"Huff ternyata orang kaya yang aneh ada yah." ucap Abel dalam hati dia mengusap wajah nya.
"Seandainya aku bisa memilih hidup ku sendiri." ucap nya dan bersandar ke dinding.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Radit. Abel Menatap Radit.
"Aku mau pulang sekarang juga, aku tidak mau menunggu siang." ucap Abel.
"Tidak bisa, orang tua saya akan marah. Kamu tidak menghargai mereka." ucap Radit..
Abel menghela nafas panjang. "Aku membenci bapak, aku tidak suka berada di sini, aku tidak ingin menikah dengan bapak." ucap Abel.
"Kalian berdua ngapain di Dapur?" tanya Tante Radit yang kebetulan ke dapur.
Abel dan Radit langsung berekspresi biasa saja.
"Gak ada Tante, Tante mau ngapain?" tanya Radit.
"Nih Tante mau ngambil kan minum sama obat Papah kamu." ucap Tante nya.
"Oohh biar Abel saja Tante. Tante duduk saja lagi." ucap Radit. Abel hanya bisa menghela nafas panjang menatap Radit dengan tatapan tajam.
"Gak Apa-apa? Tante bisa kok sendiri."
"Gak apa-apa Tante." ucap Abel karena merasa tidak enak.
"Ya udah kalau begitu." Tante nya pun pergi keluar dari dari dapur.
"Kenapa sih mesti aku? aku tidak ngerti yang mana." ucap Abel.
Radit mengambil dan meminta Abel membawa nya.
"Bawa saja antar kan kepada Papah." ucap Radit. Abel mengambil nya dengan kesal.
"Om ini obat nya." ucap Abel meletakkan di depan Om Malvin.
"Terimakasih nak." ucap Pak Malvin.
Abel duduk di samping Radit.
"Pah.. Seperti nya kami harus pulang. Gak apa-apa kan?" tanya Radit.
"kenapa begitu cepat?" tanya pak Malvin.
"Abel juga butuh istirahat." ucap Radit.
"Baiklah kalau begitu, tapi jangan lupa untuk membicarakan Tgl berapa pernikahan nya di langsung kan. Kalau besok Papah tunggu belum ada juga Papah Akan menentukan tanggal nya sendiri." ucap Pak Malvin.
"Iyah Pah."
Setelah berpamitan mereka meninggalkan Rumah mewah milik pak Malvin itu.
"Argghh!! Kalau aku tau ke rumah bapak seperti menguji nyali aku sebaiknya tidak pergi, aku rasa ini adalah yang pertama dan yang terakhir." ucap Abel.
"Kamu akan menikah dengan saya dan akan menjadi menantu dari keluarga Pak Malvin." ucap Radit.
"Satu hal yang harus bapak tau adalah, aku tidak akan mau menikah dengan bapak sampai kapan pun itu, aku tidak perduli dengan ramalan Nenek moyang, apapun itu." ucap Abel.
Malvin hanya diam saja.
"Aaa!!!" Tiba-tiba Abel memegang dadanya sakit tiba-tiba.
"Kamu kenapa?" tanya Radit. Abel langsung menepis tangan Radit yang memegang bahu nya.
"Jangan sentuh aku." ucap Abel. Malvin terpaksa berhenti mencari tempat yang parkir aman.
"Kamu kenapa?" tanya Malvin karena melihat Abel sangat kesakitan.
"Dada ku sangat sakit sekali." ucap Abel.
"Kenapa? Kamu butuh minum?" tanya Radit. Abel tidak bisa menjawab.
"Apa ini ada hubungannya dengan yang di ceritakan oleh Bibik? salah satu di antara kami berdua akan merasa kesakitan kalau hubungan tidak baik." ucap Radit.
"Aku tidak percaya dengan hal itu, aku hanya memiliki sakit dada karena kecapean, aku akan memeriksa nya ke dokter." ucap Abel.
Radit Menatap wajah Abel. Melihat Abel kesakitan dia tidak tega pada akhirnya dia memeluk Abel.
"Apa yang Bapak lakukan? Jangan lancang yah!" ucap Abel mendorong Radit.
"Jangan keras kepala kamu!" ucap Radit. Radit memeluk dengan sangat erat.
Abel hanya diam saja di pelukan Radit.
"Apa ini? Kenapa rasa sakit nya perlahan hilang." batin Abel. Tiba-tiba Abel mendorong nya.
"Lepaskan aku." ucap Abel. Radit menatap Abel.
"Apakah masih sakit?" tanya Radit. Abel menggeleng kan kepalanya.
"Sebaik nya kita pulang saja." ucap Abel.
Radit pun menjalankan mobil nya.
"Apa kutukan ini tidak bisa di hilangkan lagi? Aku benar-benar tidak tahan dengan semua ini." batin Abel.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di depan rumah Abel. Abel mau keluar namun mobil langsung di kunci oleh Radit.
"Apa yang bapak lakukan?" tanya Abel dengan kesal karena dia sudah pengen keluar dari mobil.
"Bagaimana keputusan kamu dengan tanggal pernikahan kita?" tanya Radit.
"Berapa kali aku harus bilang kalau aku tidak mau menikah dengan pria yang aku tidak cintai." ucap Abel.
"Tidak bisa seperti itu, karena mau tidak mau kita harus menikah." ucap Radit.
Abel menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak mau." ucap nya langsung keluar dari mobil
"Assalamualaikum." Dia masuk ke rumah dengan wajah yang sangat jutek.
"Loh kamu sudah pulang nak? Radit mana?" tanya mamah nya.
"Dia sudah pulang." ucap Abel.
"Kok kamu cemberut seperti ini sih? Padahal kamu baru dari rumah calon suami kamu." ucap mamah nya.
"Mah aku tidak ingin menikah dengan pria itu, aku tidak mau." ucap Abel.
"Jangan keras kepala kamu Abel! Semua kami lakukan demi kebaikan kamu dengan Radit." ucap Papah nya.
"Aku tidak akan menikah, titik!" ucap Abel.
"Baiklah kalau kamu tidak mau menikah kamu jangan anggap kami sebagai orang tua!" ucap Mamah nya langsung pergi.
Abel langsung terdiam.
Abel mau berbicara dengan papah nya namun papah nya juga ikut pergi.
"Ya Allah kenapa jadi seperti ini?" ucap Abel.
Keesokan harinya...
"Selamat pagi Abel kok wajah kamu cemberut gitu sih?" tanya Enjel.
Abel menatap wajah Enjel.
"Apa kamu tidak membawa aku kopi hangat?" tanya Enjel.
"Loh tumben banget kamu minta kopi?" tanya Enjel.
"Kalau bisa sekalian roti yah." ucap Abel.
"Kamu gak sarapan dari rumah?" tanya Enjel. Abel menggeleng kan kepala nya.
"kenapa?" tanya Enjel.
Abel mengingat pagi tadi dia tidak di bangun kan seperti biasa, keluar dari kamar dia juga tidak di sapa bahkan tidak di tawarkan sarapan bersama oleh orang tua nya.
Dia tidak enak akhirnya dia berangkat dengan sangat sedih.
"Ya ampun Abel.. Ya udah deh kalau begitu aku buatin dulu yah." ucap Enjel. Tidak beberapa lama kembali membawa roti dia makan begitu lahap.
Kebetulan Radit datang dia melihat Abel. Abel merasa di perhatikan dia langsung menghentikan makan nya dan langsung berdiri memberikan salam.
"Kamu ikut saya ke ruangan." ucap Radit menunjuk Abel. setelah itu pergi.
Abel menghela nafas panjang.
"Kamu pergi gih masuk ke sana sebelum pak Radit marah, dia tidak suka menunggu." ucap Enjel.
Abel meminum kopi nya setelah itu berjalan ke ruangan Radit.
"Iyah pak. Apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Abel.
Radit berdiri dan berjalan mendekati Abel.
"Apa mau bapak?" tanya Abel karena Radit Terus mendekati nya.
Radit menyentuh wajah Abel. Abel sangat kaget.
"Lain kali utamakan kebersihan!" ucap Radit. Abel membersihkan Mulut nya dari bekas minuman kopi nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 194 Episodes
Comments
Sipri 76
iyalah bbrpa kalu menulis salah nama yg seharus Radit mslah ditulis Malvin, jga msh blm terjwb konen sy sblumx.
2023-02-25
3