Episode 5 Mencari pekerjaan.

Setelah dua minggu berlalu, Bian memutuskan untuk mencari pekerjaan di kota untuk membayar hutang Pak Ujang dan Bu Anita.

FLASHBACK.

Saat Bian hendak melakukan negosiasi dengan Tuan Wira, dia tiba-tiba mendapatkan ide agar Tuan Wira bersedia memberikan keringanan pada Pak Ujang.

Sekarang, Bian telah sampai di kediaman Tuan Wira dan meminta penjaga untuk memanggilnya.

Bian berada di hadapan Tuan Wira.

"Tuan Wira, perkenalkan saya Bian, anggota keluarga Pak Ujang. Ada hal yang ingin saya bicarakan dengan Anda."

"Tentu, silakan sampaikan," jawab Tuan Wira.

"Saya berharap Tuan Wira dapat memberikan keringanan pada Pak Ujang dan Bu Anita."

"Maksudmu memberikan keringanan terkait hutang mereka?" tanya Tuan Wira.

"Aku ingin memberikanmu waktu tiga bulan, nanti aku akan mencari pekerjaan untuk melunasi hutang Pak Ujang dan Bu Anita."

"Jika aku tidak bisa mengembalikan uang selama tiga bulan, kamu berhak melakukan apapun padaku."

"Baiklah, aku akan memberikanmu waktu tiga bulan, tapi jika kamu tidak mengembalikan uang yang dipinjam oleh Pak Ujang, aku akan menuntutmu."

Bian hanya mengangguk, kemudian dia langsung pergi meninggalkan kediaman Tuan Wira. Di sana, tangan kanan Tuan Wira melihat Bian dengan tatapan sinis.

"Tuan Wira, apakah Anda yakin memberikan kesempatan pada pemuda itu?" tanya orang tersebut.

"Kita hanya memberikan waktu tiga bulan saja, memangnya apa yang bisa dia lakukan selama tiga bulan," ucap Tuan Wira.

"Jadi, Tuan hanya ingin mengujinya saja."

Saat ini, Bian telah tiba di kediaman Pak Ujang dan Bu Anita.

"Bagaimana, Nak? Apa kamu sudah berbicara dengan Tuan Wira?" tanya Bu Anita.

"Aku sudah berbicara dengannya dan meminta waktu selama tiga bulan untuk mengembalikan uangnya."

"Tiga bulan?" ucap Bu Anita kaget.

"Aku memutuskan pergi keluar kota mencari pekerjaan dan mengembalikan uang yang Pak Ujang pinjam dari Tuan Wira."

"Tapi Nak, kenapa harus kamu yang mengembalikan uangnya? Biar aku dan suamiku saja yang melakukannya."

"Bu, Pak Ujang dan Bu Anita sudah menyelamatkanku, dan kalian sudah menganggapku sebagai anak kalian sendiri. Kali ini aku ingin membalas semua kebaikan kalian. Membayar hutang bukanlah satu-satunya cara, karena tanpa bantuan Bapak dan Ibu waktu itu, mungkin aku tidak akan selamat seperti sekarang."

"Jadi kamu akan pergi ke kota untuk mencari pekerjaan."

"Iya Bu, aku akan mencari pekerjaan agar bisa mengembalikan uang pada Tuan Wira."

"Apakah kamu sudah siap untuk pergi ke kota?"

"Aku sudah siap, Bu. Mungkin dengan pergi ke kota, aku bisa menemukan siapa keluargaku dan mengetahui lebih banyak tentang diriku."

"Kalau itu sudah keputusanmu, Ibu tidak bisa memaksamu, Nak. Semoga kamu bisa bertemu dengan anggota keluargamu."

"Iya, Bu. Aku mengucapkan terima kasih kepada Bapak dan Ibu karena sudah mau merawatku," ucap Bian.

"Hati-hati di jalan, Nak Bian."

Bian pun kini pergi ke kota untuk mencari pekerjaan.

FLASHBACK OFF.

Bian kini sudah sampai di kota, dirinya menumpang sebuah mobil yang membawa sayur-sayuran.

"Terima kasih, Pak," ucap Bian.

Supir tersebut hanya mengangguk, Bian pun berjalan sambil melihat sekeliling apakah ada pekerjaan di kota.

Saat sedang melihat sekeliling, Bian melihat seorang wanita yang hendak bunuh diri dari atas jembatan. Tanpa ragu, Bian langsung menghentikan aksi tersebut.

"Mbak, apa yang mbak lakukan?" Tanya Bian.

"Bukankah kamu sudah melihat, aku akan melakukan bunuh diri."

"Aku tahu, Mbak, tapi kenapa kamu melakukan bunuh diri? Apa ada masalah?"

"Siapa kamu, buat apa kamu ikut campur urusanku?" ucapnya.

"Aku memang bukan siapa-siapa, Mbak, tapi jika Mbak ada masalah, kenapa Mbak ingin sekali bunuh diri? Bukankah bisa diselesaikan dengan kepala dingin."

"Apa yang bisa di selesaikan dengan kepala dingin? Aku hamil dan laki-laki biadab itu tidak mau mengakui bahwa ini adalah anaknya. Selama dua minggu aku selalu menunggu dia datang, tapi dia tidak datang sama sekali. Lalu, buat apa aku hidup?"

Bian kaget dengan perkataan dari wanita tersebut, dia berusaha menenangkan wanita tersebut.

"Mba, dengan bunuh diri, dia tidak akan datang ke sini, dan itu tidak akan mengubah apapun. Kasihan bayi yang ada di dalam kandungan mba. Dia tidak bersalah sama sekali. Jika mba ingin bunuh diri, lakukan setelah mba melahirkan anak mba. Jangan membawa anak yang tidak bersalah untuk ikut bunuh diri."

"Untuk apa aku mempertahankan anak ini, dia harus ikut mati denganku. Biarkan bajingan itu menyesal telah melakukan hal yang menjijikkan padaku."

"Dasar keras kepala! Dengan bunuh diri, apa orang tuamu akan senang? Apa dengan bunuh diri kamu tidak peduli dengan orang-orang yang selalu memberikan kamu semangat?"

"Ingatlah, Mbak, ada orang-orang yang selalu peduli dengan Mbak. Orang tua Mbak dan teman-teman Mbak sangat peduli. Lalu, apakah kamu tidak memperdulikan mereka?"

"Jika Mbak melakukan bunuh diri seperti ini, itu tidak akan bisa mengubah apapun."

"Lalu apa yang harus aku lakukan?"

"Buktikan bahwa Mbak bisa bangkit dan membalas kepada laki-laki biadab itu."

"Memangnya apa yang harus aku lakukan?"

"Bukankah Mbak punya otak? Pikirkan sendiri, bodoh!" ucapnya, lalu Bian langsung meninggalkan wanita tersebut.

Wanita tersebut kemudian turun dari atas jembatan, dia pun melihat seseorang yang tadi mengobrol bersamanya.

"Apa itu tadi orang yang berbicara denganku? Memangnya siapa dia? Berani-beraninya dia mengatakan diriku bodoh."

"Heh, kamu tunggu!" Wanita tersebut berteriak memanggil Bian. Bian langsung menoleh ke belakang.

"Ada apa?" Mata mereka kini bertemu. Bian kaget bahwa wanita yang tadi akan melakukan bunuh diri ternyata sangatlah cantik. Tadi, saat Bian hendak menyelamatkan wanita tersebut, dia tidak melihat wajahnya sama sekali, tapi sekarang dia akhirnya bisa melihatnya.

"Siapa kamu?"

"Bukan siapa-siapa, aku hanyalah orang biasa saja."

"Sepertinya kamu baru datang ke kota."

"Benar, mba. Aku baru datang ke sini dan aku sedang membutuhkan pekerjaan."

"Pekerjaan?"

Bian hanya mengangguk, lalu wanita tersebut berkata kembali.

"Aku ada pekerjaan untukmu."

"Memangnya apa pekerjaannya?"

"Jadilah suami kontrakku. Nanti aku akan membayar kamu."

"Maksud Mbak?"

"Iya, kamu menjadi suami kontrakku selama setahun. Nanti setelah itu aku akan membayar uang padamu."

Jika dirinya bisa menjadi suami kontrak dari wanita ini, maka dia akan mendapatkan uang untuk membayar hutang Pak Ujang.

"Baiklah, aku akan menjadi suami kontrakmu, tapi aku hanya memiliki satu permintaan."

"Apa yang kamu inginkan?"

"Aku ingin kamu memberikan uang itu dalam waktu tiga bulan. Setelah itu, aku tidak akan meminta uangmu lagi sampai kita bercerai, bagaimana?" tanya Bian.

"Baiklah, aku setuju." ucap Bian kepada perempuan tersebut.

~Bersambung~

Terpopuler

Comments

Sulaiman Efendy

Sulaiman Efendy

BEDA CERITANYA DGN DI SEASON 1..

2023-10-02

0

Sutarwi Ahmad

Sutarwi Ahmad

aku senng DG cara author menulis DG transparan tidak bulet kaya obat nyamuk,gampang dicern kaya aku orang diso.

2023-07-24

0

Adiwaluyo

Adiwaluyo

rejeki yang tak kemana buat bian

2023-01-21

0

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 43 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!