"Bagaimana, apa kamu sudah menemukannya?"
"Maaf, Nona, kami semua sudah mencari tuan muda ke manapun, tapi hasilnya tetap nihil."
Wanita yang sedang memerintah itu adalah Amelia, adik dari Brian Stuart. Saat kakaknya dinyatakan meninggal akibat kecelakaan, dia terus mencari keberadaan kakaknya. Dirinya tidak percaya bahwa kakaknya telah meninggal.
Dia tidak akan percaya sebelum dia melihat mayat kakaknya dengan mata kepalanya sendiri.
Sudah beberapa minggu Amelia terus mencari kakaknya, tapi sampai sekarang dia tidak menemukan kakaknya sama sekali. Yang ada, dia hanya menemukan sebuah kalung yang ada di dalam mobil milik kakaknya.
"Kak, kalau kamu belum meninggal, datanglah kesini, aku sangat merindukanmu. Ayah dan ibu juga merindukanmu, kak."
Samuel, yang melihat Nona Amelia, merasa sangat sedih. Bagaimana tidak, wanita tersebut harus kehilangan kakaknya. Begitu juga dengan dirinya, dia harus kehilangan tuan mudanya sekaligus sahabat terbaiknya.
Saat dirinya masih kecil, hanya Bian dan Nona Amelia yang mau berbicara dengannya.
FLASH BACK ON.
Samuel adalah seorang anak miskin, tapi dia bersekolah di sekolah terbaik karena mendapatkan beasiswa. Saat sekolah, justru Samuel selalu dibuli oleh teman-temannya karena dia hanya anak miskin dan tidak memiliki orang tua.
Orang tua Samuel meninggal; ayahnya meninggal ketika mengantarkan istrinya ke dokter karena istrinya akan melahirkan Samuel, sementara ibunya meninggal saat dia baru saja melahirkan Samuel.
Oleh sebab itu, Samuel dianggap sebagai anak pembawa sial oleh keluarganya, bahkan dia tidak pernah diakui sebagai anggota keluarga sama sekali.
Samuel justru dipindahkan ke panti asuhan, di mana dia baru mendapatkan kasih sayang dari orang-orang yang ada di sana.
Setelah berumur tujuh tahun, Samuel berkesempatan untuk bersekolah di sekolah elit terbaik di Kota York. Di sana, dia selalu direndahkan oleh teman-teman sekelasnya.
"Dasar anak miskin, lebih baik kamu pergi saja dari sini."
"Iya hu, anak miskin."
"Anak miskin seperti kamu tidak pantas bersekolah di sini."
"Anak miskin."
"Pembawa sial."
"Kalian semua jangan mau berteman dengan dia karena dia pembawa sial." Berkali-kali mereka semua mengejek Samuel, tapi Samuel tidak membalas perbuatan mereka sama sekali.
Keesokan harinya dia kembali di ejek, kali ini dia disiram dengan menggunakan air cucian.
Semuanya pun tertawa terbahak-bahak seakan mereka tidak bersalah sama sekali, tapi ada satu anak yang melihat kejadian tersebut dan dia sangat geram.
Dia langsung masuk ke dalam kelas tersebut lalu dia membela anak yang dibuli.
"Apa kalian tidak punya malu, kalian membuli orang yang lemah."
"Siapa kamu? Apa kamu ingin bersikap pahlawan seperti seorang pahlawan."
Anak tersebut adalah anak yang selalu mengejek anak-anak yang lain karena dirinya merasa sangat kaya dan hebat. Bahkan anak tersebut yang merencanakan untuk menyiram Samuel dengan air cucian.
"Apa dia yang menyiram kamu dengan air cucian ini?" ucap Brian kecil.
"Iya."
"Nama kamu siapa?"
"Aku Samuel."
"Namaku Brian, dan mulai hari ini kita berteman. Jika ada yang berani mengganggu kamu, kamu bisa meminta bantuan dariku. Tapi sebelum itu, aku ingin melakukan sesuatu."
Brian kecil kemudian mendekati anak yang mengejek Samuel, Brian langsung memukul anak tersebut.
Anak tersebut yang mendapatkan pukulan dari Brian langsung menangis memanggil ayahnya.
"Ternyata dia hanyalah anak ayah, kamu berani mengejek Samuel tapi saat ada orang yang membalas perlakuan kamu, kamu malah menangis."
Brian kemudian langsung pergi meninggalkan mereka semua. Sementara itu, Samuel langsung kagum dengan Brian.
"Saat di dalam kelas, Brian dipanggil oleh kepala sekolah. Di sana sudah ada orang tua dari murid yang mengejek Samuel, dan Brian juga kaget ketika ada orangtuanya yang datang ke sekolahnya.
"Ada apa, papah datang kemari?" ucap Brian.
"Sepertinya kamu membuat masalah di sini. Bisa kamu jelaskan pada papah?" ucap David.
"Papah, jangan marah. Aku mohon, aku bisa jelaskan semuanya."
"Cepat jelaskan."
"Aku telah memukul dia, tapi ada alasannya."
"Apa kamu memukul anakku? Pak kepala sekolah, aku ingin kamu menghukum anak itu."
"Katakan, Brian, kenapa kamu sampai memukul dia?"
"Alasan kenapa aku memukulnya karena dia berani mengejek temanku. Dia bahkan berani menyiram menggunakan air cucian."
"Apa benar yang dikatakan Brian?"
"Tidak, dia berbohong. Mana mungkin aku berani menyiram anak lain dengan air cucian."
"Jika kalian semua di sini tidak percaya, kenapa tidak mengundang dia ke sini saja?"
"Siapa maksudmu?"
"Samuel."
"Samuel? Maksudmu anak miskin yang mendapatkan beasiswa itu?"
"Samuel? Memangnya siapa dia, Brian?"
"Samuel adalah temanku, Pah. Dia yang disiram dengan air cucian olehnya."
"Baiklah, kita panggil Samuel ke sini."
Kini Samuel sudah berada di ruangan kepala sekolah, di sana dia melihat anak yang mengejeknya dan juga Brian.
"Samuel, apa benar yang dikatakan Brian, kamu tadi disiram dengan air cucian?"
Samuel sebenarnya sangat takut karena dia tahu jika dia akan mengatakan yang sejujurnya, anak yang mengejeknya akan melihatnya dengan tatapan dendam. Tapi dia percaya dengan perkataan Brian.
Akhirnya Samuel mengatakan yang sebenarnya bahwa dia telah diganggu dan disiram dengan menggunakan air cucian.
"Bagaimana, Pak? Aku tidak berbohong, kan? Dia mengganggu saya dan saya rasa dia harus mendapatkan hukuman yang setimpal."
"Tutup mulutmu, anak sialan! Kamu juga harus mendapatkan hukuman yang lebih berat dari ini karena kamu telah berani memukul anakku."
"Pak, aku harap bapak bisa membela yang benar dan yang salah dalam masalah ini. Anakku memukul anak kamu, aku minta maaf. Tapi anakku melakukan itu karena anak kamu telah berbuat jahat pada teman anakku."
"Aku rasa kamu yang seharusnya minta maaf, kamu telah mendidik anak dengan tidak benar."
"Buat apa aku meminta maaf pada anak miskin sepertinya, dia hanya anak pembawa sial."
"Sepertinya kamu sangat mengenal anak ini."
"dia yang telah menyebabkan kakakku meninggal."
Mendengar hal tersebut, Brian langsung kaget lalu Samuel kecil langsung pergi dengan meneteskan air matanya.
Brian kemudian langsung mengejar Samuel.
"Samuel, tunggu!"
"Ada apa? Apa kamu mau mengejekku karena aku adalah anak pembawa sial?"
"Aku tidak mengatakan bahwa kamu adalah anak pembawa sial, tapi kamu adalah anak yang bodoh."
"Seharusnya kamu memukul bajingan itu, bukan malah pergi seperti ini."
"Tapi apa yang dia katakan benar, aku adalah anak pembawa sial. Ibuku meninggal pada saat melahirkan diriku, kemudian ayahku meninggal karena kecelakaan pada saat mengantarkan ibuku ke rumah sakit karena aku akan dilahirkan."
Brian merasa tersentuh mendengar pengakuan Samuel. Dia menarik Samuel ke dalam pelukan.
"Aku minta maaf, Samuel. Aku tidak tahu betapa beratnya beban yang kamu bawa. Kita harus saling mendukung, bukan saling menyakiti. Mari kita berjuang bersama untuk menjadi yang terbaik." ucap Brian dengan lembut.
"Terima kasih, Brian. Aku benar-benar membutuhkan teman seperti kamu." balas Samuel sambil menghapus air matanya. Dari saat itu, persahabatan mereka semakin kuat, saling mendukung dan berbagi suka dan duka.
"Jadi orang itu adalah keluargamu."
"Dia adalah adik dari ayahku."
"Berarti dia pamanmu."
"Jangan panggil dia dengan nama seperti itu, aku tak sudi mempunyai paman sepertinya."
~Bersambung~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
Sutarwi Ahmad
kadang"teman dari kecil tuh melebihi sdr kandung.
2023-07-24
0
Adiwaluyo
ternyata teman kecil waktu sekolah.. bian dan Samuel
2023-01-21
0