Seminggu kemudian, acara ulang tahun Kakeknya Laura dilaksanakan di kediaman rumah utama Keluarga Kiehl.
"Bian, cepat kita harus berangkat sekarang!"
"Ya, tunggu sebentar."
Bian turun ke bawah. Laura yang melihat tampilan Bian yang sangat berbeda membuat dirinya mengakui bahwa suaminya memang sangat tampan.
"Kita berangkat sekarang!"
Laura yang masih melamun sambil memikirkan ketampanan suaminya tersebut langsung kaget saat suaminya menepuk pundaknya.
"Istriku, kenapa kamu melamun?"
"Eh, tidak kok. Kita berangkat sekarang."
"Hmm, baiklah."
Bian dan Laura masuk ke dalam mobil.
"Bian, ingat saat di rumah kakek, aku minta kamu jangan mempermalukanku," ucap Laura.
"Baik, istriku."
"Apakah kamu tak apa-apa dengan kondisimu saat hamil begini, menghadiri acara seperti ini?"
"Tidak apa-apa, lagi pula nanti kalau aku lelah, aku akan beristirahat."
"Baiklah, tapi aku harap kamu jangan memaksa lebih karena aku takut dengan bayi yang ada dalam kandungan kamu."
"Bian, kenapa kamu sangat peduli denganku dan bayi ini, padahal bayi ini bukanlah anakmu."
"Kamu dari kemarin masih saja mengatakan hal yang sama. Apa kamu tidak ada pertanyaan lain selain ini? Bukankah aku sudah bilang berkali-kali aku sangat menyayangi kalian."
Mereka kini sampai di kediaman rumah utama keluarga Kiehl. Saat sampai di sana, ternyata banyak orang yang sudah berdatangan.
Bian dan Laura keluar dari mobil, lalu mereka langsung berjalan masuk ke dalam tempat acara ulang tahun kakeknya Laura.
Bian dan Laura kini sudah berada di dalam. Laura yang melihat ayah dan ibunya langsung menghampirinya, begitu juga dengan Bian yang mengikuti istrinya dari belakang.
"Ayah, ibu, kapan kalian datang?" ucap Laura. Bian yang melihat kedua mertuanya langsung memberikan salam pada mereka berdua.
"Kami datang dari tadi, Nak. Kenapa kamu datang terlambat? Cepat sapa kakek kamu," ucap ibunya Laura.
"Baik, Bu."
Bian dan Laura kemudian menghampiri kakeknya.
"Kek, selamat ulang tahun," ucap Laura dan Bian.
"Terima kasih telah datang ke ulang tahun kakek cucuku."
"Apa yang Kakek bicarakan, ini sudah menjadi kewajiban aku untuk berbakti pada kakek."
"Cucuku, apa ini adalah suami kamu?"
"Eh, iya kek. Ini suamiku, namanya Bian."
Bian kemudian langsung menyapa Kakek Kiehl.
"Bian, Tuan dan saya mengucapkan selamat ulang tahun pada Tuan Kiehl."
"Nama kamu Bian, kan?"
"Iya, Tuan."
"Jangan panggil aku Tuan, panggil saja aku Kakek. Wajahmu sangat mirip dengan seseorang, tetapi Kakek sudah lupa."
Bian pun hanya tersenyum simpul.
"Kakek, kenapa Kakek membawa aib keluarga ke acara ini? Apa Kakek mau dihina oleh orang lain?"
"Tutup mulutmu, Kiara. Kakek tidak mau kamu merendahkan Laura. Biar bagaimanapun juga, dia adalah Kakak sepupumu, dan kamu harus ingat Laura sekarang sudah memiliki seorang suami. Bagi Kakek, dia bukanlah aib keluarga."
"Iya, dia memang sudah memiliki seorang suami, tapi dia hamil di luar nikah. Aku kira suaminya sangat bodoh karena mau saja dengan bekas dari orang lain."
"Hidup kamu benar-benar sial, Laura. Dulu kamu ditinggalkan cinta pertamamu, lalu kamu menjalin hubungan dengan pria lain dan membuat kamu hamil, tapi pria yang menghamili kamu malah pergi entah kemana. Sekarang kamu malah berakhir menikahi pria miskin yang tidak tahu asal-usulnya."
"Pria miskin? Dia tidak tahu bahwa laki-laki yang dihadapannya adalah pemilik perusahaan B dan juga Tuan muda serta pewaris Keluarga Stuart." gumam Samuel, ternyata Samuel dari tadi mendengarkan ucapan mereka.
Samuel datang ke acara ulang tahun Tuan Kiehl sebagai perwakilan perusahaan B Corporation dan juga perwakilan keluarga Stuart.
Ingin sekali dirinya menampar wajah dari wanita ****** tersebut, tapi atas perintah Bosnya, dia tidak mau bertindak lebih jauh.
Seminggu yang lalu, perlahan Bian sudah mengetahui siapa dirinya. Walaupun dia sudah mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya, Bian belum membongkar identitasnya ke publik. Dia ingin melihat sejauh mana dia bisa mendapatkan hati istrinya tanpa menggunakan identitasnya, dan dia juga ingin melihat sejauh mana istrinya akan menerima cintanya.
"Ternyata dia mengalami masalah dengan namanya percintaan. Pertama, dia ditinggalkan cinta pertamanya karena cinta pertamanya harus menikah dengan wanita yang dijodohkan oleh orang tuanya. Lalu, dia harus hamil di luar nikah. Kenapa wanita ini benar-benar sangat menderita," gumam Bian.
"Istrikuku, kali ini aku tak akan membiarkan kamu menderita dan aku akan melindungi kamu," gumamnya.
"Nona Kiara, memangnya kenapa istrikuku bekas orang lain? Yang penting, aku sangat mencintainya. Aku tak peduli dia memiliki hubungan di luar batas dengan mantan pacarnya, tapi aku akan memperlakukan istrikuku dengan sangat baik."
"Kamu hanyalah pria miskin yang menikahi keluarga Kiehl. Jangan gunakan kata cinta, aku tahu tujuan kamu menikahi Laura karena ingin mengeruk hartanya, kan?"
Bian masih bersikap tenang karena apa yang dikatakan oleh sepupunya, Laura, memang tidaklah benar.
Sementara itu, Kiara merasa sangat bingung kenapa suami miskinnya, Laura, tidak terpancing dengan omongannya. Dia mengira bahwa suami miskin milik Laura akan menamparnya.
"Apakah kamu kira aku akan marah dan kemudian aku menampar kamu, lalu kamu mengatakan kepada semua orang bahwa apa yang dikatakan olehmu adalah sebuah kebenaran?" ucapnya.
"Tapi sayang sekali, Nona Kiara, aku bukanlah seseorang yang akan menampar orang bodoh. Jika aku menampar orang bodoh, itu sama saja aku menampar diriku sendiri."
"Apa maksudmu? Apa kamu mengatakan aku adalah orang bodoh?"
"Sejak kapan aku mengatakan kamu orang bodoh? Aku tidak mengatakannya sama sekali. Bukankah kamu yang mengatakan sendiri bahwa diri kamu bodoh."
"Alex, bisakah kamu menegur menantu kamu yang brengsek itu? Dia sudah berani menghina putriku," ucap Candra Kiehl, ayah dari Kiara Kiehl, sekaligus adik dari ayahnya Laura.
"Heh, kamu, pria miskin, kamu sudah berani menghina anakku."
"Sejak kapan aku menghina anakmu? Dia yang mengatakannya sendiri bahwa dia itu bodoh. Apa paman tadi tidak mendengarkannya?"
"Oh ya, aku minta maaf, aku salah ngomong. Kenapa aku harus bertanya pada orang bodoh? Jika anaknya bodoh, sudah jelas ayahnya juga bodoh karena buah jatuh tidak jauh dari pohonnya."
"Bian, cepat kamu minta maaf pada Paman Candra, jika tidak, aku tidak akan pernah memaafkan kamu."
"Baiklah, ayah mertua. Paman, aku minta maaf karena telah mengatakan bahwa paman adalah orang bodoh, begitu juga dengan kamu, Nona."
Bian sebenarnya sangat malas untuk meminta maaf pada kedua orang tersebut, tapi karena dia sangat menghormati ayah mertuanya, dia akhirnya meminta maaf.
"Jika kamu ingin menerima permintaan maaf kamu di terima, kamu harus menjilati sepatu kami berdua," ucap Kiara.
~Bersambung~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
sanghyangmaya
cerita gini koq bisa lolos di sini yak....kacau....😀
2023-08-04
0
Adiwaluyo
wooo,, sebentar lagi ada pertunjukan yang sangat menakjubkan.
ayo semangat thour untuk apdet
2023-01-22
1