“Meli,” begitu sapaan pertama dari Pak Jeffry.
“Maaf Pak, ini Dimas,” sapaku
“Oh, Dimas... apa kabar?”
“Baik Pak,”
“Meli mana?”
“Bu Meli tidak berkenan angkat telepon, Pak,”
Terdengar helaan nafas dari seberang sana. “Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih, padanya. Tolong sampaikan,”
Aku melirik Bu Meilinda, dia sedang duduk di kursinya sambil makan coklat dariku. Wajahnya memandang ke luar jendela dengan tatapan sendu.
Kulihat dia sudah tidak peduli lagi kepada Pak Jeffry.
Pak Jeffry pernah beberapa kali ke kantor kami dan sudah pasti aku kenal dengannya, malah sempat makan bareng di kantin. Aku memang merasakan aura yang sama dengan yang sering ada di Fendi atau Gio, tapi saat itu tak kuacuhkan karena beliau kan suami Bu Meilinda.
“Hem, sulit pak untuk bicara dengannya saat ini,” kataku akhirnya.
“Dimas, agar tidak terjadi kesalahpahaman, saya akan bicara sejujurnya kepada kamu,” kata Pak Jeffry.
Sebenarnya aku malas mendengarkan karena kuanggap bukan urusanku. Tapi kupikir tak ada salahnya kalau hanya menyampaikan informasi sebagai pihak ketiga.
“Baik, Pak. Silakan bicara, nanti akan saya sampaikan ke ibu,” desisku. Aku menekan tombol rekam di ponsel Bu Meli, kurasa nanti dia bisa mendengarnya sendiri.
“Bilang ke Meli, terima kasih untuk mengusahakan saya mendapatkan pekerjaan di Paris dan tidak di Rusia. Dan tetap menjaga hubungan baik saya terhadap keluarga saya dengan bilang ke ibu saya kalau perceraian kami karena ketidakcocokan sifat saja,”
“Hm... baik Pak, saya sudah menekan tombol rekam,”
“Juga, saya tahu perselingkuhannya dengan Gunawan Ambrose, karena itu saya anggap kita satu sama,”
Aku membeku.
Lagi-lagi nama itu. Kenapa belakangan berseliweran di otakku, bagaikan suatu peringatan dari Yang Maha Esa kalau aku harus hati-hati terhadap orang itu.
“Hm, bapak yakin membicarakan hal ini dengan saya?!”
“Meli pernah bilang ke saya, dari semua orang di kantor, dia hanya percaya dengan satu orang yaitu kamu,”
Aku sampai mengernyit mendengar kalimat itu. “Bapak sepertinya salah dengar, dia benci saya,”desisku.
“Kamu salah mengartikannya, perlahan kamu akan mengenal siapa Meli sebenarnya,”
Aku melirik Bu Meilinda yang hampir menghabiskan coklatnya. Dan ia tetap memandang keluar jendela dengan tatapan sendunya.
Sebenarnya dia mendengarkan kami tidak sih? Rasanya tampangnya lempeng aja.
Kulanjutkan saja mengobrol kalau begitu.
“Saya asumsikan dia berselingkuh karena sudah tahu sejak lama kalau saya memiliki ketertarikan seksual yang berbeda, jadi dalam hal ini saya mengucapkan terima kasih karena dia mengerti kondisi saya,”
Aku penasaran deh, sudah berapa lama sih mereka menikah. Apakah mereka melewati sesi bercinta atau bagaimana? Mungkin akan kutanyakan ke Fendi kapan-kapan mengenai keberadaan kaum pelangi. Karena banyak juga dari temanku yang seperti ini.
“Baik Pak, saya-“
“Dimas jangan ngobrol lama-lama nanti ketularan,” potong Bu Meilinda.
“Ya Bu,” aku manut.
**
Setelah meletakkan kembali ponselnya di atas meja, aku kembali fokus ke pekerjaanku, walau pun kondisi Bu Meilinda sedang sendu begitu.
“Bu, besok mau berangkat jam berapa?” tanyaku.
“Dari pagi ya,” dia menoleh ke arahku. Raut wajahnya sudah lebih tenang. Haruskah kuceritakan kalau aku mengetahui perselingkuhannya dengan Gunawan Ambrose? Sudahlah itu bukan urusanku, diam saja kalau begitu.
“Dimas,” panggilnya saat aku berniat mau berdiri.
“Nasabah yang besok akan kita datangi, dia sebenarnya tidak butuh uang. Tapi kita butuh kredit darinya, karena bunga dari beliau bisa untuk memenuhi biaya lain di Bank ini,” kata Bu Meilinda.
Aku menyimak, diam saja dulu. Lika-liku pekerjaan memang seperti ini.
“Sarah hanya bermodalkan kenalan, tapi sebenarnya hubungan Bataragunadi dan Bagaswirya cukup kental. Saya berani bertaruh, bahkan seorang Sarah pun sebenarnya dari awal tidak pernah bertemu dengan Agatha Bagaswirya. Bahkan Danu pun menyerahkannya ke kamu,”
“Nasabah yang kali ini orang penting ya bu?” tanyaku.
“Mereka salah satu yang berperan besar dalam perkembangan Garnet Grup, namun mereka sangat low profile. Sayang sekali, para cucu dan anak-anak mereka menggunakan nama besar mereka dengan cara yang salah. Tapi untung saja Gerald segera kembali ke Indonesia,”
“Gerald...” gumamku. Nama yang tadi disebutkan Fendi.
**
Setelah meeting kecil tadi, aku mencari data mengenai keluarga itu lewat internet. Ternyata tidak ada cukup banyak data mengenainya. Seperti sengaja dihapus.
Saat judulnya muncul di kolom pencarian, begitu situsnya kubuka yang ada hanya tulisan 404 error.
Benar- benar misterius.
**
Sore itu aku pun berniat pulang ke rumah jam 17 tepat. Sekali-kali pulang teng-go, masa nginep melulu. Ibuku sudah protes sambil nyindir bilang ‘rumah ibuk bukan hotel’. Anak-anaknya workaholic semua, pergi pagi buta pulang malam.
Iya bagaimana, coba.
Rumah kami di kawasan Bekasi, rumah peninggalan ayah. Tadinya kami warga Jakarta, dan ibuku mantan guru SMA di bilangan Jakarta Pusat, mungkin sekitar tahun 80an, ayahku menghadapi masalah di pekerjaannya, lalu ia menjual rumah di Jakarta dengan harga tinggi. Dan uang hasil penjualan rumah itu, ia gunakan untuk membeli rumah di Bekasi, dekat stasiun, dan harganya saat itu masih sangat murah. Sepertinya dia membeli rumah ini hanya sekitar 30 jutaan. Dan kami mendapatkan sebidang tanah seluas 300m2 sudah dengan rumah seluas 100m2 di tengah lahan.
Seiring dengan berjalannya kemajuan pembangunan, tiba-tiba rumahku menjadi lokasi dengan kawasan strategis. Aku hanya butuh berjalan kaki ke Stasiun beberapa menit saja.
Tapi memang di masa sekarang perjalanan dari Bekasi ke Jakarta lumayan perjuangan.
Aku pun berjalan ke arah Pantry, di sana ada Syarif yang sedang mencuci piring. OB kami ini memang lumayan rajin.
Aku membuka salah satu loker di sana, berisi baju ganti dan tas ranselku. Loker khusus untukku, sengaja kuletakkan di pantry karena...
Nanti juga tahu karena apa.
Aku pun membuka kancing kemejaku, berniat mengganti baju dengan kaos oblong dan hoodie yang kusimpan di loker.
“Loh? Mas Dimas tumben mau pulang tenggo!”katanya sambil tersenyum sumringah. Senyum yang membuat hatiku jadi ceria, karena terlihat tulus dan tanpa maksud tertentu. Jarang-jarang aku disenyumin seramah ini.
“Sekali-kali, Rif,”desisku sambil membuka kemejaku.
Tatto menghiasi sepanjang lengan dan bahuku. Ini sebabnya aku selalu ganti baju di Pantry, yang merupakan ruangan dengan banyak orang malas masuk karena area OB dan isinya cuma peralatan dapur. Yang tahu aku punya tatto cuma Syarif.
Kalau manajemen sampai tahu, bisa-bisa aku dipecat.
Tapi kupikir Syarif itu lumayan resik orangnya, jadi aku suka di Pantry. Kalau kerja lembur dan kecapekan, aku suka menggelar kasur di pantry untuk tidur dan menginap. Karena selain dekat dengan kompor dan dispenser, memudahkanku untuk membuat makanan saat tengah malam lapar atau pun secangkir kopi.
“Mas Dimas kan gajinya gaji karyawan, kupikir pekerjaannya tak perlu terlalu ngoyo seperti Direksi loh Mas,” kata Syarif.
Aku pun menyeringai, ah memang dia mengerti aku.
Syarif... Syarif. Yang membuatku berpikir ternyata masih ada orang baik di bumi ini ya sosok yang seperti OB kami ini.
Maka kukenakan kaos oblongku dan hoodieku. Lalu aku pun memasukkan rokokku ke dalam ransel dan menyampirkannya ke punggungku.
“DIMAAAAAASSS!!”
Anjay.
Suara itu.
“Kenapa kamu lampirkan kekurangan Data Undertaking Of Liability?! Kan udah ada Annual Report!! Ribet banget sih jadi kamu!!” begitulah bunyinya.
“Bilang gue udah pulang, Rif!” bisikku sambil menunduk dan kabur ke arah tangga darurat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
May Keisya
kabuurrrrr🤣🤣🤣
2024-01-16
0
May Keisya
😂😂😂😂
2024-01-16
0
Rose_Ni
dibangkrutin ama Eyang Gandhes
2023-12-28
0