Dia turun dari mobil membawa semua barang-barang Radit.
"Sini aku bantuin bawa tas pak Radit, kamu langsung bekerja saja." ucap Novi. Abel mengantarkan tas Radit sekaligus mau melihat keadaan nya, namun karena sudah ada Novi dia tidak jadi masuk.
Di meja kerja nya dia lanjut bekerja dengan fokus tidak memperdulikan sekeliling nya.
"Abel.. ikut saya." ucap Novi. Abel berdiri dia membawa buku nya dia mengikuti Novi keluar.
"Saya akan menjelaskan banyak hal kepada kamu agar kamu lebih paham." ucap Novi m
Abel mengangguk.
Novi menjelaskan satu di persatu. Abel mencatat apa yang Perlu saja agar dia mengingat nya.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai juga. Waktu nya untuk pulang kerja.
"Permisi Pak Radit." ucap Abel masuk ke ruangan Bos nya.
"Loh kok gak ada?" ucap Abel.
"Cari pak direktur yah Mbak? Bapak sudah pulang siang tadi." ucap karyawan.
"Pulang? Kenapa begitu cepat?" tanya Abel.
Karyawan itu menggeleng kan kepala nya.
"Oh iya ini barang-barang Pak direktur yang harus mbak bawain pulang ke rumah beliau." ucap karyawan.
Abel mengambil nya dia menuju ke rumah Radit.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di sana dia di sambut oleh Bibik.
"Bik pak Radit nya ada?" tanya Abel.
"Ada, silahkan masuk, saya akan mengantar kan mbak bertemu dengan Pak Radit." ucap Bibik.
Abel mengikuti Bibik keruangan kerja Radit.
"Tok!! Tok!! Tok!!" Ketukan pintu.
"Iyah Bik, masuk saja." ucap Radit dari dalam.
Abel masuk. Radit menghela nafas panjang melihat Abel.
"Kenapa jam segini kamu baru sampai di sini? Bukan kah jam pulang kerja kamu hari ini cepat?" ucap Radit.
"Pekerjaan di kantor sangat tanggung di tinggalkan Pak." ucap Abel.
Abel meletakkan barang-barang Radit di atas meja.
"Seperti biasa jangan lupa tugas kamu apa." ucap Radit.
Abel mengangguk.
"Bik biar aku saja yang Masak." ucap Abel menyusul Bibik ke dapur.
"Mbak yakin?" ucap Bibik ragu. Abel tersenyum.
"Bibik meragukan ku, aku sudah biasa masak, dulu waktu SMA aku juga sering ikut lomba memasak." ucap Abel.
Bibik terdiam sejenak.
"Oh iya bik di rumah ini hanya Pak Radit dengan Bibik yah?" tanya Abel.
Bibik mengangguk.
"Orang tua Pak Radit? Aku mendengar pak Radit juga memiliki dua saudara, mereka kemana?" tanya Abel.
"Mereka memiliki rumah sendiri di kota nya masing-masing." ucap Bibik.
"Oohh." ucap Abel.
Bibik membantu menata Piring di atas meja. Radit datang setelah makanan sudah selesai.
"Silahkan di makan Tuan, kali ini mbak Abel mengganti kan saya memasak, sesekali Tuan harus mencoba masakan Mbak Abel." ucap Bibik. Bibik sangat yakin kalau Masakan itu di sukai oleh Radit.
Radit menoleh ke arah Abel. "Huff dasar Pria tidak memiliki hati! Sudah susah-susah di Masakin menatap ku seperti mau membunuh ku saja." umpat hati nya.
"Mbak mari ikut saya." ucap Bibik.
Abel mengikuti Bibik ke satu ruangan.
"Ini tempat Tuan untuk memanjakan badan nya. Sekali seminggu Tuan akan di pijit di sini, sekalian terapi tangan nya." ucap Bibik.
"Jadi aku harus apa bik?"
"Karena Tuan sudah memberhentikan semua pelayan yang bertanggung jawab menjaga dia ini semua sudah menjadi tugas Mbak." ucap Bibik.
"Humm maksud Bibik aku yang harus memijit pak Radit?" tanya Abel. Bibik mengangguk.
"Kenapa mbak? Mbak gak mau yah?" tanya Bibik karena melihat wajah Abel.
"Kalau bisa aku menolak aku sudah menolak nya Bik, namun aku memiliki perjanjian dengan pak Radit, mau tidak mau aku harus melakukan nya." ucap Abel.
"Lalu masalah nya di mana Mbak?" tanya Bibik. Abel terdiam sejenak.
Sudah waktunya terapi. Radit masuk ke ruangan itu dia melihat Abel duduk di kursi samping tempat tidur khusus pijit itu.
"Apa yang bapak lihat? Segera lah berbaring dan aku melakukan pekerjaan ku, ini sudah malam orang tua ku pasti mencari aku." ucap Abel.
"Saya bos kamu, kenapa kamu berbicara kepada saya sangat kasar, pagi ini kamu membentak saya sampai penyakit saya kambuh!" ucap Radit.
Abel menghela nafas panjang dia berusaha menenangkan diri nya.
"Yang di katakan pak Radit benar, kenapa aku jadi semena-mena gini sih?" ucap Abel. Karena dia merasa dirinya benar-benar berbeda setelah beberapa hari bertemu dengan Radit.
Radit naik ke tempat tidur. "Tunggu dulu! Bapak mau ngapain?" ucap Abel menahan Radit yang hendak membuka baju nya.
"Membuka baju, apa kamu mau mengoleskan semua minyak itu ke baju saya?" ucap Radit.
Abel mengambil sarung dia memberikan nya kepada Radit.
"Wah badan pak Radit bagus banget." ucap Abel dalam hati.
"Huss apa yang aku pikirkan?" ucap nya langsung menepis pikiran nya.
"Sejujurnya aku tidak bisa memijit Pak, saya takut Setelah di pijit oleh saya bapak tambah sakit." ucap Abel.
"Jangan banyak alasan! Lakukan segera." ucap Radit.
Abel mulai mengoles kan minyak ke badan Radit.
Dia berusaha melakukan nya dengan sebaik mungkin.
"Kenapa pak Radit diam saja sih? Apa dia tidak suka dengan pijitan ku?" ucap Abel dalam hati.
Dia mengintip dan ternyata Radit tertidur.
"Yahh kok malah tidur?"
"Tapi bagus deh, aku tidak perlu mendengar ocehan nya.
Setelah selesai di pijit dia melihat tangan Radit.
"Seandainya saja aku tidak ceroboh waktu itu, pak Radit tidak akan menderita seperti ini."
"Aku benar-benar sangat ceroboh dan tidak bisa di andalkan." ucap nya.
Dia Mengompres nya namun tiba-tiba Radit bangun.
"Pelan-pelan.." ucap Radit. Abel Menatap wajah Radit.. Begitu juga dengan Radit.
"Terlalu kuat yah sampai bapak bangun? Tadi bapak sangat pulas, seperti nya bapak menikmati pijitan ku." ucap Abel.
"Saya tidur karena kecapean dan ngantuk. Pijitan kamu sama sekali tidak terasa. Giliran di tangan saya kamu melakukan nya sangat sakit." ucap Radit.
Abel menghela nafas panjang.
"Ya udah deh aku minta maaf." ucap Abel.
Dia mengoleskan minyak setelah selesai di kompres.
Abel mulai menggerakkan tangan Radit pelan-pelan namun tiba-tiba Radit menjerit.
"Sakit!!! Kamu bisa pelan-pelan gak?" ucap Radit dengan kesal.
"Ini sudah Pelan, Bapak saja yang lebay, badan saja yang berotot!" ucap Abel.
Abel melanjutkan nya lagi, Radit sangat kesakitan. Abel dengan baik hati meminta Radit bersandar di pundak nya dan memandang ke arah lain.
Radit mengikuti suruhan tangan Abel.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai.
Abel membalut lagi.
"Aku tidak yakin kalau bapak di rawat oleh ku, sebaiknya bapak mencari ahlinya saja." ucap Abel melihat Radit berbaring lemas karena menahan sakit yang cukup lama.
Radit tidak menjawab apapun.
"Sebaiknya bapak istirahat di kamar Bapak saja. Aku akan pulang." ucap Abel.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 194 Episodes
Comments
noty larasati
thor Radit lebay amat
2024-08-07
1
abdan syakura
Lucu deh kalian wahai sepasang tunangan....
🤣🤣🤣
2023-03-03
2