Menjadi petarung
32
Belanja di pasar
33
Sepeda untuk Kartika
34
Semangat gotong royong
35
Tiga petarung Lerengwilis
36
Raja Yama
37
Rencana penculikan Naia
38
Mencari Sang Sniper
39
Kejujuran Santoso
40
Kekuatan kegelapan
41
Menyelamatkan Naia
42
Rasa yang terpendam
43
Sang Penguasa Kegelapan
44
Kebahagiaan kita
45
Masa lalu Silvia
46
Membagi hasil taruhan
47
Perguruan Taring Harimau
48
Ilmu Pengawak Wojo
49
Wanita tercantik
50
Amplop putih
51
Bank of Asia (Bag. 1)
52
Bank of Asia (Bag. 2)
53
Berlatih Tenaga Dalam
54
Catatan sang Kolonel
55
Bertemu dengan Kepala Desa
56
Menata rumah
57
Waktunya beraksi
58
Menempati rumah baru
59
Cidera yang sama
60
Aku setuju dengannya
61
Mungkin ini saatnya
62
Sambutan hangat
63
Penculikan Naia
64
Melacak keberadaan Naia
65
Api Dewi Agni
66
Kamu telah gagal
67
Sampah yang sebenarnya
68
Aku ingin bertobat, tapi..
69
Selamat Berpuasa
70
Darimana saja..?
71
Misi mencari Tiara
72
Apakah dia setuju..?
73
Sang Bathari
74
Tanah sangar
75
Dimana kesayanganku..?
76
Bangkitnya sang Dewi
77
Dasanama
78
Oknum sampah
79
Gandarwa Raja (Bag. 1)
80
Gandarwa Raja (Bag. 2)
81
Menolong Kepala Daerah
82
Siluman Kera Merah
83
Rencana Sang Bupati
84
Kena batunya
85
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
86
Aksara Caraka
87
Sastra Jendra Hayuningrat
88
Bantuan sang Guru
89
Kembali ke kota AB
90
Menyerahkan Laporan
91
Peringatan buatmu
92
Menjadi murid
93
Kelompok tersembunyi
94
Mitra Desa
95
Kepergian Sang Wapres
96
Biar aku menyelidikinya
97
Kupercayaan kebahagiaannya padamu
98
Kabar bahagia
99
Ratu Bidadari
100
Perjuangan terberat
101
Aku menunggumu
102
Terimakasih guru..
103
Tarian Kamatantra
104
Peresmian pusat pelatihan
105
Pasukan Dewa
106
Undangan dari Walikota
107
Seorang ayah
108
Segera Temukan Mereka..!!
109
Kita Sambut Mereka
110
Kekuatan yang menghilang
111
Bawa mereka bertemu denganku
112
Permintaan Suko
113
Ceritakan rencana mereka
114
Bertemu kembali
115
Akui semua kejahatanmu
116
Meminta bantuan
117
Kekuatan tersembunyi Baros
118
Mencari bukti kejahatan
119
Akhirnya kutemukan kalian
120
Akhir Perjalanan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!