Seminggu kemudian, pemuda tersebut membuka matanya. Pak Ujang dan Bu Anita sangat senang akhirnya pemuda tersebut sadar juga.
"Nak, apa kamu baik-baik saja?" ucap Pak Ujang.
"Aku di mana, dan siapa Tuan?" ucap pemuda tersebut.
"Kamu berada di rumah kakek, apa kamu tidak tahu apa yang terjadi denganmu?" ucap Pak Ujang, dan pemuda tersebut hanya menggelengkan kepalanya.
"Apa kamu tahu siapa namamu?" tanya Pak Ujang.
Pemuda tersebut hanya menggelengkan kepalanya. Saat dia ingin mengingat namanya, kepalanya terasa sangat pusing.
"Argh, sakit kepala, sakit."
"Nak, kamu kenapa?"
"Kepala saya sakit, Pak."
"Jika kamu tak mengingat namamu, lebih baik jangan dipaksakan."
"Baik, Pak."
"Bagaimana kalau aku kasih nama kamu saja?" ucap Bu Anita.
"Nama?"
"Aku akan memberi nama Bian untukmu," ucapnya.
"Bian? Nama yang bagus, aku suka nama itu."
"Baguslah kalau kamu suka, jadi mulai sekarang nama kamu Bian."
"Nak, apa kamu sudah merasa sembuh? Jika sudah, bagaimana kalau kita hari ini pergi memancing, nanti ikannya dijual di pasar."
"Mancing? Memangnya di sini ada Sungai, Pak?" ucap Bian.
"Ikut Bapak, pasti kamu akan tahu di sini ada Sungai."
"Baik Pak, kebetulan aku sudah sembuh dan ingin pergi ke luar."
Bian mengikuti Pak Ujang untuk segera pergi ke sungai. Sesampainya di sana, Bian sangat takjub dengan pemandangan tersebut.
Sungai yang jernih dan angin yang sepoi-sepoi membuat dirinya menjadi tenang. Bian menikmati pemandangan tersebut.
Bian mulai memasang umpan, kemudian dia melemparkan ke sungai. Awalnya Bian tidak bisa memancing, tapi setelah melihat Pak Ujang, akhirnya dia langsung paham.
Sambil menunggu umpannya dimakan ikan, Bian melihat dirinya sendiri di dalam sungai. Dia ingin sekali mengingat siapa dirinya sebenarnya, tapi selalu saja gagal.
Tiba-tiba, pancing milik Bian bergerak. Dia langsung menarik pancingnya, dan benar saja Bian mendapatkan sebuah ikan yang berukuran sedang, begitu juga dengan Pak Ujang.
"Ternyata di sini cukup banyak ya, Pak, ikannya," ucap Bian.
"Memang di sini sangat banyak, Nak."
Singkat cerita, mereka telah mendapatkan ikan yang sangat banyak, lalu mereka berdua pulang ke rumah untuk segera menjualnya ke pasar.
Sesampainya di rumah, Bu Anita kemudian menanyakan apakah mendapatkan ikan yang banyak atau tidak.
"Pak, apa bapak mendapatkan ikan yang banyak?"
"Hari ini, kita mendapatkan ikan yang banyak, Bu."
"Aku akan menyiapkan wadah untuk membawa ikan ke pasar."
"oh ya Bu, ini ikan untuk dimasak buat nanti malam."
Pak Ujang memberikan ikan yang ada di wadah lainnya karena mendapatkan ikan yang cukup banyak, dirinya ingin sekali memasak ikan.
"Baik Pak."
Setelah memindahkan ke wadah, Pak Ujang langsung pergi ke pasar bersama dengan Bian. Bian ingin sekali melihat pasar yang dimaksud oleh Pak Ujang.
Pak Ujang dan Bian pergi ke pasar, sementara Bu Anita menyiapkan bumbu-bumbu untuk memasak ikan.
Karena jarak dari sini menuju ke pasar sangat dekat, mereka berdua pergi dengan jalan kaki.
Sesampainya di Pasar, semua orang menatap wajah Bian, terutama ibu-ibu. Mereka berdua ingin tahu siapa pemuda tersebut.
"Siapa yang bersama Pak Ujang, dia sangat tampan?"
"Hidungnya juga mancung, ditambah lagi wajahnya putih."
Bian memiliki wajah yang putih dan hidung yang mancung, ditambah tinggi badan yang ideal, membuat semua wanita terpana kepadanya.
Bian melihat semua orang seperti sedang melihatnya, dia merasa sangat penasaran kenapa semua orang menatapnya.
"Pak, kenapa semua orang menatap wajahku? Apa ada yang salah dengan diriku?"
"Mereka menatap kamu karena wajah kamu sangat tampan, apalagi hidung kamu itu mancung," gumam Pak Ujang.
"Oh, mungkin mereka baru melihat kamu."
"Oh, begitu ya, Pak."
Pak Ujang sudah sampai di tempat di mana dia biasanya menjual ikan-ikannya.
"Pagi, Bu Lastri," ucap Pak Ujang.
"Eh, Pak Ujang, bagaimana pak, apa bapak mendapatkan ikan yang banyak?"
"Hari ini saya mendapatkan ikan yang banyak."
Bu Lastri pun menimbang ikan tersebut, lalu wajahnya menoleh menatap Bian.
"Pak Ujang, siapa pemuda itu?"
"Dia Bian, Bu."
"Nak Bian, perkenalkan dirimu pada Bu Lastri."
"Eh iya, Kek. Perkenalkan Bu, saya Bian."
"Bian? Memangnya kamu siapa Pak Ujang?"
"Kebetulan dia seorang mahasiswa dan dia sedang meneliti kehidupan di desa ini, Bu," ucap Pak Ujang. Dia tidak ingin Bu Lastri tahu siapa Bian sebenarnya.
"Berapa semuanya, Bu?" ucap Pak Ujang.
"Semuanya lima kilo dan ini untuk pembayarannya."
Bu Lastri memberikan uang senilai tiga ratus ribu rupiah. Pak Ujang yang melihatnya pun sangat kaget, sekaligus tak percaya, karena biasanya Bu Lastri tidak memberikan uang sebanyak ini.
"Bu Lastri, bukankah uang ini terlalu banyak?"
"Udah, nggak apa. Bawa aja Pak, lagian bapak udah capek-capek bawa ikan yang lumayan banyak ke sini."
Dia heran, apa ini gara-gara ada Bian di sampingnya.
"Baiklah Bu, saya pamit pulang."
Bu Lastri mengangguk dan memberikan senyuman pada Bian.
Bian dan Pak Ujang pulang ke rumah. Sesampainya di sana, Pak Ujang memberikan uang hasil penjualannya pada istrinya.
"Pak, kenapa uangnya banyak sekali?"
"Aku tidak tahu, Bu. Tumben Bu Lastri memberikan uang yang banyak, biasanya tidak."
"Pak, Bu, saya mau mandi dulu. Di mana kamar mandinya?"
"Di sebelah sana ada dapur dan kamar mandinya ada di belakang dapur."
Bian pun mengangguk, lalu dia berjalan menuju ke kamar mandi. Sesampainya di sana, dia melihat kamar mandi tersebut masih menggunakan alat-alat tradisional.
Sementara itu, Pak Ujang dan Bu Anita merasa yakin bahwa Bu Lastri memberikan uang yang banyak karena Bian.
"Mungkin karena Bian, Bu Lastri memberikan uang yang banyak."
"Iya Pak, aku juga sangat yakin. Apa Bu Lastri menyukai Bian?" ucap Bu Anita
"Hush, jangan ngawur kamu. Kenapa Bu Lastri bisa menyukai Bian? Dia kan baru saja datang ke sini."
"Siapa tahu Pak, apa lagi Bu Lastri adalah seorang janda di desa ini."
"Sudahlah, jangan bahas masalah itu lagi. Kita harus segera membuat makanan untuk nanti malam."
Singkat cerita, malam pun tiba, Bian berkumpul dengan Pak Ujang dan Bu Anita. Mereka menyantap ikan hasil buruannya tadi pagi.
"Bagaimana, Bian? Apa makanannya enak?" ucap Pak Ujang.
"Sangat enak, Pak," ucap Bian.
"Bagaimana kalau besok kita memancing ikan lagi?" ucap Pak Ujang mengajak Bian untuk memancing lagi.
"Boleh itu, Pak. Kebetulan aku senang bisa pergi memancing."
Pak Ujang dan Bu Anita merasa sangat senang melihat senyuman Bian.
Sementara itu, seorang wanita sedang merasa sangat cemas. Dia berkali-kali menghubungi kekasihnya, tetapi tidak dijawab sama sekali.
~Bersambung~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
Rosli Mijn
lagi
2023-01-26
1
Adiwaluyo
wooooo,, semua terpesona dengan ketampanan bian.
ayo bian mancing lg biar dpt banyak
2023-01-21
0