Masa Laluku (1 of 2)

“Kenapa lagi sih Dimaaas?”

Sungguh membuatku terpana.

Suara itu hanya mendengungkan 4 kata, tapi rasanya hatiku langsung berdebar-debar terpukau. Selalu begitu sejak kami masih satu kampus. Ingin rasanya langsung aku peluk saja makhluk cantik di depanku ini, tapi kenapa rasanya ada pagar yang tinggi sekali di antara kami.

Bukannya aku yang menolak, tapi dia yang menciptakan batas tak kasat mata di antara kami.

Siapa yang kubicarakan?

Namanya Milady Adara.

Perempuan paling cantik yang kutahu.

Aku jenis laki-laki yang lumayan sering melihat wanita cantik, dan Aku berani bilang kalau kecantikan Milady ini sesuai namanya. Sudah level paripurna. Karena menurutku dia cantik dari hati dan pemikirannya.

Kalau ada yang bilang nilai sebuah kecantikan itu relatif, kuakui juga kalau itu benar.

Contoh nyatanya, Trevor yang menghabiskan waktu lebih sering dengan Milady dibandingkan dengan orang lain saja malah sama sekali tidak pernah terpikat. Ia lebih memilih wanita yang tinggalnya di Jepang, entah kapan ia bertemu dengan Ayumi Sakurazaka. Mana LDR-an pula. Dia tetap setia, padahal ia menghabiskan 12 jam bersama Dewi Athena di depannya ini setiap hari.

Jenis wanita cantik yang hidupnya keras tapi tetap tabah menjalani. Itulah Milady.

Kudengar keluarga Milady pernah bangkrut pada masanya. Tapi berkat kejeniusannya, Milady berhasil mengangkat derajat keluarga. Aku tidak tahu bagaimana caranya, padahal aku sangat ingin ia memberitahukan bagaimana proses jadi miliader.

Siapa tahu aku juga bisa mengamalkan kiat-kiatnya. Tapi ya itu memang terserah dia mau memberitahukannya padaku atau tidak.

Setelah jadi Milyader, dia tetap jadi melamar pekerjaan. Dan kebetulan dia diterima di kantor Trevor. Dan sampai sekarang dia menjadi sekretaris si Trevor.

Dia miliuner dan dia tetap menjadi sekretaris. Jadi kesimpulannya, uang miliaran yang dihasilkannya bukan berasal dari hasil membuka usaha. Jadi, dia dagang apa?

Masa bodolah, dia bukan nasabahku. Kalau dia sampai meminjam uang dari Garnet Bank, sudah pasti hal yang begitu akan dipertanyakan. Berhubungan dengan penghasilan likuid soalnya. Saat ini Milady adalah temanku, jadi modalku hanya percaya saja.

Kenapa sih dia hanya teman?

Memangnya tak bisa lebih maju ya hubungan pertemananku dengannya?

Aku benar-benar berharap loh ini.

“Dimas? Jangan suka bengong, nanti makananmu dicicipi genderuwo,” kata Milady.

Trevor yang dalam posisi memasukkan irisan daging wagyu super eksklusif hampir sampai ke dalam mulutnya, langsung pasang mode freeze, “Gue dong genderuwonya? Yang bener aje lu, sekretaris durhakim,” gerutunya.

Tapi tetap saja dia masukan daging itu ke mulutnya.

Kulihat di piringku, steaknya tinggal seperempat.

“Di kantor, aku teman kamu. Tapi di luar kantor, aku bisa jadi rival kamu,” kata Milady dengan suaranya yang sebening kuah sayur bayam. Bening dan menyegarkan.

Aku sampai menelan ludahku.

“Rival apa’an?! Paling lo cuma mau protes karena gue akhirnya tandatangan kontrak sama Gunawan,” gerutu Trevor.

“Nah itu!” Milady menunjuk muka Trevor.

Trevor berdecak cuek.

“Kamu kan tahu banyak kecurangan yang terjadi di proyek-proyeknya Gunawan Ambrose?! Aku ajukan usulan supaya kamu menolaknya, kamu malah tandatangan persetujuan!” seru Milady kesal.

Gunawan Ambrose siapa sih?

Kusimak saja dulu sambil memakan sisa steakku.

“Lo itu kebanyakan cuci tangan, kalo nggak setuju putus aja di lo, malah ngajuin ke gue biar kesannya kalo Gunawan protes, gue yang disalahin. Itu Pak Trevor yang nolak, coba ngomong aja ke dia. Gitu kan?!” tembak Trevor.

“Kan kamu Direkturnyaaa, hih! Jambak juga nih! Kalo nggak suka, sini tuker jabatan!” seru Milady emosi.

“Hoy, Lady. Gunawan itu masih sodaraan ama bokap gue! Nggak gue acc gue bakalan diprotes satu keluarga besar. Udah lo diem aja! Jadi sekretaris yang manis dikit napa sih?!”

Begitulah akrabnya mereka sampai aku bertanya-tanya kenapa mereka tidak pernah saling tertarik. Kalau di pikir, di novel romantis, mungkin sudah ada serpihan-serpihan enzim afrosidiak yang bertebaran di udara di sela pertengkaran kecil mereka.

Nah ini boro-boro tertarik, yang ada berantem mulu kayak...

“Nah, Mas, lo kenapa ngumpulin kita di sini? Duh kenyang nih... lain kali lo beliin gue celana jangan sempit-sempit! Dikira legging kali!” protes Trevor ke Milady.

“Kamu itu kebanyakan makan Trevor!” ujar Milady sambil ‘nyelepet’ Trevor memakai serbet.

“Gue cuma makan 1,75 potong. 1 punya gue, 0,75 punya Dimas,”

“Iya, sampai ke kantang dan saladnya kamu makan juga,”

“Dimas lagi nggak enak body,”

“Kata siapa? Kata kamu?”

Kenapa ya semakin aku mendengarkan ocehan mereka semakin pusing lah aku.

“Milady yang beliin celana lo?” tanyaku, dengan sedikit perasaan cemburu. Ya aku tahu tidak masuk akal aku cemburu, karena Milady tidak memiliki hubungan spesial denganku. Tapi entah bagaimana, aku beneran cemburu.

“Aku belikan dia celana, semua setelan jas, sampai ke tas kerja dan bahkan parfumnya aku yang belikan,”

“Itu tugas sekretaris,” gumam Trevor, kali ini dia masukan potongan terakhir steakku ke mulutnya. Aku hanya bisa menatapnya karena sibuk dengan perasaan cemburuku.

Rasanya hatiku sakit, deh.

Kenapa coba?!

“Itu bukan sekretaris, itu tugas istri!” protes Milady.

“Arman bersikap begitu ke ayahku. Bahkan sampai urusan cari pisau cukur diladeni sampai ke Bolivia,”

“Siapa Arman?” tanya Milady.

“Asisten Ayah,” jawab Trevor.

“Aku bukan dia. Aku ya aku,”

“Udah lo berdua nikah aja sana,” gerutuku memotong percakapan kedua insan Illahi ini. Aku beneran sebal. “Gue pulang aja, makin pusing. Mau curhat tentang Bu Boss malah lo berdua yang mesra-mesraan,”

Aku beranjak sambil mengambil rokok di saku kemejaku. Kuambil satu batang dan kuselipkan di pinggir bibirku, lalu aku pun beranjak berjalan keluar restoran.

“Lah! Sensi amat sih lo! Sini lanjutin ceria, gue udah sampe ninggalin meeting demi elo loh!” omel Trevor dari kejauhan.

“Sebat dulu, bro. Tunggu gue mode kalem, okey?! Sana lo berantem dulu sama Lady,” ujarku.

**

Aku duduk di bench dari stainless yang letaknya ada di luar restoran.

Menghirup udara luar penuh polusi tapi herannya lebih melegakan daripada udara di kantor.

Mungkin suasana ruangan penuh dokumen dan komputer sebenarnya membuatku tak nyaman karena rasa trauma.

Trauma apa?

Ya aku sebenarnya korban pelecehan di masa lalu. Makanya aku sampai pindah ke Garnet Bank. Di kantor sebelumnya aku mengalami banyak kejadian pahit.

Mau tahu ceritanya?

Mengesalkan sebenarnya.

Jadi awal mula kisah ini dan kenapa aku bisa terdampar di Garnet Bank adalah karena sifatku yang penyayang. Terutama kepada wanita.

Aku mencintai ibuku, dia wanita kuat. Dengan sendirinya, sikapku ke wanita juga lembut, seperti sikapku ke ibuku. Mereka sama-sama wanita, aku melakukan para wanita dengan special.

Fatalnya adalah... tidak semua wanita seperti ibuku.

Aku lumayan naif dulu.

Aku menganggap semua wanita sama lembutnya seperti Milady dan Ibuku. Nyatanya tidak. Wanita juga manusia, mereka sama-sama ingin dimengerti, tapi sifat mereka yang satu itu yang membuat kami kaum pria merasa putus asa.

Sifat apakah ituuuu?

Bahwa, ternyata... hal yang mustahil dapat mengerti wanita.

Ya.

Beneran nggak relate sama otak kami.

Kenapa sulit sekali mengerti kalian?

Aku tersenyum karena memang sudah saatnya tersenyum, tapi mereka merasa memiliki hubungan ‘special’ denganku.

Aku membantu mengambilkan kertas, membantu merangkai dokumen, membantu mengambilkan barang di atas lemari, merupakan kewajibanku. Bukan berarti aku ‘menyukai’ mereka.

Aku tertawa saat menanggapi cerita mereka, bukan berarti aku ada hati sama mereka.

Aku mendorong pelan punggung mereka agar tidak tertabrak kendaraan, melambaikan tangan untuk menyapa, meminjamkan barang-barangku, memberikan nasihatku, semua itu karena rasa peduliku sebagai TEMAN.

Dan aku jenis orang yang ramah, dengan segala kata-kata berputar di dalam kepalaku, namun saat sampai ke mulut, organ yang satu itu mengatup.

Rasanya mulutku ini suka menolak diajak kerja sama kalau dipasangkan dengan otak dan hati. Ia tiba-tiba kaku sendiri. Mungkin dia menganut prinsip ‘mulutmu harimaumu’. Jadi saat sortirannya terasa tidak pantas dan tidak perlu, ia mengatup rapat-rapat.

Herannya...

Sebagian besar orang menganggap Diam itu berarti ‘IYA’.

Dan itulah yang terjadi.

Kalau ditanya, ‘Dimas, mau pacaran denganku?’

Aku tiba-tiba saja diam.

Bukan berarti aku mau bilang ‘IYA’. Tapi lebih karena aku kecewa. Kenapa aku ditembak? Aku lebih nyaman berteman denganmu, aku tidak ingin cinta-cintaan. Aku tak ingin waktuku tersita untuk saling merayu, capek-capek menjaga perasaan. Dan yang lebih penting, aku tidak memiliki perasaan cinta padamu.

Ingin sekali kuucapkan kata-kata itu, tapi mulutku ini terkatup.

Dan dengan sendirinya, perlahan tapi pasti,

Tiba-tiba ‘pacarku’ jadi banyak.

Dan saat mereka bertemu... mereka berkelahi.

Kacau.

Terpopuler

Comments

𝐙⃝🦜尺o

𝐙⃝🦜尺o

diam itu kadang karna kita gak enak atau gak tega menolak tapi bukan berarti juga menerima 🥴🥴

2024-09-19

1

ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞

ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞

🤦🤦🤦🤦🤦🤦

2024-09-04

0

ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞

ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞

calon mantan dari calon istri trevor🤣🤣🤣🤣🤣

2024-09-04

0

lihat semua
Episodes
1 Awal Kisahku
2 Dirinya
3 Masa Laluku (1 of 2)
4 Masa Laluku (2 of 2)
5 Awal Dia Benci AKu
6 Teman-Temanku
7 Duo Gahar
8 Tim IT
9 Sarang Miss.K
10 Pawang
11 Persiapan Ke Villa Angker (1 of 2)
12 Persiapan ke Villa Angker (2 of 2)
13 Putri
14 Kok jadi serem, sih?
15 Kenyataan Yang Lucu
16 Tantangan Untuk Gerald
17 Si MMM
18 Pulang Ah
19 Jual Sampah
20 Kerja Lagi
21 Kartu AS
22 Sabtu Bersama Teman Lucknutku
23 Fraud
24 Meeting
25 Reflek Kepeluk
26 Makan, Boss
27 Tembak
28 Antar Jemput
29 Legend
30 Pagi-Pagi Heboh AJe
31 Suasana Romantis
32 Investigasi Sampah
33 Paket Bulan Madu
34 Lobby Keramat
35 Milik Saya
36 Masa Romantis
37 Lembang Astaganaga
38 Pria pertama
39 Nasi uduk dan Raja Diraja
40 Main Kartu Malam-Malam
41 Fanatik
42 Si Gio Bikin Masalah Aje
43 Eagle One Coming
44 Cinta Dalam Kesulitan
45 Kantor Pusat
46 Pemecatan Gio
47 Heboh lah
48 Selena
49 Provocative Woman
50 Hangover
51 Loyalitas
52 Ngebahas Ruangan
53 Buaya
54 Dijemput Bram
55 Dibalik Layar
56 eps 56
57 Cieee Pacar Cieee
58 Cieee Dilamar Cieee
59 Battle Rap
60 King Of Vampire
61 Obrolan Meja Makan
62 Masalah Jodoh-Jodohan
63 Bram dan Pak Farid
64 Lamaran Diterima
65 Kumpulan Singa Betina
66 Pawangnya Muncul
67 Cuti Ah
68 Ini Bab Malesin
69 Dua Anak Baru
70 Pergi Bersama Sena
71 Girls Time
72 Gosip Bapak-Bapak
73 Balada Ari Sangaji
74 Gengsi Pembawa Siksa
75 Stephen dan Andrew
76 Selena Panik
77 Meeting Bersama Sarah
78 Ciwi-Ciwi Pada Datang lagi
79 Tenang juga si Ciwi
80 Kisah Cinta Si Daniel
81 Tim SAM
82 Masalah Golok
83 Karyawan Baru Garnet Property
84 Rencana Mindblowing Selena
85 Berkunjung ke Rumah Gio
86 Yang Terjadi Sebenarnya
87 Meilinda Panik, Tapi semua TIDACK
88 Baca Habis Berbuka aja, Ya...
89 Kerja lagi ah...
90 Pertanyaan Bertubi-tubi
91 The Puppy and The Vampire
92 Camer yang Menyamar
93 Adegan Yang Ditunggu Jeng-Diajeng sekalian
94 Ibuku Ngamuk
95 Tongkat Golf Misterius
96 Aku Kaget Loooh
97 Kantornya Trevor
98 Zeus Naik Jazz
99 Masalah Kredit
100 Ayu si manis
101 Galau Nggak Jelas
102 Lagi-lagi Berdebat
103 Hadiah Ultah Meilinda
104 Creambath pake siput
105 Nomor Telepon Mas Bram
106 Meeting Malam-Malam
107 Eeees Eeees
108 Dia Yang Diserang, Kita Yang Senang
109 Nikah Woy!! (1)
110 Nikah Woy! (2)
111 Nikah Woy! (3)
112 Nikah Woy! (4)
113 Hari Apa Sih Ini?
114 Ketemu Lexy Lagiiii
115 Meilinda Galau (Lagi)
116 Episode Basa-Basi
117 Ipar Nggak Ada Akhlak
118 Mengharukaaaan
119 Vila Vampir (1)
120 Vila Vampir (2)
121 Vila Vampir (3)
122 Vila Vampir (4)
123 Vila Vampir (5)
124 Vila Vampir (6)
125 Vila Vampir (7)
126 Cooking Time With Dimas
127 Pintu Theater Ditutup
Episodes

Updated 127 Episodes

1
Awal Kisahku
2
Dirinya
3
Masa Laluku (1 of 2)
4
Masa Laluku (2 of 2)
5
Awal Dia Benci AKu
6
Teman-Temanku
7
Duo Gahar
8
Tim IT
9
Sarang Miss.K
10
Pawang
11
Persiapan Ke Villa Angker (1 of 2)
12
Persiapan ke Villa Angker (2 of 2)
13
Putri
14
Kok jadi serem, sih?
15
Kenyataan Yang Lucu
16
Tantangan Untuk Gerald
17
Si MMM
18
Pulang Ah
19
Jual Sampah
20
Kerja Lagi
21
Kartu AS
22
Sabtu Bersama Teman Lucknutku
23
Fraud
24
Meeting
25
Reflek Kepeluk
26
Makan, Boss
27
Tembak
28
Antar Jemput
29
Legend
30
Pagi-Pagi Heboh AJe
31
Suasana Romantis
32
Investigasi Sampah
33
Paket Bulan Madu
34
Lobby Keramat
35
Milik Saya
36
Masa Romantis
37
Lembang Astaganaga
38
Pria pertama
39
Nasi uduk dan Raja Diraja
40
Main Kartu Malam-Malam
41
Fanatik
42
Si Gio Bikin Masalah Aje
43
Eagle One Coming
44
Cinta Dalam Kesulitan
45
Kantor Pusat
46
Pemecatan Gio
47
Heboh lah
48
Selena
49
Provocative Woman
50
Hangover
51
Loyalitas
52
Ngebahas Ruangan
53
Buaya
54
Dijemput Bram
55
Dibalik Layar
56
eps 56
57
Cieee Pacar Cieee
58
Cieee Dilamar Cieee
59
Battle Rap
60
King Of Vampire
61
Obrolan Meja Makan
62
Masalah Jodoh-Jodohan
63
Bram dan Pak Farid
64
Lamaran Diterima
65
Kumpulan Singa Betina
66
Pawangnya Muncul
67
Cuti Ah
68
Ini Bab Malesin
69
Dua Anak Baru
70
Pergi Bersama Sena
71
Girls Time
72
Gosip Bapak-Bapak
73
Balada Ari Sangaji
74
Gengsi Pembawa Siksa
75
Stephen dan Andrew
76
Selena Panik
77
Meeting Bersama Sarah
78
Ciwi-Ciwi Pada Datang lagi
79
Tenang juga si Ciwi
80
Kisah Cinta Si Daniel
81
Tim SAM
82
Masalah Golok
83
Karyawan Baru Garnet Property
84
Rencana Mindblowing Selena
85
Berkunjung ke Rumah Gio
86
Yang Terjadi Sebenarnya
87
Meilinda Panik, Tapi semua TIDACK
88
Baca Habis Berbuka aja, Ya...
89
Kerja lagi ah...
90
Pertanyaan Bertubi-tubi
91
The Puppy and The Vampire
92
Camer yang Menyamar
93
Adegan Yang Ditunggu Jeng-Diajeng sekalian
94
Ibuku Ngamuk
95
Tongkat Golf Misterius
96
Aku Kaget Loooh
97
Kantornya Trevor
98
Zeus Naik Jazz
99
Masalah Kredit
100
Ayu si manis
101
Galau Nggak Jelas
102
Lagi-lagi Berdebat
103
Hadiah Ultah Meilinda
104
Creambath pake siput
105
Nomor Telepon Mas Bram
106
Meeting Malam-Malam
107
Eeees Eeees
108
Dia Yang Diserang, Kita Yang Senang
109
Nikah Woy!! (1)
110
Nikah Woy! (2)
111
Nikah Woy! (3)
112
Nikah Woy! (4)
113
Hari Apa Sih Ini?
114
Ketemu Lexy Lagiiii
115
Meilinda Galau (Lagi)
116
Episode Basa-Basi
117
Ipar Nggak Ada Akhlak
118
Mengharukaaaan
119
Vila Vampir (1)
120
Vila Vampir (2)
121
Vila Vampir (3)
122
Vila Vampir (4)
123
Vila Vampir (5)
124
Vila Vampir (6)
125
Vila Vampir (7)
126
Cooking Time With Dimas
127
Pintu Theater Ditutup

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!