Episode 20. kedatangan mertua ke apartemen.

"Silahkan dimakan, ayah, ibu," ucapnya. Mereka berdua sangat tertegun dengan tampilan makanannya yang dibuat oleh Bian. Apalagi makanan yang Bian buat baunya sangat harum dan juga enak.

"Bian, kamu buat ini sendiri?" ucap ibu mertua.

"Iya Bu, semoga saja ibu menyukainya."

Ibunya Laura mencoba makanan yang dibuat oleh Bian. Sangat wanita itu memakannya, dia merasa bahwa daging yang dibuat oleh menantunya sangat lembut. Sebagai seorang ibu, dia bisa merasakan bahwa makanan yang dibuat oleh Bian sangat lezat.

"Bagaimana Bu, apa ibu menyukainya?"

"Ini sangat lezat. Pah, kamu coba deh."

"Benarkah ini sangat lezat? Aku tak percaya sama sekali."

Akhirnya ayah mertuanya juga mencoba makanan yang dibuat oleh menantunya tersebut.

"Bian, kamu belajar masak dari siapa?" tanya ibu mertua.

"Aku belajar otodidak."

"Jadi kamu belajar masak sendiri. Tak ku sangka ternyata kamu memiliki bakat memasak."

"Jujur saja, makanan yang kamu buat sangat lezat, apalagi baunya juga sangat harum. Pantas saja putriku mengatakan bahwa makanan yang kamu buat sangat enak," ucap ibu mertua.

"Pah, bagaimana rasanya? Enak kan?" tanya istrinya.

"Kata siapa makanan ini sangat enak? Bahkan makanan ini terasa sangat hambar," Axel masih saja bergeming, tidak mau mengakui bahwa makanan yang dibuat oleh Bian memang sangat enak.

"Kalau memang makanan yang dibuat oleh Bian tidak enak, kenapa papah makanannya sampai habis?" ucap istrinya, yang membuat suaminya sangat malu karena dia menghabiskan makanan yang dibuat oleh Bian.

"Aku hanya menghargai makanan yang dia buat saja."

Laura dan ibu mertuanya tersenyum melihat tingkah lakunya.

"Tinggal aku saja makanan ini memang sangat enak."

"Sudahlah, jangan bahas itu lagi. Laura, ada yang ayah ingin tanyakan ke kamu," ucap ayah mertua.

"Ada apa ya?" tanya Laura.

"Apa benar kamu menolak permintaan Kakek kamu untuk memindahkan kamu ke perusahaan utama?"

"Papah tahu dari mana?" tanya Laura.

"Aku mendengarnya langsung dari Kakek!" ucapnya.

"Oh, iya, memang aku menolaknya. Memangnya kenapa, Pah?"

"Kenapa kamu menolaknya? Bukankah ini kesempatan bagus untukmu, untuk menjadi pemimpin perusahaan Keluarga Kiehl?"

"Jika aku memimpin Perusahaan utama, aku belum siap, Pah. Aku masih perlu belajar. Jika aku langsung menjadi pimpinan perusahaan utama, aku takut perusahaan tersebut tidak berjalan sesuai rencana."

"Lalu bagaimana jika sepupu kamu mengambil alih perusahaan itu?" tanya ayahnya.

"Aku tak peduli lagi. Pula, aku juga memiliki perusahaan sendiri."

"Kamu memang benar-benar bodoh, Laura. Jika kamu bisa memimpin perusahaan utama, kamu bisa mengendalikan seluruh Keluarga Kiehl."

"Jadi, ayah mencoba memanfaatkan aku untuk melakukan semua itu. Aku tidak mau. Aku ingin memimpin perusahaan yang saya bangun dari nol, bukan secara instan."

"Jika memang menginginkan untuk bisa mengendalikan Keluarga Kiehl, kenapa papah tidak mengendalikan sendiri saja tanpa memanfaatkan aku? Maaf Pah, aku bukanlah barang yang bisa kamu manfaatkan."

Laura langsung pergi dari ruangan tersebut, lalu dia menuju ke kamar. Sementara itu, Bian masih memandangi Laura.

"Ayah mertua? Apa itu perlakuan kamu pada putri kamu sendiri?"

"Kamu ingin memanfaatkan anakmu demi ambisi kamu. Bagiku, kamu benar-benar seorang ayah yang pengecut!" ucapnya.

"Apa kamu bilang?" Ayah mertuanya merasa sangat marah ketika Bian mengatakan bahwa dirinya dikatakan sebagai seorang pengecut.

"Aku bilang kamu sangat pengecut, ayah mertua." Ayah mertuanya yang marah langsung menarik kerah baju milik Bian.

"Sekali lagi kamu mengatakan seperti itu, akan aku hajar kamu."

"Yah, sudah cukup. Jangan buat keributan di sini, kasihan Laura, dia sedang hamil."

Axel menuruti perkataan istrinya, lalu dia langsung melepaskan cengkeramannya.

"Kali ini aku maafkan kamu. Jika kamu berani mengatakan itu lagi, aku tidak segan-segan untuk menghajar kamu."

"Aku juga akan mengatakan hal yang sama, ayah mertua. Jika kamu berani memanfaatkan Laura, istriku, aku tidak akan segan-segan untuk menghajar kamu."

"Istriku bukanlah sebuah barang yang bisa kamu gunakan semaumu. Lagi pula, dia tidak ingin menjadi pemimpin perusahaan utama karena kemauannya sendiri."

"Dan kamu mengatakan bahwa dia wanita bodoh."

"Istriku bukanlah wanita yang bodoh. Bagiku, istriku adalah wanita yang sangat bijak. Jika dia menjadi pemimpin perusahaan, pasti banyak keluarga yang membencinya. Apa kamu tahu putri kamu dibenci oleh anggota keluarga lainnya."

Axel tidak tahu apa yang dikatakan oleh Bian tersebut.

"Dari ekspresinya, kamu tidak tahu kan? Itu karena kamu tidak pernah melihat bagaimana rasanya menjadi istriku."

"Saat pertama kali aku mendatangi pesta ulang tahun Kakek Kiehl, aku melihat tatapan sinis pada Laura. Mungkin dia adalah cucu yang disayang Kakek Kiehl atau dia adalah satu-satunya wanita di keluarga tersebut yang mendirikan perusahaan dari nol."

"Mungkin mereka iri dengan Laura. Lalu bagaimana jika dia menjadi pemimpin perusahaan utama? Apa kamu mau dia dibenci oleh keluarga sendiri?"

"Justru itu, aku ingin dia memimpin perusahaan utama untuk bisa mengendalikan anggota keluarga lainnya agar dia tidak hina."

"Sudahlah, biarkan saja putri kamu berjalan sesuai keinginannya. Nanti juga suatu saat nanti dia bisa menjadi pemimpin perusahaan utama. Tugas seorang ayah hanya mendukungnya saja."

"Jika dia menjadi pemimpin perusahaan utama, aku sebagai suaminya takut dia bisa stres dengan pekerjaannya dan mempengaruhi kehamilannya."

Ibu mertuanya yang melihat bahwa Bian membela putrinya sendiri merasa sangat bangga, karena menurutnya Bian adalah sosok suami yang sempurna.

"Putriku, sepertinya kamu mendapatkan suami yang baik. Dia tidak hanya membela kamu, tapi dia juga melindungi kamu. Mamah harap pernikahan kalian bisa sampai tua nanti," gumamnya.

"Mamah tidak mengharapkan kamu menikahi pria yang kaya, tapi mamah inginkan kamu bisa memiliki suami yang pengertian dengan kamu," gumamnya.

Ibu mertuanya berdiri, kemudian dia langsung menuju ke kamar putrinya.

Kini ibu Laura mengetuk pintu kamar putrinya.

Tok

Tok

Tok

"Sayang, buka ini mamah, mamah ingin bicara dengan kamu."

Laura membuka pintu kamarnya, dan saat ibunya melihat, wajah Laura yang sembab, dirinya merasa bahwa putrinya sedang menangis.

"Kamu kenapa, sayang? Kenapa kamu menangis? Apa karena perkataan papah tadi?"

"Mah, kenapa papah tega mengatakan itu pada aku, mah? Aku ini putri kandungnya, mah."

"Sayang, sudah jangan dipikirkan. Papah kamu memang orangnya seperti itu, tapi mamah yakin bahwa papah sangat menyayangi kamu."

"Kamu jangan menangis lagi. Masih banyak yang menyayangi kamu dan tidak akan memanfaatkan kamu, termasuk mamah dan juga suami kamu."

"Laura, kamu akhirnya bisa menemukan sosok suami yang sangat baik. Mamah bangga denganmu."

"Apa maksud mamah?"

"Kamu tahu saat kamu pergi ke kamar tadi, suami kamu berdebat dengan papah kamu. Dia membela kamu supaya kamu tidak dimanfaatkan oleh papah."

Terpopuler

Comments

Sulaiman Efendy

Sulaiman Efendy

DI BONCHAP SEASON 1, MLH IBU LAURA YG MMBENCI BRIAN... AYAHNYA YG MNDUKUNG..

2023-10-02

0

Glastor Roy

Glastor Roy

up

2023-01-25

0

Glastor Roy

Glastor Roy

lanjut yg bayak

2023-01-24

0

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 43 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!