Sore itu situasi rumah Dewa penuh dengan perasaan haru. Pertemuan dengan Dewa membuat Nuraini dan Naia sangat bahagia. Perasaan rindu kepada Dewa, kakak tertuanya, terobati sudah. Dia menceritakan segala hal yang terjadi selama kakaknya pergi tanpa kabar. Hingga saat mereka hendak kembali ke basecamp, tiba-tiba dua buah mobil sedan berwarna hitam merk BMW type E90 320i dan E90 520i parkir di depan rumah Dewa. Dua orang memakai seragam hitam-hitam turun dari kedua mobil itu dan masuk ke rumah, "Selamat sore, apakah benar ini rumah mas Dede..?" tanya salah seorang driver.
Dewa menemui orang yang mencarinya itu, "Iya benar, saya Dede. Bapak sekalian siapa ya..?" tanya Dewa.
"Eh.. Siapa tuh yang nyari mas Dewa..?" gumam Silvia.
Naia merasa mengenal seragam yang dipakai oleh kedua orang itu, "Kalau melihat dari pakaiannya, sepertinya itu sopir di perusahaan papa, lah itu sepertinya pak Jupri sopir papa. Tapi ada apa ya..?" tanya Naia dalam hati.
"Ooohh.. Maaf mas Dede, perkenalkan saya Jupri, salah satu driver dari PT. Wira Jaya. Saya diutus sama bos kami, pak Wira untuk mengantar mobil buat mas Dede.." ucapnya santun.
"Mobil..? Mobil untukku, tapi mengapa pak Wira mengirim mobil untukku..?" tanya Dewa bingung.
"Wah.. Maaf mas Dede, kalau masalah itu saya kurang tau. Saya dan teman saya ini hanya diperintah saja untuk membawa dua mobil itu dan meminta mas Dede memilih salah satu.." jawab Jupri.
"Sebentar pak Jupri, saya akan konfirmasi dulu ke pak Wira.. Silahkan masuk dulu, kita ngobrol di dalam.." sahut Dewa.
"Iya mas.." jawab pak Jupri lalu masuk ke dalam rumah. Pak Jupri merasa tidak asing dengan perempuan yang ditemuinya di dalam ruang tamu rumah Dewa, "Eh.. Ini mbak Naia kan..? Putri pak Wira..?" sapa Jupri.
"Iya pak Jupri, masak lupa sih..? Dulu waktu SMP-SMA pak Jupri sering antar aku ke sekolah.." jawab Naia.
"Waaahhh.. Lama gak ketemu, saya jadi pangling sama mbak Naia. Sekarang sudah jadi mahasiswa juga. Tapi kok mbak ada disini..?" tanya pak Jupri.
"Iya pak, berkat do'a dari pak Jupri juga kan..? Ini aku lagi KKN di desa ini pak, dan kebetulan papa menugaskan mas Dede untuk jadi pengawal Naia.. Oiya, pak Jupri gimana kabarnya..?" ucap Naia.
"Puji Tuhan, seperti yang mbak Naia lihat, saya sehat mbak.." jawab pak Jupri.
Sementara Pak Jupri dan Naia mengobrol dengan santai, Dewa menelepon pak Wira untuk memperjelas maksud pak Wira memberinya sebuah mobil.
Pak Wira, "Assalamu'alaikum.. Ada apa mas Dede..?"
Dewa, "Eee.. Begini pak, ini pak Jupri ada di rumah saya. Beliau bilang, katanya pak Wira menyuruh pak Jupri untuk mengantar mobil buat saya. Eee.. kalau boleh tau, itu mobil untuk apa ya..?"
Pak Wira, "Ohhh.. pak Jupri sudah sampai..? Alhamdulillah, jadi gini mas Dede, mobil itu adalah mobil perusahaan kami, saat ini dua unit mobil itu tidak terpakai di kantor. Lha daripada rusak nganggur, lebih baik salah satunya mas Dede pakai saja untuk mobilitas mas Dede, dan yang satunya lagi akan saya kirim ke kos Naia buat gantikan mobil Naia yang sering mogok..?"
Dewa, "Eemmmm.. Jadi begitu ya..? Wah bapak sampai repot begini..? Kalau begitu saya ucapkan terimakasih pak..
Pak Wira, "Enggal repot kok, ya pas kebetulan ada mobil nganggur aja di kantor, dari pada rusak nganggur kan lebih baik mas Dede pakai saja. Iya sama-sama mas Dede.."
Setelah mengucapkan terimakasih, Dewa menutup sambungan teleponnya. Dewa melangkah keluar rumah untuk melihat kondisi mobil itu diikuti Naia dan pak Jupri.
Kedua mobil yang sama bagusnya membuat Dewa bingung harus memilih yang mana, "Eemmm.. Naia, diantara dua mobil ini, kamu pilih yang mana..?" tanya Dewa.
"Kalau aku sih pilih yang 320i itu mas.." jawab Naia.
Dewa tersenyum, lalu meminta pak Jupri untuk memasukkan salah satu mobil ke halaman rumahnya, "Baiklah pak Jupri, tolong yang 520i dimasukkan ke halaman saja ya.." pinta Dewa.
"Baik mas.." jawab Jupri lalu pergi.
"Kok yang 520i yang dimasukkan..? Kan aku pilihnya yang 320i..?" protes Naia.
"Tadi pak Wira bilang, salah satunya mau dikirim ke kota AB, ditaruh di tempat kos mu dan kedepannya kamu yang pakai.. Karena kamu pilihnya 320i ya aku yang satunya saja.." jawab Dewa lalu pergi ke dalam rumah diikuti oleh Naia, "Oh.. Gitu.. Yaudah terserah mas aja lah.." jawab Naia sambil berjalan mengikuti Dewa.
Tidak butuh waktu lama, mobil pilihan Dewa sudah terpakir di halaman rumahnya, "Mas Dede, itu mobilnya sudah saya masukkan, ini kunci mobil dan surat kendaraannya. Kalau begitu saya mohon pamit dulu.." ucap Jupri lalu pergi.
"Loh, kok buru-buru sih pak..? Gak ngopi dulu..?" tanya Dewa.
"Terimakasih mas, sekarang masih harus ke kota AB buat antar mobil satunya.." jawab pak Jupri lalu pergi.
"Waaahhh.. Ini sih namanya mas Dewa dapat rejeki durian runtuh sepohon-pohonnya.. Udah dapat Sang Putri eh.. masih dapat mobil juga.. Traktiran dong mas..." goda Silvia.
"Bener-bener kak.. Traktiran sekalian ajak jalan-jalan.. Udah lama juga kakak gak ajak Nur jalan-jalan.." sambung Nuraini.
"Gimana Naia..? Sekalian kalian syukuran karena udah dipertemukan.." sahut Silvia.
"Silvia bener tuh kak Naia.." sambung Nuraini
"Kalian nih apaan sih..?" Kalau aku sih terserah mas Dewa aja.." ucap Naia malu-malu.
Dewa hanya bisa pasrah mendengar rengekan mereka. Akhirnya dia hanya bisa menyetujui permintaan mereka, "Yaudah gimana maunya kalian aja lah, kalian siap-siap aja dulu. Aku juga mau mandi dulu.. Nanti habis Isya' ku jemput di basecamp kalian.." jawab Dewa.
Tak berapa lama, Naia, Nuraini dan Silvia juga kembali ke basecamp mereka, "Kami balik ke basecamp dulu ya kak..?" ucap Nuraini sambil mencium tangan Dewa.
"Jangan sampai lupa ya mas..? Apalagi sampai gak ada kabar.. Ntar ada yang sedih kalau sampai lupa.." ucap Silvia sambil memegang pundak Naia.
"Apaan sih Vi..? Gak ada bosen-bosennya ya kamu ini godain aku..?" jawab Naia.
Dewa hanya tertawa sambil geleng-geleng kepala melihat Silvia menggoda Naia, "Ini bawa martabaknya, bagi deh sama teman-teman kalian.." ucap Dewa sambil memberikan bungkusan martabak.
*****
Setelah isya' Dewa menjemput Naia, Silvia dan Nuraini di basecamp. Mereka berangkat ke sebuah kafe di kawasan hutan pinus yang berada di sebelah barat wilayah Gunung Wilis, berjarak kurang lebih 20 menit perjalanan menggunakan mobil. Suasana khas udara pegunungan yang dingin dan penataan lampu led yang warna warni adalah alasan mereka memilih tempat itu. Sesampainya di kafe, mereka memilih tempat dengan empat kursi, lalu memilih makanan dan minuman yang sesuai selera masing-masing, "Nah itu daftar menunya datang, terserah kalian mau pesan apa aja boleh.." ucap Naia.
Seperti biasanya, Dewa memesan minuman favoritnya, "Mbak, tolong saya pesan kopi hitam tanpa gula sama kentang goreng. Kentangnya digoreng tanpa garam ya mbak..?" ucap Dewa kepada pelayan kafe.
"Aku pesan coklat panas, sama nasi goreng telor dadar.." ucap Naia.
"Iya aku sama seperti kak Naia aja deh.. Sama tambah chicken pop nya satu.." sambung Nuraini.
Silvia masih bingung membolak-balik buku menu yang ada di tangannya, "Pesan apa ya enaknya..? Banyak banget makanan dan minumannya.." gumam Silvia
"Kalau bingung, pesan aja semuanya Vi.. Hihihihi.. Mbak nya udah nungguin lama tuh.." ledek Naia.
"Eeee... Greentea panas aja lah.. Makannya aku pesen gado-gado aja ya mbak.." kata Silvia.
"Baik mbak, saya ulang pesanannya ya..?" ucap pelayan tersebut dengan sopan.
"Oh.. Tolong tambah air mineralnya 4 botol ya..?" sahut Dewa.
Pelayan tersebut mengulang semua pesanan mereka, dan mereka hanya menjawab dengan menganggukkan kepala tanda pesanan sudah sesuai.
Mereka menghabiskan waktu di kafe itu dengan mengobrol dan bercanda. Nuraini yang duduk di sebelahku selalu memegang lenganku dan sesekali menyandarkan kepalanya di pundakku, setelah beberapa saat diam, Nuraini mulai bertanya kepada Dewa, "Lalu apa rencana kak Dewa kedepannya..?" tanya Nuraini.
"Kakak akan mencari tau kebenaran dan membalas apa yang sudah mereka lakukan kepada kakak dan teman-teman kakak.." jawab Dewa penuh keyakinan.
"Kak.. Buat apa kakak sampai mengambil resiko melakukan hal itu..? Lebih baik kakak lupakan saja masalah ini, lalu menikah dengan kak Naia dan kalian bisa hidup bahagia disini.." ucap Nuraini sambil menyandarkan kepalanya di pundakku
"Bukan mau ikut campur sih mas, tapi aku sepakat sama Nur. Jauh lebih berharga keselamatan mas Dewa.. Eeee, kalau menurutmu gimana Nai..?" tanya Silvia.
"Eeee... Aku juga sependapat dengan Nur sih, tapi mas Dewa pasti punya alasan sendiri.. Dan aku yakin mas Dewa pasti sudah memperhitungkan semuanya secara teliti.." jawab Naia.
Dewa menghembuskan nafasnya setelah mendengar ucapan dari Nuraini dan yang lainnya, "Hhhhhuuufff.. Kalian gak salah punya pemikiran seperti itu. Tapi kalau aku diam, maka kejahatan tidak akan pernah terungkap. Oiya kamu tau bang Sandi kan Nur..?" tanya Dewa.
"Iya kak, itu teman kakak yang sering nginap di rumah kalau pas cuti bersama itu kan..?" jawab Nuraini.
"Sandi adalah prajurit yang baik dan selalu mengutamakan tim daripada dirinya sendiri, Sandi tertembak di dadanya tembus ke punggung saat melindungi kakak dan teman-teman kakak, dan dua orang anggota kakak tertangkap oleh mereka.." Dewa menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ceritanya, "Kakak gak tau apa Sandi masih hidup atau sudah meninggal dan bagaimana nasib teman kakak yang tertangkap, kakak juga gak tau.." Dewa terdiam beberapa saat, kesedihan terlihat di wajah Dewa, "Sudahlah.. Sudah kakak putuskan Nur, kakak akan mencari kebenaran dari ini semua dan membalas siapapun yang terlibat.." sambung Dewa.
Ketiganya tersentak mendengar ceritaku, mereka hanya diam tidak tau bagaimana menghilangkan kesedihan Dewa.
Dewa melihat ekspresi Naia, mereka tertunduk setelah mendengar cerita Dewa, "Eeehhhh.. Maaf-maaf udah buat suasana jadi tegang.. Udah sekarang lanjut makannya. Hari ini kita harus happy.." Dewa berusaha menghidupkan suasana.
"Nur disana bagus deh kayaknya.. Kita foto disana yuk, trus upload di instagram.." ajak Silvia sambil memberi kode kepada Nuraini.
"Aku tinggal sebentar ya kak, kakak ngobrol dulu sama kak Naia.." ucap Nuraini lalu pergi bersama Silvia.
Naia yang hendak berdiripun kembali duduk setelah mendengar ucapan Nuraini. Sepeninggal Silvia dan Nuraini, Dewa dan Naia saling diam, gak tau harus membicarakan apa, "Kok suasananya jadi canggung gini ya..? Sialan Nur sama Silvia.." umpat Dewa dalam hati.
Perasaan yang sama juga dirasakan oleh Naia, "Duuuuhhh.. Nur sama Silvia pasti sengaja mereka.. Awas ya kalian.. Hiiiiiiihh.." batin Naia.
Naia pun memberanikan diri untuk memulai obrolan, "Eeemm.. Mas Dewa ngelamun ya..? Kok diam aja..?" tanya Naia gugup
"Ahh.. Enggak. Naia juga diam sih, ya aku jadi bingung mau ngobrolin apa..?" jawab Dewa.
"Ih.. Tumben ah.. Biasanya mas Dewa juga yang pinter cari bahan obrolan.. Canggung ya..? Aku juga ngrasa gitu mas, gak tau pengen ngobrol apaan.." ucap Naia.
Ada hal yang ingin Dewa katakan kepada Naia, tapi semua itu seperti tertahan di dada. Dia bingung harus memulai membahasnya darimana. Mungkin Naia juga merasakan apa yang Dewa rasakan sekarang. Mereka memulai membicarakan tentang latar belakang keluarga kami masing-masing. Memang kehidupan Dewa dan Naia jauh berbeda, Naia dengan segala kemudahannya dan Dewa hidup dengan segala keterbatasan ekonomi keluarganya. Obrolan pun mengalir begitu saja, hingga Dewa menemukan momen yang tepat untuk mengungkapkan apa yang terpendam di dalam hatinya. Dewa mengatakannya dengan sangat hati-hati agar Naia tidak salah paham dengan apa yang dikatakannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Faizal MohdNor
lanjut thor .snyi thor
2023-01-30
1