Mobil kami masuk ke parkiran kantor di jam 12 siang,
Kembali ke kantor, kembali ke aktivitas biasa. Ribet bin pusing tapi butuh.
Tapi kebiasaanku yang kelewat santai dan dableg ini membuatku mengarahkan kaki alih-alih ke lantai atas malah ke tempat keramat.
Yak, Kantin.
Laper habis perjalanan jauh. Puncak-Jakarta.
Lagian dari kemarin makannya aneh-aneh. Ya Mcd lah, Ya Roti lah.
Seleraku kan Nasi Putih Cumi Asin Sambel Bawang.
Jadi, seperti biasa, aku ke warteg dulu sebelum naik ke lantai atas.
Di sana sudah berkumpul Daniel, dan beberapa anak buahku. Memang semprul ni para anak buah, tau aje Bossnya lagi dinas mereka malah enak-enakan jam segini udah nongkrong ngopi-ngopi cantik di luaran. Berasa kambing tanpa gembala.
Secara Bossnya juga kelakuannya sama sih. Kantin Minded, wekekekek.
"Mas! Dimas!!" Daniel melambaikan tangannya padaku.
Aku duduk di depannya dengan mengernyit.
Handri, Faisal dan Tenny sudah ready di sana.
"Ada kabar apa?" tanyaku.
"Pak Jaka habis dimaki Bu Sarah kemarin," kata Handri. Kacamatanya berkilat, menandakan kalau pembicaraan kali ini serius.
Pak Jaka adalah Kepala Divisiku. Kadiv Audit dan Aset Bermasalah. Posisiku di bawahnya persis, tapi yang biasanya disuruh melakukan hal merepotkan adalah aku. Sampai tandatangan saja aku. Itu karena kasus meeting 3 tahun lalu, sejak itu kehidupanku di kantor ini memang agak ribet.
"Gara-gara?"
"Gara-gara Pak Dimas dan Bu Meilinda jalan ke Hambalang menemui Bagas-Bagas itu… Sapa namanya? Nasabah yang jaminannya sarang kunti itu loh Pak Dim,"
"Bagaswirya? Iya, jaminannya mau diganti jadi gedung bertingkat,"
"Widiiih hebaaaat," desis semua.
Mereka tak tahu apa saja yang kualami untuk mendapatkan jaminan semewah itu.
"Kata Bu Sarah, Pak Dimas dan tim audit berusaha menjelek-jelekkan namanya dan menanggapnya tidak kompeten. Seharusnya hal ini urusan marketing, tak perlu audit turun tangan. Ini kan nasabahnya Bu Sarah,"
"Itu sih akal-akalan Bu Sarah biar bisa ngomel aja. Pak Jaka kan kalau diomeli diem aja, semua juga tau gue ke Hambalang disuruh Pak Presdir," desisku sambil memesan segelas susu kopi campur jahe geprek ke Mas-mas kantin. "Lagian ada Fendi ikut sama gue. Fendi kan marketingnya dia,"
"Dih Bu Sarah nyari perkara aje-"
Gubrakk!
Belum sempat Handri bicara lebih lanjut, Fendi sudah menubrukku dan duduk di pangkuanku.
"Bu Sarah ngelempar gue pake bantex, save me plis," desis Fendi sambil bergelayut di pahaku dan nyomot pisang molen. Dia bilang ‘save Me’ tapi tingkahnya santuy seakan sudah biasa.
"Bukannya lo udah ke atas?" tanyaku.
"Udah, baru aja gue buka pintu, udah dilempar. Ya gue kabur kemari. Gue tau lo pasti nongkrong di mari dulu sebelom kerja.Dahlah jangan ke atas dulu, lagi keos. Di sini aja," desis Fendi.
"Lagi-lagi masalah Bagaswirya?"
"Yoik, dia merasa paling kenal sama keluarga konglomerat, padahal mah kita sendiri udah makan semeja. Doi malah belom ketemu sama sekali. Kita ketemu dedengkot, doi cuma tau dari pihak ketiga," gerutu Fendi.
“Ini kata orang yang ngerampok isi kamar Putri, lo kagak tau kan di setiap bendanya ada kutukan?! Coba lo periksa baek-baek sapa tau ada ketempel kode Lucifer di sana,”
“Lo serius Maaas??” desis Fendi langsung tegang.
“Bercanda,” desisku.
“Dih, gue udah deg-degan,”
“Bercandanya serius,”
“Gue jadi overthinking. Udahlah lo mingkem aje, gue bingung…” omel Fendi.
"Ya udah lo ikut aje ke ruangan gue, kerja di sana. Betewe, duduk sendiri lah nih di sebelah,"
"Napa sih Mas? Apa artinya persahabatan kita selama ini kalo lo mangku gue aja nggak rela?!"
"Ntar lo nyaman, bahaya. Gue males ketularan," desisku sambil mendorongnya ke samping.
**
Hampir Jam 14, kami akhirnya kembali ke ruangan kantor. Kupikir Bu Sarah sudah pergi, tapi rupanya dia mengancam operator lobby untuk mengabarkan beliau saat kami datang dan mengarah ke atas.
Aku tahunya dari Desy, yang langsung masuk lift dan nyempil di antara kami dengan tubuh gemuknya itu.
"Mas Dimaaas maaafkaaaan akuuuu," ia memeluk lenganku sambil gesek-gesek manja. Aku sih tak keberatan sebagai laki-laki diperlakukan seperti itu asal bukan modus aja. Habis empuk dan hangat... eh.
"Napa sih lu Des... Eh iya bagi permen dong," pintaku.
Desy merogoh kantong roknya dan memberiku sebungkus permen yang di belakangnya ada tulisan : Always Love U.
"Love U Too," sahutku sambil kubuka permen itu dan langsung kubuang bungkusnya ke tempat sampah di pojok lift.
"Ih Mas Dimas! Apa maksudnya coba bilang Love U Too terus dibuang!" Omel Desy.
"Karena udah nggak butuh," desisku.
"Gila ye Mas Dim, dingin bener jadi cowok! Tapi jadinya makin ganteng durjanah!!" desis Desy sambil menoel pipiku. Lalu ia pun ke pojokan, terus dia ambil bungkus permen yang barusan kubuang dari tempat sampah, dan dimasukkannya lagi ke kantongnya.
"Jorok bener lo, kalo Rizka sampe tau kelakuan emaknye di kantor-"
"Hush!" ia menunjuk mukaku pakai telunjuk, "Aku bisa dapet duit dari sampah yang kau buang wahai cowok ganteng sejagat,"
"Maksud lo?"
"Dirimu nggak tau kalo ada yang memperjualbelikan sampah bekas kau pakai?"
"Seriuuus??" seru kami semua di dalam lift.
"Nih ya, bungkus permen ini yang sudah Mas Dim jampe-jampe dengan kalimat 'Lov U Too, yang artinya Cinta Kamu Jugaaaaa, akan aku lelang dengan pembukaan 500rebu!"
"Beuh! Cadas…" gumamku.
"Puntung rokok yang Mas Dim sering buang depan Lobby, kemarin laku dua juta sepuntung,"
"Buset! Nge-Grudge!!"
Lalu Desy menatapku sambil mengernyit, "Mas, permennya coba di lepeh,"
"Hah?!"
Dia membuka bungkus perman tadi dan menadahkannya ke depan daguku, "Lepeh permennya Mas kesini,"
"Bujug,"
"Nanti kuganti pake permen yang lain, sini lepehin!"
Aku manut dan kulepeh permen yang barusan ku-kulum ke dalam bungkus 'Always Love U'.
"Sip!! Biaya semesteran anakku! Makasih loh Mas Dimas," Desy mengerling padaku. Lalu merogoh kantong roknya dan mengeluarkan sebungkus lagi permen padaku.
Aku langsung menggeleng menolak. Tiba-tiba jadi merinding. "Lu gila…"
"Oh iya betewe, aku mau minta maaf. Akuuuuu diancem Bu Sarah disuruh laporan kalau Mas Dimas en the geng ke atas suruh bilang dirinya! Dia katanya mau nunggu di ruangan Audit,"
"Dan lo kasih tau?! Ah si Desy merusak rasa kopi di lidah aje!!" seru Daniel langsung stress.
"Ya gimana, keselamatanku terancam," Desy menekan tombol dan ia turun di lantai 5, "Berdoa dulu ya Mas Dim. Muah-muah!" desisnya sambil berlalu.
Pintu lift pun tertutup kembali.
Keadaan hening.
"Kalo s3mpak bekas gue laku berapa?" tanyaku kemudian.
"Buat gue aje nggak usah dijual, bahan cocolan," gumam Fendi.
"Gue santet lu pake tanah kuburan…" gerutuku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
Yaelah, d Bales lagi love u too katanya😁😁😁😁
2024-09-10
0
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
😄😄😄😄😄
2024-09-10
0
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
iiihhhhhh jangan ya dek yaa😄
2024-09-10
0