Di sebuah rumah sakit besar, tampak Julian menandatangani sebuah berkas yang merupakan berkas persetujuan untuk melakukan operasi atas nama Elvano.
Entah kenapa pria itu tanpa pikir panjang dan banyak tanya, langsung mengiyakan operasi itu, walaupun kehadiran bayi itu di depan rumahnya masih menyimpan tanda tanya.
"Jul,kamu yakin mau jadi wali bayi itu?" Gilang asistennya bertanya untuk memastikan.
"Tidak ada salahnya kan? justru kalau aku menolak dan terjadi apa-apa pada anak itu, rasa berdosa akan terus menerus menghantuiku. Urusan berhasil atau tidak berhasilnya operasinya, itu urusan belakang, yang penting kita sudah berusaha," sahut Julian, tegas dan lugas.
Mendengar jawaban Julian, Gilang tidak menanggapi lagi, karena dia tahu benar bagaimana karakter Julian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Operasi baby Elvano akhirnya berjalan dengan lancar dan sekarang bayi itu sudah dipindahkan ke ruangan intensif, untuk pemulihan.
Dari balik kaca, sebuah senyuman terbit di bibir pria itu, bahkan matanya, ikut-ikutan berkaca-kaca, menatap baby Elvano yang tertidur.
"Entah apa yang ada di pikiran mama kamu sampai tega membuang bayi se tampan dan selucu kamu. Tapi, aku yakin, mamamu pasti sangat terpaksa melakukannya karena terbentur biaya. Mamamu melakukan semua ini demi kesembuhanmu," ucap Julian, walaupun dia tahu kalau bayi itu pastinya tidak bisa mendengar apa yang dia ucapkan.
Saat masih sedang fokus menatap baby Elvano, tiba-tiba ponsel pria itu berbunyi pertanda ada panggilan masuk.
Pria itu kemudian, memutuskan keluar dari ruangan itu untuk menjawab panggilan yang kebetulan datang dari orang kepercayaannya.
Setelah pria itu keluar, seorang wanita yang dari tadi sudah berdiri tidak jauh dari ruangan baby Elvano langsung masuk. Siapa lagi wanita itu kalau bukan Ayara. Wanita itu benar-benar sudah tidak bisa menahan diri lagi untuk melihat putranya pasca selesai operasi.
Dari balik kaca, wanita itu menatap ke dalam di mana putranya masih tertidur. Seakan tahu kalau wanita yang melahirkannya ada di dekatnya, baby Elvano merengek dan menggeliat.
"Cup, cup! jangan menangis ya Nak!" refleks Ayara mendiamkan baby Elvano dari balik kaca, tidak sadar kalau suaranya tidak mungkin bisa didengar oleh bayi di dalam sana. Namun, seakan Elvano bisa mendi suara Ayara, bayi itu tiba-tiba berhenti menggeliat dan diam.
Cairan bening seketika keluar dari kedua mata wanita itu yang dibarengi dengan senyum tipis.
"Nak, mama ingin sekali memelukmu. Maafkan Mama ya, Nak! Kalau boleh memilih, mama sebenarnya sangat tidak rela kalau harus berpisah denganmu. Tapi, mama benar-benar tidak punya pilihan, mama terpaksa memberikanmu pada papamu, demi kamu bisa tetap hidup. Mama harap, kalau kamu sudah besar nanti, kamu akan mengerti dan tidak marah ke mama. Untuk sekarang, setidaknya mama sudah sedikit tenang, karena tahu operasimu berjalan lancar. Mama harap kamu bisa cepat pulih, Nak." Ayara masih tetap mengajak baby Elvano untuk berbicara.
" Oh ya Nak, mama pergi dulu ya! takut kalau papamu tiba-tiba datang. Tapi, satu hal yang harus kamu tahu, walaupun ragamu jauh dari mama, tapi doa mama akan selalu menyertaimu," pungkas Ayara mengakhiri ucapannya. Kemudian, dengan sangat berat hati, wanita itu melangkahkan kakinya, keluar dari dalam ruangan itu dengan cara yang sangat hati-hati, sama seperti ketika dia menyusup masuk tadi.
Ayara melihat tubuh Julian yang berdiri membelakanginya, dengan jantung yang berdetak kencang, wanita itu pun melangkah dengan sangat hati-hati menjauh dari tempat itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di tempat yang tidak terlalu jauh dari ruangan baby Elvano, Julian tampak sedang terlibat pembicaraan serius dengan orang kepercayaannya.
"Jadi, kamu benar-benar tidak bisa tahu identitas wanita itu?" Julian berusaha menekan suaranya karena dia tahu posisinya sekarang ada di rumah sakit.
"Maaf sekali lagi, Tuan, aku benar-benar tidak bisa mengindentifikasi siapa wanita itu, karena wanita itu menutupi wajahnya dengan masker, kepalanya ditutupi dengan topi hoodie berwarna merah yang dia pakai. Tapi, yang jelas tubuh wanita itu tidak terlalu tinggi dan juga tidak terlalu pendek. Wanita itu, juga ramping dan memiliki kulit yang putih. Untuk lebih jelasnya, nanti aku akan mengirimkan rekaman video CCTV nya pada, Tuan," tutur seorang pria di seberang sana dengan detail.
"Baiklah! kamu langsung kirimkan video rekaman itu sekarang juga! titah Julian sembari menjauhkan ponsel dari telinganya, berniat hendak memutuskan panggilan Namun, tiba-tiba dia urungkan dan kembali menaruh di telinganya.
"Tunggu dulu, jangan matikan teleponnya!" pekiknya dengan cepat.
"Iya, Tuan? apa ada lagi yang mau Tuan tanyakan?"
"Bagaimana penyelidikanmu tentang wanita yang aku suruh kamu cari tahu setahun yang lalu? apa kamu sudah menemukan titik terangnya?" suara Julian terdengar mengintimidasi.
"Ma-maaf, Tuan! aku belum bisa menemukan siapa wanita itu Sangat sulit menyelidikinya," suara pria di seberang sana, terdengar bergetar, karena dia yakin kalau untuk kesekian kalinya dia pasti akan mendapat murka dari Julian.
"Apa sih yang kamu lakukan sampai kamu tidak bisa menemukan siapa wanita itu? kamu tidak serius ya melakukan pekerjaan itu?" benar dugaan pria di seberang sana, Julian memang sudah mulai murka.
"Bukan tidak serius Tuan. Seperti yang aku jelaskan sebelum-sebelumnya, memang sangat sulit __"
"Sudah, sudah, aku tidak mau dengar alasan lagi. Aku minta supaya kamu lebih serius mencari keberadaan wanita itu, paham kamu?"
"Pa__"belum sempat orang suruhan Julian menyelesaikan ucapannya, Julian sudah memutuskan panggilan secara sepihak.
"Julian!" Baru saja, Julian berbalik hendak kembali ke ruangan baby Elvano, tiba-tiba terdengar sebuah suara yang sangat dia kenal, memanggilnya.
Pria itu sontak kembali memutar tubuhnya, menoleh ke arah datangnya suara.
"Lho, kenapa Mama datang ke sini? bukannya tadi aku meminta mama untuk di rumah saja, tidak perlu datang?" ya, yang baru saja memanggil Julian adalah Sarah mamanya. Tadi, setelah Julian berada di rumah sakit dan sudah menyelesaikan administrasi, Julian memang menghubungi mamanya itu untuk meminta maaf karena sudah mengecewakan wanita yang sudah membawanya ke dunia ini. Beruntungnya Sarah sama sekali tidak marah dan justru mendukung apa yang dia lakukan.
"Mama merasa tidak tenang, Nak. Mama penasaran mau melihat wajah bayi yang kamu temukan itu. Boleh Mama melihatnya?"
Julian menerbitkan seulas senyuman di bibirnya kemudian menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja boleh! ayo, aku bawa mama melihat baby Elvano!" Julian menggandeng tangan mamanya itu seraya berjalan masuk ke dalam ruangan baby Elvano.
"Tuh dia, Ma?" Julian menunjuk ke arah Elvano.
"Wah, dia tampan sekali!" mata wanita paruh baya itu seketika berbinar saat menatap bayi di dalam sana. Tiba-tiba binar di mata wanita itu, meredup berganti dengan tatapan penuh simpati. "Kasihan kamu,Sayang, masih bayi harus menjalani operasi," ucap Sarah sembari membelai kaca pembatas.
"Ma, apa aku boleh mengadopsi bayi itu?" celetuk Julian tiba-tiba, membuat Sarah terkesiap kaget.
Tbc
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Truely Jm Manoppo
🥰🥰🥰🥰 keren papa Julian
2023-12-09
0
༄༅⃟𝐐Shanum🎀
betul sekali, mamanya baby Vano tdk ada pilihan lain 😭🤧
2023-09-27
0
༄༅⃟𝐐Shanum🎀
good job papa 😘
2023-09-27
0