"Dengar, Nona Tessa! selama aku masih ada, aku tidak akan membiarkan kamu menjadi ibu Elvano," sambung Ayara lagi, dengan tegas dan mata yang berapi-api.
"Hahaha, lucu sekali kamu! Kamu tidak punya hak sama sekali. Ingat, kamu hanya seorang pengasuh. Atau jangan-jangan kamu bermimpi untuk menjadi nyonya Julian? Cih, kamu pikir kamu pantas? ngaca kamu ngaca! bahkan untuk dibandingkan dengan pegawai paling rendah di kantor Julian saja kamu tidak pantas,apalagi dibandingkan dengan aku," hina Tessa,menatap Ayara dengan tatapan sinis dan jijik.
"Lagian, siapa yang mau jadi Ibu anak itu? Aku juga tidak sudi! Nanti aku akan melahirkan anak sendiri yang pasti darah daging Julian, bukan anak pungut seperti anak itu. Dan asal kamu tahu, setelah anak kami lahir nanti, lambat laun aku akan menyingkirkan si anak pungut itu, jauh-jauh. Karena dia pasti nanti akan menjadi bumerang, yang bisa saja meminta hak waris. Enak saja! yang pantas jadi hak waris, hanya anak kandung dari Julian!" lanjut Tessa lagi.
"Baby Vano bukan anak pungut? Dia ini anak ...." hampir saja Ayara keceplosan.
"Anak apa? Anak angkat? sepertinya lebih pantas disebut anak pungut karena dia memang sengaja dibuang dan dipungutkan? Kalau dari panti asuhan, baru bisa dikatakan anak angkat,"
Ayara mengepalkan tangannya, menggertakkan giginya mendengar semua ucapan menghina dari Tessa.
Tanpa bisa Ayara cegah, tiba-tiba Tessa kembali menggendong baby Elvano. Kenapa? Karena dia mendengar langkah dan suara Sarah yang sepertinya datang.
"Awas kalau kamu mengadu. Vano ada di tanganku. Sekali saja kamu buka mulut, jangan harap bayi ini selamat. Aku akan dengan tega menjatuhkannya ke lantai!" ancam Tessa, membuat wajah Ayara pucat.
"Nak, Tessa ternyata kamu masih di sini? Betah juga kamu ya?" Sarah kini sudah berdiri di ambang pintu.
"Bagaimana tidak betah, Tante. Baby Vano sangat lucu dan imut,bahkan aku sangat berat untuk meletakkannya di dalam box, walaupun sekarang dia sudah tidur," Tessa kembali memasang aktingnya.
"Waduh,kamu benar-benar penyayang dan keibuan, Tessa. Tante yakin kalau Julian tahu hal ini, dia pasti akan secepatnya menikahimu. Tante tahu kalau kamu masih sangat ingin menggendongnya, tapi sebaiknya letakkan saja dia di dalam boxnya biat dia lebih nyaman tidurnya!"
"Begitu ya, Tan? Oke deh!" Tessa melangkah ke arah box dan meletakkan bayi itu. Namun,dia sama sekali tidak bergerak. Dia masih setia berdiri di samping box bayi, untuk berjaga-jaga kalau Ayara akan buka mulut setelah dia merasa Elvano aman.
"Tessa, kita turun lagi yuk! Biarkan saja Ayara yang menjaganya!"
"Tante turun duluan saja! Aku belum puas melihat wajah baby Vano. Nanti aku akan langsung menyusul Tante!" tolak Tessa dengan halus.
Sarah kembali tersenyum lebar. Merasa semakin yakin kalau Tessa adalah pilihan yang tepat untuk Julian.
"Baiklah, Tante turun duluan ya. Nanti kamu nyusul aja!" Sarah kembali keluar setelah Tessa menganggukkan kepala.
Tessa melirik ke arah pintu untuk memastikan kalau Sarah sudah benar-benar jauh.
"Anda benar-benar licik,Nona Tessa!" Ayara buka suara kembali.
Tessa tersenyum smirk, mendengar ucapan Ayara. "Untuk mendapatkan apa yang kita mau,kadang kita perlu melakukan hal licik. Jangan sok baik, karena tidak ada gunanya sama sekali. Kebaikanmu tidak akan bisa membuatmu kaya,"
"Terserah kamu mau mengatakan apapun. Yang jelas aku yakin kalau kebaikan akan berbuah baik, dan kalau kejahatan akan berbuah buruk walaupun memang tidak instan!"
Tawa Tessa kembali pecah mendengar ucapan Ayara yang dia anggap hanya bualan.
"Terserah kamu mau mengatakan apapun! Kalau kamu baik ya silakan. Tetap pertahankan prinsipmu! Oh ya,aku sudah malas berbicara denganmu. Benar-benar membuat waktuku terbuang sia-sia. Aku mau pergi dulu!"
Tessa mengayunkan kakinya melangkah menuju pintu. Namun, sebelum mencapai pintu, tiba-tiba wanita itu, berhenti melangkah dan kembali menoleh ke belakang.
"Dengar, Ayara, sekali lagi aku ingatkan kamu, jangan sampai kamu mengadukan ini semua pada Tante Sarah maupun Julian. Kalau kamu sempat mengadukan ini, aku tidak bisa jamin kalau baby Vano akan bisa selamat. Karena kalau aku sudah nekad, aku akan menghalalkan berbagai cara untuk melenyapkanmu, bahkan anak itu. Aku bahkan tidak takut untuk di penjara maupun harus mati. Yang penting aku puas membalaskan dendam pada orang yang berani menggagalkan semua rencanaku, paham kamu!" ancam Tessa dengan wajah sadis, membuat Ayara seketika merasa gentar.
"Lagian, aku yakin kalaupun kamu mengadukanku, Tante Sarah tidak akan percaya padamu, karena aku sudah memikirkan cara,membuat Tante Sarah lebih mempercayaiku,dari pada kamu. Aku bisa pastikan sekali saja, kamu berniat mengadukan tentangku, kamu justru yang akan dikatakan memfitnahku. Dan kalau sudah begitu, kamu pasti akan dipecat," lanjut Tessa lagi, sembari tersenyum licik. Kemudian wanita itu kembali melanjutkan langkahnya, keluar dari kamar Elvano.
Setelah Tessa keluar,Ayara langsung menghempaskan tubuhnya duduk di atassofa dengan lemas. Tadinya dia berharap kalau Julian melihat rekaman CCTV di saat Tessa memberikan Vano padanya dengan kasar.
"Sepertinya Tuan Julian tidak melihat CCTV, karena kalau dia melihat, dia pasti sudah datang dari tadi," bisik Ayara pada dirinya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Semetara itu, Julian terlihat gelisah di kursinya. Pria itu sama sekali tidak konsentrasi untuk melakukan pekerjaannya. Pikirannya fokus pada Gilang yang pergi seenaknya. Yang membuat dia kesal, ketika dia mengingat kalau sahabatnya itu, mengatakan akan menemui Ayara.
"Gilang memang kurang ajar. Ini nih, kalau orang yang juga mempunyai penghasilan sendiri. Jadinya aku tidak bisa mengancamnya potong gaji," Julian mengumpat tidak jelas.
Julian yang benar-benar gelisah, tidak bisa duduk dengan tenang. Pria itu berdiri dari tempar duduknya dan berjalan ke arah jendela . Dia menyingkap tirai dan melihat ke luar gedung perusahaanya. Merasa tidak betah, pria itu melangkah, kembali ke kursinya.
Entah dorongan dari mana pria itu membuka kembali rekaman CCTV di kamar Elvano. Mata pria itu sontak memicing karena tidak melihat adanya Ayara di kamar itu, demikian juga dengan Elvano.
"Di mana dia? Bukannya tadi dia ada bersama wanita bernama Tessa itu? Tapi, sekarang kenapa mereka sama-sama tidak ada?" gumam pria itu dengan wajah memerah, kesal.
Kemudian, dia memeriksa rekaman CCTV di ruangan lain, yaitu ruang tamu. Namun, lagi-lagi pria itu tidak melihat sosok Ayara. Yang dia lihat, hanya mamanya dan Tessa yang sepertinya sedang asik saling bercanda. Tidak mau menyerah, Julian kembali memeriksa rekaman CCTV di ruangan lainnya, dan hasilnya tetap sama.
"Brengsek! Di mana sih wanita itu? Atau jangan-jangan ...." Dengan kepanikan yang tiba-tiba, Julian berlari keluar dari ruangannya.
Tbc
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Truely Jm Manoppo
dasar wanita licik si Tessa, kejahatan pasti terbongkar cepat ato lambat seblm kamu nikah dgn Julian. 😡😡😡
2023-12-10
0
༄༅⃟𝐐Shanum🎀
sabar papa Jul 🤣🤣🤣🤣
2023-09-29
0
Anisul Mukaromah
haisss seharusnya julian lihat rekaman cctv sebelum ayara menghilang dari kamar jadi dia juga bisa liat adegan si tessa yang menunjukkan wujud aslinya
2023-01-21
2