“Apa ya sudah bapak lalukan kepada ku? Dasar mesum!” dia meleparkan bantal kepada Radit.
“Apa-apa an maksud kamu?”
“bapak yang sudah menukar baju ku?” tanya Abel. Dia merasa kesal dia mendorong Radit keluar dari kamar itu.
Bibik mendengar ribut-ribut dia kangsung datang, dia heran karena Radit sudah keluar dari kamar dengan wajah marah.
“ada apa non? Kenapa ribut-ribut?” tanya Bibik.
“pak Radit sudah sngat lancang menukar pakaian saya bik!” ucap Abel dengan cukup kesal.
“Saya yang membantu non untuk menukar nya karena sudah basah semua. Tuan tidak mungkin melakukan itu walaupun non adalah calon istri nya.” Ucap Bibik.
Seketika Abel langsung terdiam mendengar itu.
“Ya udah kalau begitu Non mandi setelah itu sarapan di lantai bawah.” Ucap bibik.
“Baik bik.” ucap Abel.
Abel hari ini merasa tidak enak kepada Radit, karena dia sudah menuduh yang aneh-aneh kepada nya.
Mereka sama berangkat ke kantor, selama perjalan tidak percakapan di antara mereka berdua. Abel menurunkan kaca mobil di bagian tempat duduk nya. Dia menikmati pemandangan pepohanan di pinggir jalanan dan juga angin sejuk di pagi hari sangat menyegarkan karena di jalan raya.
Tidak beberapa akhirnya sampai juga di kantor. “Pak tunggu dulu.” Ucap Abel menahan Radit di parkiran.
“Ada apa?” tanya Radit.
“Humm saya mohon jangan beritau kepada orang tua ku kalau aku mabuk kemarin.” Ucap Abel.
Radit menatap Abel, “Setelah kamu menuduh saya lalu kamu mendiam kan saya sepanjang jalan dan tiba-tiba memohon untuk menyembunyikan kejadian tadi malam?” tanya Radit.
“Aku tidak bermaksud seperti itu, pada saat itu aku kaget, aku minta maaf aku juga mau beretrimakasih kepada bapak!” ucap Abel.
Radit menghela nafas panjang. “Baiklah saya akan mengikuti mau mu, tapi ada syarat nya.” Ucap Radit.
“Huf ribet sekali kenpa harus ada syarat nya, syarat sebelum nya saja belum selesai.” Ucap Abel.
Radit menatap Abel.
“Kalau bukan karena tunangan, saya tidak mau memaaf kan kamu.” Ucap Radit.
Abel menghela nafas panjang. “Aku tidak mampu memenuhi syrat nya.” Ucap Abel.
“Sudah lupakan saja.” Ucap Radit.
“Baiklah-baiklah aku minta maaf soal itu, aku benar-benar salah, tapi sekarang aku mohon untuk tidak membahas itu. Kamu tau sendiri tunangan mu ini tidak memiliki uang sebanyak itu.” Ucap Abel.
“Jadi kamu sudah mengakui menjadi tunangan saya?” Tanya Radit.
“Tidak mungkin aku bisa memunggkiri hal itu, semuanya sudah terlanjur, aku harus menerima nya.” Ucap Abel. Radit diam. “ya udah deh aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf tentang semua kesalahan ku pada bapak.” Ucap abel pada radit.
Tiba-tiba Radit memeriksa suhu badan Abel. Abel menatap nya dengan kebingungan, “Ada apa sih Pak?” tanya abel menepis tangan Radit.
“Aku serius minta maaf kepada bapak. Tapi aku mohon jangan beri tau apapun yang terjadi kepada papah.” Ucap Abel.
Radit menghela nafas panjang. “Syarat nya hanya satu, berhenti memanggil saya bapak, dan jangan banya membantah.” Ucap Radit.
“Hanya itu saja?” tanya Abel.
“Tidak ribet bukan?” ucap Radit.
“aku harus memanggil apa? Sebutan itu sudah sangat cocok dengan bapak.” Ucap Abel.
“Saya calon suami kamu, di mana-mana tidak ada yang memanggil bapak nya dengan sebutan Bapak.” Ucap Radit.
“Hmm seperti nya dengan panggilan kakak cukup bagus dan sangat cocok kepada ba- hum kakak.” Ucap Abel.
“Saya rasa itu jauh lebih baik dari pada yang kemarin.” Ucap Radit.
Abel tersenyum. "Pak direktur." panggil Novi. Radit dan Abel menoleh ke arah Novi. "Selamat Pagi Pak. Mari ikut dengan saya." ucap Novi.
Radit menginyakan dia langsung mengikuti Novi masuk ke dalam perusahaan itu meninggalkan Abel di parkiran.
"Huff kenapa dia tidak menikah saja dengan sekretaris nya itu? Bukan kah seluruh kantor sudah tau kalau mereka dekat dan tentunya memiliki hubungan yang sangat spesial." ucap Abel.
"Abel apa yang kamu lakukan di sana? ayo masuk ke kantor sebelum telat." ucap Enjel yang baru saja datang.
Abel mengangguk. Abel duduk di meja kerja nya dia melihat handphone yang ada di atas meja nya. Dia dari kemarin tidak mengaktifkan nya.
"Huff sebaiknya aku melupakan dia, aku tidak boleh membuat masalah ini mengganggu kehidupan ku." ucap Abel.
Namun beberapa kali berusaha untuk melupakan atau mengabaikan masalah nya namun tetap saja tidak bisa dia merasa pusing memaksakan kalau bekerja.
"Abel!" panggil Novi. Abel langsung berdiri.
"Hari ini kamu ada kerjaan mendampingi pak direktur menemui klien kita di luar kota." ucap Novi.
Abel mengangguk.
Abel membawa semua yang sudah di siapkan. Setelah itu mereka sudah di dalam mobil.
"Bapak yakin mau menyetir sendiri?" tanya Abel. Radit menghela nafas panjang. "Maaf, maksud ku Kakak yakin mau menyetir sendiri? Sebaiknya aku saja, aku khawatir kalau lama-lama menyetir tangan bapak tidak bisa sembuh." ucap Abel.
Radit melihat tangan nya.
"Humm kalau begitu kamu mengganti kan saya." ucap Radit. Abel tersenyum.
Seperti biasa kalau lagi di mobil tidak ada percakapan apapun, Radit melihat ke arah Abel yang hanya diam saja.
"Apa kamu sudah terbiasa minum-minum seperti itu?" tanya Radit. Abel menggeleng kan kepala nya.
"Aku sangat jarang minum, hanya karena hal tertentu aku baru minum seperti Ulang tahun teman-teman ku, atau pesta lain nya." ucap Abel.
"Lalu tadi malam karena apa?" tanya Radit. Abel menghela nafas panjang. "Kenapa sih harus bertanya itu lagi?" tanya Abel..
"Saya penasaran kenapa kamu sampai mabuk berat seperti itu, untung saja kamu tidak sakit." ucap Radit.
Abel diam. "Kamu patah hati yah? kamu baru saja bertengkar dengan pacar kamu yang bernama Gaga itu?" tanya Radit.
Abel Menatap Radit. "Dari mana kakak tau? jangan-jangan kakak mengikuti ku Selama ini?" tanya Abel.
"Saya tidak memiliki waktu untuk mengikuti kamu, saya tau karena tadi malam kamu memanggil nama nya berulang kali. Saya yakin kamu pasti sangat sedih sekali." ucap Radit.
Abel menepuk lengan Radit.
"Kakak diam saja, aku hanya mengigau, aku tidak ada masalah hanya pengen minum saja." ucap Abel.
"Humm masa sih? saya melihat kamu menangis selama berjam-jam, dan hari ini wajah kamu sangat cemberut tidak seperti biasanya." ucap Radit.
"Sudah jangan membahas itu lagi, bapak hanya membuat ku kesal saja." ucap Abel dengan kesal.. Radit tertawa kecil.
"Putus cinta itu adalah hal yang biasa. Tidak perlu berlebihan menyiksa diri sendiri." ucap Radit. "Kakak tidak tau rasanya mencintai seseorang dengan sangat tulus ketika di hianati akan terasa tertusuk panah, kakak tidak akan tau itu karena kakak tidak perlu tulus." ucap Abel.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 194 Episodes
Comments
noty larasati
lanjut tabah seru
2024-08-08
0