kini mereka telah resmi menjadi suami istri, hal yang tidak pernah dipikirkan oleh Bian. Awalnya dia datang ke kota untuk mencari pekerjaan, tapi kini malah berakhir di pelaminan.
Orang tua Laura awalnya tidak setuju bahwa Laura akan menikah dengan Bian, tapi Laura tetap memaksa kedua orang tuanya agar mau menerima Bian sebagai suami anaknya. Jika tidak, maka Laura akan mengancam bunuh diri.
Kedua orang tua Laura yang tidak ingin anaknya bunuh diri pun setuju untuk menikahkan Laura dengan Bian.
Kini Bian dan Laura sudah tinggal di apartemen milik Laura. Mereka berdua memutuskan untuk tidak tinggal bersama orang tua mereka.
"Mba, lebih baik mba istirahat, dan untuk urusan rumah, biar aku saja."
"Memang itu tugasmu, mengurus rumah ini," ucapnya ketus.
Laura kini merebahkan tubuhnya, kemudian Bian membersihkan seluruh ruangan. Setelah itu, dia memasak untuk istrinya. Karena istrinya sedang hamil, dia membuatkan makanan yang bergizi untuk kesehatannya.
Bian kini telah selesai membuat makanan untuk istrinya, lalu kemudian dia menyiapkan makanan di atas meja.
Setelah menyiapkan semua makanan, Bian langsung pergi ke kamar istrinya dan segera membangunkannya.
"Mbak, bangun, mbak. Saatnya makan," panggil Bian.
Laura bangun dari tidurnya.
"Kenapa kamu membangunkan aku? Aku masih ngantuk."
"Mbak, aku sudah menyiapkan makanan untuk mbak. Lebih baik mbak segera makan. Bukankah dari tadi belum makan?"
Laura kemudian bangun dari tidurnya. Sebelum dia pergi ke ruang makan, dia terlebih dahulu ke kamar mandi untuk membasuh muka.
Laura kini sudah berada di ruang makan. Melihat makanan yang dibuat oleh Bian, Laura menjadi tergiur. Makanan yang dibuat Bian benar-benar sangat lezat, walaupun hanya melihatnya saja. Bahkan baunya juga sangat enak.
Laura menyantap makanan dengan lahap.
"Jangan terburu-buru, mba. Tidak ada yang mengambil makanan dari mba," ucap Bian sambil tersenyum.
"Siapa yang makannya terburu-buru, dasar bodoh. Lagipula, aku tidak peduli kalau ada yang mengambil makanan ini, karena makanan ini rasanya tidak enak."
"Tidak enak? Tapi kenapa mba makannya sampai lahap begitu, bahkan mba nambah banyak tuh nasinya."
Mendengar Bian mengatakan hal tersebut, Laura menjadi sangat malu, tapi dia mencoba untuk bersikap tenang.
"Sudahlah, aku sudah kenyang. Lebih baik aku tidur lagi."
"Mba, lebih baik mba duduk dulu, jangan langsung tidur. Tidak bagus untuk kesehatan mba."
"Kenapa kamu peduli denganku? Urusan kesehatan itu urusanku."
"Mba, kamu adalah istriku, jadi aku berhak untuk menjaga kamu."
"Kita hanyalah menjalankan pernikahan kontrak."
"Walaupun kita menjalankan pernikahan kontrak, tapi tugasku sebagai seorang suami tetap menjaga seorang istri," ucap Bian sambil tersenyum. Lalu, Bian langsung pergi ke dapur untuk mencuci piring, dan setelah itu dia membuat minuman untuk istrinya.
Kini, Bian sudah membuatkan minuman untuk istrinya, dan istrinya sedang melihat acara televisi.
"Mba, ini minuman hangat untuk mba," kata Bian saat memberikan minuman tersebut.
Laura hanya mengangguk. "Oh ya, jika mba membutuhkan sesuatu, mba bisa memanggil saya. Aku akan mandi dulu."
Laura hanya mengangguk.
Bian kini pergi ke kamar mandi, sementara Laura masih menonton televisi sambil meminum susu coklat hangat buatan Bian.
"Dia sangat perhatian denganku, tapi aku tidak percaya dia perhatian. Pasti ada maunya," Laura masih saja trauma dengan masa lalunya. Dulu Dion sangat perhatian dengannya, tapi Dion malah meminta apapun kepadanya.
Kini Laura berusaha untuk tidak tertipu lagi. Dia tidak mau dirinya dimanfaatkan oleh seorang laki-laki lagi.
Bian kini sudah selesai mandi dan berganti pakaian. Bian duduk bersama dengan istrinya sambil menonton televisi.
"Bisa kamu ceritakan kenapa kamu bisa hamil dan kenapa pacarmu tidak mau mengakui anak yang ada di dalam kandunganmu?" Bian mulai melakukan pembicaraan.
"Kalau aku menceritakan padamu, apa yang akan kamu lakukan? Bukankah itu bukan urusanmu."
"Jika aku bertemu dengan pacarmu, mungkin aku akan menghajarnya. Kenapa wanita secantik kamu bisa ditinggalkan oleh lelaki brengsek?"
Laura hanya diam sambil mencerna perkataan dari Bian. Bian yang melihat Laura hanya diam saja, langsung menghela nafas.
"Baiklah, jika kamu tidak ingin bicara, tidak apa-apa. Lagipula itu bukan urusanku. Tugasku adalah menjagamu dan bayi yang ada di dalam perutmu."
"Jika kamu sudah merasa lelah, lebih baik kamu tidur," ucapnya.
Singkat cerita, Bian dan Laura kini sudah tidur. Laura tidur di kamar, sementara Bian tidur di sofa.
Hari semakin malam, Bian tiba-tiba dibangunkan oleh Laura.
"Bian, bangun. Bangun, Bian."
Sambil mengucek matanya, Bian bangun dari tidurnya, kemudian dia melihat Laura sudah ada di depan matanya, membuat dirinya langsung kaget.
"Ada apa kamu membangunkanku? Bukankah ini sudah malam."
"Bian, aku ingin dibuatkan rujak pedas," ucapnya manja.
"Hah, mana mungkin malam-malam begini ada rujak pedas."
"Maksudnya, kamu yang buatin rujak pedasnya?"
"Baiklah, aku akan melihat apa ada buah-buahan di kulkas."
Bian membuka kulkasnya dan ternyata masih ada banyak buah-buahan. Bian kemudian mengambil beberapa buah untuk dijadikan rujak.
Lalu, Bian mencuci buah-buahannya dan langsung membawanya ke dapur. Bian sudah menyiapkan bahan dan alat-alat untuk membuat rujak.
Singkat cerita, Bian sudah membuat rujak buah pedas untuk istrinya. Dia kemudian membawanya ke kamar istrinya.
"Mba, ini rujaknya dan ini minumannya," ucap Bian.
Laura kemudian memakan rujak yang dibuat oleh Bian, tapi hanya beberapa suapan, Laura langsung berhenti memakannya.
"Sudah, aku tidak mau lagi."
"Kenapa, mba? Apa rujaknya tidak enak?"
"Aku sudah kenyang."
"Tapi, mba, rujaknya masih banyak dan mba harus menghabiskan rujak ini."
"Tapi aku sudah tidak mau lagi makan rujak, lebih baik ini buat kamu saja."
Dengan terpaksa, Bian mengambil rujaknya dari tangan Laura, kemudian dia memakan rujak tersebut dengan lahap.
Laura yang melihat Bian memakan rujak sambil menahan pedas merasa sangat lucu. Dia baru pertama kali melihat wajah tampan dan lucu seperti Bian.
"Ada apa, mba?"
"Tidak ada apa-apa."
"Dari tadi, kamu melihatku terus. Apa mba sudah mulai menyukaiku?"
"Hah, siapa yang menyukai laki-laki seperti mu? Memangnya kamu hanya laki-laki di dunia ini?"
"Memang laki-laki di dunia ini bukan hanya aku saja, tapi adakah laki-laki yang tampan sepertiku?"
"Hah, tampan? Kamu itu jelek, bukan tampan."
"Jangan bohong, mba. Aku tahu dalam hati mba mengatakan bahwa aku tampan, tapi mba tidak mau mengakuinya."
"Siapa yang mengatakan bahwa kamu tampan? Sekali jelek tetap jelek."
"Jelek."
"Kalau aku jelek, kenapa mba mau menikah denganku? Apa tidak ada laki-laki lain yang mau mba nikahi?"
"Aku hanya menawari kamu pekerjaan saja. Setelah anak ini lahir, bukankah kita bercerai."
"Tapi, mba sudah hamil selama dua minggu, dan kenapa selama dua minggu mba belum bisa menemukan seorang laki-laki untuk dijadikan pasangan? Bukankah kata mba masih banyak laki-laki selain aku di dunia ini? Bukti-nya setelah kita bertemu kemarin, mba langsung mengajak saya menikah. Apa mba melihat saya sangat tampan?"
"Jelek," ucapnya sambil tersenyum.
Bian yang melihat senyuman istrinya merasa sangat senang. Akhirnya dia bisa membuat istrinya kembali tersenyum. Tadi, saat di ruang makan, dia melihat istrinya tampak murung dan tidak pernah tersenyum sama sekali.
~Bersambung~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
Sutarwi Ahmad
lelaki yg tulus dan jujur ya seperti itu.
2023-07-24
0
Adiwaluyo
pinter juga bian bikin istrinya tersenyum
2023-01-21
0