Pulang Ah

BRAKK!

Aku menutup pintu agak kencang lalu langsung bersandar di sana.

Dadaku sesak dan kepalaku langsung pusing seperti mau pingsan.

Aku benar-benar yakin apa yang kulihat dari pantulan di cermin. Dan kini aku sibuk mengatur nafasku soalnya barusan lari sepanjang koridor.

Pikiranku hanya harus cepat sampai ke kamar. Paling tidak, di sini ada Bu Meilinda.

Kulihat di atas ranjang, ada Bu Meilinda dengan piyama seksi satinnya, tapi kali ini warna putih, dan rambutnya digelung ke atas memperlihatkan lehernya yang kurus. Ia menatapku dengan mata terbelalak.

“Jangan berisik kamu! Ini sudah hampir subuh masih semangat lari-lari kayak anak kecil!” ia menggerutu begitu.

Aku tak mau bilang kalau aku baru saja ketakutan.

“Hem... kesandung barusan,” desisku gengsi.

“Masa?!”

“Sekali-kali nggak usah protes kenapa sih bu?!”

“Ya kamu bawaannya songong! Ini tuh jam 3 pagi, ngapain juga kamu di luar sana?!”

“Main game,” desisku.

“Kenapa harus di luar kamar?!”

“Di luar udaranya lebih segar,”

“Masa?!”

“Sekali-kali percaya aja kenapa sih bu?!”

“Makanya tingkah kamu jangan mencurigakan! Nih perbaiki emailnya!”

“Ogah...”

“Hah?!”

“Itu sudah fix, saya nggak mau ubah lagi,”

“Saya nggak mau tandatangan loh ya! Ini namanya menjatuhkan nama baik nasabah!”

“Jaminannya kan mau diganti bu, ngapain juga pake ubah-ubah, memangnya jual vila macam begini cepet lakunya? Apalagi dengan julukan ‘sarang Miss K’ yang sudah terlanjur santer terdengar!”

Tok

Tok

Tok

Kami langsung terdiam.

“Jangan berisiiiiik, sudah malaaaaam. Hihihihihi!!” terdengar suara lirih dari balik pintu di belakangku.

Bulu kudukku langsung berdiri.

Aku langsung lari ke arah Bu Meilinda, Bu Meilinda hanya ternganga menatap ke arah pintu.

“i-i-itu suara siapaaaa??” gagap Bu Meilinda. Aku naik ranjang dan kutarik selimut Bu Meilinda.

“Ibu sih teriak-teriak melulu!”

“Saya cuma nyuruh kamu masuk kamar!”

“Udah diem, kita coba tidur aja!” Aku masuk ke dalam selimut.

“Dimas! Kamu sebelah pinggir!” Bu Meilinda menarik selimutku, lalu naik ke badanku dan nyelip ke pelukanku.

“Duh! Sempit bu!”

“Pokoknya jangan tinggalin saya sendirian! Kamu ke wc, saya ikut, kamu bikin kopi, saya juga ikut!”

“Saya mau tidur!”

“Saya juga ikut!” Dia memeluk dadaku erat-erat.

Kami terdiam karena fokus ke arah suara di luar.

Hening.

“Ih, kamu bau rokok!” Bu Meilinda menunjuk dadaku dengan kukunya yang tajam.

“Bawel...”gerutuku sambil memejamkan mata.

Aku tak bisa merasakan tanganku. Rasanya kebas. Kucoba tekuk-tekuk jemariku, tapi tak terasa apa-apa.

Jadi kucoba buka mataku perlahan. Sinar mentari menerpa retinaku. Cahaya lembut berkah Sang Illahi.

Rasanya malah ingin tidur lagi.

Apalagi guling yang kupeluk ini terasa hangat dan wangi. Busa di dalamnya terasa pas saat kurengkuh.

Aku pun bergeser dan berbaring miring ke arah kanan, lalu mencoba menghindari sinar yang menerpa mataku dengan menyembunyikan wajahku ke dalam guling.

Sayup kudengar aktifitas. Di luar kamar, suara orang berbincang, suara Putri, suara Banda, suara Fendi, lalu hening…

Berganti dengan suara detak jantung seseorang. Rasanya sangat dekat di telinga bagaikan menempel langsung.

Si Putri Gandhes, pakai pewangi apa sih buat kain seprai? Kok aku jadi terlena ya…

Wait,

Tunggu,

Memangnya ada guling ya di sini?

Terus…

Bongkahan daging yang kuremas ini apa?

Kok empuknya membal seperti squishy?!

Kubuka mataku,

Kulihat rambut kecoklatan di hidungku.

Lalu leher,

Lalu bahu,

Lalu punggung,

Dan aku benar-benar hafal kain satin menerawang yang dikenakan si 'guling di depanku ini.

"Buset!!" seruku reflek sambil menarik tanganku dan mendorong 'sesuatu' itu sampai jatuh ke pinggir ranjang.

Pakai kaki.

Iya, maaf… Aku reflek.

GUBRAKK!

"Duh…" kudengar suara wanita mengeluh di ujung ranjang sana. Di lantai samping ranjang, tepatnya.

Aku malas pagi-pagi diomeli.

Jadi aku langsung kabur keluar kamar sebelum dia menyadari yang terjadi.

**

"Woy, Broooooo!" seru Fendi sambil melambaikan tangannya dari arah ruang makan. Dia sudah duduk rapi dengan style kekinian, dan beberapa jenis sarapan di meja di depannya.

"Ih Dimaaaas, kok belum ganti baju? Belom mandi pasti yaaa!" seru Putri riang. Dia duduk di sebelah Fendi.

"Hem…" aku malas ngomong, belom sikat gigi pula, jadi aku duduk kalem saja.

Banda menghampiriku sambil membawa nampan.

Aku agak mundur memghindarinya.

Aku benar-benar yakin pantulan bayangan yang kulihat semalam bukan halusinasi gara-gara main game nggak menang-menang.

Aku melirik Banda.

Pria itu dengan tenang meletakkan beberapa macam roti, selai, kopi hitam yang baunya menggugah selera pingin ku-sruput, dan sebatang cerutu dengan label Adipati Panatella.

Waaah, cerutu ini masyhur di kalangan masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya. Cerutu Adipati menjadi favorit Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan X.

"Saya khusus ke Jogja pagi-pagi sekali untuk mengambil ini, balasan untuk rokok tadi malam," bisik Banda.

Aku tegang.

Dia bisa mendapatkan benda se-eksklusif ini, dan aku hanya memberinya sedus rokok yang sering kubeli di minimarket.

"Saya tahu apa yang Pak Dimas pikirkan. Tapi cerutu ini memang disediakan di tempat kami sebagai sesaji. Jadi kami dengan bebas bisa mengambilnya. Namun, kami tidak bisa menginginkan barang milik 'manusia' begitu saja, kalau tidak diberi langsung oleh pemiliknya,"

Astaga, dia bilang 'barang milik manusia'... Jadi dia ini apa?!

Aku malah merinding.

"Saya malah… Ehem!" tenggorokanku langsung kering. "Tidak merasa pantas menerima benda ini karena nilainya tidak sebanding dengan rokok yang saya beri,"

"Niat Pak Dimas, berarti besar bagi kami," Banda menegakkan tubuhnya sambil menyeringai.

Putri memperhatikan kami dengan menopang kepalanya di pinggir meja. Ia menyeringai, "Banda adalah salah satu pelayan setiaku. Kamu tak perlu takut, Mas. Tapi kalau aku sudah meninggal, jangan coba-coba kamu mendekatinya, dia bisa jadi sangat liar,"

"Sepertinya Kanjeng akan masih tetap hidup walau pun Pak Dimas sudah mangkat," Banda cekikikan.

"Sok tahu kamu…" Putri menepuk paha Banda sambil tertawa.

Aku tidak ingin tahu apa yang kuhadapi sekarang. Lebih tepatnya, aku mencoba tidak ikut campur.

Bu Meilinda masuk ke ruang makan dengan rambut berantakan. Ia cemberut dan menatapku dengan sinis.

Aku menggigit rotiku sambil berlagak pasang wajah kalem. Padahal aku deg-degan sangat.

Sampai dia menggigit croissant-nya, dia masih menatapku curiga. Terlihat dahinya agak merah, mungkin terantuk lantai gara-gara kutendang.

Aku menyeruput kopiku.

Endul…

Semua stress langsung sirna.

"Besok kan hari Sabtu, kantor libur kan ya?" kata Putri, "Bagaimana kalau kalian menginap sehari lagi di sini?!"

"Boleh Eyang!" seru Bu Meilinda.

"Oke jeng!" sahut Fendi bersemangat.

Pak Sapto di ujung sana - dia driver Bu Meilinda, dan diriku, saling lihat-lihatan.

"Kami pulang duluan," kataku dan Pak Sapto berbarengan.

"Nggak asik banget sih kamu!" Omel Bu Meilinda.

"Bu Mel nggak lihat yang aneh-aneh sih…"

"Ya tapi kan tadi malam ada yang ngikik di depan pintu!" kata Bu Meilinda.

"Eh? Itu aku," Putri mengangkat tangannya, "Habis kalian subuh-subuh ribuuuuut terus. Aku kan harus cukup tidur untuk kesehatan dan kekencangan kulitku loooh,"

Ternyata dia biang keroknya.

Tapi tetap saja aku sangsi sama perkataannya. Bagiku, Putri dan Banda, adalah 'sesuatu' yang paling mencurigakan di sini.

"Pokoknya saya pulang duluan," desisku.

"Ya udah kita pulang aja, ni bocah mentalnya chicken banget!" omel Bu Meilinda lagi.

Dia nggak ngerasain hampir dipukuli Pak Gerald. Itu deg-degannya sampai aku kepikiran harus bikin wasiat buat ibuku.

**

"Heh!!" seru Bu Meilinda menarik lenganku saat aku berniat ke kamar mandi.

"Saya mau pup loh bu, mau ikutan jugaaa?! Masih ada toilet di kamar Kanjeng Putri Gandhes itu di koridor sana, ya numpang saja ke sana!" dengusku sambil menutup kepalaku dengan handuk.

"Sapa yang mau ikutan?! Saya mau tanya!"

"Ntar aja dooong,"

"Nggak, sini kamu!" ia mencubit pipiku. Sakiiittt…

"Apaaa, sakit bu!" aku menepis tangannya dan memukulnya sedikit.

"Kamu yang remas dada saya semalaman ya?! Merah nih!!" ia membuka jubah tidurnya, dan tampak guratan merah terselit di antara gaun tidurnya.

Aku telan ludah.

Harga diriku dipertaruhkan.

"Hemmm… Ibu sendiri kali yang remas-remas dada sendiri, siapa tahu ibu mimpi m3sum tentang Gunawan Ambrose-ambrose itu," aku menjulurkan lidahku, lalu kutinggal ke kamar mandi.

Kututup rapat-rapat pintunya.

"Kurang ajar!!" Aku masih mendengar dia berteriak begitu di luar.

Lebih baik aku bohong daripada nyawaku melayang.

Ih, tanganku ini ternyata nggak bisa diajak diem, dia begitu cerdiknya memanfaatkan kesempatan yang ada tanpa ragu.

Bahkan saat aku tidak sadar.

***

Kami semua memutuskan untuk ke kantor hari ini dengan tujuan untuk menyelesaikan laporan.

Fendi pulang tidak dengan tangan hampa. Ia membawa semua isi lemari di vila. Katanya Putri sudah mengizinkan. Tapi menurutku yang diizinkan mungkin hanya merchandise, tapi ini dia bawa semua kaos, semua celana, semua tas, bahkan dia bawa bantal. Udah kayak ngerampok.

"Semaleman gue tidur nggak bangun, nggak mimpi! Gile gue nyenyak banget!" seru Fendi. "Makanan lo dikasi obat tidur kali," gumamku.

"Pokoknya gue bangun dengan hati senang,"

Aku menghela nafas panjang.

Kalau saja dia tahu yang kualami semalaman.

"Eh Bro, tapi gue sempet nguping si Putri ngomongin Bu Meilinda semalem, sama pelayannya yang ganteng banget otu, namanya sapa tuh?"

"Banda," jawabku pendek.

"Siapa lah namanya, hot banget dia. Gue mau lah digoyang semalaman ama dia! Nggak pikir panjang lagi gue, kalo dia ngajak!"

Aku kembali menghela nafas. Kalau saja Fendi tahu siapa Banda.

Ya tapi kurasa akan aman-aman saja, kan Fendi nggak bakalan hamil sama genderuwo.

Hiii...

"Katanya, Putri itu kuatir sama pacarnya Bu Meilinda. Gunawan siapaaaaa gitu. Soalnya setahu Putri, Gunawan itu udah punya bini sah, namanya Mitha. Dan si Putri itu kenal sama Mitha. Tapi apakah mereka sudah bercerai, atau bagaimana, Putri tidak tahu..." kata Fendi.

Kenapa sih orang-orang mau tau aja urusan orang.

"Lu ngapain ngomong ama gue bisik-bisik?!" tanyaku. Secara di mobil kan kita cuma berdua.

"Ya sapa tau mobil kita di sadap, hehehehe!"

Kayaknya,

Sampai di kantor aku akan mencari tahu siapa itu Gunawan Ambrose. Dan apa hubungannya dengan semua ini.

Terpopuler

Comments

ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞

ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞

Wadduuhh... Eyang, panjang umur sekali dong yah

2024-09-10

0

May Keisya

May Keisya

mumpuuunng ya feen🤣🤣🤣

2024-01-17

0

Ray Aza

Ray Aza

genderuwonya yg kaga mau kali sm batangan... wkwkwkkkkk

2023-08-27

0

lihat semua
Episodes
1 Awal Kisahku
2 Dirinya
3 Masa Laluku (1 of 2)
4 Masa Laluku (2 of 2)
5 Awal Dia Benci AKu
6 Teman-Temanku
7 Duo Gahar
8 Tim IT
9 Sarang Miss.K
10 Pawang
11 Persiapan Ke Villa Angker (1 of 2)
12 Persiapan ke Villa Angker (2 of 2)
13 Putri
14 Kok jadi serem, sih?
15 Kenyataan Yang Lucu
16 Tantangan Untuk Gerald
17 Si MMM
18 Pulang Ah
19 Jual Sampah
20 Kerja Lagi
21 Kartu AS
22 Sabtu Bersama Teman Lucknutku
23 Fraud
24 Meeting
25 Reflek Kepeluk
26 Makan, Boss
27 Tembak
28 Antar Jemput
29 Legend
30 Pagi-Pagi Heboh AJe
31 Suasana Romantis
32 Investigasi Sampah
33 Paket Bulan Madu
34 Lobby Keramat
35 Milik Saya
36 Masa Romantis
37 Lembang Astaganaga
38 Pria pertama
39 Nasi uduk dan Raja Diraja
40 Main Kartu Malam-Malam
41 Fanatik
42 Si Gio Bikin Masalah Aje
43 Eagle One Coming
44 Cinta Dalam Kesulitan
45 Kantor Pusat
46 Pemecatan Gio
47 Heboh lah
48 Selena
49 Provocative Woman
50 Hangover
51 Loyalitas
52 Ngebahas Ruangan
53 Buaya
54 Dijemput Bram
55 Dibalik Layar
56 eps 56
57 Cieee Pacar Cieee
58 Cieee Dilamar Cieee
59 Battle Rap
60 King Of Vampire
61 Obrolan Meja Makan
62 Masalah Jodoh-Jodohan
63 Bram dan Pak Farid
64 Lamaran Diterima
65 Kumpulan Singa Betina
66 Pawangnya Muncul
67 Cuti Ah
68 Ini Bab Malesin
69 Dua Anak Baru
70 Pergi Bersama Sena
71 Girls Time
72 Gosip Bapak-Bapak
73 Balada Ari Sangaji
74 Gengsi Pembawa Siksa
75 Stephen dan Andrew
76 Selena Panik
77 Meeting Bersama Sarah
78 Ciwi-Ciwi Pada Datang lagi
79 Tenang juga si Ciwi
80 Kisah Cinta Si Daniel
81 Tim SAM
82 Masalah Golok
83 Karyawan Baru Garnet Property
84 Rencana Mindblowing Selena
85 Berkunjung ke Rumah Gio
86 Yang Terjadi Sebenarnya
87 Meilinda Panik, Tapi semua TIDACK
88 Baca Habis Berbuka aja, Ya...
89 Kerja lagi ah...
90 Pertanyaan Bertubi-tubi
91 The Puppy and The Vampire
92 Camer yang Menyamar
93 Adegan Yang Ditunggu Jeng-Diajeng sekalian
94 Ibuku Ngamuk
95 Tongkat Golf Misterius
96 Aku Kaget Loooh
97 Kantornya Trevor
98 Zeus Naik Jazz
99 Masalah Kredit
100 Ayu si manis
101 Galau Nggak Jelas
102 Lagi-lagi Berdebat
103 Hadiah Ultah Meilinda
104 Creambath pake siput
105 Nomor Telepon Mas Bram
106 Meeting Malam-Malam
107 Eeees Eeees
108 Dia Yang Diserang, Kita Yang Senang
109 Nikah Woy!! (1)
110 Nikah Woy! (2)
111 Nikah Woy! (3)
112 Nikah Woy! (4)
113 Hari Apa Sih Ini?
114 Ketemu Lexy Lagiiii
115 Meilinda Galau (Lagi)
116 Episode Basa-Basi
117 Ipar Nggak Ada Akhlak
118 Mengharukaaaan
119 Vila Vampir (1)
120 Vila Vampir (2)
121 Vila Vampir (3)
122 Vila Vampir (4)
123 Vila Vampir (5)
124 Vila Vampir (6)
125 Vila Vampir (7)
126 Cooking Time With Dimas
127 Pintu Theater Ditutup
Episodes

Updated 127 Episodes

1
Awal Kisahku
2
Dirinya
3
Masa Laluku (1 of 2)
4
Masa Laluku (2 of 2)
5
Awal Dia Benci AKu
6
Teman-Temanku
7
Duo Gahar
8
Tim IT
9
Sarang Miss.K
10
Pawang
11
Persiapan Ke Villa Angker (1 of 2)
12
Persiapan ke Villa Angker (2 of 2)
13
Putri
14
Kok jadi serem, sih?
15
Kenyataan Yang Lucu
16
Tantangan Untuk Gerald
17
Si MMM
18
Pulang Ah
19
Jual Sampah
20
Kerja Lagi
21
Kartu AS
22
Sabtu Bersama Teman Lucknutku
23
Fraud
24
Meeting
25
Reflek Kepeluk
26
Makan, Boss
27
Tembak
28
Antar Jemput
29
Legend
30
Pagi-Pagi Heboh AJe
31
Suasana Romantis
32
Investigasi Sampah
33
Paket Bulan Madu
34
Lobby Keramat
35
Milik Saya
36
Masa Romantis
37
Lembang Astaganaga
38
Pria pertama
39
Nasi uduk dan Raja Diraja
40
Main Kartu Malam-Malam
41
Fanatik
42
Si Gio Bikin Masalah Aje
43
Eagle One Coming
44
Cinta Dalam Kesulitan
45
Kantor Pusat
46
Pemecatan Gio
47
Heboh lah
48
Selena
49
Provocative Woman
50
Hangover
51
Loyalitas
52
Ngebahas Ruangan
53
Buaya
54
Dijemput Bram
55
Dibalik Layar
56
eps 56
57
Cieee Pacar Cieee
58
Cieee Dilamar Cieee
59
Battle Rap
60
King Of Vampire
61
Obrolan Meja Makan
62
Masalah Jodoh-Jodohan
63
Bram dan Pak Farid
64
Lamaran Diterima
65
Kumpulan Singa Betina
66
Pawangnya Muncul
67
Cuti Ah
68
Ini Bab Malesin
69
Dua Anak Baru
70
Pergi Bersama Sena
71
Girls Time
72
Gosip Bapak-Bapak
73
Balada Ari Sangaji
74
Gengsi Pembawa Siksa
75
Stephen dan Andrew
76
Selena Panik
77
Meeting Bersama Sarah
78
Ciwi-Ciwi Pada Datang lagi
79
Tenang juga si Ciwi
80
Kisah Cinta Si Daniel
81
Tim SAM
82
Masalah Golok
83
Karyawan Baru Garnet Property
84
Rencana Mindblowing Selena
85
Berkunjung ke Rumah Gio
86
Yang Terjadi Sebenarnya
87
Meilinda Panik, Tapi semua TIDACK
88
Baca Habis Berbuka aja, Ya...
89
Kerja lagi ah...
90
Pertanyaan Bertubi-tubi
91
The Puppy and The Vampire
92
Camer yang Menyamar
93
Adegan Yang Ditunggu Jeng-Diajeng sekalian
94
Ibuku Ngamuk
95
Tongkat Golf Misterius
96
Aku Kaget Loooh
97
Kantornya Trevor
98
Zeus Naik Jazz
99
Masalah Kredit
100
Ayu si manis
101
Galau Nggak Jelas
102
Lagi-lagi Berdebat
103
Hadiah Ultah Meilinda
104
Creambath pake siput
105
Nomor Telepon Mas Bram
106
Meeting Malam-Malam
107
Eeees Eeees
108
Dia Yang Diserang, Kita Yang Senang
109
Nikah Woy!! (1)
110
Nikah Woy! (2)
111
Nikah Woy! (3)
112
Nikah Woy! (4)
113
Hari Apa Sih Ini?
114
Ketemu Lexy Lagiiii
115
Meilinda Galau (Lagi)
116
Episode Basa-Basi
117
Ipar Nggak Ada Akhlak
118
Mengharukaaaan
119
Vila Vampir (1)
120
Vila Vampir (2)
121
Vila Vampir (3)
122
Vila Vampir (4)
123
Vila Vampir (5)
124
Vila Vampir (6)
125
Vila Vampir (7)
126
Cooking Time With Dimas
127
Pintu Theater Ditutup

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!