Sementara itu, di kediaman Julian tampak Tessa sedang bercengkrama dengan Sarah. Seperti biasa wanita muda itu selalu memperlihatkan sikap anggun dan berbicara dengan lembut.
"Tessa, apa kamu menyukai bayi atau anak kecil?" setelah banyak berbasa-basi, Sarah mulai mengalihkan pembicaraan yang mengarah ke baby Elvano.
Tessa tidak langsung menjawab.Wanita itu terlebih dulu menyunggingkan senyum manisnya. Wanita itu tahu kalau Sarah mamanya Julian tengah mengujinya.
"Emm, Tante aku tuh dari dulu memang sangat menyukai bayi dan anak-anak. Karena aku melihat wajah mereka yang polos tanpa dosa. Kecerian mereka secara tidak langsung selalu mendatangkan aura positif. Makanya kalau aku menikah nanti, aku tidak mau menunda untuk punya anak,"
Jawaban Tessa sontak membuat Sarah tersenyum. Wanita paruh baya itu semakin merasa yakin kalau Tessa adalah wanita yang tepat untuk Julian.
"Emm, kenapa Tante bertanya seperti itu?" lagi-lagi Tessa berpura-pura tidak tahu.
"Oh, Tante hanya ingin tahu saja, Sayang. Kamu kan sudah tahu sendiri kalau Julian mengadopsi bayi yang sangat dia sayangi. Tante hanya berharap agar kamu bisa menyayangi bayi itu juga dan menganggap seperti anak kandung sendiri.
"Seperti itu ya,Tante? Aku bisa mengerti apa yang Tante takutkan, tapi percayalah, Tante kalau aku akan tetap menyayangi bayi itu seperti anak kandung sendiri," Tessa berbicara dengan intonasi dan ekspresi yang meyakinkan.
"Syukurlah! Tante benar-benar tenang sekarang," Sarah mengembuskan napas lega.
"Oh ya,Tante, apa aku bisa melihat baby Elvano? Aku ingin sekali bisa menggendongnya, " untuk menyempurnakan aktingnya,Tessa berpura-pura ingin sekali bisa menemui Elvano. Padahal seandainya bisa mendengar isi hati wanita itu, bisa dipastikan kalau wanita itu sedang mengumpati baby Elvano.
Sementara itu, wajah Sarah sontak berbinar mendengar permintaan wanita yang dia inginkan menjadi menantunya itu.
"Kamu serius, Tessa?" tanya Sarah memastikan.
"Tentu saja serius, Tante! Bisa kan aku melihat anak itu?" ulang Tessa.
"Oh, tentu saja bisa. Justru Tante sangat senang sekali. Ayo kita ke kamarnya! Di sana ada Ayara pengasuh baby Elvano," sarah berdiri dari kursinya, melangkah naik menuju kamar baby Elvano dan disusul oleh Tessa dari belakang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Tessa, itu Ayara pengasuh baby Elvano!" Sarah menunjuk ke arah Ayara.
Tessa memaksakan untuk tersenyum ke arah Ayara.
"Kenapa pengasuh ini cantik dan masih muda? Kalau begini aku harus waspada. Dia sepertinya ancaman bagiku untuk bisa mendapatkan hati Julian," bisiknya pada dirinya sendiri.
"Ayara, mari sini sebentar!" Sarah memanggil Ayara dengan sangat lembut,membuat Tessa merasa tidak suka.
"Kenapa sih,harus lembut memanggil wanita itu? Nanti dia kan bisa ngelunjak," lagi-lagi Tessa menggerutu dalam hati.
"Iya, Bu?" Ayara kini sudah berada di dekat Sarah dan Tessa sembari membawa baby Elvano di gendongannya.
"Ayara, kenalkan ini Tessa dan kemungkinan akan jadi calon istri Julian," Sarah memperkenalkan Tessa dengan tetap tersenyum.
"What? Masih kemungkinan? kenapa Tante Sarah tidak mengatakan calon istri sih? Kenapa masih pakai kata kemungkinan?" batin Tessa kesal, tapi dia tetap mengulurkan tangannya ke arah Ayara yang tiba-tiba tidak dia suka dan dia anggap saingan.
"Ayara," Ayara tersenyum manis.
"Tessa," sahut Tessa, tanpa senyuman.
Sementara itu, Ayara merasa ada yang aneh dengan sikap Tessa. Entah kenapa dia merasa kalau wanita di depannya itu bukan orang yang tulus. Karena bagaimanapun, sebenarnya dia cukup bisa membaca air muka seseorang.
"Boleh aku menggendong baby Vano?" seperti biasa,Tessa berbicara dengan sangat lembut, dan tetap memasang senyum lebar.
Ayara tidak langsung memberikan baby Vano pada Tessa, karena jujur saja feeling wanita itu benar-benar tidak enak.
"Ayara, kenapa kamu bengong? Tessa meminta untuk menggendong baby Vano tuh!" tegur Sarah.
"Oh, i-iya. Maaf, Mbak. Ini baby Vanonya," Ayara memberikan baby Vano ke tangan Tessa, walaupun hatinya tidak ikhlas.
Tessa menerima baby Vano dengan mulut yang tersenyum tapi hati menggerutu. Benar-benar bermukan dua.
"Hai,baby Vano. Kamu tampan sekali, dan sangat lucu!" Tessa mentoel-toel pipi dan hidung bayi yang ada dalam gendongannya.
Sarah yang melihat itu, mengulas senyum dan mengambil video untuk dia kirimkan pada Julian putranya.
Sementara itu di lain tempat, Julian yang wajahnya dari tadi terlihat ditekuk,meraih ponselnya karena ada bunyi dentingan yang berarti ada yang sedang mengirimkan pesan untuknya.
"Mama? Tumben mama mengirimkan pesan." batin Julian sembari membuka pesan mamanya yang ternyata berupa video. "Nak, sepertinya Tessa memang wanita yang cocok untukmu.Lihatlah dia sangat menyayangi Elvano,"
Julian tersenyum tipis dan membuka notebook dan menhidupkannya. Setelah itu, pria itu membuka CCTV,dan melihat dengan jelas apa yang terjadi di sana.
"Emm, sepertinya mama benar. Dia telihat sangat menyayangi Vano. Tapi, bagaimana pun aku harus tetap mencari siapa wanita malam itu. Kalau dia sudah menikah dan bahagia, baru aku bisa merasa tenang," bisik Julian pada dirinya sendiri dengan tangan yang menutup kembali notebooknya. Tanpa menyadari kalau apa yang terjadi di kamar Elvanosudah berbanding terbalik 180 derajat, di mana Tessa menunjukkan sifat aslinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Nih, kamu yang gendong anak ini! Aku sudah capek!" Tessa memberikan baby Vano ke Ayara dengan kasar,setelah Sarah izin untuk keluar sebentar.
"Aduh, hati-hati dong, Mbak! Ini manusia bukan benda mati!" ucap Ayara, kesal.
"Suka-sukaku lah! itu mah, kamu masih beruntung,daripada aku lempar? Lagian dia bukan anakku dan dia juga hanya anak angkat," Tessa tersenyum sinis. "Oh ya, kamu jangan panggil aku mbak! panggil aku, Non! kamu dengar kan tadi kalau aku ini calon istri dari Tuanmu!". Ucap Tessa, begitu bangga.
"Sepertinya aku tidak tuli, Mbak. Aku dengan masih kemungkinan. Itu berarti belum pasti. Atau Mbak ini tidak tahu arti kemungkinan?" Ayara tidak merasa takut sama sekali.Entah kenapa dia merasa tidak takut kalau nantinya Tessa mengadu tidak-tidak, yang bisa membuatnya dipecat jadi pengasuh.
Tessa menggeram,mendengar ucapan Ayara yang menurutnya terlalu lancang.
"Apa kamu bosan bekerja di sini? Aku bisa mengadukan kamu,biar kamu dipecat," ancam Tessa.
"Dan aku sangat yakin kalau Tuan Julian, tidak akan mudah percaya dengan apa yang anda adukan. Di ruangan ini ada CCTV, bisa saja sekarang dia melihat perbuatan anda tadi. Karena biasanya Tuan Julian tidak pernah absen untuk melihat CCTV," Ayara tersenyum meledek.
Raut wajah Tessa seketika berubah pucat, apalagi begitu melihat sudut ruangan. Di sana termpampang jelas ada CCTV seperti yang dikatakan oleh Ayara.
"Kenapa dengan wajah Anda, Nona Tessa? Kenapa jadi pucat seperti itu? Udah mulai takut ketahuan ya,kalau sifat anggun yang anda tunjukkan selama ini palsu?" sindir Ayara masih dengan senyum meledek.
Tessa terdiam sembari mengepalkan tangannya. Tapi, hanya itu yang bisa dia lakukan, walaupun sebenarnya dia ingin sekali menampar pipi bahkan ingin menarik rambut Ayara, saat itu juga.
"Dengar, Nona Tessa! selama aku masih ada, aku tidak akan membiarkan kamu menjadi ibu Elvano," sambung Ayara lagi, dengan tegas dan mata yang berapi-api.
Tbc
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
MakBarudakh
Yeeessss Ayaraa
2024-03-04
0
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
jijay 🤮
2023-12-22
0
Truely Jm Manoppo
good job Araya .... 👏👏👏👏
2023-12-09
0