Abel mengangguk. Abel membantu mendorong kursi roda calon mertua nya itu.
"Mereka makan malam bersama.
"Oh iya Abel sudah pintar masak?" tanya Istri pak Malvin.
Abel menoleh ke arah kedua orang tua nya.
"Abel selalu sibuk dengan kuliah dan sekarang sibuk bekerja sehingga dia jarang memasak." ucap Mamah nya Abel.
Setelah selesai makan malam bersama keluarga Abel pamit untuk pulang ke rumah mereka.
"Pak Malvin kami pulang dulu yah." ucap Papah nya Abel.
"Loh tidak menginap saja? Sudah lama kita tidak bertemu saya ingin sekali berbincang-bincang banyak dengan kamu." ucap pak Malvin.
"Kasihan anak saya besok harus kuliah dan saya juga harus bekerja pak." ucap Papah Abel.
"Mila sudah dewasa tidak anak kecil lagi, kamu bisa cuti besok." ucap Pak Malvin.
"Lain kali saja Pak." ucap Pak Handoko.
"Kalau begitu bagaimana kalau Abel yang menginap di sini?" ucap Istri pak Malvin.
Orang tua nya menoleh ke arah Abel.
"Besok aku harus bekerja Tante." ucap Abel.
"Cuti saja, lagian bos kamu adalah Tunangan kamu sendiri. Kamu tidak di paksa untuk bekerja." ucap pak Malvin.
"Tapi Om."
"Sudah kamu menginap saja, kembali ke kota kalian besok bersama Radit." ucap Istri pak Malvin.
Abel menoleh ke arah orang tua nya.
"Baiklah Om, Tante." Abel terlihat sangat keberatan sekali.
Orang tua nya pun pamit pergi meninggalkan rumah calon besan nya itu.
"Mamah, Papah. Apa kalian yakin membiarkan Kak Abel menjadi menantu di rumah itu?" tanya Mila.
"Kenapa? Kok kamu bertanya seperti itu?" tanya Mamah nya.
"Tidak apa-apa sih, hanya saja aku melihat orang tua kak Radit cukup tegas. Aku takut kak Abel tertekan di sana. Apalagi Kak Abel yang akan menjadi menantu satu-satunya." ucap Mila.
"Justru kak Pak Malvin dan istri nya tegas Papah percaya kepada mereka." ucap pak Handoko.
"Tapi Pah."
"Sudah tidak ada tapi-tapian, Papah tidak ingin anak-anak Papah menjadi durhaka tidak menuruti perintah orang tua." ucap pak Handoko.
Di rumah Pak Malvin.
Abel sudah sangat mengantuk dia duduk di samping Radit di ruang tamu mendengar kan perbincangan anggota keluarga Pak Malvin.
Dia tidak paham apa yang mereka bicarakan namun mereka membicarakan pernikahan mereka berdua.
"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu tidak melihat ini kumpulan keluarga?" ucap Radit karena Abel tidak sengaja bersandar kepada Radit karena mengantuk.
"Aku sangat mengantuk, boleh kah aku tidak terlebih dahulu?" ucap Abel. Semua mata tertuju kepada mereka berdua.
"Maaf Mah, Pah, Abel mungkin kelelahan." ucap Radit. Abel yang di tatap seketika ngantuk nya jadi hilang.
"Kalau begitu kamu antar saja ke kamar yang sudah di siapkan." ucap Mamah nya.
"Tidak apa-apa Kok Mah, dia sudah tidak mengantuk lagi." ucap Radit.
Namun tiba-tiba Abel bersandar lagi. Radit sangat malu akhirnya dia membawa Abel ke atas.
"Kamu bisa tidur di sini malam ini." ucap Radit.
"Wahh kamar ini sangat bagus sekali." ucap Abel.
"Tidur lah, karena kamu harus bangun terlebih dahulu dari pada orang tua saya." ucap Radit.
"Loh kenapa?" tanya Abel.
"Sebagai calon menantu kamu harus menunjukkan Sifat yang baik dan juga kamu harus rajin." ucap Radit.
"Aku di sini jadi pembantu atau menantu? Bangun pagi beres-beres padahal bukan aku yang mau menginap di sini." ucap Abel.
"Abel!" ucap Radit.
melihat tatapan Radit Abel menghela nafas panjang.
"Huff bapak sama Om Malvin sama saja. Baiklah-baiklah aku akan tidur dan bangun pagi." ucap Abel.
Radit langsung keluar.
"Tunggu dulu." tahan Abel.
"Iyah kenapa lagi?" tanya Radit.
"Aku mau tukar baju, tapi aku gak tau harus pakai baju apa." ucap Abel.
Radit langsung pergi.
"Huff mimpi apa aku akan memiliki suami dan mertua yang berwajah dingin." ucap nya.
"Ah sudahlah aku sudah sangat mengantuk." Dia menutup pintu dan membuka baju nya.
Tidak beberapa lama ada yang mengetuk pintu.
"Siapa?" tanya Abel.
"Ini saya Non, saya di suruh oleh Tuan muda mengantarkan baju ganti untuk Non." ucap Bibik.
Abel Mengambil nya.
"Terimakasih banyak Bik."
Abel melihat baju nya.
"What!!! Ini baju tidur saja Banu bermerk benar-benar sangat kaya." batin Abel.
"Huff tidak apa-apa lah, sesekali tidur di balut dengan uang, selama ini papah selalu meminta untuk menabung jangan membeli barang-barang yang mahal tidak berguna." batin Abel.
Keesokan harinya.. Abel melihat jam handphone nya seketika dia langsung bangun karena melihat sudah jam delapan pagi.
Dia keluar dari kamar dan melihat ke lantai bawah, ternyata Orang tua Radit dan semua keluarga nya sudah bangun termasuk Radit juga.
Abel segera mandi dia langsung turun ke bawah semua mata tertuju kepada nya.
"Abel seperti nya kelelahan sekali jadi bangun kesiangan. Apa kamu di paksa bekerja oleh tunangan kamu?" ucap Bibik Radit.
Abel tersenyum.
"Maafin saya bangun kesiangan. Saya minta maaf." ucap Abel.
"Tidak apa-apa, tapi lain kali jangan mengulangi nya, kamu akan segera menjadi istri dan akan menjadi seorang ibu kamu harus bisa disiplin." ucap Bibik Radit.
Abel melihat kedua orang tua Radit sudah diam saja, sementara Radit benar-benar menahan malu.
"Sudah kalau begitu ayo sarapan." ucap Orang tua Radit.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai makan. Abel mau membantu menyimpan Piring kotor namun kurang rapi sehingga dia hampir menjatuhkan gelas mahal calon mertua nya.
"Hati-hati." ucap Pak Malvin.
Mendengar pak Malvin Abel semakin grogi.
Waktu nya mencuci piring.
"Seperti nya kamu tidak terbiasa bekerja seperti ini yah?" ucap istri pak Malvin.
Abel menoleh ke arah Istri pak Malvin.
"Saya biasa kok Tante." ucap Abel.
"Biasa lah anak jaman sekarang semua nya sangat manja, bahkan tugas Perempuan seperti ini saja tidak bisa." ucap istri pak Malvin dan langsung mengambil alih mencuci piring.
"Kamu bantu Bibik saja." ucap istri pak Malvin.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai semua. Mereka berkumpul di Ruang tamu sementara Abel memilih untuk duduk di dapur.
"Huff ternyata orang kaya yang aneh ada yah." ucap Abel dalam hati dia mengusap wajah nya.
"Seandainya aku bisa memilih hidup ku sendiri." ucap nya dan bersandar ke dinding.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Radit. Abel Menatap Radit.
"Aku mau pulang sekarang juga, aku tidak mau menunggu siang." ucap Abel.
"Tidak bisa, orang tua saya akan marah. Kamu tidak menghargai mereka." ucap Radit..
Abel menghela nafas panjang. "Aku membenci bapak, aku tidak suka berada di sini, aku tidak ingin menikah dengan bapak." ucap Abel.
"Kalian berdua ngapain di Dapur?" tanya Tante Radit yang kebetulan ke dapur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 194 Episodes
Comments
Sipri 76
pergantian bab terlalu baxak pengulangan kalimat2 diakhir bab sebelumx
2023-02-25
5