"Rain, kamu masih bisa tahan?" tanya Reno panik. Bahkan yang ada di kamar Alva pun terlihat juga tegang.
"Langsung hubungi Aruna," seru Tamara kemudian meringis merasakan sakit pada bekas operasinya ketika berbicara tadi.
"Sayang, kamu tenang. Kita akan ngurus Rain," kata Alva menenangkan.
Glen pun berinisiatif menghubungi Kiano.
"Ada apa?" suara Kiano terdengar ogah ogahan.
"Aruna mana? Belun pulang, kan, lo sama Aruna?" tanya Glen panik.
"Belum."
Bahkan saat ini Reno sudah menggendong Rain ala bridal dan Regan membawakan tas Rain.
"Kita langsung ke IGD," seru Regan sambil berjalan mendahului Reno.
"Kenapa IGD. Kita ke ruang bersalin," bantah Reno ngga setuju.
"Ada apa ribut ribut?" tanya Kiano setelah memastikan suara banyak orang yang seperti bingung dan cemas.
"Rain, Kiano. Sepertinya dia mau melahirkan," seru Glen cepat dengan debar jantung ngga menentu. Keringat dingin mulai membasahi keningnya.
Jangan lagi, batinnya mulai lemas melihat cairan yang sudah mengalir di betis Rain yang sedang digendong Reno.
"Eh, Glen mau pingsan," seru Alva panik melihat punggung kaos Glen yang sudah dibasahi keringat dan wajahnya yang tiba tiba pucat.
"Lo kenapa lemah banget, sih, Glen. Nanti nantilah pingsannya," sentak Reno mulai emosi.
Istri orang lain bisa bikin pingsan lo juga, rutuk Reno dalam hati.
"Langsung bawa ke ruang operasi! Tim dokter sudah siap!" titah Kiano setelah cukup yakin mendengar suara suara panik yang tertangkap di telinganya.
"Oke. Reno! Langsung ke ruang operasi," seru Glen dengan suara bergetar sebelum jatuh terduduk di lantai. Kepalanya rasanya mulai berat.
"Ya. Thank's. Alva, lo urus Glen," tukas Reno sambil berjalan keluar bersama Regan.
Arga yang mendengar ribut ribut di kamar Alva segera keluar dari kamar perawatan istrinya-Qonita.
"Rain kenapa?" kagetnya melihat Reno yang berjalan buru buru sambil menggendong Rain.
"Mau lahiran," jawab Regan sambil berjalan cepat di belakang Reno.
"Haaa? Eh, Reno, hati hati lo," seru Arga jadi ikutan panik.
Dia pun segera masuk ke dalam ruangannya bentar untuk berpamitan dengan istrinya.
"Ada apa?" tanya Arik heran melihat wajah ngga tenang Arga.
Istrinya, kan, udah lahiran dengan selamat.
"Bang, aku titip.Qonita. Rain mau lahiran" katanya sambil mendekati Qonita. Kebetulan orang tua mereka.sudah pulang untuk beristirahat sebentar karena nanti malam akan gantian menemani Arga dan Qonita.
"Istri Reno?" tanya Zesa ngga percaya. Karena setahunya kandungan Rain baru tujuh bulan.
"Iya " jawab Arga kemudian mengecup Qonita yang hanya terpaku mendengarnya.
Seingatnya Rain belum saatnya melahirkan.
"Aku pergi bentar, ya," pamitnya sambil menatap lekat wajah cantik Qonita.
"Ya," jawab Qonita tersipu. Mata Arga selalu bisa mengobrak abrik suasana hatinya.
Arga pun tersenyum sebelum pergi.
"Titip Qoni, Bang Arik, Kak Zesa."
"Oke," jawab Aris cepat.
"Ya. Pergilah. Semoga lancar kelahirannyya," jawab Zesa jadi ikutan cemas.
"Aamiin."
Sementara itu di kamar perawatan Tamara.
"Lo nyusahin aja," gerutu Alva sambil membantu Glen berdiri dan memapahnya ke sofa. Papinya pun ikut membantu.
"Gue masih trauma," kesal Glen berdalih. Dia juga malu. Lagi lagi dia hampir pingsan di depan banyak orang. Untung saja engga jadi, masih bisa sedikit dia tahan.
"Alasan," maki Alva setelah berhasil mendudukkan Glen di sofa panjang. Tanpa malu dan ragu, Glen membaringkan tubuhnya. Kepalanya terasa pusing dan berat. Ngga mungkin dalam situasi ini dia kembali ke tempat Armita-istrinya.
Istrinya bakal mengetawakannya jika tau apa penyebab dia jadi begini. Seperti tadi. Setelah lahiran Armita ngga henti hentinya tertawa melihat wajahnya.
Istrinya ngga gitu mempedulikan rasa sakit jahitan pada proses lahirannya karena hentakan tawanya.
Menyadari fakta Glen yang takut dengan perempuan yang akan melahirkan mrmbuatnya ngga abis pikir hingga menjadi lelucon terindah buatnya.
Alva hanya bisa menggelengkan kepalanya kemudian melangkah mendekati Tamara.
"Masih sakit?" tanya Ala lembut sambil mengusap lengan Tamara yang menatapnya dengan cemas campur merimgis.
"Sedikit," jawabnya pelan karena masih ada rasa cekot cekot pada bekas operasinya.
"Jangan seperti itu lagi, ya. Kamu harus pelan pelan kalo berbicara atau bergerak," ucap Alva menasehati.
"Iya."
Tadi Tamara ikutan panik melihat Rain. Dia ingin Rain cepat mendapat penanganan dokter sehingga dia melupakan kondisinya sendiri.
Alva tersenyum lembut.
"Tamara, kalo boleh aku mau nyusul Reno," katanya menohon ijin. Ngga tega melihat Reno yang hanya ditemani Regan dalam situasi seperti ini.
Alva juga teringat akan dirinya tadi yang juga begitu stres karena Tamara akan melahirkan tanpa ditemani kedua orang tua mereka.
"Iya, pergilah. Ada mami dan papi," kata Tamara mengijinkan. Bibirmya tersenyum tulus.
"Terima kasih," kata Alva sambil mengecup kening Tamara lembut.
Tamara hanya membalasnya dengan senyuman manis.
Saat akan pergi dia melihat Glen yang masih memejamkan mata.
"Lo mau tetap di sini atau balik ke kamar lo?" sinis Alva kesal melihat reaksi berlebihan Glen.
"Gue numpang tiduran bentar. Nanti gue nyusul. Kepala gue masih berat," jawab Glen pelan. Dia terpaksa. Bukan maunya seperti ini.
"Hemm," dengus Alva masih kesal. Dia beneran ngga abis pikir melihat keadaan Glen yang menjadi sangat memalukan sebagai laki laki.
Kemudian Alva berbalik dan menatap kedua orang tua mereka yang kini juga menatapnya cemas.
"Papi akan telpon Papi Reno dan Papi Rain," jawab Papi Alva sambil mengeluarkan ponselnya.
'Cepat kamu temenin Reno," titah maminya dengan wajah tegang karena mengkhawatirkan keadaan Rain.
"Alva titip Glen, mam, pap," pamitnya pada orang tuanya dan orang tua Tamara.
"Ya, biarkan Glen di sini dulu," jawab Mami Tamara sebelum Alva pergi.
Alva pun menyusul Reno dan Regan ke ruangan operasi.
Begitu sampai di sana, ternyata Rain sudah masuk bersama Aruna dan tim medis ke ruang operasi.
Yang ada hanyalah sahabat sahabatnya saja. Bahkan Arga juga ada di sana.
"Papi gue udah telpon orang tua lo dan Rain," kata Akva memberitau.
"Thank's," ucapnya tanpa bisa menghilangkan wajah tegangnya.
"Glen pingsan lagi?" tanya Kiano kemudian tertawa kecil.
"Memalukan memamg dia," decih Alva.
"Apa dia bakal pingsan terus kalo tiap kali Kak Mita mau lahiran," kekeh Arga.
Regan hanya tersenyum kecil mendengarnya.Tapi hatinya mendadak jadi ngga tenang.
Mengingat kondisi Rain yang baru tujuh bulan tapi udah mau lahiran, Regan jadi membandingkan kondisi Dinda yang sudah mendekati HPL.
"Gue mau telpon Dinda dulu, ya," ucapnya sambil menyerahkan tas Rain pada Reno
"Ya."
Tapi belum sempat Regan menekan nomer Dinda, ponselnya sudah bergetar.
Ada nama Dinda sayang yang memanggil.
Ternyata video call.
Dada Regan berdebar bahagia melihat pemandangan yang tersaji di layar ponselnya.
"Surprise. Putri kita barusan lahir dengan selamat," ucap Dinda sambil menunjukkan foto dirinya dan bayi mungil mereka.
Mata Regan langsung berkaca kaca.
"Syukurlah," ucapnya dengan bibir bergetar.
Kiano, Reno, Alva, dan Arga yang tampak penasaran mulai mendekat.
"Alhamdulillah," seru mereka berbarengan karena melihat bayi mungil dalam pelukan Dinda.
"Sementara namanya Zaira. Nanti mas yang nyari lanjutan namanya, ya," ucapnya dengan sangat manis.
"Ya, ya, sayang. Akan mas carikan," jawab Regan bahagia.
"Selamat," ucap keempat sahabatnya berbarengan sambil memeluk Regan dalam luapan kebahagiaan yang amat sangat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments
andi hastutty
ko ada yah mereka bersahabat dan lahiran sama2 juga harimya meskipun mereka beda beberapa hari dan bulan nikahnya cuman Reno yang beda sendiri hari lahirnya 😜😆🤭
2023-06-21
1
🔵 ⍣⃝ꉣꉣ𝐀⃝🥀❤️⃟Wᵃf🍁ariista❣️
wkwkkk... 🤣🤣🤣kocak
2023-04-16
1
Lenkzher Thea
Mantap
2023-01-19
1