Dewa membuka mata dan mengakhiri meditasinya. Dia merasakan hawa hangat mengalir di seluruh tubuhnya yang membuat tubuhnya menjadi lebih segar, juga membuat pikiran dan hatinya menjadi jauh lebih tenang. Dewa melihat jam dinding yang tertempel di tembok kamarnya, dilihatnya angka di jam dinding itu sudah menunjukkan pukul 9 pagi.
Diapun bergegas bangkit dari duduknya dan bergumam pelan, "Lebih baik aku mandi dulu, setelah itu aku akan berlari sambil mempelajari kebiasaan di desa ini sekalian berkenalan dengan tetangga.."
Dewa membongkar isi tasnya untuk mencari peralatan mandi dan pakaian ganti. Dewa juga membuka dompetnya, tampak kartu anggota militer tertulis nama dan pangkatnya, Kapten Dewangga Ramadhan, Pasukan Inti Regu III Garendra.
Dewa menarik nafas panjang saat melihat kartu anggota itu. Dia teringat teman-temannya di regu III pasukan Ganendra, "Hhhmmmm.. Bagaimana kondisi anggota Regu III yang lain ya..? Ahhhh... Sudahlah, mereka adalah pasukan terlatih. Pasti mereka tau apa yang harus mereka lakukan.. Bersabarlah kawan-kawan, kita pasti akan berkumpul lagi dan membongkar konspirasi jahat mereka.." gumamnya dalam hati.
Dewa mengeluarkan seluruh atribut militer yang berada di dalam dompet dan tasnya lalu menyimpannya di dalam lemari di kamarnya, lalu dia pergi ke kamar mandi.
Butuh waktu sekitar sepuluh menit bagi Dewa untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai dari kamar mandi dan mempersiapkan diri, Dewa keluar rumah untuk berkenalan dengan tetangga di sekitar rumahnya.
"Selamat pagi pak. Perkenalkan saya Dede yang tinggal di rumah paling ujung samping musholla, kebetulan baru tadi shubuh sampai.." sapa Dewa kepada seorang pria paruh baya, tetangga sebelah rumahnya.
"Oh.... Mas Dede ya namanya..? Saya pak Rohmad.. Baru ditempati sekarang ya rumahnya..?" jawabnya sambil mengulurkan tangannya, Dewapun menjabat tangan pak Rohmad.
"Iya betul pak.. Oiya pak, kalau rumah pak RT dan pak RW dimana ya pak..?" tanya Dewa
Pak Rohmad menunjuk salah satu rumah yang berada tidak jauh dari rumahnya, "Disini kebetulan saya RW nya.. Kalau RT nya pak Burhan, nah itu kan ada pos kamling, pas belakangnya pos kamling rumah pak Burhan.."
"Mas Dede jangan lupa juga berkunjung ke rumah pak Kepala Dusun, beliau itu orang yang dianggap sesepuh juga disini, namanya mbah Sastro. Selain itu, mbah Sastro juga imam di musholla ini.." pak Rohmad menjelaskan.
"Kalau rumah mbah Sastro dimana ya pak..?" tanya Dewa ingin tau.
"Rumahnya, ini mas jalan lurus saja sampai ada pertigaan.. Setelah itu sampean belok saja, rumah nomer 3 dari sebelah utara jalan itu rumah pak Kasun.." lanjut pak Rohmad.
"Eeehmmmmm.. Baik pak, saya coba silaturahmi dulu ke beliau-beliau. Sekalian mau memperkenalkan diri.." jawabnya sambil berpamitan.
Dewa menuju rumah pak Burhan untuk memperkenalkan diri, lalu dia melanjutkan bersilaturahmi ke rumah mbah Sastro, salah seorang sesepuh yang juga sebagai kepala dusun Keramat, salah satu dusun yang berada di wilayah desa Lerengwilis. Tidak sulit menemukan rumah mbah Sastro, ada banyak burung perkutut peliharaan mbah Sastro yang digantung di teras rumah beliau. Mbah Sastro berumur sekitar 65 tahun.
Sesampai di rumah mbah Sastro, Dewa langsung memperkenalkan diri, "Permisi mbah, perkenalkan saya Dede, warga baru kampung ini. Saya tinggal di rumah yang paling ujung, yang di dekat musholla.." ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
Dengan tersenyum, mbah Sastro menjabat tangan Dewa, "Ooohh.. Nak Dede ya..? Saya mbah Sastro, kepala dusun disini.. Monggo.. monggo silahkan duduk.."
Merekapun mengobrol, mbah Sastro menjelaskan tentang adat dan kebiasaan warga dusun keramat kepada Dewa, antara lain kebiasaan mengirim do'a kepada leluhur di musholla tiap malam jum'at legi, kerja bakti bersih kampung yang dilakukan setiap awal bulan, dan lain-lain.
"Jadi kalau ada kegiatan di musholla, nak Dede ikut saja biar semakin akrab dan guyub antar warga dusun sini.." ucap mbah Sastro dan dihawab dengan anggukan kepala oleh Dewa.
Selain itu, Mbah Sastro pun juga mengingatkan tentang larangan-larangan yang berlaku di desa Lerengwilis, juga tempat-tempat yang dianggap wingit oleh warga desa Lerengwilis. Setelah mengobrol cukup lama, Dewapun segera berpamitan kepada mbah Sastro.
Mbah Sastro memandangi kepergian Dewa dengan tersenyum lebar, "Hehhehhehhe… Ada kekuatan besar di dalam tubuh si Dede ini, kekuatan yang bisa dibilang tidak terbatas.."
Dewa tidak menyadari bahwa mbah Sastro memperhatikan kepergiannya, dia terus menyusuri jalan desa Lerengwilis sambil berlari santai hingga tak terlihat lagi oleh mbah Sastro. Tujuan Dewa selanjutnya adalah mencari warung untuk dia mengisi perut dan ngopi. Setelah sekitar 15 menit jogging menyusuri jalan desa, akhirnya dia menemukan sebuah warung kecil di samping Gedung Serbaguna desa Lerengwilis, tepat di samping balai desa Lerengwilis.
Diapun tersenyum setelah bertemu dengan sebuah warung, "Akhirnya ketemu juga warungnya. Hhhmmmm.. Jauh juga ya..?" gumamnya pelan.
"Kopi hitam tanpa gula ya bu..?" ucapnya sesaat sebelum duduk.
Tak butuh waktu lama, penjualpun menyodorkan secangkir kopi hitam kepadanya.
"Sarapan juga mas..? Tapi cuma ada nasi pecel sama sayur lodeh terong saja mas.." ucap penjual itu.
"Eeehhmmm.. Nasi pecel saja bu, sayurnya agak banyak ya bu..?" jawabnya.
Sementara itu diteras warung, 8 pemuda tampak lagi nongkrong sambil ketawa-ketawa gak jelas.
"Eh mahasiswi yang di balai desa tadi cantik-cantik lho.. Ajak kenalan lah.. Gimana bos..?" ucap salah satu pemuda.
"Tenang aja, nanti pasti akan tiba juga waktunya.. Itulah saat-saat yang berbahagia.. Hahahahha..." sahut pemuda yang bertato disambut tawa teman-temannya.
"Hahahahhaa..."
"Hahahahaha... Asiiikkk..."
Pada saat mereka sedang membicarakan mahasiswa KKN, tak lama kemudian datang salah satu mahasiswi yang datang untuk membeli gorengan, "Dia pasti teman satu kelompok KKN Naia.." pikir Dewa
Melihat mahasiswi itu, salah satu pemuda yang sedang nongkrong tadi mulai menggoda, "Mbak… Kenalan dong..?"
Mahasiswi itu tidak memperdulikan pemuda itu, dia terus memasukkan gorengan ke dalam kantong plastik yang ada di tangannya. Merasa tidak ditanggapi, pemuda itupun mulai melakukan sentuhan fisik kepada mahasiswi itu,
"Eh.. Kok gak dijawab sih..?" pemuda itu mulai mencolek mahasiswi tersebut.
Mahasiswi itupun terkejut lalu membentak pemuda yang mencoleknya, "Eh.. Yang sopan dong mas..?!" bentak gadis itu.
"Waduuuhhh.. Kukira bisu ternyata bisa bentak juga dia.." ucap pemuda itu disambut tawa teman-temannya.
"Hahahahhaha.."
"Belum tau kamu itu siapa Wan.." sahut pemuda lain.
Pemuda itu bernama Wawan, 29 tahun, 180 cm/95 Kg. Wawan, pemuda bertato itu, adalah anak mantan kepala desa, orang terkaya di desa Lerengwilis. Dia adalah bos dari kumpulan pemuda-pemuda itu.
"Jadi cewek jangan sombong mbak.. Kita cuma mau ajak kenalan, bukan mau ajak yang macem-macem.. Hahahaha..." sahut temannya.
"Ya kalau udah kenal lah baru yang macem-macem.. Kalau belum kenal colek-colek dikit gak papa kan..? Hahahaha.." sahut Wawan sambil menepuk bokong lalu meremas dada mahasiswi itu.
"Bangsat..!! Jangan kurang aja mas..!!" sahutnya sambil menepis tangan Wawan, lalu dia berlari meninggalkan warung dan kembali ke balai desa. Mukanya merah menahan tangis. Wawan dan teman-temannyapun tertawa terbahak-bahak.
Setelah sampai di balai desa, gadis itu langsung memeluk Naia dan menangis sejadinya.
Naiapun menjadi bingung, "Ada apa Sa..? Kenapa kamu nangis..?"
Mahasiswi itu bernama Risa 22 tahun, 160 cm/51 Kg, gadis manis berkacamata itu seorang mahasiswi jurusan matematika.
"A-aaku gak terima.. A-qku dilecehkan oleh sekelompok pemuda saat di warung tadi.." jawabnya sambil menangis
Mendengar cerita Risa, Oki menjadi emosi, "Bangsat..!! Siapa yang ngelakuin..? Dimana dia sekarang..?"
"Waaahhh.. Gak bener nih.. Udah langsung datangi aja, tanya gimana maunya.." kata Ivan
Oki, 22 tahun, 171/80, adalah mahasiswa teknik sipil dan Ivan, 21 tahun, 160/65, mahasiswa jurusan sistem informasi. Mereka berdua berasal dari SMA yang sama.
"Udah.. Tenang dulu kalian, biar Risa jawab dulu.." sahut Naia.
"A-aku gak tau siapa mereka. Mereka ada di warung samping balai desa.." jawab Risa sambil menangis
"Udah tenang. Kalian tunggu disini, biar aku sama Ivan yang datangi mereka.." jawab Oki.
"Aku ikut.. Lagian aku juga pengen tau siapa mereka.." sakut Naia.
"Seandainya ada mas Dede.. Tapi kalau sampai mereka berani macem-macem, aku akan cari mas Dede. Biar mas Dede yang urus mereka seperti begal-begal itu.." gumam Naia dalam hati.
"Ayuk lah kita samperin aja. Mereka harus minta maaf sama Risa.." ujar Oki
"Risa, kalau kamu takut lebih baik tunggu aja disini. Biar kami bertiga yang kesana.." ujar Naia.
"Enggak.. Aku ikut.. Aku gak takut sama mereka, hanya jijik aja sama kelakuan mereka.." jawab Risa.
Tak lama kemudian, mereka berempat sampai warung tempat Wawan dan teman-temannya nongkrong. Salah seorang teman Wawan menyeletuk saat tau mereka datang, "Eh... Rupanya mereka udah kangen sama kita. Tuh buktinya mereka datang.."
Pemuda itu bergumam kagum saat melihat kecantikan Naia, "Waaaaw cantik banget tuh cewek. Lebih cantik dari cewek yang tadi.. Hhmmmmm.."
"Oh.. Rupanya kamu juga pengen kenalkan temanmu sama kita..? Baik banget ya kamu...?" ujar Wawan diiringi tawa teman-temannya.
Mendengar ucapan Wawan, Oki yang sudah emosi langsung menghardik Wawan, "Yang sopan dong mas..!! Kami baik-baik datang ke kampung ini untuk membantu pembangunan kampung ini tapi bukannya berterimakasih, kalian malah melecehkan teman kami..!!"
Wawan sama sekali tidak menghiraukan ucapan Oki, tapi malah mengejeknya, "Eh.. Ternyata dua putri cantik bawa anjing penjaga.. Guk... Guk... Guk..." sahut Wawan sambil menirukan gonggongan anjing.
Melihat perilaku Wawan, Ivanpun menjadi emosi dan mengumpat Wawan, "Dampuuutt.. Bangsat kalian..!!"
Mendengar umpatan Ivan, Wawan dan teman-temannya langsung berdiri, Wawan berjalan mendekati Ivan dan dengan tiba-tiba memukul Ivan
Praaaakk....
Pukulan Wawan mendarat di wajah Ivan dan membuat dia jatuh tersungkur. Beberapa teman Wawan langsung memegangi Oki dan Ivan yang baru saja berdiri. Tampak darah keluar dari mulut Ivan. Tak cukup memukul Ivan, Wawanpun menampar Oki beberapa kali.
Plaaaakk.. Plaaaaakk..
"Kalian pikir kalian itu siapa..? Berani-beraninya sok jagoan disini.."
"Kalian, pegang tuh dua anjing kecil itu. Aku akan coba nego sama dua bidadari ini.." ucap Wawan kepada teman-temannya.
Wawan berjalan mendekati Naia dan Risa. Naia melangkah mundur berusaha menghindari Wawan. Badan mereka gemetar, takut Wawan akan berbuat macam-macam sama mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
زيتون مامة
hahaha.. itu cewek dan cowok mahasiswi/mahasiswa, mula2 sok jago.. sekali kena hentam.
2023-08-07
3