“Kedatangan saya kemari untuk memberikan titipan dari Pak Sebastian ke Pak Grald Bagaswirya, karena kami dengar Pak Dimas mau mengunjungi Villa di Hambalang pagi ini,” kata Pak Arman sambil menyerahkan sebuah kotak bersegel padaku.
“Ya benar, tapi sebenarnya kami ke sana bersama Bu Meilinda juga,”
“Ya Pak Dimas, saya tahu. Tapi kotak yang ini kami titipkan ke Pak Dimas saja karena ini perintah dari Bu Meilinda sendiri. Ini isinya... hm...” Pak Arman mengernyit tak enak. Ya ampun ini orang kenapa ganteng banget ya, aku saja yang sesama laki-laki deg-degan melihatnya. Ini versi ramahnya si Alex. “Intinya sesuatu yang Bu Meilinda saja malas membawanya sendiri,”
“Maksudnya saya dijadikan tumbal gitu?” tembakku langsung. Sesuatu yang malas dibawa oleh Bu Meilinda itu berarti kotak ini penuh kesialan sampai Bu Meilinda menyerahkannya padaku. Orang yang perlahan-lahan mau dia lenyapkan. Kalau isinya ‘bala’ aku juga tak heran.
“Pasti isinya sejenis jenglot atau kain kafan dan tanah kuburan, biar mobil saya diikutin setan,” gerutuku.
“Iya, sejenis itu,” kata Pak Arman. “Makanya yang bawa ke sini saya, Bukan Pak Sebastian. Kalau urusan kotor kan saya yang tanggung,”
“Wah, kita sama ya Pak Arman,”
Lalu kami tertawa berbarengan.
Tawa masam yang lebih ke nada sebal dengan atasan masing-masing.
“Pokoknya kalau ada apa-apa dan sinyal ponsel hilang, usahakan Bapak hafal ayat-ayat yang dibutuhkan,” desis Pak Arman. Dia hendak bersiap-siap pergi.
Aku menyentuh lengannya, “Pak Arman,” panggilku.
“Ya?”
“Si Bagaswirya ini... apakah keluarga itu benar ada? Benar nyata?”
“Maksudnya Pak?”
“Iya, apakah mereka ini benar-benar eksis di dunia nyata dan bukan ghaib?” ulangku.
Pak Arman menghela nafas lalu menepuk-nepuk bahuku. “Kalau Pak Dimas membicarakan mengenai Gerald dan Agatha Bagaswirya, Ya, mereka benar-benar ada. Mereka pengusaha di Jerman, mau ekspansi ke Indonesia. Jadi mereka butuh Bank sebagai perantara, dan Garnet Bank mendapatkan kehormatan untuk memberikan Kredit sebagai awal langkah baik mereka di negara ini, Tapi...”
“Kenapa ada ‘tapi’nya Pak?!”
“Iyaaa, saya lumayan berat mengatakannya karena saya sendiri sudah sering berurusan dengan mereka. Pak Danu, Dirut Pak Dimas, juga termasuk orang yang lumayan akrab dengan Bagaswirya ini. Makanya kami agak malas menemui mereka,”
Sialan si Danu Rusli, makanya dia kasih tugas ini ke aku.
Dipikirnya aku berani berhadapan dengan Bataragunadi dan berantem tiap hari sama Bu Meilinda, aku juga bakalan berani berurusan dengan hal Tak Kasat Mata, gitu?! Pokoknya kalau ada apa-apa aku minta bonus lembur!
“Katakan saja Pak, karena saya punya keluarga yang menanti saya pulang ke rumah,”
“Loh, saya pikir Pak Danu meminta anda yang datang karena kalau ada apa-apa anda nggak dicari anak-istri,”
Sialan.
“Ya ibu dan kakak saya kan juga nyariin,” desisku tak mau kalah.
“Oh, Ibu dan kakak ya... hem, kakak anda kan juga kerja di Garnet, Sahabatnya Pak Trevor kan?” Pak Arman menyeringai.
Lama-lama kenapa Pak Arman terasa menyebalkan ya.
“Saya lanjutkan ya Pak, kepala Keluarga Bagaswirya ini, usianya sudah lebih dari seratus tahun. Dan dia katanya memang lekat dengan hal-hal mistis. Memiliki banyak ilmu di bidang itu dan juga para prajurit ghaib yang senantiasa melindunginya,” Pak Arman menyeringai. “Kalau tidak diperkenankan, dengan sendirinya Pak Dimas juga tidak akan bisa sampai ke Villa. Itu saja patokannya,”
Aku pun menghela napas.
Aku ini pegawai Bank, bukan asisten Dukun Sakti.
**
"Mas?"
"Hm?"
"Ni kita ga semobil ama bu Meilinda?!"
Kami menatap mobil di depan kami, Lexus LS 500 type Executive yang memecah lalulintas di depan kami dengan anggun. Apalagi saat itu kami sedang melaju di jalan tol. Bisa kami perkirakan performa si sedan seksi itu pasti sangat mulus.
Mulus seperti… Sudahlah. Aku berkhayal lagi.
"Kita level Innova, bro, kalau naik mobil di depan itu berasa kita cuma lagi test drive tapi nggak beli. Ngerti kan lo?" kataku. Kami memang sedang mengendarai mobil operasional kantor, dengan Fendi di kursi pengemudi dan aku santai di kursi penumpang sambil merokok.
"Oh, lo sering gitu toh,"
Sialan ni bocah mancing aku.
"Sering lah…" jawabku mengakui.
"Gue pernah nyoba otoped udah keliling PRJ, Akhirnya kaga beli juga," kata Fendi
"Hm… Apakah saat itu kita sebenanrya barengan datengnya? Karena gue juga!"
"Huahahahahaha!" kami tertawa berbarengan.
"Lo tau barongsai yang suka mentas di Pasar Gambir? Nah itu gue pernah kasih es teh ke mulutnya! Teh sisa kupon masuk 20rebu dapet 3!" kata Fendi.
"Lah gue juga ngasih teh pucuk sisa kupon! Terus yang nerima tangan orang, minta dibukain tutupnya soalnya tangan yang satu megang topeng!"
"Huahahahahaha!!"
Kenapa kita samaan sih, dih takut berjodoh deh.
"Apakah kita berjod-"
"Nggaaak!" seruku cepat
"Ih, kamu gituuu,"
"Nih, telen Bayfresh, katanya gue bukan type lo!"
"Ya kan cinlok bisa aja Mas,"
"Gue straight,"
"Emang tipe cewek yang lo suka yang kayak apa sih Mas?"
Aku mengernyit.
"Hm,"
Aku mikir.
Tipe cewek idamanku yak.
Mungkin yang wajahnya mirip Milady, tapi kalau Milady posturnya terlalu tinggi untukku. Yang agak pendek dan mungil pasti lebih manis.
Rambutnya panjang, hitam berkilau. Masalah kulit aku tak terlalu spesifik, mau coklat atau putih sama saja. Yang penting matanya… Berbinar dan cerdas. Juga bodynya harus seksi, dada besar, pantat yang gampang di…
"Itu mah Bu Meilinda," cetus Fendi.
Aku tegang.
Lalu menoleh padanya sambil mengernyit. "Emang lu bisa baca pikiran yak?!" sahutku sebal.
"Nggak, pikiran lo tuh keluar sampe keucap, mana mungkin gue nggak denger?!" desis Fendi.
"Itu bukan Bu Meilinda, gue mikirin Selena Gomez,"
"Selena Gomez itu mirip Bu Meilinda waktu muda,"
"Nggak,"
"Iya,"
"Nggak!"
"Iya!"
Lalu setelahnya kami saling diam sampai tiba di rumah nasabah.
Kami tiba di daerah Hambalang, dengan udara yang dingin ala pegunungan dan pemandangan yang asri.
Sekeliling kami villa-villa besar dengan halaman super luas.
Termasuk juga rumah ini.
Entah bagaimana driver Bu Meilinda lancar saja membawa kami ke lokasi ini, padahal jalanannya berkelok-kelok. Bisa jadi kalau kedua kalinya kami kemari lagi, kami akan tersasar.
Fendi mematikan kamera dashboard dan memasukkan memory card ke laptopnya untuk di copy dan dijadikan dokumentasi.
"Jadi…" desisnya sambil melirik ke luar jendela, "Ini dimana? Kenapa kabutnya tebel banget?"
"Masih Jawa Barat sih kalo gue liat di Google Map, dari tadi nggak ada kabut, mungkin turun karena mendung,"
"Mikir jorok mulu kali lo, jadi kabut turun!" tuduh Fendi.
"Lah, gue baru mau ngomong gitu ke elo," desisku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
May Keisya
😂😂😂
2024-01-17
0
Nenk Thea
🤣🤣🤣
2023-07-12
0
Nenk Thea
sue bener 🤣🤣
2023-07-12
0