penyesalan Dadang

Dadang menggenggam tangan Siti yang tak terpasang infus. Dia menyesal, karena pertengkaran mereka Siti harus mengalami semua hal ini.

Untungnya Bapak, Indra dan adik-adiknya yang lain mau membantu masalah biaya. Jadi Dia tak memikirkan masalah itu lagi, dan bisa fokus dengan Siti.

Perkataan dokter kemarin masih terngiang di telinganya, ini bukan salah Siti dan juga dirinya. Tapi memang janin yang dikandung Siti memiliki kelainan jantung. Dokter juga merasa heran kenapa janin perempuan mereka bisa bertahan hingga lima bulan di rahim Siti.

Rahim Siti juga harus diangkat karena mengalami plasenta akreta, Yaitu ari-ari bayi menempel di rahim dan menyebabkan pendarahan terus- menerus. Operasi yang dilakukan ini merupakan cara terakhir setelah semua prosedur agar pendarahan berhenti tak berhasil.

Ada pergerakan pada tangan Siti, membuat Dadang senang. Tapi sepertinya Siti belum juga menunjukkan reaksi yang lebih. Dadang masih harus sabar sampai mata itu terbuka kembali.

Pintu yang berderit, mengalihkan pandangan Dadang. Lastri ibunya, nampak masuk dengan wajah sedih. Sosok itu mendekat, menepuk bahu Dadang menyalurkan kekuatan sekaligus mengutarakan simpatinya akan kondisi Istri dari anaknya tersebut.

" Siti belum juga sadar Dang?"

" Tadi sebelum Emak masuk dia menunjukkan reaksi . Aku pikir dia bakalan segera sadar Mak.."

Lastri memandang tepat kearah wajah pucat Siti. Rasa bersalah juga menyergapnya. Dia telah memperlakukan Siti dengan buruk selama ini. Dan itu juga mungkin yang membuat Dadang tak menghargai istrinya itu.

" Kamu harus berubah Dang ! Emak rasa ini teguran buat kamu. Tapi, apa benar bukan kamu kan yang telah melakukan sesuatu ke istrimu hingga hal seperti ini terjadi ? "

Dadang menggeleng. Dia memang tak melakukan kekerasan fisik . Tapi mengingat perkataannya kemarin, tentu saja luka hati Siti bahkan lebih besar dari kejadian yang menimpanya kini.

" Aku harap Siti memaafkan kesalahanku Mak" Dadang tak bisa menahan air matanya. Dia sangat menyesal.

Lastri turut menangis. Dilihatnya wajah Dadang nampak pucat.

" Sudah makan Dang ? makanlah dulu. Biar Emak yang nemenin Siti. Kamu harus jaga fisik kamu biar bisa memberikan semangat baru ke istrimu."

Dadang tak menjawab namun dia segera beranjak,

"Titip Siti ya Mak.." Dadang keluar, ingin Menuju kantin.

Didepan kamar rawat Siti Dadang bertemu dengan Indra dan Hesti yang baru saja selesai makan siang.

" Ada Emak didalam, kalau kalian mau pulang enggak apa ? Abang bisa gantian sama Emak jagain Mbak kalian.."

Indra dan Hesti saling pandang, kemudian mereka mengangguk bersama. " Ya udah kami pamit bang. sekalian juga mau pamit ke Emak. Nanti malam Hesti biar kesini nganter makanan."

Suami Istri itu masuk keruangan Siti sedang Dadang melanjutkan langkahnya ke arah kantin . memang sedari kemarin perut Dadang tak terisi. Karena sibuk mengurusi semua keperluan dan persiapan menjelang Operasi darurat Siti yang dilakukan tadi pagi.

***

Siti kini telah sadar. Matanya nampak menyesuaikan cahaya silau yang serasa menusuk. Rasa nyeri pada bagian perutnya membuat dirinya reflek menyentuh bagian itu. Tapi ternyata Dadang menahan gerakan Siti. Lelaki itu juga meminimalisir pergerakan Siti yang tiba-tiba.

" Jangan disentuh dek. Lukanya belum kering. Dan jangan terlalu banyak bergerak agar nyerinya tak terlalu terasa." Dadang mengatakan sesuai instruksi Dokter yang telah memeriksa Siti beberapa saat yang lalu.

Siti mengerutkan kening, Kenapa bisa ada luka di bagian perutnya. Memikirkan itu membuat kepalanya sakit, kini Siti ingat, sebelumnya dia dan Dadang tengah bertengkar, Setelah itu dia tak ingat apa-apa lagi.

" Apa yang terjadi ? kenapa perutku bisa ada luka Bang ? "

Dadang semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Siti seraya berkata " Kamu habis operasi dek. Rahim kamu diangkat.."

Siti menyentuh perutnya " Lalu anak kita Bang ?"

"Anak kita meningal, karena kelainan jantung bawaan!"

Siti merasakan panas pada kedua matanya. Meski memang dia tidak menginginkan kehamilan ini . Bukan berarti ia juga menginginkan jika janinnya pergi seperti ini. Siti bahkan masih sangat hapal gerakan pelan calon anaknya itu kemarin. Tapi kini, Dia malah terbaring di rumah sakit semua yang dirasakannya kemarin seolah hanyalah mimpi. kini ia kehilangan calon anaknya.

" Mungkin tuhan menghukum ku Bang. Dan ini adalah jawaban atas semua rasa kesal dan kecewa yang aku pendam karena sikap dan sifat mu. Aku mau kita cerai Bang "

Siti kini berucap dingin. Hatinya sungguh telah teramat sakit.

Dadang menggeleng " Dek. Bagaimana mungkin kamu membahas ini. Dengan keadaan kamu yang sekarang. Abang nggak akan pernah ceraikan kamu dek. Abang minta maaf dan kita akan mulai dari awal lagi."

Siti merasakan nyeri kembali . Sebenarnya dia ingin meladeni Dadang dengan semua sumpah serapah yang disimpannya selama ini . namun sakit yang dia rasakan membuat mulutnya malah tak mau diajak kompromi " Aku capek. aku ingin istirahat, sebaiknya Abang pergi. Aku butuh ketenangan sekarang !"

Dadang tahu jika Siti masih lemas dan masih merasakan sakit di luka operasinya. Makanya Dia memilih diam dan mengikuti arahan Siti.

kini lelaki yang bergelar suami iti, duduk dengan gelisah didepan kamar istrinya. Emak yang baru saja melaksanakan sholat isya menghampiri anaknya itu. Begitu runyam kah pikiran Dadang hingga tak menyadari kehadiran Lastri.

" Kenapa Dang ! Siti sudah sadar ?"

" Iyah Mak. sekarang dia kepingin istirahat. Makanya Dadang keluar biar dia merasa nyaman"

" Kalian marahan lagi Dang. Di situasi seperti ini! kenapa harus selalu bertengkar sih ? Kamu harusnya lebih mengontrol diri. Siti butuh dukungan dari kamu. Bukan tekanan seperti yang selama ini kamu lakukan. " cecar lastri tak mengerti.

" Siti minta Cerai Mak."

Lastri tak dapat menyembunyikan raut terkejutnya. " Bagaimana bisa Dang? Jujur sama Emak, Apa Kalian ribut sebelum Siti pendarahan ?,"

Dadang mengangguk sebagai jawaban

" Kamu dorong dia ?" Lastri bertanya dengan tak sabar.

" Enggak Mak. Tapi mungkin ucapan-ucapan ku lebih menyakitkan daripada kekerasan fisik.," Dadang menangis lagi. kali ini dia bahkan terisak keras

" Aku menyalahkannya yang hamil lagi Mak. Aku juga bilang kalau anak itu menambah beban ku,".

Lastri memandang Dadang dengan marah " Emak pikir nasehat Bapak kemarin kamu dengarkan Dang. Kenapa bisa kamu malah mengatakan hal seperti itu lagi. ."

" Aku nggak tahu Mak. Ucapan bapak membuatku semakin membenci Siti. Aku merasa jika semua orang berada dipihaknya dan tak lagi menghargai aku sebagai lelaki . .Maaf Mak aku khilaf..."

Dadang kini bersimpuh dikaki Lastri, semakin keras ia menangis. Dadanya semakin sesak.

" Emak rasa, Emak juga turut andil akan semua sifat mu yang buruk dang. Maafkan Emak, karena membuatmu jadi seperti ini. Maafkan emak Dang "

Ibu dan anak itu larut dalam tangisan. Mereka tak perduli dengan Tatapan aneh para pengunjung rumah sakit. Sesal memang ternyata datang selalu terlambat.

Terpopuler

Comments

Dewi Payang

Dewi Payang

syukirlah dadang nyadar

2023-03-17

1

lihat semua
Episodes
1 Hamil lagi !!!
2 Siti yang salah ?
3 Tetangga terbaik
4 ipar baik
5 Amarah Dadang
6 Amarah Dadang 2
7 Dadang mengadu ke Emak
8 Nasehat Bapak
9 Dadang meminta maaf
10 Emak dan menantu istimewa
11 ipar Julid, Hesti menjerit
12 Anugerah terindah Siti
13 Menantu-menantu Emak
14 Pecah seribu
15 Apa keinginan Dadang ?
16 Alasan Dadang Dan nasehat Bapak
17 Emak berubah ?
18 Siti pendarahan
19 penyesalan Dadang
20 Cerai ?
21 Kedatangan Bude
22 keputusan Siti
23 keputusan Siti 2
24 Surat perjanjian
25 Awal yang Baru
26 Isi hati Siti
27 Awal mula
28 Dilamar !!!!
29 Serius !!!!
30 Tidak setuju ?
31 kamu istimewa
32 ketemu Keluarga Dadang
33 Bude!!! Aku jatuh CINTA...
34 panik !!!
35 Bertemu mantan
36 Bude tak setuju .
37 Terima kasih bude ..
38 ketakutan bude
39 Restu bude
40 Lamaran
41 menikah
42 Malam pertama
43 Bolong ( malam pertama 2)
44 Menantu pertama
45 Rumah mertua
46 kapan hamil
47 Mandul ?
48 kejutan tak terduga
49 Pilihan !!
50 Keramas
51 Keputusan dan pilihan
52 Masalah yang akhirnya datang.
53 Menantu beda perlakuan
54 Hadiah adik ipar
55 Bissmillah...
56 Ada apa dengan Emak ?
57 Harapan
58 Akhirnya.....
59 Emak sakit
60 Belanja
61 Rumah Baru , Awal baik atau buruk ?
62 Perut atau bawah perut ?
63 Hutang suami, hutang istri ?
64 Terlena
65 Solusi.. atau ?
66 Masalah yang sama
67 Solusi
68 Suami Idaman
69 menantu idaman
70 tulah karena fitnah
71 Uang kiriman !
72 Abang pulang, masalah datang
73 Cucu perempuan
74 Lamaran Agung
75 Agung Menikah
76 Rezeki tak terduga (ipar baik)
77 Menantu tertua
78 Betah di rumah.
79 Hubungan Baik
80 Ada apa dengan ku ?
81 Sesal !?
82 Titik balik ?
83 Entah kemana akan bermuara ?
84 keputusan final
85 Akhir dan Awal
86 Sesal
87 ikatan Ayah dan anak
88 Move on duluan
89 Istri Baru Dadang
90 Siapa Sandra ?
91 Dadang Pergi
92 Akhir bagi Dadang , Awal untuk Siti
93 Sandra berulah
94 Tuduhan
95 Rencana
96 Kalah Cepat
97 Rama Si sulung
98 Siti mengadu !!
99 Pengakuan Dadang
100 Siti dalam kenangan
101 Kemarahan Dadang
102 Sandra dan Sampah
103 Salsa dan masa lalu Siti
104 Sandra melahirkan.
105 Karma ?
106 kembalinya Ratu julid
107 Tetap Salah
108 Kehancuran Dadang, sukses Siti !
109 Perasaan Siti
110 Kedatangan Agung
111 tabur tuai?
112 Luka dan bahagia
113 Fakta Sandra
114 Langkah awal Dadang
115 prank
116 Dio sakit
117 Dio sakit 2
118 teguran yang manis
119 Trauma Dio
120 Bunda Elis
121 sipolos Bara
122 Karma lagi ?
123 Pasangan pas
124 Sandra oh Sandra..
125 Dilema !!
126 Rumah tangga atau rumah duka
127 Siasat Sandra , taktik Salsa
128 Kejutan Untuk Rama
129 pengakuan Siti
130 Fian kecewa
131 Akhir (Tamat)
Episodes

Updated 131 Episodes

1
Hamil lagi !!!
2
Siti yang salah ?
3
Tetangga terbaik
4
ipar baik
5
Amarah Dadang
6
Amarah Dadang 2
7
Dadang mengadu ke Emak
8
Nasehat Bapak
9
Dadang meminta maaf
10
Emak dan menantu istimewa
11
ipar Julid, Hesti menjerit
12
Anugerah terindah Siti
13
Menantu-menantu Emak
14
Pecah seribu
15
Apa keinginan Dadang ?
16
Alasan Dadang Dan nasehat Bapak
17
Emak berubah ?
18
Siti pendarahan
19
penyesalan Dadang
20
Cerai ?
21
Kedatangan Bude
22
keputusan Siti
23
keputusan Siti 2
24
Surat perjanjian
25
Awal yang Baru
26
Isi hati Siti
27
Awal mula
28
Dilamar !!!!
29
Serius !!!!
30
Tidak setuju ?
31
kamu istimewa
32
ketemu Keluarga Dadang
33
Bude!!! Aku jatuh CINTA...
34
panik !!!
35
Bertemu mantan
36
Bude tak setuju .
37
Terima kasih bude ..
38
ketakutan bude
39
Restu bude
40
Lamaran
41
menikah
42
Malam pertama
43
Bolong ( malam pertama 2)
44
Menantu pertama
45
Rumah mertua
46
kapan hamil
47
Mandul ?
48
kejutan tak terduga
49
Pilihan !!
50
Keramas
51
Keputusan dan pilihan
52
Masalah yang akhirnya datang.
53
Menantu beda perlakuan
54
Hadiah adik ipar
55
Bissmillah...
56
Ada apa dengan Emak ?
57
Harapan
58
Akhirnya.....
59
Emak sakit
60
Belanja
61
Rumah Baru , Awal baik atau buruk ?
62
Perut atau bawah perut ?
63
Hutang suami, hutang istri ?
64
Terlena
65
Solusi.. atau ?
66
Masalah yang sama
67
Solusi
68
Suami Idaman
69
menantu idaman
70
tulah karena fitnah
71
Uang kiriman !
72
Abang pulang, masalah datang
73
Cucu perempuan
74
Lamaran Agung
75
Agung Menikah
76
Rezeki tak terduga (ipar baik)
77
Menantu tertua
78
Betah di rumah.
79
Hubungan Baik
80
Ada apa dengan ku ?
81
Sesal !?
82
Titik balik ?
83
Entah kemana akan bermuara ?
84
keputusan final
85
Akhir dan Awal
86
Sesal
87
ikatan Ayah dan anak
88
Move on duluan
89
Istri Baru Dadang
90
Siapa Sandra ?
91
Dadang Pergi
92
Akhir bagi Dadang , Awal untuk Siti
93
Sandra berulah
94
Tuduhan
95
Rencana
96
Kalah Cepat
97
Rama Si sulung
98
Siti mengadu !!
99
Pengakuan Dadang
100
Siti dalam kenangan
101
Kemarahan Dadang
102
Sandra dan Sampah
103
Salsa dan masa lalu Siti
104
Sandra melahirkan.
105
Karma ?
106
kembalinya Ratu julid
107
Tetap Salah
108
Kehancuran Dadang, sukses Siti !
109
Perasaan Siti
110
Kedatangan Agung
111
tabur tuai?
112
Luka dan bahagia
113
Fakta Sandra
114
Langkah awal Dadang
115
prank
116
Dio sakit
117
Dio sakit 2
118
teguran yang manis
119
Trauma Dio
120
Bunda Elis
121
sipolos Bara
122
Karma lagi ?
123
Pasangan pas
124
Sandra oh Sandra..
125
Dilema !!
126
Rumah tangga atau rumah duka
127
Siasat Sandra , taktik Salsa
128
Kejutan Untuk Rama
129
pengakuan Siti
130
Fian kecewa
131
Akhir (Tamat)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!