Bu Meilinda adalah Direktur Kepatuhan di Perusahaan ini, jadi sudah pasti beliau adalah atasanku. Usianya yang menginjak 44 tahun cukup cantik dan memikat.
Kalau ia diam.
Kalau mulutnya mulai membuka, berharap saja tidak satu ruangan dengannya. Wanita sosialita yang kegemarannya mengomel, berteriak, gebrak-gebrak meja dan lempar-lempar paperwork. Mending dia lempar tas mahalnya itu biar bisa kami gadaikan.
Kami karyawannya memang sering membicarakannya, mengenai bagaimana kehidupan pernikahannya bisa bertahan dalam setahun ini.
Tahunya dia salah pilih jodoh.
Kena karma kayaknya.
Kalau di kantor, mulut nyinyirnya seringkali menyindirku, tapi ia belum berani mendekatiku karena saat pertama kali bekerja di sini, di minggu pertama saat meeting bulanan, aku berani mendebat dia akan suatu kasus dan ucapanku sepertinya cukup mengena sehingga saat itu bisa membungkamnya.
Bagiku saat itu yang sudah bertemu banyak orang, wanita tipikal judes macam Bu Meilinda pasti ada di setiap kantor. Namun yang berpenampilan menarik ala bidadari Jaka Tarub hanya satu ini yang kutahu. Kejadian itu ternyata bagai buah simalakama untukku karena sejak saat itu aku dianggap problem solving dan tugasku jadi menggunung melebihi karyawan yang sebelumnya kugantikan.
Dan saat itu aku belum tahu kalau Bu Meilinda adalah pewaris perusahaan. Dipikir-pikir gila juga tindakanku, mendebat orang paling bawel judes nyinyir di kantor dan dia adik kandung owner. Kupikir aku bakal dipecat, tapi malah dipromosikan sebagai Kepala Seksi.
Dan setelah itu aku selalu jadi bulan-bulannnya. Seakan aku adalah pelampiasan kekesalannya akan kehidupannya yang tidak selalu berjalan mulus.
By the way... ini Kadivku kemana sih? Kalau di saat-saat begini dia selalu menghilang.
Dan inilah kehidupanku. Kehidupan kerja, maksudnya.
Di Garnet Bank
Anak perusahaan Garnet Grup. Perusahaan raksasa yang digagas oleh keluarga Bataragunadi, keluarga Bu Meilinda.
Anak usahanya banyak, ada belasan. Diantaranya Garnet Bank, perusahaan tempatku bekerja.
Garnet Bank sendiri memiliki 1 Kantor Pusat (tempatku bekerja sekarang), 8 kantor wilayah, 2 kantor fungsional, 20 kantor cabang dan 200 kantor cabang pembantu.
Banyak?
Mendengarnya saja sudah ribet ya.
Itu baru 1 anak usaha ya, masih ada belasan lain yang bergerak di bidang usaha yang berbeda-beda.
Terbayang kan besarnya perusahaan ini.
Dan di balik kesuksesan itu ada tangan dingin seseorang. Namanya Sebastian Bataragunadi. Disebut masyarakat sebagai Legenda di dunia Treasury. Karena memang beliau sehebat itu.
Dan Pak Sebastian itu kakak kandung Bu Meilinda.
Iya.
Aku berani membentak adik kandung owner. Seorang wanita terhormat elegan yang usianya 14 tahun lebih tua dariku tapi memiliki tubuh sintal bagaikan remaja 20 tahunan.
Entah dari mana kekuatan itu berasal. Yang jelas kalau sudah berhadapan dengan Bu Meilinda aku sering merasa kalah. Walau pun kenyataannya aku menang, tapi setelahnya aku menyesal karena menang.
Seperti... merasa sangat durhaka sudah membentak-bentaknya.
Walau pun besoknya kuulangi lagi dan lagi. Berdebat dengannya bagaikan candu.
Sepertinya aku termasuk adrenaline junkie.
**
“Kalo resign dari sini gue dibayar sesuai ketentuan PHK nggak?” tanyaku dari telepon.
Di seberang sana ada sahabat kakakku, namanya Trevor Michael Bataragunadi.
Sama-sama Bataragunadi? Iya, dia memang anaknya Pak Sebastian.
Karena kakakku dan dirinya sohib banget waktu kuliah di salah satu universitas negeri, malah sampai ambil double degree bareng-bareng, sampai dicurigai memiliki hubungan sejenis saking kemana-mana selalu berbarengan.
Di mana ada Trevor, di situ ada Bram. Saat Bram menghilang, coba tanya Trevor. Saat keduanya tidak ada kabar, biarkan saja, paling lagi barengan.
Begitu motonya.
Dan Trevor ini yang memasukkan aku ke Garnet Bank.
Agak curang, memang. Awalnya Trevor pun ragu, takutnya masuk kategori nepotisme tidak langsung.
Tapi mungkin dia kasihan padaku. Wajah seperti jenisku ini memang tidak mudah ditolak.
“Ya Nggak lah! Emangnya perusahaan bokap lo,” gerutu Trevor.
“Ya kan perusahaan bokap lo,” balasku.
“Ya iya! Gue aje anaknye, kandung loh, Nggak ada tuh perlakuan begitu! Dia bilang : besok kamu ayah mutasi ke Rusia. Ya gue harus angkat pantat gue kesana! Nah ini lo enak-enakan mau minta resign harga PHK. Nggak pake!”
Kayaknya si Trevor kesel banget mendengarku merajuk.
Mungkin dia lagi banyak pikiran.
Tapi kuakui, aku memang manja saat ini.
Dibentak sedikit saja sama Bu Meilinda sudah minta resign. Dasar aku baperan!
“Gue main ke sana ya?” rayuku lagi. Maksudku, ke kantornyaTrevor. Deket kok cuma naik transjakarta sekali. Tapi ya kalau kesana di jam pagi memang agak ribet karena saking ramainya kawasan bisnis segitiga putih.
Putih aja lah, biar ala novel dewasa.
“Mau ngapain kesiniiii? Gue bentar lagi meeting! Si Bram lagi di Jogja ngurusin pembebasan lahan, gue harus hadepin investor rese sendirian!”
“Rese-rese mereka yang ngasih lo duit,”
“Ya bener! Makanya gue sebel!” Sahut Trevor sewot.
Duile, anak konglomerat aja bisa kesal sama hidupnya, apalagi kita yang kaum pinggiran.
“Gue butuh temen sefrekwensi,” kataku.
“Nggak bisa lewat telpon aje?”
“Nggak bisa, terlalu mesra, ini aje ngobrol ama lo, anak-anak lirik-lirik melulu dikiranya gue ngobrol ama pacar sewaan,” aku menatap staff yang duduk di depanku.
mereka langsung melengos.
Aku mencibir.
“Ya udah kesini dah pas makan siang,” desis Trevor. “Gue juga lagi butuh pelampiasan,”
“Ajak Milady ya? hehe,” rayuku lagi.
“Ngapaaaaaiiin?!”
“Tampangnya seger, lumayan lah bisa bikin hati gue adem,”
“Sesuka itu lo sama Milady kenapa berdua nggak pacaran aja sih?! Kan sama-sama single!” seru Trevor, lagi-lagi sewot.
Heran ni bocah… udah 35 tahun, bawaannya ngambek melulu. Ya wajar sih, bapaknya kan Pak Sebastian.
Liat saja adiknya Pak Sebastian, kerjaannya tiap hari mengomeliku terus.
“Lo sendiri kan Bossnya Milady, single juga kenapa nggak pacaran aja? Bikin skandal sekalian…” godaku.
“Gue lebih baik pacaran sama elo daripada sama Milady. Dia kadang nakutin kalo lagi diem. Ngeliatin tapi kayak mau nerkam gue,” Milady itu sekretaris Trevor. Dulu aku dan Milady TTM-man. Nggak nyangka ketemu lagi dalam posisi dia adalah sekretaris sahabatku.
Aku memanjangkan leherku ke arah parkiran VVIP.
Tampak Bu Meilinda melangkahkan kaki jenjangnya ke Lexusnya sambil menenteng tas super mahalnya. Di sebelah tangannya, ia tampak menenteng dokumen dengan map merah yang sangat kukenal, Laporan OJK.
Dan dia gunakan dokumen itu untuk memayungi tasnya.
Gile…
Tas kulit buaya aja nggak boleh berkerut kena panas ya. Kasihan OJK kalau tahu dokumen pentingnya dipake buat memayungi tas.
Lebih kasihan lagi ya… AKU sih.
Soalnya gara-gara dokumen itu aku kena semprot ambekan pagi-pagi.
Sungguh, derajatku ini nilainya Nol di mata Meilinda Bataragunadi.
“Oke, kita pacaran,” desisku.
“Somplak…” gerutu Trevor sambil memutuskan sambungan telepon.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
💕Rose🌷Tine_N@💋
lucu nih kynya novel...gokil😅
2024-07-14
1
Rose_Ni
plus mumet
2023-12-28
0
Kustri
asyik nih alur'a
2023-08-10
0