Jangan lancang

Walaupun Ayara merasa kesal karena kesehatannya diragukan, tapi mau tidak mau wanita itu tetap mengiyakan permintaan Julian.

Setelah pemeriksaan selesai dan hasilnya bagus dan terbukti dirinya sehat,ingin sekali Ayara berteriak di kuping pria itu, " Tuh kan aku sehat!" tapi sayangnya Ayara tidak seberani itu.

"Sekarang kamu naik lagi ke atas buat jaga Vano. Mbok Sumi sudah bisa kamu suruh turun!" Ayara menganggukkan kepalanya, lalu beranjak pergi meninggalkan Julian.

Sementara itu ketika Ayara berjalan menaiki tangga, mata Julian menatap wanita itu dengan kening berkerut.

"Kenapa aku sepertinya pernah bertemu dia? Tapi di mana ya?" batin Julian menatap punggung Ayara dengan intens.

"Ah, kenapa aku jadi memikirkan dia? banyak orang yang pernah aku temui di luaran sana dan mungkin dia adalah salah satunya," pungkas Julian sembari beranjak menuju kamarnya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Hari berganti hari, mingu berganti minggu dan sudah 4 minggu atau satu bulan lamanya Ayara menjadi pengasuh putranya sendiri di kediaman Julian. Wanita itu begitu bahagia melihat kondisi putranya itu sudah semakin membaik. Bahkan sudah tidak pernah sesak napas lagi dan tubuh membiru.

Waktu sudah siang, Ayara terlihat bersenandung sembari mengayun-ayunkan box bayi, untuk menidurkan bayi itu. Namun, entah sudah berapa lagu yang dia nyanyikan, Elvano masih tetap senyum-senyum di dalam boxnya, hingga membuat Ayara jadi gemas.

"Ihh, kamu belum mau tidur ya? Masih mau main? mama sih masih mau main juga, tapi ini sudah jamnya kamu tidur siang, Sayang. Kalau tidak, papamu yang monster itu akan marah-marah sama Mama. Kamu tidur ya?" ucap Ayara, kembali menggerakkan tangannya mengayun.

Karena Elvano belum mau tidur juga, akhira Ayara menyerah dan mengangkat bayi itu keluar.

"Emm,mama akan kasih kamu ASI lagi, dan mama harap kamu akan tidur setelah ini," ucap Ayara, membawa bayi itu ke kursi khusus menyusui.

Ya, Ayara memang akan selalu menyebut dirinya mama ketika hanya dia sendiri saja, dan menyebutnya aunty kalau Julian dan mamanya ada di dekatnya.

Ayara mendaratkan tubuhnya duduk dengan sangat hati-hati di sofa khusus menyusui yang disiapkan oleh Julian. Karena merasa kalau ini jam kerja, Ayara langsung saja mengeluarkan buah mangganya keluar. Dia yakin kalau Julian pasti sibuk bekerja di jam segini, sehingga tidak mungkin melihat dari CCTV.

"Minum yang banyak ya, Sayang! biar kamu cepat besar dan sehat," seperti biasa Ayara akan selalu mengajak putranya itu bicara saat menyusui, walaupun respon bayi itu hanya membelai-belai pipi Ayara dengan tangan kecilnya.

"Tahu tidak hal yang sangat takutkan? mama takut kalau kamu sudah besar nanti, mama tidak tahu apakah mama masih akan bisa jadi pengasuhmu. Mungkin mama tidak akan diperlukan lagi, saat kamu nantinya sudah bisa mengurus dirimu sendiri," bibir Ayara tersenyum, tapi wajah wanita itu terlihat sendu.

Cukup lama, Ayara menyusui Elvano, hingga wanita itu mengantuk. Sementara itu, Elvano yang merasa sudah kenyang dan mengantuk, akhirnya tertidur juga, hingga benda kecil yang tadi dia hisap, terlepas dengan sendirinya. Mereka berdua tertidur dengan dada Ayara yang masih terpampang nyata tanpa penutup.

Tiba-tiba Ayara tersentak kaget, karena ponselnya tiba-tiba berbunyi. Untungnya, bunyi handphone itu tidak membangunkan baby Vano.

"Astaga, aku kok bisa ketiduran? untung Vano tidak jatuh," sebelul berdiri, Ayara menutup kembali dadanya dan membawa putranya itu untuk ditaruh ke dalam ayunan.

"Siapa tadi yang menghubungiku?" setelah Elvano sudah berada di dalam ayunan, Ayara berjalan ke arah di mana dia meletakkan handphonenya.

"Tuan Julian? kenapa lagi dia menghubungiku? Tidak cukupkah, dua kali dia menghubungiku hari ini? Masa terus-terusan sih?" Ayara mulai menggerutu ke arah handpone, tidak sadar kalau apa yang dia lakukan itu sedang dipantau Julian dari layar laptopnya.

Ayara baru saja hendak meletakkan kembali ponselnya, tapi tiba-tiba berbunyi kembali, hingga membuat wanita itu tersentak kaget dan hampir menjatuhkan ponselnya itu.

"Ha-halo, Tuan!" sapa Ayara, di sela-sela rasa kagetnya yang belum sepenuhnya reda.

"Apa yang sudah kamu lakukan? Beraninya kamu menggerutu di depan ponsel busukmu itu. Kamu sedang mengumpatiku ya?" alih-alih membalas sapaannya, Julian justru langsung mengomelinya dengan cepat tanpa titik dan koma.

"Tidak sama sekali, Tuan?" sahut Ayara sembari menatap ke arah kamera CCTV, seakan dia sedang berhadapan dengan Julian sekarang.

"Kamu masih mau berbohong. Yang baru saja menghubungi kamu itu aku, jadi siapa lagi yang kamu umpati kalau bukan aku?"

Ayara akhirnya memilih untuk diam, karena kalau semakin dibantah, pria diseberang sana akan semakin berkicau. "Katanya dia itu sangat dingin dan irit bicara. Irit apanya? Dia cerewet begini?" kali ini Ayara hanya berani menggerutu di dalam hati.

"Kenapa kamu diam? Kamu tidak punya mulut ya untuk menjawab?" bentak Julian yang membuat Ayara menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.

"Haish, maunya manusia satu ini apa sih? kalau dijawab salah, didiamkan juga salah," lagi-lagi Ayara menggerutu dalam hati.

"Oh ya, aku tadi menghubungimu, hanya mau mengingatkanmu, untuk tidak tertidur saat menyusui putraku. Kalau tadi dia sampai terjatuh bagaimana? Kamu mau tanggung jawab?"

Ucapan Julian barusan sontak saja membuat mata Ayara membesar dengan sempurna.

"Astaga, dia tahu kalau aku tidur. Itu berarti dia sempat melihat ...." Ayara refleks menatap ke arah dadanya.

"Aku juga mau mengingatkan, setiap kamu mau menyusui, selalu ingat untuk memberikan penutup pada itumu. Jangan terbuka seperti tadi! Setelah selesai, ingat untuk menutupnya kembali!"

Ucapan Julian barusan, membuat Ayara lemas karena dari ucapan pria itu, akhirnya menjawab pertanyaan Ayara tadi. Pria di sebrang sana benar-benar melihat benda menggantung miliknya.

"Kamu jangan lemas seperti itu! Walaupun aku tadi aku melihatnya, tapi aku sama sekali tidak berselera. Jadi, jangan berpikir macam-macam!" lanjut Julian lagi.

"Ya, mana mungkin Tuan berselera. Tuan kan sudah biasa melihat benda seperti itu!" ucap Ayara mencoba untuk berani, karena wanita itu tiba-tiba merasa kesal, mendengar perkataan Julian yang tidak selera melihat miliknya. Padahal dia ingat jelas, bagaimana ganasnya dulu pria itu memainkan miliknya.

"Maksud ucapan kamu barusan apa? apa kamu mau mengatakan kalau aku suka melakukan hal seperti itu dengan wanita-wanita di luar sana? Asal kamu tahu, aku tidak sebejat yang kamu pikirkan. Walaupun banyak yang dengan suka rela menyerahkan tubuhnya padaku, tapi aku sama sekali tidak akan melakukannya, paham kamu!" nada bicara Julian terdengar sangat marah.

"Ma-maaf Tuan! Aku tidak bermaksud seperti itu! Aku hanya mau mengatakan kalau Tuan pasti sering melihat seperti itu, setidaknya melalui photo ataupun video,"

"Jangan berbicara lagi! aku sama sekali tidak suka. Dan menurutku kamu yang hanya seorang baby sitter sudah terlalu lancang membicarakan hal seperti ini dengan majikan kamu sendiri. Kamu mau aku pecat!"

"Ti-tidak, Tuan. Maaf sekali lagi!" Ayara membungkukkan tubuhnya dengan mata yang masih mengarah ke arah kamera CCTV.

Tbc

No

Terpopuler

Comments

⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️

⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️

ciyus nih Juuuuulllll ..... kamu gak berselera ????
bukannya dari awal Ayara dateng, kamu udah serserdeg yaaa liatnya ... pas basah2 gituuuuh ???? 🤪🤪🤪🤪🤪

2023-12-22

0

Truely Jm Manoppo

Truely Jm Manoppo

hahaha ... Julian gak selera ... helowww kau sudah cicip duluan kali drpd baby El 🙉🙉🙉😃😃😃😃😃😃

2023-12-09

0

༄༅⃟𝐐Shanum🎀

༄༅⃟𝐐Shanum🎀

iya kah gk berselera? 🙄 kok aku gk percaya 🙊🏃‍♀️🏃‍♀️

2023-09-28

0

lihat semua
Episodes
1 Harus operasi
2 Ditaruh di depan rumah Julian
3 Berbaik sangka
4 Apa aku boleh mengadopsinya?
5 Jadi pengasuh
6 Pengasuh sekaligus pendonor ASI
7 Ya sekarang lah
8 Jangan lancang
9 Dia juga Sarjana
10 Aku kasih kamu waktu sebulan
11 Aku akan membocorkan semuanya nanti
12 Saran Gilang
13 Memancing Julian
14 Aku tidak akan membiarkanmu jadi Ibu Elvano
15 Mengancam Ayara
16 Di mana Gilang?
17 Mengajak Jalan-jalan
18 Kekesalan Tessa
19 Pengasuh dadakan
20 Ucapan Gilang
21 Aku tidak tuli
22 Aku ada pekerjaan penting untuk beberapa hari ini
23 Tante akan kasih dia peringatan
24 Kamu harus sadar diri
25 Reynaldi bebas
26 Apa motif dia?
27 Mati kalian berdua!
28 Mencoba memprovokasi
29 Jangan mengaku-ngaku!
30 Aku sudah tahu tentang Ayara
31 Otak kamu sangat dangkal
32 Aku akan tetap membantumu
33 Aku memang Ibu kandungnya
34 Diusir
35 Ancaman Tessa
36 Kemarahan Shasa
37 Dalangnya adalah dia
38 Kepanikan Tessa
39 Tidak ada yang boleh keluar
40 Tidak berkutik
41 Penyesalan Julian dan mamanya
42 Berharap masih di kota ini
43 Mulai mencari
44 Kamu ikut aku!
45 Kemarahan Sarah
46 Biarlah aku berjuang sendiri Kali ini
47 Dokter Farell
48 Apa sudah saatnya?
49 Itu Ayara!
50 Tingkah aneh Gilang
51 Aku tidak mengenal wanita itu
52 Menghasut
53 Musnahkan gelas itu
54 Petunjuk dari Video
55 Ancaman Farell
56 Keputusan Ayara.
57 Kemarahan Aura
58 Kenekadan Aura
59 Kita berangkat malam ini juga
60 Hari yang ditunggu Farell.
61 Munculnya Julian
62 Kemarahan Julian
63 Menyelesaikan kesalahpahaman
64 Mulai mengerti.
65 Ungkapan cinta Julian.
66 Kisah masa kecil Gilang dan Shasa
67 Si pemaksa
68 Kembali ke Jakarta
69 Ayara dan Julian's wedding
70 Menggoda Aura.
71 Terima kasih
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Harus operasi
2
Ditaruh di depan rumah Julian
3
Berbaik sangka
4
Apa aku boleh mengadopsinya?
5
Jadi pengasuh
6
Pengasuh sekaligus pendonor ASI
7
Ya sekarang lah
8
Jangan lancang
9
Dia juga Sarjana
10
Aku kasih kamu waktu sebulan
11
Aku akan membocorkan semuanya nanti
12
Saran Gilang
13
Memancing Julian
14
Aku tidak akan membiarkanmu jadi Ibu Elvano
15
Mengancam Ayara
16
Di mana Gilang?
17
Mengajak Jalan-jalan
18
Kekesalan Tessa
19
Pengasuh dadakan
20
Ucapan Gilang
21
Aku tidak tuli
22
Aku ada pekerjaan penting untuk beberapa hari ini
23
Tante akan kasih dia peringatan
24
Kamu harus sadar diri
25
Reynaldi bebas
26
Apa motif dia?
27
Mati kalian berdua!
28
Mencoba memprovokasi
29
Jangan mengaku-ngaku!
30
Aku sudah tahu tentang Ayara
31
Otak kamu sangat dangkal
32
Aku akan tetap membantumu
33
Aku memang Ibu kandungnya
34
Diusir
35
Ancaman Tessa
36
Kemarahan Shasa
37
Dalangnya adalah dia
38
Kepanikan Tessa
39
Tidak ada yang boleh keluar
40
Tidak berkutik
41
Penyesalan Julian dan mamanya
42
Berharap masih di kota ini
43
Mulai mencari
44
Kamu ikut aku!
45
Kemarahan Sarah
46
Biarlah aku berjuang sendiri Kali ini
47
Dokter Farell
48
Apa sudah saatnya?
49
Itu Ayara!
50
Tingkah aneh Gilang
51
Aku tidak mengenal wanita itu
52
Menghasut
53
Musnahkan gelas itu
54
Petunjuk dari Video
55
Ancaman Farell
56
Keputusan Ayara.
57
Kemarahan Aura
58
Kenekadan Aura
59
Kita berangkat malam ini juga
60
Hari yang ditunggu Farell.
61
Munculnya Julian
62
Kemarahan Julian
63
Menyelesaikan kesalahpahaman
64
Mulai mengerti.
65
Ungkapan cinta Julian.
66
Kisah masa kecil Gilang dan Shasa
67
Si pemaksa
68
Kembali ke Jakarta
69
Ayara dan Julian's wedding
70
Menggoda Aura.
71
Terima kasih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!