"Hanya ini penginapan yang ada di sini dekat ke rumah sakit, saya sudah tidak bisa menahan sakit tangan dan kepala saya, ambil saja kamar itu." ucap Radit.
"Hah! saya dengan bapak satu kamar?" ucap Abel.
"Kalau kamu tidak mau, kamu bisa tidur di dalam mobil." ucap Radit. Abel menghela nafas panjang akhirnya dia tetap memilih tidur di kamar.
Di kamar Abel sedang mengganti balutan tangan Radit.
"Apa bapak tidak berniat memeriksa nya ke rumah sakit? Aku takut akan semakin parah karena sudah satu bulan aku merawat nya tidak ada kemajuan sama sekali." ucap Abel.
Radit menggeleng kan kepala nya.
"Kenapa?" tanya Abel.
"Saya tidak ingin." ucap Radit.
"Apa bapak ingin sakit seperti ini terus? Bapak tidak bebas." ucap Abel.
"Ini semua karena kamu." ucap Radit. Abel menghela nafas panjang.
"Ya sudah kalau begitu Bapak istirahat saja, aku juga mau istirahat." ucap Abel naik ke tempat tidur nya.
Radit memperbaiki tidur nya dia menoleh ke arah Abel.
"Apa kamu tidak lapar?" tanya Radit. Abel menggeleng kan kepala nya.
"Tapi saya sangat lapar." ucap Radit. Abel duduk lagi.
"Bapak mau makan apa?" tanya Abel.
Tidak beberapa lama Abel kembali membawa makan untuk Radit.
Menunggu Radit selesai makan dia menukar pakaian nya terlebih dahulu ke kamar mandi.
Setelah keluar dari kamar mandi Radit juga sudah selesai makan.
"Kenapa bapak tidak menghabis kan nya?" tanya Abel. Radit menoleh ke arah Abel.
"Aku membeli ini butuh perjuangan, namun bapak hanya memakan nya dua Sendok, sangat tidak menghargai kerja keras ku!" ucap Abel.
Abel kembali tidur di kasur nya.
"Saya belum makan obat." ucap Radit. Abel menghela nafas panjang dia bangun lagi dan mengambil obat Radit.
Abel melihat obat yang sering di minum oleh Radit kalau sedang kumat.
"Kalau boleh tau ini obat apa? Bapak sering mengkonsumsi ini kalau tiba-tiba sakit." ucap Abel.
"Kamu tidak perlu tau." ucap Radit. Abel menatap Radit.
"Bapak memiliki penyakit lain yang tidak aku tau?" tanya Abel.
Radit menggeleng kan kepala nya.
"Saya hanya memiliki penyakit Panik Ataack." ucap Radit.
Abel berbaring di kasur nya.
"Panik Ataack? Siapa yang membuat bapak memiliki penyakit itu?" tanya Abel.
Radit menggeleng kan kepala nya.
"Tidak perlu membahas nya Lagi." ucap Radit.
"Panik Ataack itu penyakit yang sulit di sembuh kan, penyakit itu bisa sembuh kalau trauma sebelum nya sembuh, sering terjadi seperti di sebuah hubungan." ucap Abel.
Radit menoleh ke arah Abel.
"Bapak bisa sembuh kalau Bapak bisa menemukan orang baru yang bisa mengobati trauma bapak." ucap Abel.
"Maksud kamu?" tanya Radit.
"Bapak harus segera menemukan kekasih lagi, kekasih yang benar-benar bapak cintai, penyakit itu perlahan akan hilang." ucap Abel.
Radit menggeleng kan kepala nya.
"Saya memiliki penyakit ini bukan karena patah hati. kamu tidak perlu sok tau." ucap Radit.
"Lalu karena apa? Setiap kali bapak kaget bapak pasti kesakitan." ucap Abel.
"Tidur lah, kamu tidak perlu tau." ucap Radit. Abel menghela nafas panjang.
"Ya udah deh kalau tidak mau cerita, oh iya aku minta maaf kalau sudah membuat bapak dua kali membuat nya kambuh." ucap Abel.
Dia langsung tidur membelakangi Radit. Radit menoleh ke arah Abel.
Dua jam kemudian akhirnya Abel tertidur dengan sangat pulas sekali. Sementara Radit sama sekali tidak bisa tidur.
"Ini benar-benar sangat canggung sekali." ucap nya. Abel berbalik dia menghadap ke arah Radit.
Radit menoleh ke arah Abel. "Bisa-bisa nya dia tertidur dengan sangat nyenyak di saat tidur bersama Pria yang baru saja di kenal nya." ucap Radit.
"Apa yang Bapak katakan? Aku tidak bisa mendengar nya, aku sangat ngantuk. Bapak kenapa tidak tidur?" tanya Abel.
Radit menoleh ke arah Abel.
"Saya tidak bisa tidur." ucap Radit. Namun Abel sudah tidur lagi.
Radit menghela nafas, Radit keluar berjalan ke arah balkon dan duduk di sana.
Abel terbangun karena angin yang membuat nya kedinginan. Dia tidak melihat Radit di tempat tidur.
"Ini sudah tengah malam pak, kenapa bapak masih duduk di sini? Angin malam bisa membuat bapak sakit." ucap Abel.
"Kamu duduk di sini, temani saya." ucap Radit menepuk tempat duduk di samping nya.
Abel menggeleng kan kepala nya.
"Aku tidak mau, aku mau tidur." ucap Abel.
"Kamu berani menentang saya?" tanya Radit.
"Aaarhhh!! Seandainya saja kalau bukan bos ku, aku tidak akan mau di sini!" ucap Abel dengan kesal.
Dia duduk di samping Radit.
"Di sini sangat dingin sekali." ucap Abel. Radit membuka jaketnya dan memberikan kepada Abel.
"Huff bapak tidak perlu memberikan nya kepada ku, aku bukan pacar Bapak." ucap Abel menolak nya.
Tidak beberapa lama duduk di balkon Radit kaget karena tiba-tiba Abel bersandar di pundak nya.
Dia melihat wajah Abel ternyata dia sudah tidur.
Keesokan paginya... Abel bangun dia melihat tubuh nya sudah di tempat tidur nya.
"Loh bukannya tadi malam aku di balkon? Sejak kapan aku di sini?" ucap Abel kebingungan. Dia menoleh ke arah Radit yang masih tidur.
Dia mengingat tadi malam kalau dia sangat ngantuk dan bersandar ke bahu Radit.
"Ini tidak mungkin! Tidak mungkin!" ucap nya.
"Ada apa ini? kenapa pagi-pagi kamu sudah berisik?" ucap Radit.
Abel langsung terdiam dia merasa dia tidak terlalu berisik sekali.
"Maaf Pak."
Tepat jam delapan pagi mereka sudah ada di rumah sakit. Abel berjalan ke belakang Radit.
"Radit...." Ucap Mamah nya langsung memeluk Radit ketika mereka sudah sampai.
Abel melihat Mamah Radit untuk pertama kalinya, ternyata sangat cantik walaupun sudah berumur dia tetap cantik.
Banyak juga keluarga di sana.
Semua nya menoleh ke arah Abel yang tersenyum.
Abel bingung dengan tatapan mereka semua yang membuat nya gugup.
"Kamu Abel kan?" tanya Mamah nya Radit. Abel mengangguk.
"Ternyata kamu lebih cantik asli nya. Terimakasih sudah mau datang ke sini bersama Radit. Papah nya Radit sangat ingin bertemu dengan kamu." ucap Mamah Radit.
"Maksud nya?" tanya Abel, tidak mungkin orang yang tidak mengenal nya dan tidak dia kenal menunggu nya. Bahkan mereka semua seperti senang melihat Abel datang.
"Kamu sangat cocok sekali dengan Radit." ucap Mamah nya. Abel tidak bisa mengatakan apapun dia hanya terdiam.
"Langsung masuk saja, papah sudah menunggu kalian berdua." ucap mamah nya.
"Ada apa ini pak?" tanya Abel. Radit tidak menjawab karena masih banyak orang.
Mereka masuk ke dalam. Abel kaget melihat Pak Malvin yang dari dulu sangat dia gemari berbaring di tempat tidur, badan sudah sangat kurus.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 194 Episodes
Comments
noty larasati
lanjut thor kaya tambah seru
2024-08-07
1