Di kediaman Julian
Sebuah mobil berwarna putih memasuki pekarangan rumah mewah itu dan berhenti dengan sempurna.
Pemilik mobil yang tidak lain adalah Gilang, tampak turun dari dalam mobil dan langsung berjalam menuju pintu masuk.
"Aneh, tadi aku ke kantor Julian, kata resepsionis dia keluar dengan terburu-buru,tapi di mana mobilnya?" Gilang mengedarkan pandangannya ke segala penjuru halaman.
"Emm, sebaiknya aku masuk ke dalam saja. Mending aku tanya tante Sarah, atau Ayara,". Gilang kembali melanjutkan langkahnya, masuk ke dalam rumah.
Setelah kakinya menapak di lantai ruangan tamu, Gilang mengucapkan salam. Setelah menunggu beberapa saat dari ruangan lain, yang dia ketahui ruangan keluarga, muncul Sarah,mamanya Julian.
"Eh, Gilang! kamu datang mau mengambil dokumen penting ya! Langsung aja, Nak kamu naik ke ruangan kerja Julian. Kamu cari sendiri dokumennya!" tutur Sarah tanpa basa-basi, karena seperti itulah yang ada di pikirannya, sesuai dengan alasan yang diberikan Julian tadi.
Gilang, sontak mengrenyitkan keningnya bingung. "Dokumen? Dokumen apa maksudnya, Tante?" Kini gantian Sarah yang mengrenyitkan kening.
"Kenapa kamu malah tanya Tante? Tadi Julian pulang dengan buru-buru dan panik. Pas Tante tanya katanya dia mencari kamu ke sini, karena kamu dia minta untuk mengambil dokumen yang sangat penting. Tapi, karena kamu lama dan ponselmu katanya tidak bisa dihubungi, dia jadinya pulang mencarimu," tutur Sarah panjang lebar.
Tawa Gilang sontak pecah. "Takut juga dia rupanya! Kata tidak suka, eh giliran diancam aku mau dekatin Ayara, eh dia panik juga," batin Gilang masih tetap tertawa, hingga membuat wanita paruh baya di depannya bingung. "Kenapa kamu malah tertawa?" tanya Sarah dengan alis bertaut.
"Oh, nggak Pa-pa, Tante. Tiba-tiba ada yang lucu saja. Oh ya, jadi Julian ada di ruang kerjanya, Tante?" Gilang akhirnya mengalihkan pembicaraan.
"Emm, tidak ada,Nak Gilang. Dia tadi Tante suruh bawa Tessa calon istrinya jalan-jalan. Tapi, Ayara dan baby Elvano juga ikut,"
Kening Gilang seketika berkerut, mendengar nama Tessa disebutkan oleh mamanya Julian itu. "Tessa?" ulangnya memastikan.
"Iya,Nak. Julian tidak pernah cerita ya?"
"Pernah kok Tante. Hanya saja aku bingung kenapa Tante ingin sekali menjodohkan Julian dengan gadis itu?"
"Itu karena aku merasa dia gadis yang cocok dengan Julian. Di samping dia berpendidikan, dia juga wanita yang sangat anggun dan lembut dalam bersikap," Sarah tersenyum saat menceritakan Tessa.
"Emm,maaf ya Tante, bukannya aku berniat ingin menghalangi niat Tante untuk menjodohkan Julian dengan wanita bernama Tessa itu. Tapi, menurutku, sepertinya niat Tante menjodohkan mereka hanya karena melihat wanita itu lembut dalam bertutur kata tidaklah masuk akal. Karena tidak semua orang yang manis dalam bertutur kata itu baik. Bisa saja itu hanya kamuflase untuk menutupi sikap dia yang sebenarnya," tutur Gilang dengan sangat hati-hati dan sopan, takut kalau wanita paruh baya itu, tersinggung dengan kata-katanya.
"Aku tahu tentang itu, Nak Gilang. Tapi, aku yakin kalau kali ini pilihan Tante tidak salah."
"Tante,maaf sekali lagi, kalau aku lancang! Menurutku lebih baik, biarkan Julian memilih pasangan dia sendiri karena dia nantinya yang akan menjalani rumah tanggannta sendiri,"
Sarah sontak memicingkan matanya, tiba-tiba merasa tidak suka dengan apa yang dikatakan Gilang. Dia merasa Gilang sudah terlalu ikut campur. "Nak Gilang, aku adalah wanita yang sudah melahirkan Julian. Jadi,aku tahu mana yang terbaik untuk anakku. Tidak mungkin aku menjerumuskan anakku sendiri pada wanita yang salah. Jadi, tolong jangan ikut campur masalah perjodohan Julian, sekalipun kamu itu sahabatnya!" tegas Sarah dengan penuh penekanan.
Gilang menarim napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara dengan embusan yang cukup panjang dan berat.
"Maaf, kalau Tante merasa aku terlalu ikut campur. Tapi sebagai sahabat Julian juga, aku ingin melihat dia bahagia. Aku tahu kalau Tante adalah ibu yang melahirkan Julian, tapi apa yang mungkin Tante anggap baik belum tentu baik untuk Julian. Aku juga cukup tahu Julian Tante, karena aku sudah mengenalnya dari kami duduk di bangku SMA, waktu yang cukup lama untuk mengenal satu sama lain," kembali Gilang berbicara panjang lebar.
"Nak Gilang, aku tahu kamu sudah berteman lama dengan anakku. Tapi kamu jangan lupa, kalau dia lahir dari rahim ini. Kamu mengenalnya dari SMA, sedangkan aku dari dia di dalam kandungan sampai dia dewasa. Jadi, sekali lagi Tante sarankan jangan terlalu jauh mencampuri urusan perjodohan Julian! Sekarang kamu boleh pergi!" Sarah berbalik dan hendak melangkah kembali masuk ke dalam ruang keluarga
"Tante, jangan pergi dulu!" Sarah yang nyaris melangkah, menyurutkan langkahnya dan kembali berbalik menoleh ke arah Gilang.
"Ada apa lagi, Nak Gilang? apa perkataanku tadi kurang jelas?" Sarah menatap tidak suka ke arah Gilang.
"Cukup jelas Tante. Tapi satu yang mau aku katakan, kalau Julian sebenarnya tidak bahagia dengan perjodohan ini. Aku rasa Tante sudah tahu alasannya kenapa. Karena aku dengar dari Julian kalau Tante memberikan dia waktu sebulan untuk menemukan wanita yang pernah dia renggut kehormatannya itu." Gilang berheti berbicara beberapa saat untuk mengambil jeda.
"Julian berusaha keras untuk menemukan wanita itu Tante,dan harusnya Tante bisa menarik kesimpulan kenapa dia bisa mati-matian untuk mencari gadis itu sampai membayar orang mahal-mahal. Bukannya itu berarti kalau dia sangat tidak menginginkan perjodohan yang Tante atur untuknya? Itu dia lakukan bukan hanya karena ingin bertanggung jawab, tapi juga karena ingin menghindari perjodohan,Tante," sambung Gilang lagi dengan panjang lebar.
Sarah terdiam untuk beberapa saat. Berpikir keras semua ucapan yang terlontar dari mulut sahabat anaknya itu.
"Nak Gilang, aku tahu itu. Tapi dengan aku sudah memberikan dia waktu untuk menemukan wanita itu secepatnya, bukannya itu aku sudah bijaksana? Kecuali aku tidak memberikan dia waktu, dan memaksanya untuk menikah secepatnya dengan Tessa, barulah aku bisa dikatakan mama yang tidak baik. Jadi, tolong berhenti menggurui dan berniat mempengaruhiku!"
"Maaf, kalau Tante merasa aku menggurui, Tante. Tapi, sumpah demi apapun, aku tidak berniat untuk menggurui Tante. Aku hanya ingin menyampaikan apa yang ada di pikiranku, karena aku juga menginginkan kebahagian Julian. Tapi, satu hal yang ingin aku tanyakan pada Tante. Kalau dalam waktu yang Tante berikan,Julian belum berhasil menemukan gadis itu, kenapa harus Tessa yang Tante pilih? Bukannya seharusnya Tante bertanya lebih dulu, apakah ada seorang wanita yang disukai oleh Julian, sebelum menjodohkan dengan wanita bernama Tessa itu? Bukannya Tante mengatakan kalau Tante hanya ingin melihat Julian bahagia? Tapi kenapa Tante tidak memberikan kebebasan pada Julian lebih dulu untuk menentukan pilihanya sebelum Tante menentukan pilihan Tante? Aku rasa ... Maaf kalau sedikit keras, Tante. Aku rasa, Tante kurang bijaksana sebagai Ibu, kalau Tante langsung mengambil keputusan tanpa bertanya lebih dulu pada orang yang akan menjalaninya!" ucap Gilang, dengan bijak.
"Maaf sekali lagi, kalau aku mengatakan hal ini. Aku merasa dan punya keyakinan kalau Tessa bukan wanita yang baik! Aku pamit, Tante!" pungkas Gilang sembari beranjak pergi meninggalkan Sarah yang berdiri terpaku di tempatnya.
Tbc
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
sebagai ibu yg merasa bijaksana dan bijaksini ... harusnya mama Sara mikiiiiiirrrr .... kenapa Gilang akhirnya sampe bilang kalo Tessa bukan wanita yg baik.
kalo emang mam Sara bener2 sayang sama Julian, ayo selidiki dulu yg bener itu perempuan yg "keliatannya" baik itu ...
2023-12-23
0
Wanti Suswanti
bagus Gilang..kadang orang yg mengaku mengenal anaknya dari kandungan gak sadar bahwa mereka kadang suka memaksa kehendak tdk memikirkan akibat yg terjadi nantinya..
2023-12-16
0
Truely Jm Manoppo
good job Gilang .... semoga mama Sarah sadar ....
2023-12-10
0