Keadaan Siti semakin membuatnya susah. Anak-anaknya semakin tampak tak terurus. Siti benar-benar tak punya tenaga untuk sekedar melerai pertengkaran anak-anaknya, Tetangga bahkan sudah kebal dengan pekikan dan tangisan anak-anak Siti. Untungnya Siti masih punya tabungan dari kegiatannya berjualan online . Hingga ia tak begitu panik saat anak-anaknya meminta jajan.
Sementara Dadang semakin tampak cuek saja dengan anak-anaknya, Tak pernah mau tahu anaknya yang selalu merengek masalah lauk maupun uang jajan.
Dadang selalu pergi pagi, setelah mencuci baju. Bahkan Dadang tak menyediakan lauk untuk anak-anaknya makan.
Setelah pulang , saat menjelang Maghrib barulah Bapak tiga anak itu menanyai Siti dan anak-anaknya sudah makan atau belum. Kini Siti lebih memilih menghindari pertengkaran karena tenaganya lebih baik dia simpan untuk sedikit memberikan perhatian kepada anak-anak , jika Dadang telah pergi bekerja sebagai buruh petani kopi.
Kebosanan membuat Siti semakin sering berselancar di dunia maya, sekedar melihat aplikasi tok-tok dan mengetahui kabar terkini melalui Facebook. Rupanya ini juga membuat Dadang meradang, karena setiap lelaki 32 tahun itu pulang . Siti selalu terlihat asyik dengan gawainya.
" Katanya lemas, pusing ! Tapi setiap hari kerjanya main Hp mulu. Kalau pusing itu, minum obat, istirahat ! Main HP kuat berjam-jam. Kerjaan yang lain nggak dikerjain "
Dadang nampak mengomel, cangkir yang dijadikan mainan oleh Bara dibantingnya dengan sekuat tenaga.
" Aku tuh ngerasa jadi babu tahu gak ! Bisa nggak sih kalau aku lagi di rumah distop dulu main Hpnya "
Siti Bungkam. Dia benar-benar tak mau berada diposisi ini. Tapi jujur saja untuk berdebat dengan Dadang , dia tak punya tenaga. Semakin dilawan, lelaki itu akan semakin emosi dan anak-anaklah yang akan jadi sasaran kemarahannya.
" Aku tuh pusing loh Ti. Mikirin bayar bank mingguan . Ditambah bank bulanan juga. Bisa mati aku kalau harus seperti ini terus. Harus berapa lama lagi ! masa nunggu kamu lahiran baru bisa kamu seperti dulu "
' Susah kalau punya suami ngangap istrinya babu ya gini. Baru beberapa minggu , sudah serasa seribu tahun' Siti membatin. Ia yang tertekan dengan kehamilan yang tak diinginkan ini malah semakin tertekan, dengan kelakuan Dadang yang hanya bisa menyalahkannya.
" Anakmu itu ! kok bisa-bisanya kamu nggak khawatir. Berkeliaran macam nggak punya ibu"
' Belum selesai juga ' Batin Siti menjerit, namun sebisa mungkin dia menahan emosi yang kini datang.
" Apa sih yang kamu lihat di hp hah! nggak ada bosan-bosannya, "
" Justru karena aku bosan makanya aku main Hp "
Amarah Siti akhirnya tak tertahan. Dia Berdiri tepat didepan Dadang.
" Halah main hp bisa , kerjaan Rumah semua aku yang lakuin.."
" Aku tuh nggak lumpuh Bang, makanya masih bisa kalau cuma main Hp.."
" Ya lawan dong, makan yang banyak. Muntah , makan lagi. Kalau nggak dipaksa gimana bisa ada tenaga.."
" Aku kayak gini karena hamil ! makanya aku mau gugurin biar aku nggak kayak gini.."
" Aku kan udah nyaranin ke tempat yang direkomendasikan Bidan Siska. Kamu malah nggak mau ",
" Cuma menyarankan tanpa ada uangnya percuma Bang ! Seharusnya kalau kamu niat, kamu kasih liat uangnya di depanku. Dengan begitu kita bisa langsung berangkat.."
" kamu kalau debat gini, bisa full tenaganya. Heran aku " Dadang mencibir.
" Kamu yang pancing aku. Kok kayak aku yang salah di kehamilan ini . Yang punya Andil besar itu kamu. Makanya nafsu itu ditahan , jangan tenaga yang di tahan-tahan. perhitungan. Mentang-mentang aku hanya tinggal di rumah ! Ngakunya capek ! Tapi tiap malam nongkrong di warung kopi. Giliran ngelihat pakaian kotor numpuk yang disalahkan aku. Kamu kan bisa cuci baju anakmu itu malem-malem. biasanya aku juga gitu, Disaat kondisiku seperti ini. Malah lupa kalau pekerjaan yang kamu lakukan baru-baru ini selama ini aku yang lakuin. Tanpa mengeluh. Kamu tinggal terima makan dan pakai semua pakaianmu.."
Suara Siti terdengar parau, wajah pucat dan cekung miliknya kini telah penuh dengan air mata.
Siti semakin tergugu ketika si kecil Bara memandangnya dengan tatapan bertanya. Wajah itu seolah berusaha menghiburnya. Bara sudah wangi dan wajahnya bahkan penuh bedak . Siti memeluk Bara erat, meski dia tahu jika sosok sekecil Bara tak akan mengerti situasinya saat ini.
Dadang nampak memperhatikan interaksi antara Siti dan Bara. Ada sesal dihatinya namun tetap saja egonya lebih Besar dari pada empatinya pada sosok Siti. Wanita yang kini mengandung benihnya.
Tanpa kata, Dadang pergi. Tempat yang ditujunya adalah rumah Emak, orang tuanya. Jarak rumah yang dekat , membuat Dadang lebih memilih berjalan kaki.
***
Tak butuh waktu lama bagi Dadang untuk sampai ke rumah Ibunya. Dilihatnya wanita yang telah melahirkannya itu kini tengah memasak di dapur. Dengan tak sabaran Dadang melongok kearah panci yang mengepul dan mengeluarkan aroma harum, gulai kesukaannya . Gulai ayam dengan irisan cabai rawit.
Perut Dadang nampak semakin lapar , sedangkan Emak memintanya menunggu dimeja makan saja.
Setelah Dua piring nasi beserta lauknya berpindah ke perut Dadang nampak lelaki itu mengelus perutnya yang sedikit kekenyangan.
" emak udah pisahkan buat cucu emak. Kamu bawa nanti ya Dang ! "
Titah emak seraya membereskan piring kotor dan mengelap meja.
Dadang hanya mengangguk menanggapi.
" mau ngopi pak ? Dadang ngopi nggak ?"
Emak kembali bertanya, ketika melihat air panas di atas kompor telah mendidih.
"Ya boleh mak. .! Bawa aja ke depan. Bapak mau ngomong sesuatu ke Dadang.."
Titah Bapak seraya beranjak ke teras depan. Dadang mengikutinya, mencoba menerka-nerka apa yang akan Bapaknya katakan.
" Kamu masih ikut Andre panen ya Dang ?" Bapak memulai obrolan. Kopi dari emak telah siap di atas meja.
" iya pak. Uangnya sudah duluan diambil soalnya .."
" begitu ya ! kalau sudah lunas hutangmu ke Andre, mending kamu nyadap karet aja sama Bapak. Tapi ya itu, panennya 2 Minggu sekali.kalau mau dapat uangnya lebih banyak.."
Dadang menyesap kopinya pelan, setelah meniupnya beberapa kali " lihat nanti deh pak ! Kalau harus 2 minggu sekali, anak Dadang jajan pake apa pak "
" Ya hutang Dulu la Dang, Bapak juga gitu sama Emak. ngambil Dulu di warung si Fatma. Setelah panen dilunasin.."
Dadang nampak kehabisan kata mendengar jawaban Bapaknya. Sebenarnya yang membuat Dadang enggan bukan karena waktu panennya , tapi lebih kepada kebiasaannya yang selalu bangun siang, Sedangkan kegiatan menyadap karet harus pagi-pagi supaya getahnya banyak.
Itulah Dadang, Jika saja istrinya Bukan Siti mungkin hingga saat ini keluarga kecil itu tak akan mampu membangun Rumah. Tapi tekad Siti dan luasnya pergaulannya membuatnya mudah jika memerlukan bantuan dari orang lain.
Bantuan yang berupa sistem Arisan, bukan berhutang.
Beda Siti beda pula Dadang, Dadang yang lebih luas pergaulannya malah terkesan sombong. Ia malu jika harus meminta Bantuan teman-temannya. Meski terkadang malah teman-temannya memanfaatkan Dadang. Dadang seolah memaklumi.
Tapi jika Siti protes dan meminta Dadang lebih bijak, Malah diomeli dan dianggap matre, karena menilai semuanya dari uang. Giliran kepepet, Siti yang dipaksa jadi pendengar tanpa mau mendengar pendapat Siti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments
Dewi Payang
setangkai 🌹 buat kak author😊
2023-02-16
1
Dewi Payang
Kamu bener siti, yg sabar ya siti
2023-02-16
1
khey
dasar pemalas
2023-01-13
1