"Aduh, di mana sih dia? Kenapa telfonnya tidak diangkat?" ucap perempuan tersebut.
"Ayo, dong, angkat telfonnya."
Perempuan tersebut terus menelfon kekasihnya, tapi berkali-kali dia tidak mendapat jawaban.
Ternyata, laki-laki tersebut sedang berselingkuh dengan wanita lain.
Saat laki-laki tersebut membuka ponselnya, dia melihat ada puluhan telfon dari pacarnya.
"Ada apa, sayang?" ucap selingkuhannya.
"Ini pacarku yang menelfon," ucap laki-laki tersebut.
"Cepat, angkat telfonnya dan jangan buat dia curiga dengan kita," ucap selingkuhannya tersebut.
[Telepon masuk] ucap laki-laki tersebut.
[Halo sayang, ada apa? Kamu meneleponku] ucap laki-laki tersebut.
[Halo Dion, kamu di mana? Ada hal yang ingin aku sampaikan padamu.]
[Aku sedang di kantor, ada apa? Kita bisa bicara lewat telfon kan?]
"[Tidak, kita harus ketemu. Ini masalah tentang masa depan kita berdua.]" ucap perempuan tersebut.
"[Memangnya ada apa?]"
"[Sehabis kamu pulang kerja, kita harus bertemu di Cafe biasa kita ketemu.]"
Perempuan tersebut langsung menutup telfonnya.
"Apa apa sayang?" ucap selingkuhannya.
"Aku tidak tahu, dia menyuruhku untuk menemuinya, katanya menyangkut masa depan."
"Apakah kamu akan menikah dengannya? Dengar, ya sayang, aku tidak rela kamu menikah dengannya."
"Tenang saja, Sayang. Aku hanya mencintai kamu dan tidak ada wanita selain kamu."
"Kamu mending segera pergi ke Cafe dan temui wanita bodoh itu."
"Baik Sayang." ucap laki-laki tersebut lalu mencium bibir selingkuhannya.
Singkat Cerita, mereka berdua akhirnya bertemu.
Kini mereka berdua sudah duduk berhadapan.
"Apa yang ingin kamu bicarakan, Sayang?" ucap Dion kepada pacarnya.
"Aku Hamil!" ucapnya.
Deg.
Kata yang diucapkan oleh Pacarnya membuat Dion kaget, hatinya bergemuruh seakan tak percaya dengan semua perkataannya.
"Apa? Hamil?" ucapnya tak percaya.
"Iya, aku hamil. Hamil anakmu."
"Tidak, itu tidak mungkin. Mana mungkin kamu hamil? Aku yakin itu bukan anakku. Pasti anak laki-laki lain, kan?" ucap Dion.
"Apa yang kamu katakan? Selama ini aku hanya berhubungan denganmu dan aku tidak pernah berhubungan dengan selain kamu."
"Jangan bohong, aku yakin anak ini bukanlah anakku."
"Ini jelas anakmu, Dion. Kamu adalah ayah dari anak yang aku kandung."
"Tidak, aku tidak percaya. Lebih baik aku pergi dan aku tidak mau mengakui anak ini karena anak ini bukanlah anakku."
Dion langsung masuk ke dalam mobil lalu dia melajukan mobilnya. Sementara itu, Laura masih menangis di restoran tersebut.
Semua pengunjung Cafe yang melihat Laura menangis hanya memandangnya sekilas. Kemudian Laura pergi dengan perasaan yang berkecamuk.
Dirinya hamil anaknya Dion, tetapi Dion tidak mau mengakui bahwa ini adalah anaknya. Di dalam mobil, Laura menangis tersedu-sedu.
Laura pun kini sudah sampai di kamar. Dia terus menangis meratapi kesedihannya.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku takut jika ibu atau ayah tahu aku hamil, dia pasti akan memarahiku." ucapnya.
Ibunya yang melihat anaknya sedih langsung mengetuk pintu kamar anaknya.
"Laura, buka pintunya. Ada apa denganmu? Kenapa kamu terlihat sedih?"
Laura berusaha menghapus air matanya agar tidak sedih sama sekali, kemudian dia membuka pintu kamarnya.
"Aku tidak apa-apa, Bu. Memangnya ada apa, Ibu datang ke kamarku?"
"Tidak ada apa-apa, Ibu hanya khawatir denganmu karena aku melihat kamu tadi terlihat sangat sedih."
"Aku tidak apa-apa, Bu. Tenang saja."
"Benar, kamu tidak apa-apa."
"Iya, Bu. Aku tidak apa-apa."
Sementara itu, Dion memukul stir mobilnya. Dia berteriak karena tak percaya bahwa Laura hamil anaknya.
"Kenapa? Kenapa bisa terjadi? Kenapa dia bisa hamil? Tidak, aku tidak akan mengakui bahwa itu adalah anakku. Karena aku hanya ingin memiliki anak dengan Sintia." ucap Dion.
Dion sampai di apartemen. Di sana, Sintia sudah menyambutnya. Dion menyuruh Sintia untuk memberikan barang-barangnya karena dirinya akan mengajak Sintia pergi ke luar negeri.
Padahal niatnya adalah ingin kabur agar suruhan keluarga Laura tidak mencarinya.
Pagi harinya, Bian bangun dari tidurnya. Dia segera menyiapkan alat-alat untuk pergi memancing.
Bian dan Pak Ujang akhirnya pergi ke Sungai untuk memancing ikan.
Singkat cerita, mereka berdua akhirnya mendapatkan ikan yang banyak dan mereka segera menjualnya ke Pasar.
Bu Lastri yang melihat Bian datang bersama dengan Pak Ujang langsung tersenyum ramah padanya.
"Selamat Pagi, Bu." ucap Pak Ujang.
"Pagi juga, Pak Ujang."
"Selamat Pagi, Bu Lastri." ucap Bian sambil tersenyum.
Melihat senyumannya Bian, Bu Lastri langsung meleleh hatinya. Walaupun Bu Lastri adalah Janda Namun, Bu Lastri tampaknya masih memiliki paras yang cantik.
"Pagi juga, Bian. Apa kamu sudah mulai terbiasa di sini?" ucap Bu Lastri.
"Iya Bu, aku sudah mulai betah di sini. Apalagi, semua warga di sini orangnya sangat baik."
Akhirnya, Bu Lastri memberikan uang hasil penjualan ikan milik Pak Ujang.
"Ini, uangnya Pak," ucap Pak Ujang.
Pak Ujang menerima uang pemberian dari Bu Lastri, lalu mereka berdua pamit pergi.
Di kediaman Laura, wanita tersebut masih saja menghubungi kekasihnya. Kembali, dia ingin meminta pertanggungjawaban atas apa yang telah diperbuat oleh laki-laki tersebut.
Namun, Laura tidak tahu bahwa Dion sudah pergi ke luar negeri bersama dengan selingkuhannya.
Dia meminta asisten papahnya untuk mencari keberadaan Dion. Akhirnya, asisten dari papahnya mencari informasi di mana Dion berada.
Setelah mengetahui hal tersebut, asisten tersebut langsung menghubungi Nona Laura.
"[Halo, Nona. Ini tentang Tuan Dion.]"
"[Ada apa dengannya? Apa kamu sudah tahu di mana Dion berada?]"
"[Menurut informasi yang saya dapat, Tuan Dion pergi ke luar negeri. Dia berangkat tadi malam.]"
"[Apa?]" Laura langsung menjatuhkan teleponnya seakan tak percaya.
"Kenapa? Kenapa kamu malah pergi meninggalkanku, dasar bajingan kamu, Dion!"
Arghh!
Laura terus berteriak sambil menjambak rambutnya sendiri. Dia benar-benar sangat frustasi. Laura pikir Dion sangat mencintainya dan setelah mengetahui bahwa Laura mengandung benihnya, dia akan bertanggung jawab. Tapi ternyata laki-laki tersebut malah pergi ke luar negeri, terlebih lagi, menurut informasi, dia pergi bersama dengan seorang perempuan.
Bodohnya Laura. Dia sudah memberikan segalanya kepada pria bajingan tersebut, mulai dari uang bahkan tubuhnya sudah dia berikan. Tapi yang dia dapat hanyalah sakit hati.
"Dion, aku bersumpah aku pasti akan membalas dendam atas apa yang telah kamu perbuat. Aku akan membuat kamu menderita."
Laura bangkit dari kamar. Langkah pertama adalah dia ingin mencari calon suami untuk anaknya. Tujuannya agar Dion sakit hati dengannya.
"Tunggu saja Dion. Aku pasti akan membuat kamu menderita, sangat menderita, dan kamu akan meminta maaf padaku atas kesalahanmu."
Tiba-tiba dia merasa mual dan Laura langsung pergi ke kamar mandi dengan tergesa-gesa.
~Bersambung~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
Adiwaluyo
waduh,, dian nanti yg jadi korbannya
2023-01-21
0
mie besi
first coment.... mie besi muali membaca
2023-01-13
0