"Kalau saya lihat, dia lumayan tampan, tapi kalau dibandingkan dengan ketampananku, dia kalah," ucapnya bercanda.
"Dasar sok narsis," ucap Laura.
"Sejak kapan kamu ngefans dengan Tuan Muda B?"
"Waktu aku kuliah, aku pernah melihat di TV tentang penghargaan pengusaha muda terbaik di dunia, dan Tuan Muda B menduduki peringkat pertama."
"Sejak saat itu aku langsung kagum dengan Tuan Muda B dan aku ingin menjadi sepertinya."
"Kalau memang kamu pernah melihat di TV, berarti kamu pernah melihat wajahnya kan?" ucapnya.
"Justru aku belum pernah melihatnya. Saat melihat penghargaan tersebut, aku hanya melihat perwakilan dari perusahaan B, dan Tuan Muda B tidak memunculkan wajahnya."
"Mungkin karena media tidak ingin menyorotinya."
"Kenapa tidak mau? Bukankah dia bisa terkenal?"
"Menurut aku sih, jika dia memperlihatkan wajahnya di depan publik, bisa jadi semua musuh perusahaannya akan berlomba-lomba untuk membunuhnya."
"Kenapa bisa begitu? Bukankah dia hanya seorang pengusaha," ucap Bian.
"Apa kamu tahu keluarga Stuart seperti apa?" ucap Bian.
"Keluarga yang paling ditakuti," jawab Laura.
"Jika memang keluarga Stuart adalah keluarga yang paling ditakuti, sudah pasti mereka akan memiliki banyak musuh."
"Lalu apa tujuan musuh tersebut? Bukankah sama saja dengan bunuh diri melawan Perusahaan B dan Keluarga Stuart."
"Jika para musuh bisa menghancurkan Perusahaan B dan juga Keluarga Stuart, maka musuh yang mengalahkannya akan menjadi pengusaha terkuat di dunia."
"Kamu sudah paham kan, apa perkataan ku."
"Walaupun kemarin aku bertemu dengan Tuan Muda B, tapi dia mengatakan kepadaku untuk tidak mengatakan kepada siapa-siapa, walaupun itu adalah orang terdekatku."
"Aku hanya memegang janjinya saja, biarkan kamu bisa mencari tahu siapa Tuan Muda B sebenarnya."
Kini mereka berdua telah sampai di apartemen. Laura yang lelah langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Istriku, apa kamu mau aku pijat lagi?"
"Tidak usah, aku ingin langsung cepat tidur."
"Baiklah."
Laura berjalan ke kamar lalu dia langsung tidur tanpa berganti pakaian. Melihat istrinya sangat lelah, Bian merasa sangat bersalah. Seharusnya dia bisa menjaga kesehatan istrinya.
"Apakah banyak keluarga Kiehl yang membencinya? Tapi kenapa bisa seperti itu, memangnya apa kesalahannya dulu?" gumamnya.
"Sepupunya sangat membencinya, bahkan saudara-saudara yang lain juga. Hanya Kakek, ibu, dan ayahnya yang masih sangat peduli dengannya. Walaupun ayahnya sangat posesif pada anaknya, tapi aku yakin bahwa Pak Axel adalah orang yang baik," gumamnya.
"Apa dia dibenci karena hamil di luar nikah dan kehamilannya tersebar ke semua keluarga yang ada di Kota York, atau dia adalah wanita yang selalu dimanja oleh Kakeknya hingga keluarganya sangat membencinya?" gumamnya.
"Aku sangat lelah, lebih baik aku tidur saja." Bian merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Sudah lama aku tidak tidur dengan perasaan tenang seperti ini. Dulu, waktu pertama kali aku tidur, aku selalu bermimpi yang sama, tapi sekarang aku tidak lagi bermimpi seperti itu."
Hari sudah pagi, Bian bergegas bangun untuk mencuci mobil istrinya agar terlihat bersih, dan kemudian dia juga menyiapkan makanan untuk istrinya.
Melihat istrinya belum bangun, Bian berinisiatif untuk membangunkan istrinya. Dia tahu istrinya tidak telat bekerja, tapi di satu sisi dia merasa kasihan karena istrinya sangat kelelahan semalam.
Sambil menguap, istrinya bangun dari tidurnya. Ketika dia melihat jam di mejanya, dia kaget bahwa sebentar lagi dia akan sedikit terlambat bekerja.
"Istriku, kamu sudah bangun," ucap Bian, tapi istrinya langsung buru-buru pergi ke kamar mandi dan dia langsung membersihkan tubuhnya tanpa menjawab perkataan dari Bian.
Singkat cerita, istrinya telah selesai mandi dan berganti pakaian. Istrinya kemudian langsung menuju ke ruang makan.
"Kenapa kamu tidak membangunkan ku?" ucapnya.
"Iya, aku lihat kemarin malam kamu sangat kelelahan. Aku tidak tega untuk membangunkan kamu karena mungkin kamu masih sangat lelah."
"Tapi bukankah kamu mengatakan bahwa aku tidak boleh masuk ke dalam kamar kamu?" ucapnya.
"Iya, tapi gara-gara kamu aku hampir saja telat. Mana kunci mobilnya, biar aku berangkat sendiri."
"Biar aku yang antar kamu ke perusahaan."
"Tidak usah, lebih baik kamu berada di rumah saja, beres-beres rumah," ucap Laura.
"Baiklah, hati-hati di jalan."
Laura kemudian keluar dari apartemen dan melihat mobilnya sudah bersih. Dia sedikit tersenyum.
Laura kini masuk ke dalam mobil dan kemudian dia melajukan mobilnya menuju ke perusahaan.
Saat di perjalanan, dia menerima telepon dari kakeknya.
[Halo, Kek, ada apa?]
[Halo, Laura, Kakek ingin bertemu dengan kamu.]
[Kapan, Kek?]
[Kalau nanti malam gimana, sekalian ajak suami kamu. Aku belum mengucapkan terima kasih padanya karena suami kamu akhirnya keluarga kita bisa bekerjasama dengan Perusahaan B.]
Memang benar apa yang dikatakan oleh kakeknya, Bian cukup andil dalam kerjasama tersebut. Jika bukan karena Bian, mungkin mereka tidak akan bisa bekerjasama dengan Perusahaan B.
[Baik, Kek, nanti malam aku akan ajak suami aku.]
Mereka berdua menutup teleponnya, Laura kini sampai di perusahaan.
Laura kini sudah berada di perusahaan, lalu dia langsung masuk ke dalam ruangannya.
"Nona, mana laki-laki yang selalu mengantar kamu?" ucap Nila.
"Maksud kamu, Bian," ucap Laura.
"Dia sedang berada di rumah."
"Sayang sekali aku tidak bisa bertemu dengannya."
"Kenapa? Apa kamu sangat menyukainya?"
"Aku seperti jatuh cinta pada pandangan pertama. Saat dia mengantarkan kamu, aku langsung jatuh cinta dengannya. Aku kira dia pacar Nona, ternyata hanya seorang supir."
Andai dia tahu bahwa laki-laki tersebut adalah suaminya, apa yang akan terjadi? Apa Nila akan membencinya?
"Kenapa banyak wanita yang sangat menyukainya? Bukankah dia hanya pria miskin? Lalu apa pesona dia sehingga banyak wanita yang menyukainya?" gumamnya.
Laura mengacak-acak rambutnya sebagai tanda kekesalannya karena dia selalu saja memikirkan Bian.
"Kenapa aku selalu memikirkannya?"
Untung saja Nila sudah pergi, sehingga wanita itu tidak melihat apa yang terjadi dengan sahabatnya tersebut.
"Kenapa hatiku sangat marah ketika Nila mengatakan menyukai Bian, padahal itu bukan urusanku?"
Singkat cerita, hari sudah malam, Laura dan Bian bergegas pergi ke rumah Kakek.
"Kenapa kita pergi ke rumah Tuan Kiehl lagi? Apa dia belum puas merayakan ulang tahunnya?"
"Bukan seperti itu, Kakek meminta kita untuk datang karena dia ingin mengucapkan terima kasih."
"Terima kasih? Untuk apa?"
"Karena kamu telah membantu Keluarga Kiehl dalam bekerjasama dengan Perusahaan B."
"Kenapa dia harus mengucapkan terima kasih segala dan mengundang kami berdua untuk datang ke sana?"
"Sudah jangan banyak dipikirkan, bukankah Kakek hanya ingin mengucapkan terima kasih."
"Tapi apa kamu tidak takut kamu bakal diganggu lagi oleh saudara-saudara kamu?"
"Tidak sama sekali, justru semakin mereka membenciku, maka mereka juga semakin iri denganku."
~Bersambung~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
George Lovink
Betul...sepertinya thor nggak ada kata2 lain lagi wkwkwkwkkkk
2023-08-02
0
Alif Maulana
ini cerita alurnya bagus.. cuma harusnya dibuang kata singkat cerita-singkat cerita.. kurang enak bacanya
2023-05-21
2
Adiwaluyo
ternyata cemburu juga nih
2023-01-24
1