Abel menemui Radit ke ruangan nya.
"Maksud bapak dengan mengatakan tanggung jawab saya mengantar dan menjemput bapak apa?" tanya Abel.
"Saya sangat benci dengan orang yang tidak memiliki sopan santun. Masuk ke ruangan saya tampa mengetuk pintu atau Ijin terlebih dahulu!" ucap Radit.
Abel lupa. Dia keluar terlebih dahulu mengetuk pintu lagi.
Radit menghela nafas panjang melihat kelakuan karyawan nya itu.
"Masuk!" ucap Radit dari dalam. Abel masuk ke dalam.
"Apa maksud Bapak mengatakan kepada Enjel kalau saya yang bertanggung jawab menjemput dan mengantar Bapak?" ucap Abel.
"Saya bos kamu, kamu mau saya pecat karena meninggikan nada bicara kepada say?" ucap Radit.
Enjel menghela nafas panjang.
"Hufff.. Saya minta maaf Pak." ucap Abel.
"Saya tidak bermaksud apa-apa mengatakan itu kepada Enjel, saya hanya meminta tolong kepada nya mengatakan kepada kamu, mungkin kamu lupa dengan perjanjian kita sebelumnya." ucap Radit.
"Saya tidak lupa dengan perjanjian kita, tapi kenapa harus mengantar dan menjemput bapak?" ucap Abel.
"Oh iya saya lupa menjelaskan dengan detail kepada kamu apa saja yang harus kamu lakukan ketika menjadi tangan kanan saya." ucap Radit.
"Saya tidak bisa menyetir dengan tangan kiri karena saya tidak terbiasa. Menggunakan tangan kanan saya jelas tidak bisa karena lumpuh." ucap Radit.
"Biasa nya bapak memiliki supir." ucap Abel.
"Mulai dari sekarang kamu supir saya," ucap Radit.
Abel tidak bisa mengatakan apapun.
Hanya bisa pasrah saja.
"Ayo buruan antar saya kembali ke rumah." ucap Radit.
Abel mengangguk.
"Jangan pergi dengan tangan kosong seperti itu, bawa ini!" ucap Radit menunjukkan tas kerja nya.
"Bapak bisa membawa nya menggunakan tangan kiri." ucap Abel.
"Saya tidak pernah menggunakan tangan kiri saya membawa tas kerja saya karena isi nya sangat berat. Biasa nya Novi yang membawa kan nya. Karena sekarang sudah ada kamu. Kamu bertugas membawa tas itu." ucap Radit.
Abel benar-benar sangat kesal, namun dia harus sabar.
Sudah di parkiran.
"Nih." ucap Radit memberikan kunci mobil nya.
"Saya tidak mau menggunakan mobil bapak, saya memiliki mobil sendiri." ucap Abel.
"Saya tidak mau naik mobil murahan mu itu!" ucap Radit.
Abel menghela nafas panjang.
"Tapi saya tidak bisa menggunakan mobil mewah seperti yang Bapak punya, saya sudah terbiasa dengan mobil biasa." ucap Abel.
"Kalau Bapak ngotot naik mobil Bapak bawa saja sendiri." ucap Abel.
Radit tidak memiliki pilihan lain dia masuk ke dalam Mobil Abel.
"Apa mobil ini tidak pernah di bersihkan? Bahkan tidak ada pengharum mobil. AC nya juga tidak dingin sama sekali." ucap Radit.
"Bapak bisa berhenti mengkritik mobil saya tidak? Kalau bapak tidak suka turun saja!" ucap Abel karena sudah kesal. Dan kebetulan sudah di atas mobil nya dia bisa berbicara seperti itu.
Radit langsung diam.
"Nih alamat rumah saya." ucap Radit memberikan Maps nya.
Abel mulai menjalankan mobil.
"Kamu bisa mengurangi kecepatan nya tidak? Saya tidak ingin mati, pantesan saja Mobil saya rusak, ternyata cara kamu menyetir ugal-ugalan seperti ini!" ucap Radit.
Abel tidak menjawab dia fokus pada jalanan, tidak perduli dengan Radit yang sudah takut karena dia membawa mobil cukup laju agar cepat sampai.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai.
"Sudah sampai." ucap Abel. Dia turun dari mobil membuka kan pintu.
"Selamat Sore Tuan." ucap Bibik menyambut Radit.
Radit keluar dari dalam mobil.
"Saya tidak suka dengan cara kamu mengemudi!" ucap Radit kepada Abel.
Abel tidak mengatakan apapun.
"Tugas saya sudah selesai, saya akan pulang." ucap Abel kepada Radit sambil memberikan tas Radit kepada Bibik nya.
"Kata siapa kamu bisa pulang?" ucap Radit.
"Apa yang harus saya lakukan lagi pak?" tanya Abel mencoba untuk sabar.
"Ikuti saya." ucap Radit. Dia masuk ke dalam rumah itu.
"Kamu harus menjadi pelayan pribadi saya di rumah saya setelah pulang bekerja." ucap Radit.
"Hah?" ucap Abel kaget.
"Tidak ada komentar tidak ada Penolakan, ini semua sudah pilihan kamu. Cepat lakukan apa tugas kamu." ucap Radit.
Abel tidak mau.
"Kalau kamu tidak mau, itu arti nya kamu akan semakin lama di sini." ucap Radit.
Abel melihat jam.
"Aaarhhh... baru dua hari saja sudah menyebalkan." ucap Abel dalam hati.
"Baiklah, apa yang harus saya lakukan?" tanya Abel.
"Bik tolong ajari dia apa saja tugas nya di sini." ucap Radit.
Bibik mengajari Abel menyiapkan makan malam, setelah itu obat dan juga Mengompres tangan Radit.
Selama Mengompres tangan Radit Abel benar-benar tidak bersungguh-sungguh dia membuat Radit menjerit beberapa kali.
Setelah selesai akhir nya dia bisa pulang.
Sesampainya di rumah dia langsung ke kamar nya.
"Ya ampun kalau seperti ini aku bisa gila, aku tidak bisa." ucap nya dengan kesal.
"Kakak kenapa? Pulang-pulang langsung ke kamar dan menjerit?" tanya papah nya masuk ke kamar nya.
Abel duduk.
"Eh Papah, gak apa-apa kok." ucap Abel.
"Lalu kenapa kamu menjerit? Apa yang terjadi?" tanya papah nya.
"Aku hanya menonton film kesukaan ku kok Pah." ucap Abel.
"Oohh begitu. Ya udah kamu langsung mandi dan setelah itu langsung turun ke bawah untuk makan." ucap Papah nya. Abel mengangguk.
Abel membuka handphone nya ternyata sudah banyak panggilan tak terjawab dari Pacar nya Gaga.
"Sayang maafin aku yah, aku belum sempat menemui kamu." ucap nya meminta maaf, namun Gaga sudah terlanjur merajuk.
Di rumah Radit mencoba menggerakkan tangan nya namun tidak bisa.
"Kata dokter tangan ku hanya lumpuh sementara, namun kenapa sudah dua bulan tidak kunjung bisa di gerakkan?" ucap nya.
"argh!!!" Dia menjerit sekuat mungkin karena Mencoba memutar nya.
"Tuan Radit.. Ada apa?" tanya Bibik dari luar.
"Tidak apa-apa Bik." ucap Radit. Bibik masuk.
"Ada apa tuan?" tanya Bibik.
Radit menggeleng kan kepala dan menundukkan kepalanya.
"Ya Allah Tuan, Tuan jangan memaksakan nya, perlahan pasti akan sembuh." ucap Bibik. Karena tidak sekali Radit memaksa tangan nya.
Radit diam saja.
"Oh iya Tuan ini ada Bingkisan dari Keluarga Pak Handoko." ucap Bibik memberikan yang ada di atas meja.
"Apa ini Bik?" tanya Radit.
"Kue Tuan." ucap Bibik.
"Terimakasih Bik, saya akan memakan nya nanti, Bibik keluar saja." ucap Radit. Bibik mengiyakan.
"Huff seandainya saja perempuan itu bukan tunangan ku, aku akan melaporkan dia ke polisi. Akibat dia aku jadi seperti ini." ucap Radit.
Dia mengingat beberapa Bulan lalu sebelum Abel wisuda.
Pak Handoko dan Bu Lisma datang ke acara keluarga nya. Bukan pak Handoko yang meminta Abel bekerja di perusahaan Peninggalan Papah Radit, tapi keluarga lah yang meminta agar mereka saling dekat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 194 Episodes
Comments
noty larasati
sehat2 Radit
2024-08-07
1
abdan syakura
Smg lekas Sembuh,Radiiitt
yg sabar yaah....
2023-03-03
2