Begitu motor Kendra memasuki rumah Zayra, ternyata para orang tua mereka sedang berkumpul di teras. Malah para istri sedang membuat rujak. Sedangkan para suami sibuk menyiapkan panggangan untuk barbeque
"Hey... yang lain belum datang?" seru Glen tapi kemudian tatapannya terarah pada dua mobil dan satu motor balap yang baru saja memasuki halaman rumah Zayra.
"Itu mereka datang," sambut Qonita senang melihat putranya Aqil yang sudah turun dari motor.
Zayra yang sudah turun dari boncengan Kendra saling tatap dengan heran.
"Ini dadakan," komentar Kenan yang berjalan melalui keduanya bersama Kalil.
"Baru aja dikabari waktu mau pulang tadi," sambung Khanza yang kini sudah berada di samping Zayra.
Juga ada bocah SMP dan SD yang sedang beraktivitas bersama kedua orang tua mereka.
Ngga mungkin dadakan. Personil komplit gini, bantah Kendra dalam hati.
Hal hal seperti ini sudah biasa mereka lakukan, jadi mereka sebagai anak ngga merasa kaget dengan kehebohan perilaku para orang tua mereka.
"Gimana acara bazar kalian? Apa daddy perlu turun tangan buat sponsor?" tanya Glen sambil terus membolak balik daging dan mengipasinya. Sebelahnya Alva juga melakukan hal yang sama.
"Ngga perlu, daddy. Kita udah dapat sponsor." jawab Khanza yang membantu daddynya menata daging barbeque yang sudah matang di atas piring.
"Kita udah dapat sponsor lain, om," tambah Kalil yang bersama Kenan dan Kendra membumbui daging dan jagung yang nantinya akan dipanggang.
"Kenapa ngga minta sama orang tua kalian aja, jadi sponsor," decih Alva agak kesal mendengar jawaban sombong Kalil, putranya.
Mengapa mereka selalu saja menyusahkan diri?
"Yah, kita kan ngga mau yang gampang ganpamg aja, dad" jawab Kenan menimpali.
Kiano yang berada di situ pun tergelak bersama Regan dan Arga.
Didikan Tamara ini pasti, komen Regan dalam hati.
Untung ngga ikut kelakuan lo waktu muda, cibir Arga.
"Syukurlah mereka ngga ikut watak kita," kekeh Glen yang sadar kalo sahabat sahabatnya yang lain mengetawakannya dan Alva.
Armita juga cukup kompeten mendidik Khanza. Apa lagi Tamara.
Alva mendengus.
Baginya kalo ada yang mudah kenapa pilih jalan yang sulit.
"Khanza, kamu ngga bantuin Zayra motong buah?" sela Rakha yang heran melihat Khanza yang selalu menyempil di kalangan laki laki.
"Malas lah, nanti luka kena pisau," jawabnya enteng.
Yang mendengarkannya pada mesem mesem.
Kiano tersenyum melihat kecuekan Khanza
Kalo ini baru mirip Glen, kekehnya dalam hati.
"Mitha juga ngelarang dia ke dapur. Rubes katanya," tawa Glen mengingat Armitha yang pernah mencak mencak karena teflon mahal kesyangannya jadi penyok gara gara digunakan Khanza untuk mengetok kepala Dhafi, adik laki lakinya yang usil.
"Ngga apa Khanza. Banyak kafe kalo lapar. Ngga perlu bisa masak," bela Reno dengan cengiran khasnya.
"Betul, Om," tanggap Khanza cepat juga sambil nyengir. Senang ada yang membelanya.
"Tapi bosanlah ke kafe terus. Misal kamu pengen makanan rumahan, gimana coba," debat Rakha mulai ingin mengganggu Khanza.
"Tinggal minta mami aja yang buat. Mami pasti mau, kok," balas Khanza santuy.
"Misalnya kamu lagi jauhan sama tante Mitha, gimana? Masa kamu minta dikirim via pos," ledek Aqil terkekeh.
"Bisa basi diperjalanan kalo mintanya lontong sayur," timpal Kalil meledek kemudian tergelak gelak.
Yang lainnya pun mulai berderai derai tertawa mendengarnya.
"Ya jangan pengen kalo jauh," sanggah Khanza mulai kesal. Selalu saja ada yang ngomongin masalah dapur membuat dia uring uringan.
"Ya, ya, terserah lo aja," balas Rakha dengan cengiran lebarnya.
"Abi, daging sama jagungnya sudah matang?" tanya Zayra yang muncul dengan beberapa buah gelas berisi jus jeruk yang terlihat sangat segar.
"Sudah, sayang," jawab Regan sambil melihat beberapa piring yang sudah berisi panggangan daging dan jagung yang sudah di tata Khanza.
"Waaah, ini baru calon istri idaman. Makasih, Zay," sambut Kalil sambil mengambil segelas jus itu. Rasanya panas sekali dekat panggangan. Dia butuh sesuatu yang bisa melegakan tenggorokannya.
Matamya melirik Kendra yang tampak cuek mendengar kata kata calon istri idaman dari Kalil.
"Aman kalo ada Zayra. Ngga bakal kita mati kehausan," cetus Rakha membuat yang lainnya terkekeh.
"Lebay," sengit Khanza dengan nada sewot.
Mereka pun termasuk para orang tua mengambil jus jeruk yang dibawakan Zayra sambil terkekeh geli melihat perdebatan anak anak mereka, yang seperti sengaja menggganggu Khanza yang gampang emosian.
"Zay, kamu jangan mau diperbudak pria," seru Khanza ketika Zayra mendekat.
Zayra hanya tersenyum geli melihat raut kesal sahabatnya
"Minum dulu biar marahnya hilang," katanya sambil menyodorkan segelas jus pada Khanza yang langsung menganbilnya dan meneguknya sampai tuntas.
Para orang tua dan sahabat sahahat laki laki mereka tambah tertawa melihatnya.
"Panas, panas, panas," celutuk Rakha menirukan potongan lagu yang pernah dia dengar di ponsel maminya.
Glen pun tampak membelai puncak kepala putri pertamanya yang agak pemarah dengan bibir tersenyum lebar. Sementara suara tawa masih saja berderai derai.
"Ayo, aku bantuin bawa," kata Kendra setelah meneguk separuh jusnya. Dia pun membawa dua nampan yang berisi panggangan dan jagung.
"Ya," sahut Zayra yang hanya membawa satu saja dengan dua tangannya.
"Aku bantu," inisiatif Khanza sambil membawa satu piring.
"Yups," cetus Rakha juga mengambil dua buah piring.
"Gue bantu juga," sambung Kenan
"Ini yang terakhir, dad," kata Aqil sambil menyodorkan dua piring yang berisi tumpukan daging dan jagung.
"Gantian gue aja. Lo berdua istirahat sama minum dulu," kata Kiano mengambil alih kipas ditangan Glen.
Reno juga melakukan hal yang sama.
Glen dan Alva menampilkan cengirannya.
Arga, Aqil dan Kenan merapikan sisa sisa yang berantakan karena proses barbeque ini.
"Es jeruknya segar banget," tukas Alva setelah menghabiskan segelas penuh minumannya.
Glen terkekeh.
Kendra dan sahabat sahabatnya menyerahkan piring piring yang berisi panggangan yang dari tadi sudah mengeluarkan aroma yang lezat pada mami mami mereka.
Sudah tertata berbagi puding, jus, air mineral, potongan buah dan bumbu rujak. Juga ada es krim. Benar benar sudah sangat matang untuk rencana dadakan.
"Enaknya," seru Kenan sambil mencomot satu daging panggang yang menggugah selera.
Kendra yang duduk di samping Zayra bersama yang lainnya, termasuk para mami mami mereka juga melakukan hal yang sama. Menikmati daging dan jagung barbeque.
"Kiano dan Regan memang jago membuat bumbu barbeque dari dulu," puji Armita sangat meresapi kelezatan daging panggang itu.
"Jangan lupakan Glen dan Alva. Pangggangannya matang sempurna," kekeh Qonita menirukan kata kata salah satu juri di acara lomba masak yang populer.
"Kita jadi juri," cetus Tamara tergelak.
Mereka pun terkekeh mendengarnya.
Ngga lama kemudian para laki laki yang tersisa datang dengan membawa beberapa piring terakhir yang berisi daging dan jagung.
"Ayo, kita nikmati masakan chef Glen dan chef Alva," seru Glen yang disambut sorak sorai yang lain
"Makan yang banyak. Harus dihabiskan," tambah Reno lantang.
Para bocil pun juga sudah mendekat karena bau harum yang menyengat hidung.
"Mau mi," kata Salma yang mendekati Aruna.
"Ayo sini," kata Aruna sambil menyodorkan piring yang berisi daging dan jagung.
"Aku aja yang bawa tante," sambar Dhafi yang muncul di belakang Salma.
"Oke," ucap Aruna sambil menyerahkan piring itu pada Dhafi yang akan beranjak menuju ke tempat adik adiknya berkumpul.
"Kamu mau di sini atau ikut?" tanya Dhafi sambil menoleh ke arah Salma.
"Ikut," kekeh Salma sambil membalas lambaian tangan Shakila dan Malika. Sedangkan Qabil sedang meninggirkan atv yang tadi mereka mainkan.
Salma pun membawa gelas gelas yang berisi minuman.
Mereka lebih suka menjauh dari para orang tua dan kakak kakak mereka yang pasti akan membicarakan omongan orang dewasa.
"Kalo kurang tambah lagi sini, ya," ucap Aruna melepas kepergian keduanya dengan senyum manisnya.
Suasana ini sangat menyenangkan. Anak anak mereka terlihat sangat akrab dan bahagia.
"Ya, tante," sahut Dhafi.
"Ya mami," balas Salma.
Khanza melirik adiknya Dhafi dengan kesal.
Mereka ngga tau aja watak Dhafi di rumah, geramnya dalam hati.
"Sudah, jangan cemberut terus," usik Rakha langsung menyodorkan daging panggang itu hingga menyentuh bibir Khanza.
Khanza menerimanya sambil melototkan mata kesal pada Rakha yang melihatnya dengan cengengesan.
Aqil dan Kalil tergelak melihatnya. Kenan dan Kendra hanya nyengir saja.
"Seminggu ini kalian bakal sibuk banget, ya," tukas Arga mengingat pembicaraannya dengan Aqil tadi malam.
"Iya, daddy," sahut Aqil sambil memipil jagung bakarnya.
"Ngga butuh bantuan?" tanya Glen masih ngga percaya kalo anak anak mereka bisa menghandle semuanya sendiri. Mereka masih SMA.
"Daddy selalu ngga percaya aja. Udah beres semuanya, dad," tukas Khanza kesal campur manja.
"Bilang aja apa pun yang kamu butuh ya, honey," ujar Glen akhirnya mengalah. Ngga tega melihat putri manjanya nanti bekerja keras.
"Sudah, Glen. Percaya aja sama mereka," kekeh Kiano bersama yang lainnya.
Ngga aneh kalo Glen terlalu mengkhawatirkan anak perempuannya, Khanza.
Armitha hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakukannya. Glen hanya melakukannya pada Khanza. Sedangkan pada Dhafi dan adiknya, Glen tidak terlalu protektif. Mungkin Dhafi dan adiknya terlihat lebih bertanggung jawab dari pada Khanza yang sangat kolokan sebagai putri pertama mereka.
"Kalian jaga Khanza baik baik, ya, biar daddy Glennya ngga cemas terus," ledek Alva semakin membuat yang lainnya tergelak.
"Siap, Om," sahut Rakha, Aqil dan Kalil bsrsamaan.
Kembali gelak tawa berpanjangan menguar dari mulut mereka.
Tanpa disadari Zayra, Kendra terus menatapnya yang sedang tertawa lepas.
"Cantik, kan?" bisik Kenan menggoda dengan senyum usilnya
"Ya," jawab Kendra juga mengembangkan senyum lebarnya. Malu juga ketahuan Kenan melirik Zayra diam diam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments
N I A 🌺🌻🌹
beneran mengasah otak nih buat ngingat silsilah keluarga mereka😂
2025-01-21
1
Khendiz
luar biasa thor.... para readers di minta menguatkan ingatan😆😆😆
2023-12-11
5
andi hastutty
suka ketuker saking banyaknya pemainnya hahhaha semangat Thor 😘
2023-06-21
1