“Kenapa lagi sih Dimaaas?”
Sungguh membuatku terpana.
Suara itu hanya mendengungkan 4 kata, tapi rasanya hatiku langsung berdebar-debar terpukau. Selalu begitu sejak kami masih satu kampus. Ingin rasanya langsung aku peluk saja makhluk cantik di depanku ini, tapi kenapa rasanya ada pagar yang tinggi sekali di antara kami.
Bukannya aku yang menolak, tapi dia yang menciptakan batas tak kasat mata di antara kami.
Siapa yang kubicarakan?
Namanya Milady Adara.
Perempuan paling cantik yang kutahu.
Aku jenis laki-laki yang lumayan sering melihat wanita cantik, dan Aku berani bilang kalau kecantikan Milady ini sesuai namanya. Sudah level paripurna. Karena menurutku dia cantik dari hati dan pemikirannya.
Kalau ada yang bilang nilai sebuah kecantikan itu relatif, kuakui juga kalau itu benar.
Contoh nyatanya, Trevor yang menghabiskan waktu lebih sering dengan Milady dibandingkan dengan orang lain saja malah sama sekali tidak pernah terpikat. Ia lebih memilih wanita yang tinggalnya di Jepang, entah kapan ia bertemu dengan Ayumi Sakurazaka. Mana LDR-an pula. Dia tetap setia, padahal ia menghabiskan 12 jam bersama Dewi Athena di depannya ini setiap hari.
Jenis wanita cantik yang hidupnya keras tapi tetap tabah menjalani. Itulah Milady.
Kudengar keluarga Milady pernah bangkrut pada masanya. Tapi berkat kejeniusannya, Milady berhasil mengangkat derajat keluarga. Aku tidak tahu bagaimana caranya, padahal aku sangat ingin ia memberitahukan bagaimana proses jadi miliader.
Siapa tahu aku juga bisa mengamalkan kiat-kiatnya. Tapi ya itu memang terserah dia mau memberitahukannya padaku atau tidak.
Setelah jadi Milyader, dia tetap jadi melamar pekerjaan. Dan kebetulan dia diterima di kantor Trevor. Dan sampai sekarang dia menjadi sekretaris si Trevor.
Dia miliuner dan dia tetap menjadi sekretaris. Jadi kesimpulannya, uang miliaran yang dihasilkannya bukan berasal dari hasil membuka usaha. Jadi, dia dagang apa?
Masa bodolah, dia bukan nasabahku. Kalau dia sampai meminjam uang dari Garnet Bank, sudah pasti hal yang begitu akan dipertanyakan. Berhubungan dengan penghasilan likuid soalnya. Saat ini Milady adalah temanku, jadi modalku hanya percaya saja.
Kenapa sih dia hanya teman?
Memangnya tak bisa lebih maju ya hubungan pertemananku dengannya?
Aku benar-benar berharap loh ini.
“Dimas? Jangan suka bengong, nanti makananmu dicicipi genderuwo,” kata Milady.
Trevor yang dalam posisi memasukkan irisan daging wagyu super eksklusif hampir sampai ke dalam mulutnya, langsung pasang mode freeze, “Gue dong genderuwonya? Yang bener aje lu, sekretaris durhakim,” gerutunya.
Tapi tetap saja dia masukan daging itu ke mulutnya.
Kulihat di piringku, steaknya tinggal seperempat.
“Di kantor, aku teman kamu. Tapi di luar kantor, aku bisa jadi rival kamu,” kata Milady dengan suaranya yang sebening kuah sayur bayam. Bening dan menyegarkan.
Aku sampai menelan ludahku.
“Rival apa’an?! Paling lo cuma mau protes karena gue akhirnya tandatangan kontrak sama Gunawan,” gerutu Trevor.
“Nah itu!” Milady menunjuk muka Trevor.
Trevor berdecak cuek.
“Kamu kan tahu banyak kecurangan yang terjadi di proyek-proyeknya Gunawan Ambrose?! Aku ajukan usulan supaya kamu menolaknya, kamu malah tandatangan persetujuan!” seru Milady kesal.
Gunawan Ambrose siapa sih?
Kusimak saja dulu sambil memakan sisa steakku.
“Lo itu kebanyakan cuci tangan, kalo nggak setuju putus aja di lo, malah ngajuin ke gue biar kesannya kalo Gunawan protes, gue yang disalahin. Itu Pak Trevor yang nolak, coba ngomong aja ke dia. Gitu kan?!” tembak Trevor.
“Kan kamu Direkturnyaaa, hih! Jambak juga nih! Kalo nggak suka, sini tuker jabatan!” seru Milady emosi.
“Hoy, Lady. Gunawan itu masih sodaraan ama bokap gue! Nggak gue acc gue bakalan diprotes satu keluarga besar. Udah lo diem aja! Jadi sekretaris yang manis dikit napa sih?!”
Begitulah akrabnya mereka sampai aku bertanya-tanya kenapa mereka tidak pernah saling tertarik. Kalau di pikir, di novel romantis, mungkin sudah ada serpihan-serpihan enzim afrosidiak yang bertebaran di udara di sela pertengkaran kecil mereka.
Nah ini boro-boro tertarik, yang ada berantem mulu kayak...
“Nah, Mas, lo kenapa ngumpulin kita di sini? Duh kenyang nih... lain kali lo beliin gue celana jangan sempit-sempit! Dikira legging kali!” protes Trevor ke Milady.
“Kamu itu kebanyakan makan Trevor!” ujar Milady sambil ‘nyelepet’ Trevor memakai serbet.
“Gue cuma makan 1,75 potong. 1 punya gue, 0,75 punya Dimas,”
“Iya, sampai ke kantang dan saladnya kamu makan juga,”
“Dimas lagi nggak enak body,”
“Kata siapa? Kata kamu?”
Kenapa ya semakin aku mendengarkan ocehan mereka semakin pusing lah aku.
“Milady yang beliin celana lo?” tanyaku, dengan sedikit perasaan cemburu. Ya aku tahu tidak masuk akal aku cemburu, karena Milady tidak memiliki hubungan spesial denganku. Tapi entah bagaimana, aku beneran cemburu.
“Aku belikan dia celana, semua setelan jas, sampai ke tas kerja dan bahkan parfumnya aku yang belikan,”
“Itu tugas sekretaris,” gumam Trevor, kali ini dia masukan potongan terakhir steakku ke mulutnya. Aku hanya bisa menatapnya karena sibuk dengan perasaan cemburuku.
Rasanya hatiku sakit, deh.
Kenapa coba?!
“Itu bukan sekretaris, itu tugas istri!” protes Milady.
“Arman bersikap begitu ke ayahku. Bahkan sampai urusan cari pisau cukur diladeni sampai ke Bolivia,”
“Siapa Arman?” tanya Milady.
“Asisten Ayah,” jawab Trevor.
“Aku bukan dia. Aku ya aku,”
“Udah lo berdua nikah aja sana,” gerutuku memotong percakapan kedua insan Illahi ini. Aku beneran sebal. “Gue pulang aja, makin pusing. Mau curhat tentang Bu Boss malah lo berdua yang mesra-mesraan,”
Aku beranjak sambil mengambil rokok di saku kemejaku. Kuambil satu batang dan kuselipkan di pinggir bibirku, lalu aku pun beranjak berjalan keluar restoran.
“Lah! Sensi amat sih lo! Sini lanjutin ceria, gue udah sampe ninggalin meeting demi elo loh!” omel Trevor dari kejauhan.
“Sebat dulu, bro. Tunggu gue mode kalem, okey?! Sana lo berantem dulu sama Lady,” ujarku.
**
Aku duduk di bench dari stainless yang letaknya ada di luar restoran.
Menghirup udara luar penuh polusi tapi herannya lebih melegakan daripada udara di kantor.
Mungkin suasana ruangan penuh dokumen dan komputer sebenarnya membuatku tak nyaman karena rasa trauma.
Trauma apa?
Ya aku sebenarnya korban pelecehan di masa lalu. Makanya aku sampai pindah ke Garnet Bank. Di kantor sebelumnya aku mengalami banyak kejadian pahit.
Mau tahu ceritanya?
Mengesalkan sebenarnya.
Jadi awal mula kisah ini dan kenapa aku bisa terdampar di Garnet Bank adalah karena sifatku yang penyayang. Terutama kepada wanita.
Aku mencintai ibuku, dia wanita kuat. Dengan sendirinya, sikapku ke wanita juga lembut, seperti sikapku ke ibuku. Mereka sama-sama wanita, aku melakukan para wanita dengan special.
Fatalnya adalah... tidak semua wanita seperti ibuku.
Aku lumayan naif dulu.
Aku menganggap semua wanita sama lembutnya seperti Milady dan Ibuku. Nyatanya tidak. Wanita juga manusia, mereka sama-sama ingin dimengerti, tapi sifat mereka yang satu itu yang membuat kami kaum pria merasa putus asa.
Sifat apakah ituuuu?
Bahwa, ternyata... hal yang mustahil dapat mengerti wanita.
Ya.
Beneran nggak relate sama otak kami.
Kenapa sulit sekali mengerti kalian?
Aku tersenyum karena memang sudah saatnya tersenyum, tapi mereka merasa memiliki hubungan ‘special’ denganku.
Aku membantu mengambilkan kertas, membantu merangkai dokumen, membantu mengambilkan barang di atas lemari, merupakan kewajibanku. Bukan berarti aku ‘menyukai’ mereka.
Aku tertawa saat menanggapi cerita mereka, bukan berarti aku ada hati sama mereka.
Aku mendorong pelan punggung mereka agar tidak tertabrak kendaraan, melambaikan tangan untuk menyapa, meminjamkan barang-barangku, memberikan nasihatku, semua itu karena rasa peduliku sebagai TEMAN.
Dan aku jenis orang yang ramah, dengan segala kata-kata berputar di dalam kepalaku, namun saat sampai ke mulut, organ yang satu itu mengatup.
Rasanya mulutku ini suka menolak diajak kerja sama kalau dipasangkan dengan otak dan hati. Ia tiba-tiba kaku sendiri. Mungkin dia menganut prinsip ‘mulutmu harimaumu’. Jadi saat sortirannya terasa tidak pantas dan tidak perlu, ia mengatup rapat-rapat.
Herannya...
Sebagian besar orang menganggap Diam itu berarti ‘IYA’.
Dan itulah yang terjadi.
Kalau ditanya, ‘Dimas, mau pacaran denganku?’
Aku tiba-tiba saja diam.
Bukan berarti aku mau bilang ‘IYA’. Tapi lebih karena aku kecewa. Kenapa aku ditembak? Aku lebih nyaman berteman denganmu, aku tidak ingin cinta-cintaan. Aku tak ingin waktuku tersita untuk saling merayu, capek-capek menjaga perasaan. Dan yang lebih penting, aku tidak memiliki perasaan cinta padamu.
Ingin sekali kuucapkan kata-kata itu, tapi mulutku ini terkatup.
Dan dengan sendirinya, perlahan tapi pasti,
Tiba-tiba ‘pacarku’ jadi banyak.
Dan saat mereka bertemu... mereka berkelahi.
Kacau.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
𝐙⃝🦜尺o
diam itu kadang karna kita gak enak atau gak tega menolak tapi bukan berarti juga menerima 🥴🥴
2024-09-19
1
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
🤦🤦🤦🤦🤦🤦
2024-09-04
0
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
calon mantan dari calon istri trevor🤣🤣🤣🤣🤣
2024-09-04
0