"Samuel, ada apa? Sepertinya kamu sangat tertarik dengan pertarungan mereka," ucap Amelia.
"Bukan begitu, Nona. Tapi aku sepertinya mengenali gaya bertarungnya."
"Gaya bertarungnya? Apa maksudmu?"
"Gaya bertarung pria tersebut sangat mirip dengan Tuan Muda," ucap Samuel, yang membuat Amelia kaget.
Kini mereka semua akhirnya tumbang di tangan Bian, dan Bosnya kini sudah babak belur serta meminta maaf pada Bian."
"Aku ingin kamu membayar semua kerugian yang ada di sini," ucapnya.
"Baik, Tuan."
Bian dan Laura kini meninggalkan restoran. Samuel dan Amelia mengikuti mereka dari belakang, sangat penasaran apakah orang yang tadi bertarung adalah Brian.
Bian dan Laura masuk ke dalam mobil, dan Samuel kaget ketika melihat postur tubuh pria tersebut dari dekat. Pria tersebut sangat mirip dengan Bosnya, begitu juga dengan Amelia yang melihat bahwa pria tersebut sangat mirip dengan kakaknya.
Bian mengendarai mobilnya menuju apartemen, sementara itu Samuel dan Amelia tetap mengikutinya dari belakang.
Bian dan istrinya akhirnya sampai di apartemen, dan Samuel dan Amelia pun sampai di tempat yang sama diikuti Bian dan Laura yang sudah masuk ke dalam apartemen.
"Kak Samuel, apa kamu sudah mendapatkan fotonya?"
"Sudah, Nona."
"Apa kamu pikir orang ini sangat mirip dengan Kak Brian?"
"Dari postur tubuh dan gaya bertarungnya tadi, sangat mirip sekali dengan Tuan Muda. Terlebih lagi, saat kita melihat wajahnya dengan jelas, dia mirip sekali dengan Tuan Muda."
"Tapi, jika dia adalah Kak Brian, kenapa dia bisa ada di sini dan siapa wanita itu?"
"Lebih baik kita harus menyelidikinya lebih lanjut."
Samuel dan Amelia kini sudah pergi, sementara itu Bian dan istrinya berada di dalam apartemen.
"Bian, katakan siapa kamu?"
"Aku hanya orang kampung yang menikahi wanita cantik, yaitu kamu."
"Jangan menggombal, katakan siapa kamu? Kamu sangat pintar berkelahi, tidak mungkin orang kampung seperti kamu sangat pintar dalam berkelahi."
"Aku pun tidak tahu kenapa aku mempunyai kemampuan seperti ini."
"Lalu siapa wanita tadi?" Ternyata istrinya masih tetap memikirkan wanita itu.
"Saat di restoran, kamu mengatakan dia sangat mirip dengan seseorang. Memangnya siapa?"
"Aku tidak tahu, dan aku juga telah melupakannya," ucap Bian sambil langsung pergi meninggalkan istrinya.
"Dasar pria menyebalkan," gumam Laura sambil masuk ke dalam kamar. Bian yang sudah tidur kembali bermimpi yang sama seperti semalam.
Sementara itu, Laura tidak bisa tidur; dia masih memikirkan siapa wanita yang selalu dipikirkan oleh Bian.
"Siapa wanita yang dipikirkan Bian? Kenapa aku sangat penasaran sekali? Bukankah aku dan dia hanya menjalani pernikahan kontrak? Kenapa saat dia mengatakan bahwa wanita di restoran sangat mirip dengan wanita yang Bian kenal?"
"Memangnya apa urusannya denganku? Mau dia dekat dengan wanita manapun, aku tidak peduli. Itu bukan urusanku."
Laura kembali tidur dan keesokan harinya dia mendapatkan telepon dari ayahnya.
"Halo, Pah, ada apa?"
"Katanya kamu kemarin diganggu oleh seseorang di restoran."
"Iya, Pah, tapi tenang saja, kemarin Bian melindungi aku dengan baik."
"Bian? Bocah itu melindungi kamu?"
"Bian sangat pintar dalam bertarung, bahkan dia mengalahkan sekumpulan preman yang mengganggu diriku tadi malam."
Ayahnya Laura yang tak percaya dengan semua itu langsung memutus teleponnya.
"Bocah itu melindungi putriku, dan putriku mengatakan bahwa dia melindunginya."
Sementara itu, Samuel sedang mencocokkan foto yang dia lihat tadi malam.
"Sangat mirip sekali, sudah jelas bahwa pria itu adalah Bos. Aku harus mengatakan ini pada Nona Muda," gumamnya.
Samuel kini menemui Amelia, "Nona muda, aku ingin menanyakan sesuatu pada Nona, ini tentang pemuda yang tadi malam."
"Siapa dia? Apa dia adalah Kak Brian?"
Samuel hanya mengangguk, dan Amelia langsung menangis.
"Kak, akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi."
David dan istrinya yang melihat putrinya menangis langsung memeluknya.
"Sayang, ada apa? Kenapa kamu menangis?"
"aku bertemu dengan Kak Brian, mah."
"Amelia, apa yang kamu katakan bukankah menurut polisi kakakmu telah meninggal."
"belum mah, aku kemarin malam melihatnya dia adalah kak Brian, kalau papah dan mamah tak percaya aku kemarin malam mengambil fotonya." Samuel memberikan foto atas perintah dari Amelia.
"ini tuan, semalam aku mengambil foto dari pria tersebut."
"Brian?"
David juga berpikiran bahwa pemuda tersebut adalah Brian. Gracia yang melihat foto tersebut juga menangis karena bahagia.
"Brian, anakku," ucap Gracia.
"Pah, kita harus menjemput putra kita."
"Iya, Mah, tapi aku tidak tahu di mana dia tinggal."
"Aku tahu di mana dia tinggal. Kemarin aku mengikutinya, dia tinggal dengan seorang wanita di apartemen. Sepertinya wanita itu adalah istrinya Tuan Muda."
"Istrinya? Kapan putra kita menikah?"
"Aku belum tahu, Nyonya Besar, tapi aku harus menyelidikinya lagi, dan aku juga akan menjemput Tuan Muda."
"Baiklah, sekarang kamu temui putraku, dan kamu harus membawanya pulang."
"Baik, Tuan."
Samuel kini mengemudikan mobilnya, kemudian sesampainya di Apartemen, dia menekan bel tempat tinggal Bian dan istrinya.
Karena istrinya sudah berangkat kerja dan mobilnya dibawa oleh istrinya sendiri, Bian jadi tak bisa mengantar istrinya.
"Siapa yang membunyikan bel? Apa itu Laura? Tapi tak mungkin jika itu adalah Laura, dia pasti akan langsung masuk ke dalam."
Bian kemudian membuka pintu depan dan dia melihat sosok seorang laki-laki. Lalu laki-laki tersebut kaget ketika melihat bahwa pria tersebut adalah bosnya.
"Bos," ucap Samuel sambil memeluk Bosnya.
"Bos? Maaf, Tuan, apa maksudmu? Kenapa kamu memanggil bos, dan siapa sebenarnya kamu?" Bian masih sangat penasaran kenapa pria yang ada di depannya memanggil dirinya dengan sebutan bos.
"Bos, apa kamu tidak mengingatku? Aku adalah Samuel, sahabat kecil kamu."
"Maaf, Tuan, aku tidak mengenali Tuan, sepertinya Tuan salah orang!"
"Tidak, aku tidak salah orang. Kamu Bos Brian kan."
"Brian? Namaku Bian, bukan Brian. Tuan lebih baik mencari pria itu."
"Bian? Brian, nama itu memang sangat mirip, tapi kenapa nama bos menjadi Bian?" gumamnya.
"Bos, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
"Tuan, mohon maaf, aku tak mengetahui siapa Tuan, dan lebih baik Tuan pergi dari sini. Aku takut istriku akan marah."
"Tapi bos, ada seseorang yang ingin bertemu dengan bos, dia sangat merindukanmu, bos."
"Apa maksudmu?"
"Bos, nama kamu itu Brian, bukan Bian. Kamu memiliki seorang adik bernama Amelia."
"Amelia?" Saat dia mendengar namanya, dia merasa sakit kepala, begitu juga ketika pria tersebut memperkenalkan dirinya.
"Memangnya siapa kalian, dan kenapa kalian selalu muncul di mimpiku saat aku memikirkan kalian berdua? Entah kenapa, aku merasa sangat pusing." Ucapan Bosnya membuat Samuel langsung kaget. Akhirnya, dirinya menyimpulkan bahwa Bosnya mengalami amnesia.
~Bersambung~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
R yuyun Saribanon
thor.. kenapa selalu pake narasi " singkat cerita' dan berkali kali pula
2023-07-09
0
Adiwaluyo
alhamdulillah,, ahkirnya bertemu juga.
tapi sayang nya lupa ingatan
2023-01-21
0