Senam akhirnya dimulai, Laura masuk ke dalam ruangan senam sementara Bian menunggunya di luar ruangan. Laura kini mengikuti gerakan senamnya, saat dia senam, seluruh anggota tubuhnya terasa lebih rileks.
Saat Bian sedang menunggu istrinya, dia didatangi oleh seseorang.
"Sendirian aja kamu, Tuan?" ucap orang tersebut.
"Eh, pak, iya pak," ucap Bian.
"Memangnya sedang apa kamu disini?" ucapnya.
"Aku sedang menunggu istriku senam, pak."
"Oh, istri kamu senam di sini juga?"
"Iya pak, kalau dilihat-lihat, sepertinya aku pernah melihat bapak. Bukankah bapak yang kemarin datang ke pesta ulang tahun Tuan Kiehl?"
"Ternyata kamu masih mengenaliku, perkenalkan namaku Roberto," ucapnya.
"Namaku Bian, pak. Oh ya, kenapa bisa ada disini? Apa bapak sedang menunggu istri bapak juga?" ucapnya bercanda.
"Tidak, tempat ini adalah milik cucuku, makanya aku ingin menemuinya."
"Memangnya istri kamu sudah hamil berapa bulan?"
"Kalau dihitung-hitung, istriku sudah hamil selama satu bulan ini, pak."
"Pasti kamu sangat kewalahan pas awal-awal kehamilan istri kamu."
"Memang sih, pak, tapi bagi seorang suami, itu adalah hal yang membuat bahagia ya, walaupun terkadang kelakuan istri membuat kita kesal."
"Tapi sebagai seorang suami, kita harus bersabar dan melayani seorang istri kita dengan baik. Lagi pula, anak yang dikandung adalah anak aku juga, jadi aku akan berusaha untuk menjaganya."
"Kamu benar, sebagai seorang suami memang sudah sepatutnya menjaga seorang istri. Saat aku berkata seperti itu, aku sampai mengingat istriku."
"Memangnya kenapa dengan istri bapak?" ucap Bian.
"Istriku telah lama meninggal sepuluh tahun lalu."
Bian kaget dengan perkataan dari Tuan Roberto. Walaupun Bian tak pernah bertemu dengan istri dari Tuan Roberto bahkan dirinya juga tak mengenalinya, tapi dalam hati Bian, dirinya ikut merasakan kesedihan tersebut.
"Saya turut berduka cita, pak, dan aku meminta maaf atas omonganku yang awal."
"Tidak apa-apa, jangan dipikirkan. Ternyata benar apa kata Tuan Kiehl, kamu adalah pria yang sangat baik."
"Aku bukanlah pria yang baik."
"Menurutku, kamu adalah pria yang baik. Aku sudah mendengar semuanya dari Tuan Kiehl tentang istri kamu. Bagiku, kamu adalah sosok laki-laki yang sempurna."
"Di dunia ini tidak ada laki-laki yang sempurna. Itu tergantung bagaimana seorang perempuan yang menilainya."
Laura yang sudah selesai senam mendengarkan pembicaraan antara Bian dan seorang Kakek Tua.
Laura mendengarkan perkataan dari Bian bahwa laki-laki yang sempurna tergantung bagaimana perempuan yang menilainya.
Perkataan tersebut mengingatkan dirinya pada sosok Dion. Saat dibandingkan dengan Bian, ternyata Dion hanya seonggok sampah dan Bian adalah tipe laki-laki yang sempurna.
Saat Bian sedang berbincang dengan Tuan Roberto, Bian melihat ke belakang. Ternyata istrinya sudah memanggilnya.
"Maaf pak, aku pamit dulu. Istriku sedang menunggu." Tuan Roberto hanya mengangguk.
"Istriku, bagaimana dengan senamnya?"
"Sangat menyenangkan. Badanku terasa sangat rileks. Ngomong-ngomong, kamu tadi berbicara dengan siapa?"
"Oh, aku tadi berbicara dengan Tuan Roberto, temannya Tuan Kiehl."
"Dimana dia? Aku juga ingin bertemu dengannya."
"Mungkin dia sudah masuk ke dalam, karena tempat ini katanya milik cucunya."
"Aku tak menyangka bahwa pemilik tempat ini adalah tempatnya Tuan Roberto."
"Bagaimana, apa kamu akan menemui Tuan Roberto?"
"Kapan-kapan saja aku bertemu dengannya. Hari ini aku ingin berbelanja."
"Baiklah, kita pergi belanja, tapi apa kamu tidak merasa sangat lelah?"
"Tidak, sama sekali," ucapnya.
"Baiklah, kita pergi belanja sekarang."
Akhirnya Bian mengantarkan istrinya untuk berbelanja. Singkat cerita, mereka berdua sampai di tempat belanja perempuan.
"Kamu tunggu saja di sini, biar aku saja yang masuk," ucap Laura.
Laura masuk ke dalam pusat perbelanjaan sementara Bian menunggunya di dalam mobil. Selama kurang dari satu jam, Bian masih menunggu istrinya.
"Ternyata benar, perempuan sangat lama sekali belanjanya."
Saat Bian sedang bersantai di dalam mobil, dia melihat kartu kredit milik istrinya.
Bian kemudian keluar dari dalam mobil, lalu dia masuk ke dalam pusat perbelanjaan dan benar saja dia melihat istrinya yang terlihat sangat kebingungan.
Ternyata kasir sedang menunggu pembayaran dari istrinya.
Bian kemudian menghampiri istrinya, "Maaf, Nona, kartu anda tertinggal di dalam mobil," ucap Bian.
Laura kaget ketika Bian menghampirinya dan memberikan kartu kreditnya.
"Ini, mba, tolong dibungkus semuanya," akhirnya kasir tersebut percaya bahwa wanita tersebut memiliki uang.
Akhirnya semua belanjaan Laura sudah dibungkus, dan kasir tersebut meminta maaf karena telah berlaku kasar.
Laura tidak memikirkan hal tersebut. Kini Laura dan Bian pun keluar dari pusat perbelanjaan.
"Kenapa kamu sangat ceroboh sekali," ucapnya.
"Aku sudah lama tidak berbelanja, makanya aku terburu-buru masuk ke dalam."
"Seharusnya kamu lebih teliti, bagaimana jika aku tidak menemukan kartu kreditnya."
"Dimana kamu menemukan kartu ini?" ucap Laura.
"Aku menemukannya di dalam mobil. Saat aku melihatnya, ternyata itu adalah kartu kredit, dan aku pun langsung keluar dari mobil lalu masuk ke dalam untuk mencari kamu."
"Apa kamu tadi menunggu lama?"
"Tidak, sama sekali. Mungkin sekitar tiga menit," ucapnya.
"Dia berada di depan kasir selama tiga menit, berarti aku menunggunya selama dua puluh tujuh menit," gumamnya.
"Kamu belanja apa saja?"
"Aku hanya membeli baju-baju saja."
"Selanjutnya kita akan ke mana?" tanya Bian.
"Kita pulang sekarang, ayah dan ibu sudah menunggu di sana."
"Bagaimana ayah dan ibu kamu bisa masuk, bukankah apartemen dikunci?"
"Karena ayahku memiliki kunci cadangan. Kita pergi sekarang."
"Baik, Tuan Putri."
Bian melajukan mobilnya menuju ke apartemen. Sesampainya di apartemen, Bian dan Laura masuk ke dalam, dan ternyata benar, kedua orang tua Laura sudah berada di dalam apartemen.
"Ayah, ibu, kapan kalian datang?" tanya Laura.
"Baru saja, habis dari mana kamu? Tampaknya kamu habis belanja," ucap Axel.
"Aku habis melakukan senam khusus ibu hamil, dan setelah itu saya pergi belanja."
"Senam ibu hamil?"
"Iya, ayah. Aku yang menyuruh istriku untuk ikut senam khusus ibu hamil karena itu sangat cocok untuk kesehatan bayi yang ada di dalam kandungannya."
"Oh ya, ayah, ibu mau aku buatkan makanan."
Keduanya hanya mengangguk.
"Sayang, bagaimana dengan suami kamu itu? Apa dia memperlakukan kamu dengan baik?"
"Dia sangat baik, mah. Bahkan masakannya sangat enak."
"Oh ya, mamah jadi ingin mencobanya."
"Palingan masakannya sangat hambar, mana mungkin pria miskin sepertinya bisa masak enak."
"Ayah, lebih baik jangan pernah menilai hanya karena dia miskin. Tapi ayah belum mencoba makannya, kan?" tanya Laura.
Bian kini telah selesai membuatkan makanan dan minuman untuk kedua mertuanya. Setelah selesai, Bian mengantarkan makanan tersebut. lalu meletakkannya di meja makan.
~Bersambung~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
Adiwaluyo
semakin keliatan baik bian istrinya jadi kagum
2023-01-24
1