Siti bersyukur kram yang dirasakannya menghilang seiring dengan kembali bugarnya tubuh meski hanya istirahat beberapa jam saja. sekarang mereka telah sibuk lagi di dapur Emak. meski jam masih menunjukkan pukul 04 pagi.
Tak ada lagi drama yang ditimbulkan oleh Hesti , agaknya peringatan Salsa di dengarkan dengan baik oleh Ibu dua anak itu. Setelah semua masakan matang, Semua masakan dan lauk disusun kedalam wadah khusus yang disiapkan Emak. Dan pekerjaan akhirnya selesai juga.
Kini semua orang telah berangkat ke sawah. Siti sebenarnya mau ikut melihat sekaligus melakukan panen padi juga. Namun sepertinya ,keinginan Siti hanya angan Saja. Karena nyatanya. Emak malah menyuruhnya tetap di rumah dengan anak-anak. Dadang juga tak nampak protes dengan keputusan Emak. Karena jika anak-anak ikut. Berarti Dadang harus kerepotan juga dengan semua tingkah pola mereka.
Daripada menunggu di rumah Emak dan direpotkan dengan tingkah Bara yang mempunyai rasa penasaran tinggi. Siti memilih pulang ke rumah mereka. karena pikir Siti Bara dan Dio bisa saja melakukan sesuatu yang bisa membuat nenek mereka murka.
pukul 14 wib . Siti terbangun karena suara motor Dadang. Segera ia ke depan menegur Dadang yang nampak memainkan Gas pada motor mereka.
" Bang. Anak-anak lagi tidur, nanti mereka keganggu karena tingkah Abang."
Dadang segera melangkah kearah Siti. Memberikan bingkisan entah apa ke tangan Sang Istri " ini dari emak dek . kenapa kamu pulang? Bukannya di rumah Emak ? "
" Dio sama Bara kan lagi aktif-aktifnya Bang. Aku takut mereka mecahin ataupun berantakin barang-barang Emak. Lagian mau beberes juga nggak bisa. Nggak ada yang ngeliatin anak-anak soalnya !" Siti tahu jika Dadang biasanya akan marah. Namun dengan bicara hati-hati dia berpikir mungkin suaminya itu akan mengerti.
***
Pagi ini Siti kembali bersiap ke rumah Emak. Untuk membantu mertuanya itu menjemur padi. Siti sengaja membawa bekal untuk Dio dan Bara, Agar kedua bocah itu tak bosan.
Dilihatnya Hesti yang kini tengah ikut menyusun terpal yang dijadikan alas untuk menjemur. Ada juga Bapak dan Andri yang gotong royong mengangkat karung berisi padi.
" Dadang mana Ti ? " Bapak bertanya ketika kini duduk di samping Siti untuk minum.
Belum sempat menjawab sosok Dadang kini telah datang.
" Darimana Dang ?"
" Dari depan Pak ! Ada urusan sedikit tadi." Pendangan Dadang kini beralih ke Siti ." Loh dek Bara mana ? "
Siti yang sedari tadi fokus kearah Emak yang nampak mengendong putri, kini menatap
Dadang " Sama Salsa tadi Bang. Jajan kayaknya."
Selesai Siti menjawab, Sosok Salsa datang bersama Dio , Bara dan Juga Raja. Para bocah itu memegang aneka jajanan ditangan mereka.
Siti memilih menghampiri Salsa yang duduk di teras. Sambil menunggui padi agar tak dimangsa Ayam peliharaan tetangga yang dibiarkan berkeliaran bebas.
Sedang Bapak, Dadang beserta Andri kini nampak mengobrol sambil minum kopi.
" Emak mana Mbak ? mbak Hesti juga kemana ? "
Salsa bertanya sembari tangannya membuka permen untuk ponakan-ponakannya.
" Hesti mandi tadi katanya Sa. kalau Emak lagi nyebokin Putri.."
" Emak itu, ya begitu mbak kalau sama cucu kesayangan. coba kalau Bara yang Pup. Pasti nggak mau nyebokin malah nyuruh aku ! "
Siti tersenyum. " Mungkin Emak maunya nyuruh kamu. Tapi kamu kan tadi nggak ada, jadinya Dia sendiri yang cebokin.."
" Hhhh kalaupun mbak Hesti ada. Tetap aja soal begitu Emak yang kerjain. Aku aja nggak suka , Gimana Mbak yang sama-sama ngelahirin cucu buat emak. Pasti berat ya kan menghadapi sikap mertua yang jelas-jelas pilih kasih kayak gitu." Salsa menatap Siti prihatin. Sementara Siti tetap santai seolah itu hal biasa yang dia hadapi.
" Ada sih Sa. Rasa kesal karena kelakuan Emak. Tapi Mbak udah mengangap Emak seperti ibu kandung sendiri. Karena bagaimanapun kesal nya seorang Anak. Tetap saja Orang tuanya lah tempat Ia untuk kembali. Jadi kalau ada rasa kesal, mbak tinggal ingat aja kalau Emak sudah berjasa dan melahirkan Bang Dadang. Hingga ketemu mbak sebagai jodohnya.."
Salsa nampak mengetuk jarinya ke pipi, tanda Ia sedang berpikir keras " Berarti Mbak nggak nyesel punya Suami kayak Bang Dadang ? Bukan sok tahu loh mbak . Tapi aku sering mergokin Bang Dadang ngadu ke emak, soal sikap Mbak yang menurutnya negatif.."
" kalau mbak menyesal . Berarti Mbak juga menyesali kehadiran ponakan-ponakan kamu yang ganteng-ganteng ini Sa. Jadi Ya , seperti kata kamu . Mungkin Abang mu bisa berubah nantinya."
" Aku harap nanti aku bisa dapat menantu seperti Mbak. Tapi aku nggak mau kalau harus bertahan dengan suami yang sudah membuatku nggak nyaman.." Salsa nampak menerawang,
" Jadi intinya kamu itu dukung mbak atau nggak sih ? Kamu mau Mbak pisah sama Abang mu ? "
Salsa seolah tengah memikirkan semua yang diucapkannya tadi. Ada tawa kecil saat dia menyadari bahwa diapun plin-plan dalam memberikan wejangan
" Ternyata praktek tak semudah teorinya ya mbak ! Aku salut sama Mbak Siti. Keinginanku memang mbak jangan pisah sama Bang Dadang. Tapi itu balik lagi ke Mbak. Semoga selalu sabar , mendapat suami dan mertua yang nggak sempurna." Salsa mengelus tangan Siti dengan sayang.
"Eh kok mbak Hesti nggak keluar-keluar dari tadi ? pasti sibuk main HP tuh, Dasar ! Aku masuk ya mbak sekalian ajak anak-anak nonton Tv aja di rumah biar nggak gatel-gatel kena debu padi."
Salsa beranjak mengajak ketiga keponakannya masuk.
Setelah sampai ke rumah ,Salsa melihat kedalam kamar depan, siapa tahu ada sosok Hesti di sana. Namun ternyata, kamar yang berantakan itu nampak kosong. Suara TV mengalihkan fokusnya. kini dengan jelas dia melihat Kakak iparnya itu ada diruang Tv bersama emak yang memangku Putri sambil menyuapinya.
Hesti yang nampak santai dengan HP segera menoleh mendengar suara berisik dari Bara , Gio dan Raja. Dengan segera dia memperbaiki duduknya, memandang Salsa dengan senyum.
" Loh Siapa yang jaga Sa . Padinya ? " Emak membuka suara. memandang heran ke Salsa.
" Tenang Mak. Ada menantu andalan Emak yang jagain. Nanti kalau kasih beras jangan pilih kasih. Yang bekerja keras harusnya diberi lebih.." Salsa melirik Hesti yang nampak seolah tak mendengar sindirannya.
" Kalau gitu aku temani Mbak Siti ya Mak. Mak disini aja temenin anak-anak.."
Tanpa menunggu jawaban Emak Hesti segera beranjak keluar, masih dengan membawa Hpnya.
" Mending HPnya ditinggal Mbak. kan lagi jaga padi, nanti jatuh kan nggak seimbang sama beras yang bakal Emak kasih.."
" Iya ini Mbak mau balikin ke kamar.." Hesti masih mendengar suara Salsa, yang memang sangat keras. Meski kesal dia tetap saja takut jika Salsa menjatuhkan wibawanya didepan Emak.
Emak yang sedari tadi diam kini menjitak pelan tangan Salsa " Kamu itu ngomong nggak ada sopan-sopannya kalau sama mbak Hesti. Tapi kalau Si Siti malah kamu bela mati-matian. Mereka kan sama-sama kakak ipar mu, yang adil kenapa sih Sa."
" Hmmm Mak dengerin ya. Aku itu punya mata. Aku juga nggak mau jadi ipar yang zolim kayak diTv-tv itu. Kelakuan Mbak Hesti itu memang harus ditegur Mak. Kedudukan mereka sama , tapi kelakuan mereka malah kayak bumi dan langit. Memang nya Mak nggak sadar kalau tingkah mbak Hesti menunjukkan kalau dia nggak menghargai Emak sama sekali.."
" Udah mending kamu temenin sana kakak-kakakmu. Biar anak-anak Emak yang jagain."
" Aku mau mandi dulu Mak . Gerah..." Salsa segera berlalu. Meski dalam hati dia jengkel juga kenapa Emak seolah tutup mata dengan kelakuan Hesti yang sudah seperti Ratu kalau berada disini. Di rumah mertuanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments
Dewi Payang
dikampungku juga gitu kak, jemur padi dijagain, kllo ga bs abis dipatuk ayam😂
2023-03-13
1