Setelah Julian menolak saran yang diberikan oleh Gilang, kini kedua pria itu tampak fokus pada layar notebook di depan masing-masing. Namun ekspresi keduanya terlihat berbeda. Gilang yang serius melakukan pekerjaannya, dan Julian yang asik tertawa kecil, entah hal lucu apa yang membuat pria itu tertawa, hanya dia lah yang tahu. Tapi, yang pasti, Gilang sangat penasaran dengan penyebab sahabatnya itu tertawa.
"Dasar aneh! Apa karena masalahnya yang tidak kunjung selesai membuat dia jadi gila?" batin Gilang seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Pria itu kemudian menghela napasnya dan mencoba untuk tidak peduli.
Tawa Julian kini sudah berhenti, membuat Gilang mengembuskan napas lega.
"Sepertinya dia sudah normal kembali," bisik Gilang pada dirinya sendiri.
Namun di luar dugaan, Julian yang tadinya tertawa-tertawa kecil, kini berganti senyum-senyum sendiri.
Karena sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi, Gilang akhirnya berdiri, melangkah mendekati meja Julian, guna melihat langsung apa yang membuat sahabatnya itu senyum-senyum sendiri.
"Kamu lagi lihat apa sih?"
Julian yang tidak menyadari kedatangan Gilang, sontak terjengkit kaget dan refleks menutup notebooknya. Tentu saja tindakan Julian semakin membuat Gilang penasaran.
"Kenapa kamu jadi gugup seperti itu? Apa yang kamu lihat?" Gilang berusaha meraih notebook Julian,
"Tidak boleh!" Julian tidak kalah berjuang mempertahankan notebooknya.
Tapi tentu saja Gilang tidak menyerah. Sahabat dari Julian itu semakin keukeh untuk mendapatkan notebook Julian.
"Jul, kasih aku lihat, cepat!" teriaknya.
"Tidak akan!" Julian balik berteriak
"Oh, baiklah kalau itu maumu! Jangan salahkan aku kalau nanti notebook kamu ini rusak!" Gilang mulai memberikan ancaman.
"Aku bisa beli lagi!"
Mendengar ucapan Julian, Gilang mengebuskan napasnya dengan kesal dan akhirnya memilih untuk menyerah.
"Cih, dasar pria gila!" umpat Gilang sembari berbalik hendak kembali ke tempatnya semula.
Melihat hal itu, Julian terkekeh sembari menarik tangannya dari notebook. Tapi tindakan Julian barusan adalah hal yang akan masuk daftar di hal bodoh yang pernah dia lakukan, karena Gilang dengan sigap berbalik lagi dan meraih notebook Julian dengan mudah.
"Hahaha, dapat!" sorak Gilang kegirangan sembari berlari ke arah sofa
"Gilang, kembalikan!" teriak Julian, berusaha merampas kembali notebook miliknya.
"Tidak akan!" Gilang balik berteriak sembari melompati sofa, untuk menghindar dari Julian. Tingkah keduanya persis anak kecil yang sedang berebut mainan
Setelah merasa jangkauan tangan Julian sudah jauh darinya,Gilang dengan cepat membuka kembali notebook yang ada di tangannya, untuk melihat apa yang membuat sahabatnya itu senyum-senyum.
Julian terlihat sudah pasrah dan mendaratkan tubuhnya duduk di sofa.
Tawa Gilang tiba-tiba terdengar pecah memenuhi ruangan, sementara Julian tersenyum kecut.
"Jadi dari tadi kamu memantau pengasuhmu itu?" Julian semakin terduduk lemas, karena dia tahu bakal menjadi bulan-bulanan Gilang.
"Tapi apanya yang lucu sampai kamu tertawa-tawa, dan senyum-senyum?" Gilang mencoba memutar ulang rekaman 10 menit yang lalu, tapi menurutnya sama sekali tidak ada hal yang lucu. Yang dia lihat di dalam rekaman itu, Ayara bemain cilukba dengan baby Evan, lalu wanita itu juga menari berputar-putar di depan baby itu,membuat sang baby tertawa. Sepertinya Ayara sedang mendengar sebuah lagu nursery rhimes dan wanita itu ikut menyanyikannya sembari membuat gerakannya.
"Kalau tidak ada yang lucu kembalikan notebookku sekarang!" titah Julian, dengan wajah memerah.
"Oh iya, setelah dilihat-lihat, ternyata dia lucu juga ya? Dia juga imut," Gilang mengerjab-erjabkan matanya, menatap dengan mata yang berbinar ke layar.
Julian terlihat menggeram, berdiri dari tempat duduknya dan dengan gerakan cepat melompat untuk merampas notebooknya dari tangan Gilang.
"Hei, kenapa diambil? Aku belum selesai melihatnya!" teriak Gilang.
"Jangan buat rusuh, lakukan pekerjaanmu saja!" Julian membawa notebooknya kembali ke mejanya dengan raut wajah masam.
"Kenapa kamu marah? Apa karena aku mengatakan kalau dia lucu dan imut? Kan aku bicara soal fakta?"
"Kamu bisa diam nggak? Berhenti bilang dia lucu dan imut!"
"Kenapa aku harus berhenti? Aku kan bicara soal baby Evan. Dia kan memang lucu dan imut? apa yang salah dengan itu? Atau jangan-jangan kamu mengira kalau aku lagi memuji Ayara?" goda Gilang, membuat Julian terdiam dan dengan cepat memalingkan wajahnya yang sudah memerah.
"Jul, kenapa kamu tidak menjawab? Kamu benar-benar berpikir aku memuji Ayara ya?" ulang Gilang, dengan nada meledek.
"Ti-tidak sama sekali! Kamu jangan berpikir yang macam-macam!" Julian terlihat sangat gugup.
Gilang menatap Julian sembari terseyum. Siapapun yang melihat tatapan dan senyuman pria itu, akan mudah menyimpulkan kalau tatapan dan senyum itu mengandung ledekan.
"Cieee, sepertinya ada yang jatuh cinta nih?" celetuk Gilang, tiba-tiba sembari menatap layar ponselnya.
Sorakan Gilang tentu saja membuat Julian bereaksi dengan cepat. "Siapa yang jatuh cinta? Aku sama sekali tidak jatuh cinta pada siapapun!" Julian berusaha untuk menyangkal.
"Yang bilang kamu jatuh cinta siapa? Aku kan tidak menyebut namamu?" goda Gilang lagi.
"Hanya kita berdua yang ada di ruangan ini, siapa lagi yang kamu maksud kalau bukan aku?" Julian benar-benar kesal sekarang.
"Emang sih hanya kita, tapi aku lagi mengomentari story seseorang di media sosialnya. Kamu aja yang bereaksi berlebihan. Kamu mau lihat!" Gilang mengarahkan layar ponselnya ke arah Julian. Pria itu benar-benar cerdik, untuk membuat Julian mati kutu
"Tidak perlu!" Julian sontak berpura-pura sibuk membolak-balikkan dokumen di depannya. "Sial, aku kena jebakan lagi!" umpat Julian dalam hati.
Tawa Gilang sontak pecah, memenuhi ruangan itu. Pria itu benar-benar merasa lucu melihat wajah Julian yang memerah.
"Kamu terlalu perasa, Jul. Atau jangan-jangan kamu benar-benar jatuh cinta pada pengasuhmu itu, sehingga apapun kamu kaitkan dengan dirimu dan dia?" Gilang kembali meledek
"Sembarangan! Jangan asal menuduh!" sangkal Julian.
"Aku tidak asal menuduh. Buktinya aku memuji baby Vano,tapi kamu langsung marah mengira aku memuji Ayara. Aku bilang ada yang sedang jatuh cinta, kamu langsung tarik ke dirimu sendiri. Kalau tidak benar kab,sikap kamu pasti biasa saja. Ayo, ngaku saja, Jul!"
"Apa yang harus aku akuin? Aku bilang tidak ya tidak. Kamu jangan mengada-ngada lagi! Sekarang kita balik bekerja saja!" Julian sengaja mengalihkan pembicaraan.
Gilang sontak berdecih dan mendengus melihat sahabatnya yang sudah sok serius memeriksa dokumen-dokumen di atas mejanya.
"Baiklah, kalau begitu! Kamu benar-benar tidak jatuh cinta kan pada Ayara?" tanya Gilang, kembali ke topik semula.
"Tidak!" jawab Julian singkat, padat dan jelas.
"Baiklah. Kalau begitu kamu tidak akan marah kan kalau aku mendekatinya?"
Mata Julian yang tadinya menatap ke arah berkas-berkas, tiba-tiba langsung menatap Gilang dengan kaget.
"Ternyata dia sangat cantik, dan juga keibuan. Aku jadi tertarik untuk mendekatinya. Kamu tidak keberatan kan?"
"Tidak boleh!" sahut Julian tegas.
"Kenapa tidak boleh? kan tidak ada yang salah. Dia sendiri dan aku juga masih sendiri."
"Tidak boleh ya tidak boleh!" suara Julian mulai meninggi.
"Tidak perlu harus berteriak, Jul! Kamu kasih aku alasan yang jelas kenapa aku tidak bisa mendekatinya? Kamu tidak mau ada yang mendekatinya karena kamu sudah suka padanya kan?" Gilang berusaha untuk memancing, kejujuran sahabatnya itu.
"Ti-tidak. Aku hanya tidak ingin dia tidak fokus menjaga Vano, karena urusan asmara,"
"Alasan kamu aja itu! kalau untuk masalah itu, kamu tenang saja, aku tidak akan pernah menggangu jam kerjanya,"
"Terserah kamu berpikir seperti apa. Yang jelas, aku tidak mengizinkan kamu mendekatinya!" ucap Julian dengan sangat tegas.
"Bodo amat! Kamu mengizinkan atau tidak, aku akan tetap mendekatinya,"
"Gilang!" pekik Julian, benar-benar kesal.
"Apa Jul?" sahut Gilang dengan memasang wajah bodohnya.
"Kamu ya benar- benar ...." Julian menggantung ucapannya.
"Benar-benar apa? benar-benar tampan ya? Kalau itu mah sudah dari dulu. Masa kamu baru menyadarinya sekarang?" Gilang masih saja terus menggoda Julian.
"Ahh, terserah kamu lah!" pungkas Julian, akhirnya pasrah.
"Yes, terima kasih, Jul! Aku pergi dulu ya!" Gilang mengayunkan kaki melangkah menuju pintu.
"Eh, kamu mau kemana?" cegah Julian.
"Aku mau ke rumahmu. Aku mau menemui Ayara,"
"Gilang, jangan ganggu pekerjaannya!" pekik Julian.
"Tenang saja, aku tidak akan mengganggu pekerjaannya. Aku hanya menemani dia saja. Bye, Jul!" Gilang melambaikan tangannya sembari mengerlingkan matanya, lalu menutup pintu.
"Sialan kamu Gilang!" umpat Julian sembari mengacak-acak rambutnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Esih Mulyasih
wkwkwk...Julian kena di kerjain Gilang 😂😂diam diam Julian mengagumi ayara via cctv 🤭😁ayoo.. Jul, cari tahu ttg ayara...Dy tuhh gadis yg kamu cari Loch..😉😉
2024-11-04
0
Eity setyowati
hahaha julian takut ayara diambil gilang
bilang dong kalau memang ada rasa ntar keburu diembat gilang lho
2024-03-31
1
Truely Jm Manoppo
hahaha ... papa Julian, suka sama Araya tapi pura2 😜😜😜😜
Biar aja digebet sama Gilang baru tau rasa 🤣🤣🤣
2023-12-09
0