Episode 18. Kunjungan ke Rumah Kakek Kiehl.

Kini mereka berdua sampai di kediaman Kakek Kiehl. Melihat cucunya telah datang bersama cucu menantunya, Tuan Kiehl menyuruh pelayan untuk segera menyiapkan hidangan.

Bian dan Laura kini sudah memasuki halaman rumah Kakek Kiehl. Laura kemudian sampai di depan pintu dan dia langsung memencet bel rumah tersebut.

Saat pintu terbuka, semua pelayan langsung menyambut Laura dan juga Bian.

"Selamat datang ke rumah Kakek cucuku."

"Kakek, apa yang Kakek bicarakan? Bukankah aku sudah sering datang ke sini."

"Tapi kali ini Kakek mengundang kamu karena Kakek ingin berterimakasih."

Mereka akhirnya duduk di ruang makan, "Silahkan dimakan cucuku dan kamu juga, cucu menantuku."

"Terima kasih Kek atas hidangannya."

"Kek, paman, dan Kiara tidak ada di sini," ucap Laura.

"Tidak, mereka sedang berada dari rumah mereka sendiri."

Laura menghela nafasnya karena dia bisa tenang dan tidak ada yang mengganggu dirinya.

"Jadi tujuan apa Kakek mengundang kami ke sini?" ucap Laura.

"Bukankah Kakek sudah mengatakan Kakek ingin mengucapkan sedikit terima kasih."

"Bian sebagai Kakeknya Laura dan juga Pemimpin Keluarga Kiehl mengucapkan terima kasih karena telah membantu kami bekerjasama dengan Perusahaan B."

"Tak perlu berterima kasih, Tuan. Lagian, kemarin aku hanya tidak sengaja bertemu dengan Tuan muda B dan Tuan Samuel."

"Terima kasih atas tawaran pekerjaan, Tuan. Aku sangat senang karena cucuku bisa mendapatkan pria baik seperti kamu."

"Justru aku yang harusnya berterima kasih, Tuan, karena aku bisa menikahi cucu Tuan yang cantik dan dia juga sangat kuat."

"Aku harap pernikahan kalian bisa bahagia."

"Terima kasih, Tuan. Do'akan saja semoga anak yang dikandung istriku bisa lahir dengan kondisi sehat."

"Aku memang tak salah menilai kamu. Walaupun anak yang dikandung bukanlah anak kamu, tapi kamu tetap menganggapnya anak sendiri."

"Karena aku ingin mengucapkan terima kasih padamu, aku juga ingin menawarkan pekerjaan kepada kamu."

"Pekerjaan?"

"Sebagai rasa terima kasihku, aku ingin menawarkan kamu sebuah pekerjaan di Perusahaanku."

"Tuan, aku bukannya menolak untuk menerima pekerjaan di Perusahaan Tuan, tapi aku merasa sudah senang dengan kondisi seperti ini. Lagi pula, jika aku menerima pekerjaan ini, pasti banyak yang iri denganku."

"Bagaimana jika istriku saja yang bekerja di perusahaan Tuan?"

"Apa?" ucap Laura dengan kaget.

"Istriku lah yang pantas di perusahaan utama. Tuan, sebagai permintaanku ini, aku ingin Tuan memindahkan istriku ke perusahaan Tuan."

"Jadi, kamu tidak ingin bekerja di perusahaanku."

"Maaf Tuan, aku menolak karena memang aku tak pantas bekerja di perusahaan Tuan."

"Baiklah, lalu bagaimana dengan kamu, Laura? Apa kamu mau bekerja di perusahaan Kakek sebagai pimpinan perusahaan?"

"Maaf, kek. Aku juga tak bisa, aku merasa sangat nyaman bekerja di perusahaanku sendiri dan aku tidak ingin meninggalkan perusahaan yang saya buat sendiri dari nol."

"Kalian berdua, benar-benar pasangan yang keras kepala," ucapnya.

"Kami bukannya keras kepala, Tuan, tapi jika perusahaan Tuan dipimpin salah satu dari kami, apakah perusahaan Tuan bisa berjalan secara stabil? Bukankah Tuan yang mendirikan perusahaan dari nol? Lalu apa yang terjadi jika ada pergantian pemimpin?"

"Belum tentu semua orang akan mempercayainya. Aku yakin semua karyawan Tuan akan menolak aku sebagai pimpinan perusahaan, tapi aku tak tahu dengan istriku, apa ada orang yang mau menerima dia sebagai pimpinan perusahaan."

"Apa yang dikatakan Suamiku benar, kek. Kami memang tak pantas menjadi pemimpin perusahaan di perusahaan Kakek. Biarkan aku belajar supaya bisa menggantikan posisi Kakek, tapi tidak sekarang, kek. Aku ingin perusahaan yang saya bangun bisa menjadi perusahaan terkenal." Mendengar Laura mengatakan seperti itu, Bian merasa sangat senang walaupun itu hanya pura-pura saja.

"Baiklah, aku mendukung keputusan kalian, dan jika kamu membutuhkan bantuan, Kakek jangan sungkan."

"Baik, kek."

"Dan kamu, tolong jaga cucuku," ucapnya.

"Baik, Tuan. Aku akan menjaga cucu Tuan dengan baik."

Singkat cerita, mereka telah kembali dari kediaman Kakek Kiehl.

"Istriku, bagaimana kalau kamu mengikuti senam ibu-ibu hamil? Menurutku itu baik untuk kondisi bayi yang ada di perut kamu."

"Dari mana kamu tahu tentang senam ibu-ibu hamil?"

"Aku kebetulan melihatnya di televisi. Sebaiknya kamu ikut saja. Lagipula, senam hanya dilaksanakan setiap minggu sekali. Bukankah hari Minggu kamu selalu libur."

"Bagus juga ide kamu. Baiklah, besok kan hari Minggu, antar aku ke tempat senam ibu-ibu hamil. Aku ingin ikut mendaftar juga."

"Baiklah, sekarang kamu tidur dan besok kita akan pergi ke sana." Bian mengantarkan istrinya ke kamar. Setelah mengantarkan istrinya, Bian juga langsung merebahkan dirinya di sofa.

Sementara itu, di kediaman keluarga Stuart, David, Gracia, dan juga Amelia, begitu juga dengan Samuel, sedang berkumpul di ruang tamu.

"Aku tak menyangka bahwa istri dari kak Bian ternyata hamil dengan wanita lain dan kak Bian yang menikahi wanita itu."

"Tapi Tuan muda Bian, menurutku sangat mencintai istrinya."

"Aku setuju dengan kamu, Samuel. Dari foto-foto ini, aku sebagai ayahnya juga yakin bahwa anakku sangat menyukainya."

"Menurut mamah, wanita ini sangat cantik. Aku ingin sekali bertemu dengan menantuku."

"Tapi kata Bian, ini belum waktunya karena Bian masih menunggu waktu yang tepat. Lagipula, wanita ini belum menerima Bian sepenuhnya."

"Lebih baik kita dukung Kak Bian supaya dia bisa mendapatkan cinta dari kakak ipar."

Keesokan harinya, Bian dan Laura sudah bangun dari tidurnya. Mereka berdua mandi secara bergantian, setelah mandi mereka berdua sarapan.

Singkat cerita, Bian mengantarkan Laura untuk ke tempat senam. Bian dan Laura sudah berada di dalam mobil.

Bian melajukan mobilnya menuju ke tempat tersebut.

Sampailah Bian dan Laura di tempat tersebut, lalu mereka berdua turun dari mobil.

Kini mereka sudah masuk ke dalam ruangan senam ibu-ibu hamil. Ternyata disana sudah banyak orang yang ikut senam tersebut.

Bian dan Laura menghampiri salah seorang wanita.

"Maaf Bu, apakah untuk ikut senam seperti ini harus mendaftar dulu?" ucap Laura pada seorang wanita.

"Tidak usah, oh ya apakah kamu orang baru disini?" ucap wanita tersebut.

"Eh iya Bu, aku baru disini. Ibu sudah lama ikut senam disini."

"Ya, saya sudah ikut senam ini sekitar tiga bulan."

"Sudah lama sekali ya Bu."

"Memangnya kamu sudah berapa lama hamilnya?"

"Kalau dihitung sih sudah sekitar sebulan, Bu," ucap Laura.

"Kenapa kamu baru datang ke sini sekarang? Seharusnya kamu datang ke sini pas awal-awal kehamilan kamu."

"Aku tidak tahu disini ada tempat senam ibu-ibu hamil. Aku juga mendapat informasi dari suamiku," ucap Laura.

"Ini suami kamu?" ucap ibu tersebut.

"Iya Bu, ini suami saya," ucap Laura.

~Bersambung~

Terpopuler

Comments

Adiwaluyo

Adiwaluyo

lanjut bian,, kapan bian akan sadar

2023-01-24

0

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 43 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!