Kehidupan Baru (Bag. 1)

Dewa membuka mata dan mengakhiri meditasinya. Dia merasakan hawa hangat mengalir di seluruh tubuhnya yang membuat tubuhnya menjadi lebih segar, juga membuat pikiran dan hatinya menjadi jauh lebih tenang. Dewa melihat jam dinding yang tertempel di tembok kamarnya, dilihatnya angka di jam dinding itu sudah menunjukkan pukul 9 pagi.

Diapun bergegas bangkit dari duduknya dan bergumam pelan, "Lebih baik aku mandi dulu, setelah itu aku akan berlari sambil mempelajari kebiasaan di desa ini sekalian berkenalan dengan tetangga.."

Dewa membongkar isi tasnya untuk mencari peralatan mandi dan pakaian ganti. Dewa juga membuka dompetnya, tampak kartu anggota militer tertulis nama dan pangkatnya, Kapten Dewangga Ramadhan, Pasukan Inti Regu III Garendra.

Dewa menarik nafas panjang saat melihat kartu anggota itu. Dia teringat teman-temannya di regu III pasukan Ganendra, "Hhhmmmm.. Bagaimana kondisi anggota Regu III yang lain ya..? Ahhhh... Sudahlah, mereka adalah pasukan terlatih. Pasti mereka tau apa yang harus mereka lakukan.. Bersabarlah kawan-kawan, kita pasti akan berkumpul lagi dan membongkar konspirasi jahat mereka.." gumamnya dalam hati.

Dewa mengeluarkan seluruh atribut militer yang berada di dalam dompet dan tasnya lalu menyimpannya di dalam lemari di kamarnya, lalu dia pergi ke kamar mandi.

Butuh waktu sekitar sepuluh menit bagi Dewa untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai dari kamar mandi dan mempersiapkan diri, Dewa keluar rumah untuk berkenalan dengan tetangga di sekitar rumahnya.

"Selamat pagi pak. Perkenalkan saya Dede yang tinggal di rumah paling ujung samping musholla, kebetulan baru tadi shubuh sampai.." sapa Dewa kepada seorang pria paruh baya, tetangga sebelah rumahnya.

"Oh.... Mas Dede ya namanya..? Saya pak Rohmad.. Baru ditempati sekarang ya rumahnya..?" jawabnya sambil mengulurkan tangannya, Dewapun menjabat tangan pak Rohmad.

"Iya betul pak.. Oiya pak, kalau rumah pak RT dan pak RW dimana ya pak..?" tanya Dewa

Pak Rohmad menunjuk salah satu rumah yang berada tidak jauh dari rumahnya, "Disini kebetulan saya RW nya.. Kalau RT nya pak Burhan, nah itu kan ada pos kamling, pas belakangnya pos kamling rumah pak Burhan.."

"Mas Dede jangan lupa juga berkunjung ke rumah pak Kepala Dusun, beliau itu orang yang dianggap sesepuh juga disini, namanya mbah Sastro. Selain itu, mbah Sastro juga imam di musholla ini.." pak Rohmad menjelaskan.

"Kalau rumah mbah Sastro dimana ya pak..?" tanya Dewa ingin tau.

"Rumahnya, ini mas jalan lurus saja sampai ada pertigaan.. Setelah itu sampean belok saja, rumah nomer 3 dari sebelah utara jalan itu rumah pak Kasun.." lanjut pak Rohmad.

"Eeehmmmmm.. Baik pak, saya coba silaturahmi dulu ke beliau-beliau. Sekalian mau memperkenalkan diri.." jawabnya sambil berpamitan.

Dewa menuju rumah pak Burhan untuk memperkenalkan diri, lalu dia melanjutkan bersilaturahmi ke rumah mbah Sastro, salah seorang sesepuh yang juga sebagai kepala dusun Keramat, salah satu dusun yang berada di wilayah desa Lerengwilis. Tidak sulit menemukan rumah mbah Sastro, ada banyak burung perkutut peliharaan mbah Sastro yang digantung di teras rumah beliau. Mbah Sastro berumur sekitar 65 tahun.

Sesampai di rumah mbah Sastro, Dewa langsung memperkenalkan diri, "Permisi mbah, perkenalkan saya Dede, warga baru kampung ini. Saya tinggal di rumah yang paling ujung, yang di dekat musholla.." ucapnya sambil mengulurkan tangannya.

Dengan tersenyum, mbah Sastro menjabat tangan Dewa, "Ooohh.. Nak Dede ya..? Saya mbah Sastro, kepala dusun disini.. Monggo.. monggo silahkan duduk.."

Merekapun mengobrol, mbah Sastro menjelaskan tentang adat dan kebiasaan warga dusun keramat kepada Dewa, antara lain kebiasaan mengirim do'a kepada leluhur di musholla tiap malam jum'at legi, kerja bakti bersih kampung yang dilakukan setiap awal bulan, dan lain-lain.

"Jadi kalau ada kegiatan di musholla, nak Dede ikut saja biar semakin akrab dan guyub antar warga dusun sini.." ucap mbah Sastro dan dihawab dengan anggukan kepala oleh Dewa.

Selain itu, Mbah Sastro pun juga mengingatkan tentang larangan-larangan yang berlaku di desa Lerengwilis, juga tempat-tempat yang dianggap wingit oleh warga desa Lerengwilis. Setelah mengobrol cukup lama, Dewapun segera berpamitan kepada mbah Sastro.

Mbah Sastro memandangi kepergian Dewa dengan tersenyum lebar, "Hehhehhehhe… Ada kekuatan besar di dalam tubuh si Dede ini, kekuatan yang bisa dibilang tidak terbatas.."

Dewa tidak menyadari bahwa mbah Sastro memperhatikan kepergiannya, dia terus menyusuri jalan desa Lerengwilis sambil berlari santai hingga tak terlihat lagi oleh mbah Sastro. Tujuan Dewa selanjutnya adalah mencari warung untuk dia mengisi perut dan ngopi. Setelah sekitar 15 menit jogging menyusuri jalan desa, akhirnya dia menemukan sebuah warung kecil di samping Gedung Serbaguna desa Lerengwilis, tepat di samping balai desa Lerengwilis.

Diapun tersenyum setelah bertemu dengan sebuah warung, "Akhirnya ketemu juga warungnya. Hhhmmmm.. Jauh juga ya..?" gumamnya pelan.

"Kopi hitam tanpa gula ya bu..?" ucapnya sesaat sebelum duduk.

Tak butuh waktu lama, penjualpun menyodorkan secangkir kopi hitam kepadanya.

"Sarapan juga mas..? Tapi cuma ada nasi pecel sama sayur lodeh terong saja mas.." ucap penjual itu.

"Eeehhmmm.. Nasi pecel saja bu, sayurnya agak banyak ya bu..?" jawabnya.

Sementara itu diteras warung, 8 pemuda tampak lagi nongkrong sambil ketawa-ketawa gak jelas.

"Eh mahasiswi yang di balai desa tadi cantik-cantik lho.. Ajak kenalan lah.. Gimana bos..?" ucap salah satu pemuda.

"Tenang aja, nanti pasti akan tiba juga waktunya.. Itulah saat-saat yang berbahagia.. Hahahahha..." sahut pemuda yang bertato disambut tawa teman-temannya.

"Hahahahhaa..."

"Hahahahaha... Asiiikkk..."

Pada saat mereka sedang membicarakan mahasiswa KKN, tak lama kemudian datang salah satu mahasiswi yang datang untuk membeli gorengan, "Dia pasti teman satu kelompok KKN Naia.." pikir Dewa

Melihat mahasiswi itu, salah satu pemuda yang sedang nongkrong tadi mulai menggoda, "Mbak… Kenalan dong..?"

Mahasiswi itu tidak memperdulikan pemuda itu, dia terus memasukkan gorengan ke dalam kantong plastik yang ada di tangannya. Merasa tidak ditanggapi, pemuda itupun mulai melakukan sentuhan fisik kepada mahasiswi itu, 

"Eh.. Kok gak dijawab sih..?" pemuda itu mulai mencolek mahasiswi tersebut.

Mahasiswi itupun terkejut lalu membentak pemuda yang mencoleknya, "Eh.. Yang sopan dong mas..?!" bentak gadis itu.

"Waduuuhhh.. Kukira bisu ternyata bisa bentak juga dia.." ucap pemuda itu disambut tawa teman-temannya.

"Hahahahhaha.."

"Belum tau kamu itu siapa Wan.." sahut pemuda lain.

Pemuda itu bernama Wawan, 29 tahun, 180 cm/95 Kg. Wawan, pemuda bertato itu, adalah anak mantan kepala desa, orang terkaya di desa Lerengwilis. Dia adalah bos dari kumpulan pemuda-pemuda itu.

"Jadi cewek jangan sombong mbak.. Kita cuma mau ajak kenalan, bukan mau ajak yang macem-macem.. Hahahaha..." sahut temannya.

"Ya kalau udah kenal lah baru yang macem-macem.. Kalau belum kenal colek-colek dikit gak papa kan..? Hahahaha.." sahut Wawan sambil menepuk bokong lalu meremas dada mahasiswi itu.

"Bangsat..!! Jangan kurang aja mas..!!" sahutnya sambil menepis tangan Wawan, lalu dia berlari meninggalkan warung dan kembali ke balai desa. Mukanya merah menahan tangis. Wawan dan teman-temannyapun tertawa terbahak-bahak.

Setelah sampai di balai desa, gadis itu langsung memeluk Naia dan menangis sejadinya.

Naiapun menjadi bingung, "Ada apa Sa..? Kenapa kamu nangis..?"

Mahasiswi itu bernama Risa 22 tahun, 160 cm/51 Kg, gadis manis berkacamata itu seorang mahasiswi jurusan matematika.

"A-aaku gak terima.. A-qku dilecehkan oleh sekelompok pemuda saat di warung tadi.." jawabnya sambil menangis

Mendengar cerita Risa, Oki menjadi emosi, "Bangsat..!! Siapa yang ngelakuin..? Dimana dia sekarang..?"

"Waaahhh.. Gak bener nih.. Udah langsung datangi aja, tanya gimana maunya.." kata Ivan

Oki, 22 tahun, 171/80, adalah mahasiswa teknik sipil dan Ivan, 21 tahun, 160/65, mahasiswa jurusan sistem informasi. Mereka berdua berasal dari SMA yang sama.

"Udah.. Tenang dulu kalian, biar Risa jawab dulu.." sahut Naia.

"A-aku gak tau siapa mereka. Mereka ada di warung samping balai desa.." jawab Risa sambil menangis

"Udah tenang. Kalian tunggu disini, biar aku sama Ivan yang datangi mereka.." jawab Oki.

"Aku ikut.. Lagian aku juga pengen tau siapa mereka.." sakut Naia.

"Seandainya ada mas Dede.. Tapi kalau sampai mereka berani macem-macem, aku akan cari mas Dede. Biar mas Dede yang urus mereka seperti begal-begal itu.." gumam Naia dalam hati.

"Ayuk lah kita samperin aja. Mereka harus minta maaf sama Risa.." ujar Oki

"Risa, kalau kamu takut lebih baik tunggu aja disini. Biar kami bertiga yang kesana.." ujar Naia.

"Enggak.. Aku ikut.. Aku gak takut sama mereka, hanya jijik aja sama kelakuan mereka.." jawab Risa.

Tak lama kemudian, mereka berempat sampai warung tempat Wawan dan teman-temannya nongkrong. Salah seorang teman Wawan menyeletuk saat tau mereka datang, "Eh... Rupanya mereka udah kangen sama kita. Tuh buktinya mereka datang.."

Pemuda itu bergumam kagum saat melihat kecantikan Naia, "Waaaaw cantik banget tuh cewek. Lebih cantik dari cewek yang tadi.. Hhmmmmm.."

"Oh.. Rupanya kamu juga pengen kenalkan temanmu sama kita..? Baik banget ya kamu...?" ujar Wawan diiringi tawa teman-temannya.

Mendengar ucapan Wawan, Oki yang sudah emosi langsung menghardik Wawan, "Yang sopan dong mas..!! Kami baik-baik datang ke kampung ini untuk membantu pembangunan kampung ini tapi bukannya berterimakasih, kalian malah melecehkan teman kami..!!"

Wawan sama sekali tidak menghiraukan ucapan Oki, tapi malah mengejeknya, "Eh.. Ternyata dua putri cantik bawa anjing penjaga.. Guk... Guk... Guk..." sahut Wawan sambil menirukan gonggongan anjing.

Melihat perilaku Wawan, Ivanpun menjadi emosi dan mengumpat Wawan, "Dampuuutt.. Bangsat kalian..!!"

Mendengar umpatan Ivan, Wawan dan teman-temannya langsung berdiri, Wawan berjalan mendekati Ivan dan dengan tiba-tiba memukul Ivan

Praaaakk....

Pukulan Wawan mendarat di wajah Ivan dan membuat dia jatuh tersungkur. Beberapa teman Wawan langsung memegangi Oki dan Ivan yang baru saja berdiri. Tampak darah keluar dari mulut Ivan. Tak cukup memukul Ivan, Wawanpun menampar Oki beberapa kali.

Plaaaakk.. Plaaaaakk..

"Kalian pikir kalian itu siapa..? Berani-beraninya sok jagoan disini.."

"Kalian, pegang tuh dua anjing kecil itu. Aku akan coba nego sama dua bidadari ini.." ucap Wawan kepada teman-temannya.

Wawan berjalan mendekati Naia dan Risa. Naia melangkah mundur berusaha menghindari Wawan. Badan mereka gemetar, takut Wawan akan berbuat macam-macam sama mereka.

Terpopuler

Comments

زيتون مامة

زيتون مامة

hahaha.. itu cewek dan cowok mahasiswi/mahasiswa, mula2 sok jago.. sekali kena hentam.

2023-08-07

3

lihat semua
Episodes
1 Perjalanan menuju Lerengwilis (Bag. 1)
2 Perjalanan menuju Lerengwilis (Bag. 2)
3 Akhirnya sampai juga..
4 Kehidupan Baru (Bag. 1)
5 Kehidupan baru (Bag. 2)
6 Kitab Kalimasada (Bag. 1)
7 Kitab Kalimasada (Bag. 2)
8 Kitab Kalimasada (Bag. 3)
9 Menjadi pengawal (Bag. 1)
10 Menjadi pengawal (Bag. 2)
11 Menapak jalan spiritual
12 Manapak jalan spiritual (Bag. 2)
13 Melawan preman (Bag. 1)
14 Melawan preman (Bag. 2)
15 Pertemuan tak terduga
16 Hadiah kecil
17 Mencari masalah (Bag. 1)
18 Mencari masalah (Bag. 2)
19 Mencari masalah (Bag. 3)
20 Trio Wajan
21 Secercah harapan (Bag. 1)
22 Secercah harapan (Bag. 2)
23 Beraksi diam-diam
24 Sebuah keyakinan
25 Ujian buat Niko
26 Satu kepingan puzzle
27 Kompetisi tarung bebas
28 Berhasil atau gagal
29 Simpan penasaranmu
30 Pembuktian
31 Menjadi petarung
32 Belanja di pasar
33 Sepeda untuk Kartika
34 Semangat gotong royong
35 Tiga petarung Lerengwilis
36 Raja Yama
37 Rencana penculikan Naia
38 Mencari Sang Sniper
39 Kejujuran Santoso
40 Kekuatan kegelapan
41 Menyelamatkan Naia
42 Rasa yang terpendam
43 Sang Penguasa Kegelapan
44 Kebahagiaan kita
45 Masa lalu Silvia
46 Membagi hasil taruhan
47 Perguruan Taring Harimau
48 Ilmu Pengawak Wojo
49 Wanita tercantik
50 Amplop putih
51 Bank of Asia (Bag. 1)
52 Bank of Asia (Bag. 2)
53 Berlatih Tenaga Dalam
54 Catatan sang Kolonel
55 Bertemu dengan Kepala Desa
56 Menata rumah
57 Waktunya beraksi
58 Menempati rumah baru
59 Cidera yang sama
60 Aku setuju dengannya
61 Mungkin ini saatnya
62 Sambutan hangat
63 Penculikan Naia
64 Melacak keberadaan Naia
65 Api Dewi Agni
66 Kamu telah gagal
67 Sampah yang sebenarnya
68 Aku ingin bertobat, tapi..
69 Selamat Berpuasa
70 Darimana saja..?
71 Misi mencari Tiara
72 Apakah dia setuju..?
73 Sang Bathari
74 Tanah sangar
75 Dimana kesayanganku..?
76 Bangkitnya sang Dewi
77 Dasanama
78 Oknum sampah
79 Gandarwa Raja (Bag. 1)
80 Gandarwa Raja (Bag. 2)
81 Menolong Kepala Daerah
82 Siluman Kera Merah
83 Rencana Sang Bupati
84 Kena batunya
85 MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
86 Aksara Caraka
87 Sastra Jendra Hayuningrat
88 Bantuan sang Guru
89 Kembali ke kota AB
90 Menyerahkan Laporan
91 Peringatan buatmu
92 Menjadi murid
93 Kelompok tersembunyi
94 Mitra Desa
95 Kepergian Sang Wapres
96 Biar aku menyelidikinya
97 Kupercayaan kebahagiaannya padamu
98 Kabar bahagia
99 Ratu Bidadari
100 Perjuangan terberat
101 Aku menunggumu
102 Terimakasih guru..
103 Tarian Kamatantra
104 Peresmian pusat pelatihan
105 Pasukan Dewa
106 Undangan dari Walikota
107 Seorang ayah
108 Segera Temukan Mereka..!!
109 Kita Sambut Mereka
110 Kekuatan yang menghilang
111 Bawa mereka bertemu denganku
112 Permintaan Suko
113 Ceritakan rencana mereka
114 Bertemu kembali
115 Akui semua kejahatanmu
116 Meminta bantuan
117 Kekuatan tersembunyi Baros
118 Mencari bukti kejahatan
119 Akhirnya kutemukan kalian
120 Akhir Perjalanan
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Perjalanan menuju Lerengwilis (Bag. 1)
2
Perjalanan menuju Lerengwilis (Bag. 2)
3
Akhirnya sampai juga..
4
Kehidupan Baru (Bag. 1)
5
Kehidupan baru (Bag. 2)
6
Kitab Kalimasada (Bag. 1)
7
Kitab Kalimasada (Bag. 2)
8
Kitab Kalimasada (Bag. 3)
9
Menjadi pengawal (Bag. 1)
10
Menjadi pengawal (Bag. 2)
11
Menapak jalan spiritual
12
Manapak jalan spiritual (Bag. 2)
13
Melawan preman (Bag. 1)
14
Melawan preman (Bag. 2)
15
Pertemuan tak terduga
16
Hadiah kecil
17
Mencari masalah (Bag. 1)
18
Mencari masalah (Bag. 2)
19
Mencari masalah (Bag. 3)
20
Trio Wajan
21
Secercah harapan (Bag. 1)
22
Secercah harapan (Bag. 2)
23
Beraksi diam-diam
24
Sebuah keyakinan
25
Ujian buat Niko
26
Satu kepingan puzzle
27
Kompetisi tarung bebas
28
Berhasil atau gagal
29
Simpan penasaranmu
30
Pembuktian
31
Menjadi petarung
32
Belanja di pasar
33
Sepeda untuk Kartika
34
Semangat gotong royong
35
Tiga petarung Lerengwilis
36
Raja Yama
37
Rencana penculikan Naia
38
Mencari Sang Sniper
39
Kejujuran Santoso
40
Kekuatan kegelapan
41
Menyelamatkan Naia
42
Rasa yang terpendam
43
Sang Penguasa Kegelapan
44
Kebahagiaan kita
45
Masa lalu Silvia
46
Membagi hasil taruhan
47
Perguruan Taring Harimau
48
Ilmu Pengawak Wojo
49
Wanita tercantik
50
Amplop putih
51
Bank of Asia (Bag. 1)
52
Bank of Asia (Bag. 2)
53
Berlatih Tenaga Dalam
54
Catatan sang Kolonel
55
Bertemu dengan Kepala Desa
56
Menata rumah
57
Waktunya beraksi
58
Menempati rumah baru
59
Cidera yang sama
60
Aku setuju dengannya
61
Mungkin ini saatnya
62
Sambutan hangat
63
Penculikan Naia
64
Melacak keberadaan Naia
65
Api Dewi Agni
66
Kamu telah gagal
67
Sampah yang sebenarnya
68
Aku ingin bertobat, tapi..
69
Selamat Berpuasa
70
Darimana saja..?
71
Misi mencari Tiara
72
Apakah dia setuju..?
73
Sang Bathari
74
Tanah sangar
75
Dimana kesayanganku..?
76
Bangkitnya sang Dewi
77
Dasanama
78
Oknum sampah
79
Gandarwa Raja (Bag. 1)
80
Gandarwa Raja (Bag. 2)
81
Menolong Kepala Daerah
82
Siluman Kera Merah
83
Rencana Sang Bupati
84
Kena batunya
85
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
86
Aksara Caraka
87
Sastra Jendra Hayuningrat
88
Bantuan sang Guru
89
Kembali ke kota AB
90
Menyerahkan Laporan
91
Peringatan buatmu
92
Menjadi murid
93
Kelompok tersembunyi
94
Mitra Desa
95
Kepergian Sang Wapres
96
Biar aku menyelidikinya
97
Kupercayaan kebahagiaannya padamu
98
Kabar bahagia
99
Ratu Bidadari
100
Perjuangan terberat
101
Aku menunggumu
102
Terimakasih guru..
103
Tarian Kamatantra
104
Peresmian pusat pelatihan
105
Pasukan Dewa
106
Undangan dari Walikota
107
Seorang ayah
108
Segera Temukan Mereka..!!
109
Kita Sambut Mereka
110
Kekuatan yang menghilang
111
Bawa mereka bertemu denganku
112
Permintaan Suko
113
Ceritakan rencana mereka
114
Bertemu kembali
115
Akui semua kejahatanmu
116
Meminta bantuan
117
Kekuatan tersembunyi Baros
118
Mencari bukti kejahatan
119
Akhirnya kutemukan kalian
120
Akhir Perjalanan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!