Suwarno bergegas ke rumah sakit setelah mendapat kabar anaknya, Wawan, dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah, yang berada di kota AG. Tangan Wawan tampak bengkak, tampak di foto ronsen tulang telapak tangannya retak dan ada yang patah, dan pergelangan tangannya bergeser. Sedangkan Bejo, laki-laki yang terkena tendangan Dewa, dia menderita patah tulang rusuknya.
Bejo 34 tahun, 167/60, dia adalah tangan kanan Suwarno dan merupakan teman berlatih tinju Wawan.
Suwarno sangat marah setelah mengetahui kondisi Wawan, dengan muka memerah karena emosi, Suwarno berteriak, "Bajingaaaannn..!! Siapa yang berani melakukan ini sama anakku..? Dan kalian, kenapa muka kalian jadi bonyok gitu..?"
"I-Itu boss, seorang pemuda, kami juga gak kenal siapa dia.. Sepertinya dia orang baru di Lerengwilis.." jawab salah seorang teman Wawan.
"Kurang ajar.. Siapapun itu, aku akan membalas dengan balasan yang jauh lebih parah dari ini.." ujar Suwarno geram sambil mengepalkan tangannya.
Tak lama berselang, terdengar suara suster memanggil Wawan untuk masuk ke dalam ruang periksa, "Berikutnya saudara Wawan silahkan masuk.."
Suwarno, Wawan dan Bejo pun masuk ke ruang periksa. Dokter ahli tulang memeriksa dengan seksama hasil ronsen Wawan dan Bejo bergantian.
Dokter terlihat serius saat memeriksa hasil ronsen Wawan, sehingga membuat Suwarno khawatir, "Bagaimana dok..?" tanya Suwarno.
"Hhhmmm.. Dengan kondisi tulang seperti ini, mau gak mau harus dilakukan operasi pada tangannya.." jawab dokter.
Suwarno terkejut dengan ucapan dokter itu, "O-operasi Dok..?"
"Awas kau bajingan.. Sakit hati ini aku akan balas puluhan kali lipat.." pikir Suwarno sambil mengepalkan tangannya.
"Kalau bapak setuju, kita akan lakukan operasinya besok. Tapi untuk pulih seperti sedia kala butuh waktu yang agak lama dengan biaya yang tidak sedikit. Bagaimana pak..?" tanya dokter itu.
"Sudah dok, lakukan apapun asal tangan anakku bisa sembuh, berapapun biayanya tidak menjadi soal.." jawab Suwarno tegas.
*****
Sementara di basecamp KKN, Naia dan teman-temannya tampak sedang bersantai di ruang tengah basecamp. Sebagian dari mereka tampak asik mengobrol, sebagian lain tampak sibuk dengan laptopnya.
"Jadi si Risa akhirnya bisa kenalan sama mas ganteng itu ya..? Hhhmmm.. Sungguh musibah membawa berkah.." ucap Silvia.
"Husssh.. Kamu ini ya... Ada temannya kena musibah malah dibilang membawa berkah.." sahut Naia.
"Hihihi… Iya-iya maaf.." jawab Silvia.
"Ih... Emang siapa sih..? Seganteng apa sih.. Kok aku jadi penasaran..?" sahut Nuraini.
"Udah deh Nur, mending kamu gak tau aja lah. Daripada nambahin saingan..? Biar cukup aku sama Naia aja yang bersaing buat dapetin mas ganteng, gimana Naia..?" ucap Silvia sambil menepuk tangan Naia.
"Apaan sih Vi..? Emang lomba apa, pake saingan segala.." jawab Naia.
"Oohhh.. Ternyata Naia sahabat ku yang paling baik sejagat raya, dia gak mau bersaing denganku, dia ikhlas aku sama mas Gan itu.." ucap Silvia menggoda Naia.
Silvia memang orangnya iseng, suka menggoda teman-temannya terutama Naia.
Saat mereka asik bercanda, Rendi mendatangi Silvia, "Eeeee.. Silvia, bisa ngobrol sebentar..? Kita kedepan aja gimana..?"
Silvia menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaa Rendi, "Huhhhhf.. Ngobrol ya ngobrol aja, kenapa harus kedepan segala..? Emang masalah apa sih..?" jawab Silvia.
"Udah.. Ikut aja Vi, mungkin hal pribadi.." jawab Naia. Silvia pun berdiri dan pergi ke depan bersama Rendi.
Sementara itu Risa terlihat murung, mungkin dia masih trauma kejadian tadi siang. Naia berusaha untuk menghibur Risa, demikian juga Oki dan Ivan, "Mungkin kita bisa belajar beladiri sama mas Dede. Gimana menurut kalian..?" tanya Oki.
"Bener tuh.. Jadi kalau ketemu sama berandalan kita dapat membela diri.." sahut Nuraini.
"Naia gimana menurutmui..? Eee.. Coba deh kamu bilang sama mas Dede, siapa tau aja dia mau ajari kita.." bujuk Oki.
"Eeehhhmmmmm.. Ya kalau ketemu lagi coba aku ngomong deh.." jawabnya.
Sementara itu di depan Rendi sedang mengobrol dengan Silvia, "Gimana Vi..? Apa jawaban kamu..?" tanya Rendi.
"Gimana ya..? Jujur ya Ren, apa yang telah terjadi antara kita sudah selesai. Aku minta maaf, sepertinya kita sudah tidak mungkin untuk kembali lagi seperti dulu.." jawab Silvia.
"Kamu yakin..? Apa sudah tidak ada kesempatan lagi buat aku..?" tanya Rendi.
"Kesempatan..? Mmmmm.. Sekarang aku memberimu kesempatan, tapi hanya sebagai teman saja tidak lebih.. Oke, kedepan gak usah lagi bahas masalah ini ya..? Hhehhhh.. Masuk yuk, udah mau magrib nih.." ucap Silvia lalu masuk meninggalkan Rendi.
*****
Dewa bersiap untuk pergi ke musholla di samping rumahnya saat adzan magrib mulai berkumandang di desa Lerengwilis. Dia tersenyum saat melihat banyak orang-orang berbondong-bondong pergi ke musholla, "Ternyata banyak juga warga yang berjamaah di musholla ini.. Kalau seperti ini lebih mudah berkenalan dengan para tetangga.." gumamnya dalam hati.
Setelah seleskai berjamaah sholat magrib, sebagin besar jamaah terutama bapak-bapak tidak langsung pulang tapi lebih memilih ngobrol-ngobrol di teras musholla. Mungkin sekalian menunggu sholat Isya'. Dewapun memilih ikut duduk di teras musholla, mendengar berbagai cerita warga. Ada yang ngobrol harga pupuk, berkomentar tentang masalah yang lagi viral, dan sebagainya.
Saat sedang mendengarkan obrolan warga, pak RT datang dan duduk di sebelah Dewa, "Beginilah mas suasana musholla ini selepas sholat magrib, ramai.."
"Apalagi kalau pas puasa Ramadhan, lebih rame lagi. Biasanya jam lima mereka datang untuk mengikuti tausiah sambil menunggu adzan magrib lalu berbuka puasa bersama.. Ya hanya takjil sekedarnya saja, hasil patungan warga saja. Yang penting guyub mas.." ucap pak RT.
"Wah pasti seru itu pak.. Nah itu yang paling penting pak, guyub dan rukun.." jawab Dewa.
"Oh iya mas, kemaren saya lupa mau minta identitas mas Dede. Foto kopinya saja mas secepatnya disetorkan. Buat dokumen administrasi.." sambung pak RT.
"Oh.. baik pak, tapi sebelumnya saya mohon maaf, jadi gini pak, pas perjalanan ke sini, saya itu kecopetan. Jadi kartu identitas saya hilang semua pak.. Sebenarnya saya juga mau minta bantuan bapak untuk membuatkan kartu identitas sementara, apa bisa pak..?" ucap Dewa.
Pak RT mendengarkan permasalahan Dewa lalu memberinya solusi, "Hhmmm.. Begitu ya..? Eeeee.. Gini saja, mas Dede urus saja dulu surat kehilangan di Polsek Kota Barat, nanti kalau ada surat kehilangannya saya akan bantu buatkan surat keterangan domisili.."
"Baik.. Kalau begitu besok saya ke kantor Polsek untuk mengurus surat kehilangan pak.." jawab Dewa.
Obrolan kami pun berlanjut hingga adzan Isya' dikumandangkan. Setelah selesai sholat Isya' aku berdiam sejenak di musholla. Satu demi satu jamaah meninggalkan musholla.
Mbah Sastro keluar dari musholla dan menghampiri Dewa, "Belum pulang nak Dede..? bisa kita ngobrol sebentar..?"
"Oh ini mau pulang mbah, bagaimana kalau ngobrolnya di rumah saja mbah..? Sekalian saya buatkan kopi.." jawab Dewa.
"Waahh.. Boleh-boleh. Tapi gak merepotkan nak Dede to..?" sahutnya.
"Enggak mbah.. Saya malah seneng ada yang bertamu ke rumah.." jawab Dewa sambil berdiri lalu mempersilahkan mbah Sastro jalan duluan.
Hanya beberapa langkah saja dari musholla untuk menuju rumah Dewa. Mbah Sastro nampak membawa bungkusan berwarna putih. Setelah mempersilahkan mbah Sastro duduk, Dewa pun langsung ke dapur untuk membuat dua cangkir kopi. Dewa menyuguhkan kopi buatannya, "Monggo diminum mbah kopinya, mumpung masih hangat.."
"Ya beginilah mbah kondisi rumah saya, maklum bujangan.. Hehehehe.."
"Hehhehhehhe.. Ya cari istri to nak.. Atau mau tak carikan..?" sahut mbah Sastro sambil menuang kopi di tatakan cangkir.
"Wah boleh juga mbah.. Tapi yang cantik lho mbah.. Hahahaha.."
"Oh iya, mbah tadi pengen bicara masalah apa..?" tanya Dewa serius.
Setelah meminum kopi yang dituang di tatakan cangkir, mbah Sastro membuka bungkusan yang dibawanya dan mengeluarkan sebuah buku. Buku yang sudah usang dan kelihatan tua.
"Ini nak Dede baca dan pelajari.. Mungkin akan bermanfaat buat nak Dede nantinya.." ucap mbah Sastro sambil menyodorkan buku itu.
Dewa menerima buku itu, sebuah buku tua tapi terawat dengan baik, dengan sampul terbuat dari kulit. Dewa membuka buku itu, ditulis dengan bahasa jawa. Dewa mulai membaca buku itu dan dia merasakan ada sesuatu yang bergejolak di dalam tubuhnya, dia merasakan hawa hangat yang mengalir di dalam tubuhnya semakin kencang seakan memaksa untuk keluar dari dalam tubuhnya, "Eh.. Ada apa dengan tubuhku ini..?" gumamnya dalam hati.
Dewa menghentikan membaca dan menutup buku itu. Dia merasa ada kekuatan di dalam buku itu, "I-ini buku apa mbah..?" Dewa tampak keheranan.
"Hehhehhehhe… Ternyata benar seperti dugaanku, kamu memang berjodoh dengan kitab itu. Kitab itu berisi tentang olah kanuragan dan olah spiritualisme, Kitab yang kamu pegang itu adalah kitab Kalimasada.."
"Lalu mengapa mbah Sastro menyerahkan kitab ini kepada saya..?" tanya Dewa bingung
"Hehhehhehhe… Jadi begini nak Dede, tadi pas nak Dede datang ke rumah, aku melihat ada energi besar yang terkunci di dalam tubuhmu..
"Pada awalnya aku ragu untuk menyerahkan kitab itu, tapi setelah tau bahwa kitab itu berjodoh denganmu, keraguanku serta merta menjadi hilang.. Dan sekarang saya menjadi lebih tenang kitab itu berada di tangan yang tepat.." terang mbah Sastro.
Dewa semakin bingung dengan penjelasan mbah Sastro, "Kekuatan yang terkunci..? Lalu bagaimana mbah tau kalau kitab ini berjodoh denganku dan aku orang yang tepat..?"
Dengan santai, mbah Sastro menjelaskan tentang kitab yang dipegang Dewa, "Kitab Kalimasada berisi ajaran leluhur, seperti yang sudah saya katakan, kitab itu berisi olah kanuragan dan olah kebatinan atau spiritualisme.."
"Aku langsung tau bahwa kitab itu berjodoh denganmu, bukankah saat nak Dede membuka kitab itu ada gemuruh dan gejolak di dalam tubuhmu..? Itu tandanya ada kontak batin antara nak Dede dan buku itu.." jawab mbah Sastro.
"Bagaimana bisa ada kontak batin..? Kan saya juga baru ketemu sama mbah Sastro..? Lalu apa manfaat aku mempelajari kitab ini mbah..? Terus kekuatan apa yang ada di dalam diriku..?" tanya Dewa penasaran.
"Kitab itu tidak melihat orang secara fisik, tapi melihat jauh ke dalam diri seseorang atau yang disebut dengan diri sejati, suatu saat kamu juga akan memahaminya. Besok pagi nak Dede ikut saya ke gunung Wilis. Saya akan tunjukkan sesuatu disana.."
"Mau mempelajari atau tidak kitab kalimasada itu adalah pilihan nak Dede.." ucap mbah Sastro.
Walaupun belum sepenuhnya memahami maksud ucapan mbah Sastro, Dewa hanya bisa menganggukkan kepalanya, "Baik mbah, saya akan coba membaca dulu kitab ini.."
Obrolan merekapun berlanjut. Tak terasa jam sudah menunjukkan angka 10 malam, Mbah Sastro pun berpamitan pulang. Setelah kepergian mbah Sastro, Dewa kembali membuka dan membaca kitab yang dititipkan mbah Sastro kepadanya. Hal yang sama dirasakan Dewa, bergejolak, bergemuruh di dalam tubuhnya ketika dia membaca tulisan berbahasa jawa yang ada di kitab itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
✧༺ 𝘽𝙝𝙩𝙖𝙧𝙖 𝙂𝙪𝙧𝙪༻✧
Pusaka Mustika Layang Jamus Kalimusada Labang
Ka Agung Gan Nagara
Amarta Dewirja
2023-08-17
2
Maurun Nara
Ceritanya bagus sih, namun ada sudut pandang MC yang tidak konsisten. Kadang narasinya memakai POV orang pertama (Aku/Kami), kadang memakai POV orang ketiga (Dia, dalam hal Ini Dewa).
2023-07-06
0