Esoknya,
Pagi itu cuaca mendung.
Aku pun berdiri di depan lobby, merokok, sambil menatap langit yang mendung.
Beberapa orang wanita berjalan sambil melirik-lirikku. Aku diam saja.
Beberapa lainnya menyapaku.
Aku hanya mengangguk sekilas.
Berlagak sombong.
Bukannya tak ingin menyapa balik, aku masih takut mereka akan menangkap maksudku sebaliknya. Seperti kejadian di kantor lama.
“Mas...” Daniel menghampiriku. Melipir-melipir, mepet-mepet, akhirnya dia pun bilang : “Bagi rokok dong,”
“Minta melulu lo,”
“Gue lagi dalam rangka penghematan, mau beli i-phone,”
“Emang hape lo kenapa?”
“Nggak kenapa-napa, mau i-phone aja,”
“Bukannya tahun lalu lo kayaknya bangga banget punya hape lo yang sekarang, lo kan sampe kerja partime ngajarin anak-anak les Bahasa Inggris buat dapetinnya,”
“Hem... tapi temen-temen gue pada punya I-Phone, Mas,”
“Gue nggak punya,” kataku.
“Iya, kenapa lo nggak punya?”
“Buat apa?” tanyaku balik.
Daniel diam sebentar, “I-Phone banyak kelebihannya,”
“Seperti?” tanyaku lagi.
Daniel menyeringai.
Aku pun mesem-mesem.
Lalu kulihat Lexus Bu Meilinda memasuki lahan parkir.
“Nah kalau beliau memang lebih pantas punya i-Phone. Karena IOS yang eksklusif, sistem keamanan data di iOS bisa dikatakan lebih kuat dibandingkan Android. Duitnya kan Miliaran di e-bankingnya, juga dia dari kalangan sosialita, pasti ada banyak rahasia yang tidak boleh diungkap ke publik,” kataku ke Daniel.
“Gue maksain ya Mas?!”
Lalu kulihat dari jauh, Fendi berjalan ke arah Lobby dengan kepala menunduk, ia sedang fokus ke ponselnya. “Kalau Fendi punya I-Phone, itu juga wajar,”
“Maksud lo?!”
“Ya siapa tahu memang banyak yang dia sembunyikan, hahahaha,”
“Apa lu ketawa-tawa?!” gumam Fendi sambil menghampiriku, keningnya berkerut.
“Ngomongin i-Phone,” kataku dan Daniel berbarengan.
“Liat deh chasing gue, keren kan?! Dari Burberry loh!”
“Bodo amat,” gumamku dan Daniel. “Mendingan gue alokasiin ke token listrik ya Mas,”
“Kalo ada rejeki nabung aja dikit-dikit. Pas udah kekumpul, udah muncul lagi versi baru, eeeh duitnya lagi-lagi nggak cukup!” aku terbahak.
“Stress lu Mas,” gerutu Fendi.
“DIMAS!!” seru Bu Meilinda dari kejauhan, “Dari tadi dipanggil-panggilin malah ketawa-tawa di situ!! Sini bantuin saya!!” jerit Bu Meilinda dari arah mobilnya.
“Duh, ganggu suasana mendung gue aja deh,” gerutuku sambil mematikan asap rokokku dan beranjak menghampiri Bu Meilinda.
“Hais! Gue juga harus siap-siap mau ke sarang Miss.K!” sahut Fendi sambil buru-buru masuk ke gedung.
Tinggal Daniel di sana sendirian, tertegun.
Di usianya yang menginjak 23 tahun, ia masuk ke Garnet Bank dengan nilai tes yang lumayan tinggi. Saat itu ia fresh Graduate, sama sekali tidak tahu akan dibawa kemana hidupnya.
Karena wajahnya yang manis, ia coba-coba masuk ke sebuah agency model. Dan di sana ia ditawari untuk menjadi figuran di salah satu sinetron.
Hari demi hari ia habiskan untuk berakting sebaik-baiknya, ia sudah yakin akan mendapatkan peran yang lebih bonafit dibandingkan hanya peran orang jalan lewat-lewat dan dialog yang sedikit, karena berulang kali si produser memujinya.
Namun yang Daniel dapatkan malah kekecewaan.
Suatu saat, memasuki season ke dua, anak salah satu investor masuk menjadi pemeran utama di sinetron itu. Membuat kecewa semuanya, membuat harapan pupus, kontrak Daniel pun tidak diperpanjang karena tergeser peran pembantu yang lain yang juga tergeser karena sang artis baru, muncul.
Dan di sanalah, di sebelah pencari bakat, berdiri Pak Alexander David Huang. Menyeringai padanya sambil memberinya map berisi surat kontrak.
“Saya butuh karyawan di divisi marketing, kowe arep masuk Bank tak? You pelajari dulu aja tu kontrak, kalo berminat, ni kartu namaku,” kata Pak David Huang.
Dan di sinilah Daniel berada sekarang, dengan penghasilan yang lebih stabil, dan metode kerja yang lebih terencana. Ia ada waktu istirahat, punya lebih banyak waktu untuk kelarganya, walau pun memang penghasilannya tidak terlalu besar seperti Fendi yang seorang marketing senior.
Jadi...
Untuk apa dia menginginkan i-Phone di saat semua hidupnya sudah cukup?!
“Bikin masalah baru aja sih gue,” desis Daniel menyadari kesalahannya. Ia pun terkekeh malu ke diri sendiri, lalu mematikan rokoknya dan masuk ke gedung untuk mulai bekerja.
“Niel, masuk, kerja!” seruku. Aku kuatir tu anak ngelamun mojok di depan parkiran, kesurupan bisa heboh nih kantor. Malu-maluin Garnet.
“Iyaaaaa,” desis Daniel sambil menyeringai dan masuk ke gedung.
“Mas, ini, ini, ini, hati-hati bawanya!” sahut Bu Meilinda sambil menyerahkan beberapa tas kertas tebal padaku.
“Apa ini bu?”
“Sesaji,”
“Hah?!”
“Se-sa-ji, Dimaaas, Sajen buat yang punya rumah!”
Aku melongok isinya.
Sesajen tapi kok isinya kayak serah-serahan kawinan?! Ada seperangkat alat sholat dan tas mewah pula.
“Hantu jaman sekarang suka yang gini-ginian bu?!”
“Ini buat yang punya rumah, Dimas. Bukan setannya! Ih kamu nih!” Bu Meilinda melenggang masuk gedung membawa tas kecilnya yang berlogo huruf ‘C’ (heran juga, apa hubungannya huruf C dengan dirinya, secara namanya kan Meilinda, nggak ada C-Cnya), sedangkan aku ditinggal dengan tumpukan tas kertas yang gambarnya dari berbagai merk, kebanyakan warna orange, di parkiran. Udah mencolok banget deh gayaku.
“Jangan kegores!” serunya dari atas tangga.
Mau kesal tapi butuh, mau kutinggal aja di jalanan itu tas-tas tapi aku takut kena kutukan.
Serba salah akhirnya kupasrahkan kaki ini melangkah dengan segala kekurangannya.
**
“Pak Dimas ada yang cari dari Garnet Grup,” operator mengabariku saat aku tiba di ruangan. Kuarahkan tamuku ke ruang tunggu walaupun aku juga bingung siapa yang mau menemuiku pagi-pagi begini. Aku bukan orang penting di perusahaan, juga bukan marketing, jadi kemungkinan aku didatangi tamu sangatlah sedikit.
Saat aku menemui ruang tunggu, yang kuhadapi adalah pria dengan setelan suit kerja bagaikan Elite Model, dengan pin tersemat di kerahnya. Pin dengan bentuk yang mendapatkannya saja butuh perjuangan berpuluh-puluh tahun. Pejabat Eksekutif Garnet Grup, atau bagian dari manajemen kantor utama.
Pria itu menatapku dengan senyum ramah, wajahnya khas asia yang kupikir dia cocok sekali kalau berperan sebagai Oppa-Oppa Korea di Drakor.
Kulihat di Nametagnya, ada nama Arman.
Arman dari Garnet Grup.
Rasanya nama itu pernah disebut oleh Trevor tempo hari.
Arman yang langsung pergi dan menurut walau pun disuruh beli pisau cukur untuk Pak Sebastian ke Bolivia.
Asisten sekaligus Kepala Divisi Corporate Secretary Garnet Grup datang sendiri ke Garnet Bank untuk khusus bertemu denganku.
Rasanya kok aneh sekaligus keren.
“Pak Dimas Tanurahardja?” tanyanya.
Laki-laki ini benar-benar membuatku terpukau. Beda denganku yang berpakaian seadanya, hanya kemeja putih, dasi yang asal nyomot di online shop, rambut yang disisir dengan tangan. Kami bagaikan langit dan bumi.
Aku langsung Jiper.
Kalau Mas Bram type Model untuk jas pria dari Italy, yang ini bisa jadi setara tapi dari Korea.
“Benar, Apa kabar Pak Arman?” sapaku sambil mengulurkan tangan.
Dia menyambut uluran tanganku dengan erat.
Sekali lagi aku terpukau.
Jenis parfum mahal yang seharga gajiku sebulan, langsung berputar mengisi udara di sekelilingku.
Apalah aku yang parfum aja nyomot di meja Fendi, ato pura-pura ke Indomaret beli kopi saset tapi nyoba tester.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
ͩᥫ᭡arinaⁿʲᵘˢ🎀
kesayamfan bu ayu .
2025-03-15
0
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
Si Bakayarou 😍
2024-09-09
0
Naftali Hanania
ampuuunnn dimass 🤦✌️😁
2024-03-20
0