Kembali lagi ke realita masa kini, tak terasa aku menghabiskan sebatang rokok. Kuredupkan ujungnya ke tempat sampah khusus rokok di sebelahku, dan kupandangi bungkusnya. Tulisan Wismilak dengan tambahan Diplomat. Entah sejak kapan aku suka rokok kretek dengan kadar tar 35mg ini.
Seingatku, sekitar 3 tahun yang lalu saat aku pertama kali bekerja di Garnet Bank, aku masih menghisap Djarum Coklat. Apakah karena nama kretek di tanganku ini sekaligus doa untuk diriku sendiri? Semoga Beruntung jadi Diplomat.
Ataukah karena Wismilak memiliki durasi bakar yang lebih lama dari rokok lain? Atau karena tingkat stressku tinggi di perusahaan yang sekarang, jadi aku butuh sesuatu yang menenangkan karena kopi sudah tak cukup?
Bisa jadi semuanya benar.
Tak terasa bibirku nyengir sendiri. Menertawakan kelemahanku akan dunia.
Lalu aku beranjak, berniat berjalan ke arah restoran kembali untuk menemui kedua sahabatku.
**
“Sayang, tenanglah... kamu bisa!” desis Trevor saat aku duduk kembali di kursi.
Milady sedang mengamati Trevor sambil menyangga dagunya ke meja. Dan wajah wanita itu berkerut tanda ia serius mendengarkan.
“Siapa?” tanyaku ke Milady tanpa suara.
“Bram,” jawab Milady, juga tanpa suara.
“Duh... Mas Trevor lagi sibuk nih di Jakartaaaaa,”
Lalu kudengar dari speaker telepon seorang pria berteriak : Sibuk Gundulmu!!
Mas Bram lagi marah ternyata.
“Sibuk ini loh, dengerin curhatannya Dimas,” alasan Trevor.
“Gue belom sempet curhat, Batok!” aku melempar Trevor dengan potongan buncis yang tersisa.
“Sejak kapan lo mau dengerin curhatan orang?! Biasanya malah lo yang lebih banyak curhat! Ayumi begini-Ayumi begitu! Lambe!!” seru Mas Bram lagi. Teriakannya kedengeran jelas dari seberang telepon.
“Hais!! Jangan marah-marah sayang, sana minum Kiranti dulu, siapa tau kamu PMS... udah ya, Mas Trevor mau lanjut kerja,” dan Trevor pun menutup teleponnya, lalu menyeringai sambil mengusap lehernya. “Si Bram kalo udah ngomel serem...” gumamnya sambil nyengir.
Aku membuka buku menu sambil melihat-lihat jajaran nasi goreng super mahal. Nasi goreng tiram 120k. Tiramnya dari Palung Mariana kali yak, dipancing khusus pake kapal selam tanpa awak. Gila aja mahal bet dah, duit belanja ibuku seminggu.
Lalu aku beralih ke Nasi Goreng Kobe dengan toping lembaran emas. 450k. Emang toping emas ada rasanya ya?
“Trev, bayarin makan gue yak,” desisku sambil memanggil waitress.
“Apakah? Enak aja...” gumam Trevor.
“Aku aja yang bayar, Mas...” sahut Milady.
“Jangan kamu, aku nggak tega,” waitress datang dan kutunjuk nasi goreng 450k itu, “Pesen ini 2, Tapi take away ya,”
“Hah? Take away Pak?” tanya Waitress kebingungan. Belum pernah liat fine dining ditake away kayaknya dia.
“Iya, dibungkus mau saya bawa pulang. Gitu bahasa Indonesianya,”
“Em... ya saya tahu sih pak arti take away, baiklah Pak, tapi-“
“Penataannya terserah kokinya aja, oke Mas?” sahutku sambil berdiri dan menuju ke arah Trevor. Trevor menatapku sambil mengernyit, ia bahkan mengangkat lututnya untuk melindungi dirinya.
Aku menunduk dan merogoh dompet yang ada di kantong belakang celananya.
“Hyahaha! Mau apa lo kacrooot!! Dih pelecehan waaah parah lo Dim!! Kyaha!!” dia kegelian saat kurampas dompetnya.
Aku ambil black card di selipan dompetnya dan kuberikan ke waitress.
Bayaran atas kecemburuanku. Nasi goreng super mahal 2 bungkus.
Aku suka Milady, ya aku akui. Aku memang suka sama dia sejak pertama kali melihatnya. Waktu itu dia sudah jadi sekretaris Trevor, aku masih bekerja di kantor lama. Tapi aku sering main ke Gedung Garnet karena Mas Bram bekerja di sini.
Apalagi di Gedung Garnet banyak tempat makan enak, dan aku sering ditraktir Mas Bram. Jadi aku juga sering ketemu Milady dan Trevor.
Tapi perasaanku ini tak berani kuutarakan karena dia begitu cantik di mataku. Rasanya aku bukan levelnya.
Bisa jadi dia menyukai orang lain, karena aku sering melihatnya termenung menatap layar ponselnya. Waktu itu kuintip-intip hanya ada gambar, tampaknya screenshoot dari transaksi e-banking. Dan dia arahkan layarnya ke note di bagian paling bawah. Tgl 23 Maret, 10.00 Wib, unit 500.
Tapi entah bagaimana kurasakan tatapan yang lembut saat melihat layar ponselnya itu bagai amat sangat merindukan sesuatu, tapi juga sebuah kesedihan seperti ia menyesali suatu kejadian.
Yang mana pun, hal itulah yang membuatku urung mendekati Milady.
Saat ini aku sudah cukup puas berteman dengannya.
eh, tidak juga sih. Jelas masih ada harapan di hatiku ia akan menerimaku jadi lebih dari sekedar teman.
**
Karena aku tidak berhasil curhat ke dua orang sahabatku, maka aku beralih ke sahabat yang lain. Kuketahui, yang dua orang ini super sibuk, tapi mereka suka sekali makan. Jadi aku melenggangkan kakiku ke Gedung lain yang letaknya tak jauh dari restoran tadi.
Sekedar bersilaturahmi apa salahnya ya.
Mereka berdua, orang yang mau kutemui ini, bisa dibilang teman-temanku semasa kuliah. Usia mereka lebih tua beberapa tahun dariku, mereka memang masuk ke kampus bukan untuk menimba ilmu tapi untuk mencari title. Karena mereka dipersiapkan untuk menempati jabatan tertentu di perusahaan.
Kehidupan mereka di masa lampau lumayan keras. Yang kutangkap dari obrolan, mereka itu dulunya gembong Narkobeng yang kabur dari gengnya. Lalu diselamatkan oleh owner sebuah sebuah perusahaan besar dan kini dipercaya untuk mengurus perusahaannya.
Bisa dibilang, mereka sangat beruntung.
Ada konglomerat yang mau mungut gue juga nggak? Jadi kaya secara instan gitu? Hehe, bercanda.
Gedung tempat mereka bekerja tidak jauh dari restaurant mewah yang tadi. Lagian Trevor ada-ada saja, lambungku ini level warteg, disuguhi fine dining. Akhirnya dia juga yang makan. Aku malah cuma ngopi saja dari tadi. Itu pun menurutku terlalu mewah untuk seleraku, aku lebih nyaman kopi buatan Sarif.
Bukannya aku tak bersyukur.
Ini masalah selera.
Mengerti?
Tidak?
Ya sudahlah. haha.
Ada tiga orang sahabatku yang berkantor di sini. Salah satunya bahkan sudah menyambutku di depan lobby.
Seorang wanita yang tinggi, dengan tubuh kurus ceking tapi dadanya besar. Kulitnya amat sangat putih sampai rasanya transparat kalau dia berdiri di depan tembok, soalnya warnanya jadi nyaru. Mukanya cantik, tapi judes. Jenis cewek-cewek mafia di film kungfu modern yang suka ala-ala agen rahasia.
Dia memakai seragam Beaufort Company. Hitam-hitam dengan rok sepan yang belahannya sampai paha.
Rambutnya dikuncir ke atas. Memperlihatkan lehernya yang kayaknya manis banget kalau di-
Tuh kan aku jadi berkhayal.
Di bibir tipisnya tersampir rokok yang sudah setengah dihisap. Ia menatapku dengan sinis tapi lembut. Jangan salah, itu memang ciri khasnya. Natap orang tuh siniiiis banget macam semua orang hanya budak sahaya. Ya memang tampilan dari lahir begitu kayaknya.
Cewek gahar.
“Tumben lo main ke sini? Biasanya kita ketemu di lapangan futsal,” sapa Bianca Damar. Iya itu namanya. Bianca. Namanya udah cakep kan?
“Gue lagi bete,” gumamku sambil menyambut pelukannya.
Berasa meluk bambu saking kurusnya ni cewek. Tapi pas di dada mentok ada bantalannya.
“Boss lu lagi? Kan gue udah bilang lo kerja aja di Beaufort, nggak usah masuk-masuk ke Garnet segala,”
“Gue nggak mau jadi anak buah Alex, ntar tampang gue jadi kayak Leon. Berkerut,” gumamku.
Bianca hanya terkekeh menanggapiku. Tampaknya ia setuju. “Setidaknya yang di sini temen-temen lo semua, Dimas. Satu Almamater pula. Separah-parahnya Alex, kalau sama lo sih luluh juga dia,” kata Bianca sambil menggandengku menuju lift.
“Kata siapa?”
“Kata gue dong,”
“Dia kalemnya sama elo, bukan sama gue,” ralatku.
“Ya kalo itu sih udah suatu keharusan ya. Awas aja kalo dia jutek ke gue. Nggak gue kasih,”
Perlahan telingaku ini merasakan suatu kalimat yang mengganggu, “Kasih apa, maksud looooo?” desisku.
Bianca tersenyum simpul.
Elah ni cewek. Mainannya ‘kasih-kasihan’.
Udah gitu dia ngerokok di lift, di bawah tanda dilarang merokok. Lift Direksi pula.
“Mbak Six,” panggilku. “Lo kan udah jadi pacar Direktur, masih aja lo pake seragam Sekretaris,”
“Sampe ketemu pengganti gue, kayaknya gue bakalan ada di sini,”
“Siapa yang bisa menggantikan lo,”
“Belum ada kandidat yang bisa melayani Alex selain gue,”
“Tapi kan lo jadi double job,”
“Iya, jadi sekretarisnya di kantor sekaligus jadi sekretarisnya di atas ranjang,” Bianca mengerling padaku.
Aku merinding.
Mendapati teman-teman yang kukenal dari kuliah, rasanya kok tidak nyaman saat melihat mereka mulai berpacaran satu dengan yang lain.
Di dalam lift kami tidak berbicara. Sambil kutatap keluar jendela, aku memperhatikan jalanan yang terpapar di depan kami. Ada hutan buatan di tengah Gedung Beaufort. Yang kupikir memang perlu di bangun yang hijau-hijau mengingat pemilik perusahaan ini, Si Alex yang daritadi di sebut-sebut, orangnya cukup temperamental.
Jadi area hijau bisa membuat mata ini segar dan asupan oksigen cukup setelah menghadapi omelan Alex. Aku saja ogah jadi karyawannya padahal aku temannya, makanya aku minta pekerjaan ke Garnet.
Dari pantulan dinding lift yang mengkilat aku bisa melihat kalau Bianca daritadi memperhatikanku.
Aku coba tak acuh, sudah lama aku menyadari kalau tatapan Bianca padaku berbeda. Dari dulu.
Kalau melihatku, dia seperti ingin melahapku hidup-hidup.
Bukannya aku tidak menyadari arti tatapannya. karena hampir semua wanita yang dekat denganku, menatapku seperti Bianca.
Kecuali Bu Meilinda, tentunya.
Bedanya dengan wanita lain, Bianca hanya ‘menikmati’, tapi tidak berusaha memiliki.
Syukurlah, aku soalnya tidak tahu bagaimana cara berhadapan dengan wanita seperti Bianca.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
🍌 ᷢ ͩ𝐀⃝🥀ρҽNσʋ🎀⁰⁰
kok kayak monton kungfubhustle 🤣🤣
2025-03-15
0
🍌 ᷢ ͩ𝐀⃝🥀ρҽNσʋ🎀⁰⁰
adaaaa..
mas yan..
mungut jdinipar
2025-03-15
0
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
Koh Awu sama Barra😍
2024-09-04
0