Akhirnya anak tersebut diberi hukuman oleh kepala sekolah karena telah mengganggu Samuel.
David yang merasa geram melihat korban bullying di sekolah anaknya merasa tak terima. David berpikir bahwa sekolah ini hanya mementingkan orang kaya saja, dan jika ada penghinaan lagi terhadap anak yang tak mampu, maka David dan keluarga Stuart akan menarik kembali semua saham yang ada di sekolah ini.
David memiliki enam puluh persen saham di sekolah tersebut, bisa dibilang David adalah pemilik sekolahnya, tapi dia tidak mengira bahwa akan ada hal seperti ini. Jika dia tidak datang ke sekolah dan mengetahui semuanya, maka dia tidak akan tahu apa yang terjadi.
Kini jam pulang telah tiba, Samuel sudah bersiap-siap untuk pulang. Saat dia keluar dari kelas, ada seseorang yang ternyata sedang menunggunya.
"Samuel," ucap Brian. Setelah mengetahui bahwa Brian adalah Tuan muda dari Keluarga Stuart, dirinya menjadi kaku dan seperti tidak ingin berteman dengan anak kaya, tapi bagi Samuel, Brian berbeda dari anak kaya yang lainnya, dirinya sangat senang menjadi teman Brian.
"Samuel, apa kamu mau pulang?" Samuel hanya mengangguk mendengar perkataan Brian.
"Bagaimana kalau kamu pulang denganku?"
"Tapi, aku membawa sepedaku."
"Tak apa-apa, nanti seseorang yang akan mengambil sepeda kamu dan kamu sekarang pulang denganku."
Samuel sekarang masuk ke dalam mobil bersama dengan Brian.
"Memangnya kamu pulang ke mana?" ucap David.
"Ke panti asuhan, Tuan," ucap Samuel.
"Panti asuhan? Bukankah kamu masih memiliki keluarga?"
"Aku tidak mempunyai keluarga, Tuan. Semenjak orang tua saya sudah meninggal, semua keluarga menganggap diriku telah mati."
Mobil pun kini telah sampai di panti asuhan, Samuel kemudian keluar dari mobil begitu juga dengan Brian dan David. Dia ingin melihat bagaimana kehidupan seorang Samuel.
Kini mereka memasuki gerbang Panti asuhan, disana sudah ada anak-anak yang menyambut Samuel.
"Kak Samuel," seorang anak wanita berumur lima tahun memeluk Samuel. Lalu anak wanita tersebut melihat Brian dan David.
"Kak Samuel, siapa mereka? Apa mereka tamu kita?" tanya anak wanita tersebut dengan polos.
"Dia adalah Kak Brian dan Tuan David, mereka berdua adalah tamu kita. Tolong sapa mereka berdua," ucap Samuel.
Anak perempuan tersebut memberi salam pada Brian dan David, lalu Brian dan David tersenyum.
"Nama kamu siapa?" tanya Brian.
"Namaku Bela. Salam kenal," ucapnya sambil tersenyum.
"Nama yang bagus. Sepertinya kamu seumuran dengan adikku."
Akhirnya mereka masuk ke dalam rumah Panti asuhan. Brian yang pertama kali masuk merasa sangat terharu. Bagaimana tidak, dia melihat anak-anak yang seharusnya bersama orang tua mereka tapi malah ditinggalkan.
Mereka semua akhirnya makan bersama. Setelah selesai makan bersama, Brian dan ayahnya pulang ke rumah.
Keesokan harinya, karena teman sekelasnya mengetahui bahwa Samuel berteman dengan Brian, Tuan muda keluarga Stuart, mereka semua tak berani menganggu Samuel.
pertemanan mereka berlanjut hingga beranjak dewasa. Bahkan saat Brian membuka perusahaan, orang pertama yang menjadi asistennya adalah Samuel.
FLASHBACK OFF
"Bos, kami semua di sini menunggu kamu. Aku yakin bahwa kamu belum meninggal karena aku percaya bahwa kamu tak akan mati begitu saja."
Hari sudah semakin sore. Seperti biasa, Bian menjemput istrinya. Singkat cerita, Bian kini sudah menjemput istrinya dan langsung menuju restoran yang direkomendasikan oleh istrinya.
Mereka berdua akhirnya sampai di restoran.
"Ini tempatnya?" tanya Bian.
"Ini adalah restoran yang terkenal. Waktu kuliah, sering kali aku datang ke sini karena tempat ini adalah favoritku."
Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam restoran.
Karena tidak ingin melihat Nona mudanya stres, Samuel mengajak Amelia untuk makan di luar.
Amelia akhirnya mengikuti ajakan Samuel, dan mereka berdua pergi ke sebuah restoran ternama di kota York.
Ketika sampai di restoran, Samuel dan Amelia mengelilingi restoran yang terkenal itu.
"Tempat ini sangat bagus," ucap Amelia.
Sementara itu, Bian melihat dua orang yang dia lihat kemarin di jalan. Ternyata Bian berada di restoran yang sama dengan Samuel dan Amelia.
"Bukankah itu orang yang kemarin? Sepertinya aku seperti mengenali mereka," gumam Bian.
Bian akhirnya menyadari bahwa laki-laki dan wanita tersebut adalah dua orang yang sering muncul dalam mimpinya.
"Bukankah mereka berdua selalu muncul dalam mimpiku? Siapa mereka dan ada hubungan apa dengan diriku?"
"Bian, ada apa?" Tanya Laura.
"Tidak apa-apa," ucapnya.
Laura semakin curiga dengan Bian, lalu kemudian dia mencari tahu mengapa wajah Bian terlihat sangat bingung akhirnya dirinya mengetahui apa penyebabnya.
"Sepertinya kamu sedang memandangi wanita itu. Siapa dia? Apa dia kekasihmu?"
"Apa maksudmu?"
"Jangan berbohong padaku, Bian. Dari tadi kamu selalu melihat wanita itu."
"Bukan urusanmu?"
"Apa kamu menyukai wanita itu, tapi kamu cemburu karena wanita itu sedang bersama laki-laki lain?"
"Bukan seperti itu, aku tak merasa aku menyukai wanita itu, tapi aku seperti mengenalinya."
"Saat mereka sedang berbincang, tiba-tiba ada seseorang yang menganggu Laura.
"Nona, bagaimana kalau kamu main denganku!" ucap seorang pria.
"Apa maksudmu dan siapa kamu?"
"Aku adalah preman di wilayah ini dan ini adalah kekuasaanku, jadi Nona harus mengikuti permintaanku."
"Kalau aku tidak mau?"
"Kalau Nona tidak mau, maka aku akan memaksa kamu."
Pria tersebut hendak memaksa Laura, Bian yang melihat istrinya diganggu langsung melemparkan sebuah garpu ke lengan pria tersebut."
"Bisakah kamu diam? Kamu mengganggu aku makan."
"Brengsek, siapa kamu?" tanya pria tersebut.
"Aku adalah suami dari wanita yang kamu hina!"
"Apa suami? Jadi kalian adalah pasangan suami istri?" tanya pria tersebut lalu tertawa terbahak-bahak. Walaupun tangannya berdarah, tapi pria tersebut tetap tertawa seperti orang gila.
"Aku pasti akan menghabisi kamu, dan aku akan memperlihatkan bagaimana aku menikmati tubuh istrimu."
"Sepertinya kamu ingin mati!"
Bian langsung menghajar pria tersebut hingga dia langsung terpental jauh karena merasa tak terima pria tersebut langsung memanggil anak buahnya, dan Bian kini sedang dikepung.
"Bian, lebih baik kita lari dari sini, dan kita harus meminta maaf."
"Meminta maaf? Aku tak mempunyai salah, apapun! Buat apa aku minta maaf?"
Bian kini menghadapi sekelompok para preman tersebut karena ada keributan di restoran tersebut. Semua orang langsung melihatnya, begitu juga dengan Samuel dan Amelia.
Saat Samuel melihat gaya bertarung dari Bian, dia langsung kaget dan seakan tak percaya bahwa gaya bertarung yang dimiliki Bian sama dengan gaya bertarung milik Bosnya. Karena Samuel melihat dari jauh, dia tak mengetahui bahwa orang yang sedang bertarung adalah bosnya.
~Bersambung~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
Adiwaluyo
wooooo, hebat juga bian... ahkirnya bian bisa di ketahui oleh saudaranya
2023-01-21
1