Episode 4. Hutang.

Melihat anaknya bolak-balik ke kamar mandi membuat Ibunya curiga. Setelah bertanya tentang kondisi Laura, dia mengaku bahwa dia tidak apa-apa, namun kemudian mengakui bahwa dia hamil dan ingin menghindari ibunya mengetahuinya. Ibunya bersikeras membawanya ke dokter atau rumah sakit karena khawatir. Tiba-tiba, setelah kembali ke kamar mandi, Laura merasa pusing dan pingsan tanpa sadar. Sang ibu yang sangat cemas langsung masuk ke kamar mandi dan panik melihat anaknya tak sadarkan diri.

Ibunya Laura memanggil pelayan untuk membantunya mengangkat Laura ke kamar, kemudian dia menghubungi suaminya. Setelah berbicara dengan suaminya, dia juga menghubungi dokter untuk mengecek kesehatan putrinya.

Suaminya segera sampai di rumah dan langsung masuk ke kamar anaknya. Sementara itu, dokter telah selesai memeriksa Laura.

"Dok, bagaimana keadaannya?"

"Apa yang terjadi dengan putriku?"

"Anak ibu hamil, Pak!" ucap pak dokter.

"Apa? Hamil, Dok?" Mereka berdua kaget mendengar apa yang dikatakan dokter, hati mereka hancur mendengar bahwa anak perawan mereka telah hamil di luar nikah.

"Dokter, apakah Anda yakin tidak salah memeriksanya?"

"Saya tidak salah, Bu. Anak ibu hamil dan kehamilannya sudah mencapai satu minggu."

"Sebaiknya ibu dan bapak tidak membuat anak ibu stres, karena tidak baik untuk kesehatan bayi yang dikandungnya."

Dokter tersebut kemudian keluar dari kediaman Keluarga Kiehl.

"Ayah, anak kita hamil."

"Aku tidak tahu, siapa yang telah membuat anakku hamil. Aku harus mencari dia dan membuat dia bertanggung jawab," ujar Ayah Laura.

Laura bangun dari pingsannya dan melihat kedua orang tuanya di kamarnya. Laura menceritakan apa yang telah terjadi padanya.

"Kamu tadi pingsan, dan dokter sudah memeriksa kamu," ucap Ibunya.

"Dokter?" tanya Laura.

"Iya, Dokter tadi datang kesini untuk mengecek kondisimu," jawab Ibunya.

"Ayah, Laura tidak perlu basa-basi. Siapa laki-laki yang telah menghamili kamu?" tanya Ayah Laura.

"Jangan menutupi semuanya, Laura. Ayah sudah tahu kamu hamil dan siapa yang telah menghamili kamu?" tanya Ayahnya Laura dengan penuh emosi, dia ingin mengetahui siapa laki-laki biadab yang tega membuat anaknya hamil.

"Jawab, Laura!" Ayahnya membentak, sekali itu nyali Laura langsung ciut.

"Di- Dion, ya. Dia yang telah membuat aku hamil."

"Apa? Dion? Jadi bajingan itu yang telah membuat kamu hamil? Sekarang di mana dia? Dia harus bertanggung jawab atas apa yang telah dia perbuat pada kamu."

"Percuma, ya. Dia sudah kabur ke luar negeri dan tidak mau mengakui bahwa ini adalah anaknya."

"Apa? Dia pergi ke luar negeri?" tanya ayah Laura terkejut.

Laura mengangguk dan hanya bisa meneteskan air matanya.

"Kamu bodoh, Laura! Mau saja kamu dibodohi oleh laki-laki bajingan seperti Dion. Bukankah papah sudah pernah mengatakan bahwa laki-laki itu tidak baik untukmu? Kenapa kamu malah terus berpacaran dengannya dan ini kan akibatnya, dia menghamili kamu kemudian dia kabur entah kemana."

"Maafkan Laura, pah. Laura minta maaf, Laura benar-benar bodoh, tidak mau menuruti perkataan papah."

"Apa yang harus papah lakukan, Laura? Jika semua teman-teman papah tahu bahwa anak papah hamil di luar nikah, papah jadi malu, Laura."

Laura kini hanya menangis meratapi kesedihannya, dia terus menangis berharap papahnya memaafkan kesalahannya.

Istrinya kemudian menenangkan suaminya dan mengajaknya untuk segera keluar dari kamar anaknya.

"Sudahlah, Pah, nasi sudah menjadi bubur. Kita harus selalu mendukung Laura agar dia kembali semangat hidup."

Laura terus menangis di kamarnya, dia meratapi semua kebodohannya. Mengapa dia mau memberikan segalanya pada seorang bajingan seperti Dion? Mengapa dia tergoda oleh rayuannya?

Terlebih lagi, Dion berselingkuh dibelakang Laura, membuat dia sangat sakit hati.

"Pah, apa rencana selanjutnya?" ucap sang istri.

"Aku akan mencarikan suami untuk Laura. Aku tidak ingin anakku menjadi bahan gunjingan."

"Aku setuju denganmu, Pah."

Sementara itu, di kediaman keluarga Pak Ujang, tiba-tiba ada sekelompok orang yang mendobrak pintu rumah Pak Ujang.

"Pak Ujang, keluar kamu! Kalau tidak, aku akan robohkan rumah ini," ucap orang tersebut.

"Siapa yang rame-rame datang ke sini, Pak?"

"Pak Ujang keluar, sekarang! Cepat!"

Orang-orang tersebut terus berteriak memanggil nama Pak Ujang.

"Siapa, Pak?" tanya Bu Anita.

"Aku juga tidak tahu, Bu. Lebih baik ibu di sini saja, biar aku yang keluar."

Pak Ujang akhirnya membuka pintu dan terkejut ketika melihat anak buah Tuan Wira sudah ada di depan rumahnya.

"Ada apa, kalian datang ke sini?" ucap Pak ujang

"Ada apa, ada apa? Cepat bayar hutang kamu, ini sudah jatuh tempo. Jika tidak, aku akan hancurkan tempat ini."

"Ada apa ribut-ribut di luar, Bu?" tanya Bian.

"Aku juga tidak tahu. Lebih baik kita lihat saja ke depan."

Bian dan juga Bu Anita keluar untuk melihat apa yang terjadi di depan rumahnya. Saat mereka sudah di depan, dia kaget melihat suaminya dihajar oleh sekelompok orang.

Bu Anita langsung berteriak meminta tolong saat melihat Pak Ujang dihajar, dan Bian langsung menolong Pak Ujang. Bian menyerang segerombolan orang yang telah melukai Pak Ujang, satu persatu mereka kalah oleh Bian.

Tangan kanan Tuan Wira yang melihat Pak Ujang ditolong oleh orang asing kaget. Apalagi orang tersebut sangat pandai bertarung.

Sementara itu, Bian merasa aneh. Mengapa dia bisa memiliki kekuatan untuk menghajar para preman-preman tersebut?

Preman-preman tersebut langsung kabur dan berjanji akan kembali ke rumah Pak Ujang lagi.

"Bu, lebih baik bawa Pak Ujang masuk ke dalam. Kita harus mengobatinya."

Pak Ujang kini sudah diletakkan di kamarnya.

"Bu, kalau boleh tahu, siapa mereka dan ada urusan apa dengan Pak Ujang?"

"Mereka adalah anak buah Tuan Wira. Mungkin mereka datang kesini untuk menagih hutang."

"Apa hutang, Bu? Memangnya Pak Ujang meminjam uang untuk apa?"

Bu Anita kemudian menceritakan bahwa dia meminjam uang untuk membuka usaha, tapi kemudian dia ditipu oleh anaknya sendiri, dan anak itu pergi entah kemana.

Bian mendengar hal tersebut kaget sekaligus marah dengan anak yang telah menipu Pak Ujang dan Bu Anita.

"Bu, katakan di mana kediaman Pak Wira. Aku ingin bertemu dengannya."

"Mau apa kamu datang ke sana?" ucap Bu Anita.

"Aku akan bernegosiasi agar Pak Wira mau memberikan waktu, sehingga aku bisa mencari uang untuk melunasi biaya hutang Pak Ujang."

~Bersambung~

Terpopuler

Comments

Sulaiman Efendy

Sulaiman Efendy

JGN2 ANAK PAK UJANG & ANITA SI DION...

2023-10-02

0

Adiwaluyo

Adiwaluyo

ayoo bian bantu Pak ujang biar smua selesai

2023-01-21

1

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 43 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!