Setelah pembicaraan dengan Julian sudah selesai, Ayara pun membawa baby Elvano ke kamar yang sudah dipersiapkan dengab baik.
Sesampainya di dalam kamar, Ayara pun langsung menutup pintu dan memberikan ciuman yang bertubi-tubi ke arah bayi itu, tanpa menyadari kalau Julian memasang CCTV di sana.
Setelah puas memeluk dan mencium putranya itu, Ayara pun meletakkan bayi itu ke dalam box bayi dengan sangat hati-hati.
"Tidur yang nyenyak ya, anak Mama. Mama akan selalu ada di dekatmu, walaupun memang status mama hanya sebagai pengasuh," ucap Ayara sembari membelai lembut pipi Elvano, yang tiba-tiba tersenyum walaupun mata bayi itu tertutup.
"Aduh, anak mama senyum ya? Kamu tahu ya kalau ini mama kamu," Ayara tetap saja mengajak baby Vano berbicara, walau bayi itu tidak membalas ucapannya.
Brakk
Pintu tiba-tiba terbuka dengan kencang, hingga membuat Ayara tersentak kaget dan baby Elvano menangis, karena kaget juga.
Ayara sontak mengeluarkan baby Vano dan menoleh ke arah pintu, kaget melihat Julian yang menatapnya dengan sangat tajam. Sepertinya pria itu tengah marah, tapi Ayara tidak tahu apa yang membuat pria itu marah.
"Tu-tuan, ada apa?" tanya Ayara dengan gugup sembari menggoyang-goyangkan tubuh kecil Vano, berusaha untuk membuat bayi itu diam.
"Ada apa kamu bilang? Kamu kenapa menciumi pipi anakku tadi berulang-ulang, dan bahkan memeluknya erat? Hah!"
Ayara tersentak kaget, bingung darimana Julian bisa tahu apa yang sudah dia lakukan.
"Bukannya aku sudah katakan kalau hal yang berkaitan dengan Vano harus steril. Siapa yang bisa tahu kalau bibir kamu yang menyentuh pipi Vano tadi bersih dari kuman?" lanjut Julian lagi dengan nada tinggi dan mata memerah, hingga membuat Ayara semakin ketakutan.
"Ayara, tenang Ayara. Kamu jangan takut dan jangan juga terpancing emosi. Dia marah karena dia sangat mengkhawatirkan Elvano," Ayara, berusaha menenangkan diri sendiri.
"Maaf, kalau yang aku lakukan tadi, Tuan anggap salah. Tapi, aku berani jamin, kalau aku ini bersih dan sehat, Tuan karena aku dari tadi di rumah saja. Justru sebenarnya yang diragukan itu, Tuan sendiri, karena Tuan baru dari rumah sakit dan sama sekali belum mandi dan mengganti pakaian," Ayara memberanikan diri untuk melakukan pembelaan diri.
Julian terdiam, mendengar pembelaan wanita di depannya itu. Namun, diamnya dia hanya sebentar saja, karena detik berikutnya pria itu sudah kembali menatap Ayara dengan tajan dan mendengus. "Kamu tidak perlu mengajariku, aku lebih tahu mana yang terbaik. Pakaiannku tidak dicuci dengan cara biasa, tapi cara khusus dan memakai detergent khusus juga. Jadi, pastinya pakaianku ini sterill," ucap Julian, tidak mau disalahkan.
"Cara khusus? Apa caranya dibelai-belai dengan lembut atau dicium-cium? Lagian mau dicuci pakai cara apapun itu dan pakai detergen semahal berlianpun, tetap saja kalau sudah dipakai, judulnya tetap kotor apalagi dari rumah sakit," ucap Ayara yang tentu saja hanya berani dia ucapkan dalam hati.
"Kenapa kamu diam? Apa kamu ingin membantahku lagi?" Julian kembali membentak.
"Tidak, Tuan! Maaf kalau aku memang salah dan lain kali aku akan lebih hati-hati. Tapi, kalau boleh ... aku mohon agar suara Tuan jangan sekencang tadi, karena itu membuat baby Vano kaget, dan takutnya kekagetannya berpengaruh pada jantungnya,"
Wajah Julian seketika berubah panik, begitu mendengar kata jantung. Pria itu sontak menghampiri Ayara dan refleks untuk mengambil alih bayi itu dari gendongan Ayara.
Karena tindakan Julian yang tiba-tiba, Ayara tidan sempat menghindar, sehinga tangan Julian tidak sengaja menyentuh dua benda kembar yang menggantung di dada wanita itu.
"Haish,apa aku menyentuh dua benda itu? Dia pasti menganggapku pria mesum dan brengsek," bisik Julian pada dirinya sendiri.
"Tu-tuan, kalau mau menggendong baby Vano, aku mohon jangan buru-buru seperti tadi, karena __"
"Sudahlah, tidak perlu berlebihan! aku kan tidak sengaja menyentuhnya. Salah sendiri membuat aku panik," Julian benar-benar tidak mau disalahkan.
"Dasar laki-laki egois! Apa salahnya sih minta maaf?" umpat Ayara, menggerutu dalam hati. Namun kekesalan Ayara hanya bertahan untuk beberapa saat, karena setelah melihat apa yang dilakukan oleh Julian pada putra mereka, hati Ayara kembali menghangat.
"Anak, Papa tadi kaget ya? Maaf ya, Nak, karena membuatmu kaget. Jantung kamu tidak apa- apa kan?" Julian memberikan ciuman yang berkali-kali di pipi Elvano.
"Tuan, bukannya Tuan tadi mengatakan kalau tidak boleh sembarangan mencium pipi baby Vano? Tapi kenapa Tuan __"
"Karena aku ini papanya! dan seperti yang aku katakan tadi, kalau semua yang menempel di badanku ini bersih dari segala kuman," belum selesai Ayara bicara, Julian sudah menyela ucapan wanita itu, dengan nada yang penuh percaya diri.
Ayara sontak menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara, berusaha untuk bersabar menghadapi sikap Julian.
"Nih, kamu gendong lagi! Kamu tidurkan dia, setelah itu kamu ikut aku ke rumah sakit," Julian memberikah baby Vano lagi ke dalam gendongan Ayara.
"Ke rumah sakit, Tuan? tapi untuk apa?" Ayara mengrenyitkan keningnya.
"Apa kamu pura-pura lupa atau memang sengaja lupa? Bukannya tadi aku sudah mengatakan kalau kamu harus test kesehatan dulu baru bisa jadi ibu susu putraku?" nada bicara Julian benar-benar kesal.
"A-aku ingat, Tuan. Tapi apa harus sekarang ya Tuan check kesehatannya?"
"Tidak! Tahun depan ... Ya, sekaranglah! Masa harus nunggu besok?"
Tbc
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Esih Mulyasih
awal jd tim and Jerry 🤭😁😁 akhirnya jd bucin akut 😂🥰😍🤩
2024-11-04
0
Truely Jm Manoppo
😃😃😃😃 ... papa Julian.
2023-12-09
0
༄༅⃟𝐐Shanum🎀
Ayara jgn bikin papa Jul esmoni donk 🤣🤣
2023-09-28
0