“Ternyata ingatan mu begitu kuat.” Ucap Radit.
Novi tersenyum. Saat asik berbicara tiba-tiba ada pesan masuk ke handphone Novi.
“Novi ini adalah salah satu karyawan dari perusaan tempat kamu bekerja. Aku melihat kartu pengenal nya, apa kamu tau rumah nya di mana? Dia mabuk berat.” Ucap teman nya yang bekerja di club itu.
“Bapak harus melihat ini.” Dia menunjukkan foto Abel yang tergeletak di meja dengan wajah yang sangat merah sekali.
“Saya akan menjemput dia ke sana, kirim saja lokasi nya, kamu juga pulanglah ini sudah malam.” Ucap Radit.
“Bapak yakin akan pergi sendirian?” tanya Novi.
“Iyah. Kita akan bicara besok lagi, saya pergi dulu.” “Bapak hati-hati, kalau butuh bantuan langsung
Hubungi saya saja.” Ucap Novi.
“Seperti nya pak Direktur memang sudah membuka hati nya untuk Abel, terlihat sekali kalau dia perduli dan juga sangat perduli. Tidak pernah saya lihat pak Radit perduli kepada orang lain.” Ucap Novi.
“Wajar saja lah non, non Abel adalah calon istri tuan muda, mana mungking tuan tidak perduli dengan Abel.” Ucap bibik.
“Semoga saja mereka benar-benar jodoh dan semoga mereka bahagia.” Ucap novi.
“Non tidak apa-apa kan?” tanya Bibik.
“Huff saya rasa perasaan saya hanya sekedar mengagumi pak direktur saja, saya ingin direktur bahagia dengan pilihan nya.” Ucap Novi.
Sesampai nya di alamat Abel, Radit langsung masuk ke ruangan tempat Abel mabuk. Dia tidak melihat Abel di meja nya, dia bertanya lagi dan mereka meminta memeriksa toilet. “Astaga apa yang kamu lakukan di sini?” Abel tertidur memeluk wc dan tertidur di sana.
“Abel bangun! Kita harus pulang.” Ucap Radit berusaha membangun kan Abel.
“Lepaskan aku, aku tidak mau.’
“Kamu sudah mabuk berat, sebaiknya kita pulang saja, saja akan mengantarkan kamu pulang ke rumah kamu.” Ucap Radit.
“Aku tidak mabuk, aku tidak mau pualang.” Bantah Abel mencoba menepis tangan Radit dari lengan nya.
Radit menggendong Abel dari kamar mandi keluar, “Makan apa saja dia, badan nya begitu berat.” Gerutu Radit sambil terus berjalan ke dalam mobil. Akhirnya sudah sampai di dalam mobil.
“huff.. seumur hidup saya tidak ada yang berani membuat saya menggendong orang lain seperti ini, kamu baru saja calon istri, huf lebih tepat nya calon istri kontrak!” ucap nya dengan kesal.
Dia memerhatikan wajah Abel yang sangat merah akibat mabuk.
“kalau pak Handoko melihat ini dia pasti akan marah besar.” Batin Radit.
“Aku sangat membenci kamu, aku membenci kamu, kamu sangat jahat.” Kata-kata itu tidak berhentu keluar dari mulut Abel.
Namun tiba-tiba dia menangis lagi. Radit jadi bingung di buat oleh nya.
“Ada apa dengan kamu? Kenapa kamu tiba-tiba kamu menangis?” tanya Radut, namun tidak di jawab oleh Abel dia tidak berhenti menangis.
“Hiks.. hiks... aku sangat membenci kamu, aku membenci kamu Gaga!”
“Siapa Gaga? Atau jangan-jangan dia mabuk seperti ini karena patah hati?”
Radit mau pergi namun tangan nya di tahan oleh Abel. “jangan tinggalin aku, aku mohon.” Ucap Abel membuat radit terdiam sejenak.
“Abel bangun ini adalah saya.” Abel membuka mata nya dia melihat ke wajah Radit.
“Aku sangant mencintai kamu. Kenapa kamu sangat jahat kepada ku?” ucap Abel.
“Huff seperti nya dia tidak akan sadar lagi, sebaik nya aku membawa dia pulang.” Ucap nya.
“Permisi pak.” Satu pria datang menghampirinya sebelum pergi meninggal kan club itu.
“iyah ada apa?” tanya radit dengan santai.
“Mbak yang mabuk belum membayar tagihan nya.” Ucap pria itu.
“Baik lah, saya akan mengurusnya nanti.” Ucap Radit.
“baigaimana dia minun tampa membayar tagihan seperti ini? Huff hanya bisa menyusahkan saja.”
Dia membayar dengan kartu kredit nya. Dia kaget karena tagihan nya cukup tinggi hanya untuk satu orang saja.
“Pantesan saja dia mabuk berat, dia meminun sangat banyak.” Ucap nya.
Setelah selesai dia langsung membawa Abel pulang. Namun di tengah-tengah perjalan dia mengingat kalau orang tua Abel cukup keras dia memikirkan sesuatu.
“Sebaik nya aku membawa dia ke rumah ku saja, orang tua nya juga akan menyalah kan aku kalau tau keadaan Abel seperti ini.
Akhirnya dia membawa Abel ke rumah nya.
Keesokan hari nya tepat jam tujuh pagi Abel terbangun karena silau di saat Radit membuka gorden kamar nya, awal nya Abel berfikir itu adalah mamah nya.
“Selamat pagi mah.. kenapa mamah membangunkan aku begitu cepat?” tanya Abel.
Namun saat membuka mata dia kaget melihat di depan mata nya ternyata adalah Radit.
“ngapain bapak di sini?” tanya Abel.
“Ini rumah saya, Ini sudah jam berapa? Kamu harus siap-siap ke kantor.” Ucap Radit.
Abel melihat ke sekitar nya, dia baru sadar kalau dia tidak di kamar nya sekarang.
“Kenapa aku ada di sini? Apa yang bapak lakukan sampai aku ada di sini?” tanya Abel.
“Kamu tidak mengingat kejadian tadi malam?” tanya Abel.
Abel mencoba mengingat apa yang tejadi tadi malam, setelah dia mengingat nya dia sangat maku sekali.
Dia memegang kepala nya yang tiba-tiba sakit.
Abel mengingat kejadian dia melihat keksih nya sendiri bersama perempaun lain.
“Kenapa kamu malah bengong? Segera siap-siap kita harus pergi ke salah satu tempat.”
“Aku mau libur hari ini, aku tidak bisa bekerja hari ini karena badan ku kurang enak.”
“jangan membuat alasan! Kalau kamu tidak mau saya akan memberitahu kepada orang tua kamu, bahwasan kamu mabuk karena patah hati.” Ucap Radit.
“Bapak jangan mencoba-coba mengatakan nya karena pasti nya bapak dalam masalah juga!” ucap Abel.
“Apa yang membuat mabuk sampai kamu seperti perempuan yang terlantar!’” ucap Radit.
“Tidak ada, Bapak tidak perlu kepo!” ucap abel sambil beranjak dari tempat tidur.
“Loh semalam aku tidak memakai baju ini, kenapa baju ku tiba-tiba tertukar.” Ucap Abel dia menatap Radit kenapa kamu melihat saya seperti itu?” tanya Radit.
“Apa ya sudah bapak lalukan kepada ku? Dasar mesum!” dia meleparkan bantal kepada Radit.
“Apa-apa an maksud kamu?”
“bapak yang sudah menukar baju ku?” tanya Abel. Dia merasa kesal dia mendorong Radit keluar dari kamar itu.
Bibik mendengar ribut-ribut dia kangsung datang, dia heran karena Radit sudah keluar dari kamar dengan wajah marah.
“ada apa non? Kenapa ribut-ribut?” tanya Bibik.
“pak Radit sudah sngat lancang menukar pakaian saya bik!” ucap Abel dengan cukup kesal.
“Saya yang membantu non untuk menukar nya karena sudah basah semua. Tuan tidak mungkin melakukan itu walaupun non adalah calon istri nya.” Ucap Bibik.
Seketika Abel langsung terdiam mendengar itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 194 Episodes
Comments