Sementara itu di dalam kediaman Julian, tampak wanita paruh baya yang dari tadi melihat ke arah jam yang menempel di dinding dan sesekali ke arah pintu.
"Kenapa Julian belum nyampe juga ya? harusnya kan sudah sampai." ucap wanita itu yang ternyata ibunya Julian. Wanita itu benar-benar merasa tidak enak pada 3 orang tamunya yang dari tadi juga menunggu kedatangan Julian.
Ya, alasan Julian mempercepat pulang dari kantor karena memang pria itu sudah berjanji pada mamanya, untuk cepat pulang menyambut tamu yang sebenarnya sangat tidak diinginkan oleh Julian.
Ketiga tamu itu adalah seorang gadis bernama Tessa bersama dengan kedua orang tuanya. Mamanya Julian benar-benar ingin melihat putranya menikah. Karena melihat Julian yang sepertinya cuek pada masalah pernikahan semenjak dikhianati oleh mantan kekasihnya dulu, membuat wanita paruh baya itu berniat menjodohkan Julian dengan Tessa.
"Maaf ya, Nak Tessa kalau Juliannya lama," ucap Sarah mamanya Julian, dengan ekspresi wajah yang merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, Tan. Mungkin jalanan lagi macet makanya Julian belum nyampe," nada bicara Tessa terdengar sangat lembut dan terlihat sangat pengertian, membuat Sarah semakin merasa kalau pilihannya tidak salah.
"Cih, baru kali ini aku menunggu seseorang sangat lama," ternyata sikap yang ditunjukkan oleh Tessa hanyalah kamuflase. Wanita itu sebenarnya sangat kesal dan sudah mengumpat di dalam hati, dari tadi.
"Tapi, kamu harus tetap menunjukkan sikap sabarmu Tessa. Ini semua demi supaya Tante Sarah menyukaimu dan kamu bisa menikah dengan Julian. Ingat saja kebahagiaan dan kemewahan yang menanti di depanmu," lanjutnya lagi, berbicara dalam hati.
"Tidak apa-apa kok Jeng Sarah. Benar kata Tessa, mungkin jalanan lagi macet makanya nak Julian belum sampai juga," mamanya Tessa buka suara, menimpali ucapan putrinya.
"Aduh terima kasih banyak atas pengertiannya, Jeng! aku jadi sedikit tenang!". Sarah melemparkan senyum tulusnya.
"Haish, kalau bukan karena kalian orang kaya, nggak sudi aku lama-lama menunggu di sini," ternyata sikap mamanya Tessa tidak jauh berbeda dengan putrinya.
"Permisi, Bu!" tiba-tiba security mengetuk daun pintu dan membungkukkan sedikit badannya.
"Ada apa Pak Bambang?" Sarah mengrenyitkan keningnya.
"Aku hanya mau menyampaikan pesan Tuan Julian saja, Bu. Tuan tadi sudah datang tapi sudah pergi lagi membawa seorang bayi ke rumah sakit,"
Sarah dan ketiga tamunya itu sontak terbeliak kaget dan langsung berdiri.
"Bayi? bayi apa maksudmu?" Tuang Julian tadi bawa bayi pulang, begitu?" suara Sarah sedikit meninggi, merasa sedikit tidak enak pada para tamunya. Wanita paruh baya itu takut kalau Tessa dan kedua orangtuanya, berpikiran negatif tentang Julian..
"Oh, ti-tidak, Bu! hanya saja tadi di depan pintu pagar ada yang meninggalkan bayinya. Ketika Tuan Julian menggendong bayi itu, tiba-tiba bayi itu menangis sampai membiru, makanya Tuan Julian langsung membawa ke rumah sakit," tutur Bambang dengan panjang lebar dan detail.
"Aduh, tega sekali ibu anak itu. Kenapa bayi yang tidak bersalah seperti itu harus dibuang?" Sarah berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mungkin anak itu anak di luar nikah, Tante. Ibunya malu, makanya anaknya dibuang. Dan sepertinya rumah ini sudah lama dia incar, makanya dia taruh bayi itu di depan rumah ini," Tessa buka suara, masih dengan suara lembutnya, padahal sebenarnya dia ingin meluapkan amarahnya, karena gagal bertemu dengan Julian.
"Tapi kenapa dia mengincar rumah ini?" Sarah menautkan kedua alisnya dengan tajam .
"Aduh, Tante ... masa Tante tidak paham? Ini kan rumah Julian, siapa sih yang tidak mengenal Julian? dia pasti sengaja meletakkan bayi itu di depan rumah Tante, karena dia ingin hidup anaknya itu terjamin. Kalau memang seperti itu, maaf ya Tan kalau aku lancang,tapi ini semua demi kebaikan keluarga Tante. Kalau menurut saranku, ada baiknya bayi yang ditemukan Julian tadi, diserahkan ke dinas sosial atau ke panti asuhan, karena banyak orang-orang sekarang yang sangat licik, Tan!" Tessa mulai mempengaruhi Sarah.
"Maksud kamu apa Nak Tessa? Tante benar-benar belum paham,"
"Tan, maksud aku ... zaman sekarang kan banyak yang ingin bisa hidup enak dengan instan. Jadi untuk menghindari keluarga Tante disusupi dengan orang-orang seperti itu, lebih baik Tante mengantisipasi dari awal. Entah kenapa ya, Tan, aku merasa ibu dari anak itu berniat tidak baik. Nanti kalau Tante merawat bayi itu di sini dan tahu kalau seisi rumah sudah menyayangi bayi itu, ibunya akan muncul dan meminta anaknya kembali. Karena semuanya sudah menyayangi bayi itu dan tidak ingin berpisah, maka ibu bayi itu menjadikan alasan itu untuk memeras keluarga ini. Atau lebih buruknya lagi, Tante, meminta Julian menikah dengannya, dengan alasan agar bayi itu bisa memiliki orang tua yang lengkap. Apa Tante mau kalau itu sampai terjadi nanti?"
Sarah terdiam, memikirkan ucapan Tessa. Wanita paruh baya itu merasa kalau ucapan Tessa ada benarnya.
"Emm, yang kamu ucapkan tadi sepertinya ada benarnya juga, tapi menurut Tante, tidak ada salahnya kalau kita berbaik sangka dulu. Mana tahu, ibu anak itu punya alasan yang baik, makanya dia rela memberikan bayinya pada orang lain."
Tessa seketika mengumpat di dalam hati karena caranya untuk mempengaruhi mamanya Julian itu tidak berhasil. Namun, wanita itu berusaha untuk tidak memperlihatkan kekesalannya.
"Tapi, Jeng yang dikatakan oleh Tessa tadi tidak ada salahnya dipertimbangkan juga. Karena memang benar banyak manusia licik sekarang," mamanya Tessa kembali buka suara, memberikan dukungan pada apa yang diutarakan putrinya tadi.
Sarah, mengulas seulas senyuman di bibirnya dan menganggukkan kepalanya. " Terima kasih, Jeng, Nak Tessa sudah berpikir sampai ke arah sana. Tapi, seperti yang aku katakan tadi, lebih baik kita berbaik sangka dulu. Dari dulu aku selalu percaya dan menekankan pada Julian, kalau kita berpikir positif, pasti hasilnya juga akan positif. Lagian, kenapa aku memilih untuk berbaik sangka, karena jarang-jarang Julian bersikap seperti tadi. Dia sampai menggendong bayi itu, itu benar-benar hal yang sangat jarang terjadi, Jeng. Bisa saja dia mendorong kereta bayi itu masuk ke rumah kan?" tutur Sarah panjang lebar dan tanpa jeda, sehingga kekesalan Tessa dan mamanya semakin bertambah.
"Emm, iya juga ya, Jeng. Kalau begitu, aku sangat salut pada Nak Julian. Aku jadi semakin setuju dan bahagia Jeng, kalau putriku Tessa menikah dengan Nak Julian nanti. Aku jadi merasa tenang, karena yakin kalau putriku ada di tangan orang dan keluarga yang tepat," pungkas mamanya Tessa, akhirnya, tidak mau melanjutkan provokasinya, khawatir kalau Sarah nantinya tidak suka dengan mereka, dan batal menjodohkan Julian dengan Tessa putrinya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
Tessa sama mama nya ini keluarga tuyul uget2 ..
2023-12-22
1
Truely Jm Manoppo
calon menantu yg licik pura2 baik cuma karna hartanya. pasti gagal
2023-12-09
0
༄༅⃟𝐐Shanum🎀
iya kalian berdua lah yg licik 😤😤
2023-09-27
0